LOGINSaat Keenan Wijaya pulang sambil membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, aku sedang melihat-lihat ranjang bayi. Anak itu memiliki sepasang mata yang persis sama dengan cinta pertama Keenan. "Dia baru pulang dari luar negeri dan nggak punya tenaga untuk mengurus anak ini. Mulai sekarang, aku yang akan membesarkannya." Suara Keenan dingin dan tegas, terkesan tidak memberi kesempatan untuk dibantah. Namun, tatapannya tertuju pada perutku yang sedikit membuncit. "Kalau anak dalam kandunganmu ... gugurkan saja. Anak ini sangat sensitif. Untuk sementara, dia belum bisa menerima kehadiran adik." Jari-jariku yang menggenggam hasil USG sedikit gemetar. Aku terdiam cukup lama. Saking lamanya hingga rasa kesal dan bersalah yang ditahannya mulai terlihat di mata Keenan. Barulah aku mengangguk patuh. "Oke, aku turuti kemauanmu." Keesokan harinya, aku keluar dari ruang operasi seorang diri dan menyerahkan surat keterangan aborsi kepadanya. Keenan meletakkan surat itu kembali ke atas meja dengan santai, lalu berkata datar, "Besok, penthouse dupleks di Peninsula akan dialihkan atas namamu." Aku mengangguk tenang. "Oke, terima kasih." Tidak melihat tangisan atau keributan seperti yang dia bayangkan, alis Keenan sedikit bergerak. Dia pun tidak berkata apa-apa lagi. Namun, dia tidak tahu kalau aborsiku hanya pura-pura, sedangkan rumah itu benar-benar menjadi milikku. Lagi pula, dalam profesi kami sebagai wanita simpanan, ada sebuah aturan mutlak. Air mata harus sungguhan, hati harus pura-pura. Setiap rasa bersalah seorang pria harus bisa diuangkan.
View MorePada hari keempat dirawat di rumah sakit, Siska terbang ke Kota Bershka.Saat dia membuka pintu kamar rawat, dia melihat Keenan sedang berjongkok di lantai untuk mengikat tali sepatuku. Langkahnya terhenti sejenak.Keenan mengangkat kepala dan meliriknya tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai mengikat tali sepatuku, dia berdiri."Kak Siska." Dia mengangguk ringan.Siska tidak menghiraukannya dan langsung berjalan ke samping tempat tidurku, lalu duduk. "Kondisimu lumayan juga. Lebih baik dari yang kukira."Dia kembali melirik Keenan. "Kamu keluar dulu. Aku mau bicara beberapa hal dengannya."Keenan menatapku. Aku tidak memberikan tanggapan, jadi dia berbalik dan keluar.Setelah pintu tertutup, Siska menatapku. "Apa rencanamu?""Nggak tahu.""Sudah berapa hari dia datang?""Empat hari. Setiap hari."Siska terdiam sejenak. "Kamu mulai luluh?"Aku tidak menjawab.Siska mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Apartemen yang dulu kamu minta aku
Saat usia kehamilanku memasuki 35 minggu, aku pingsan di perpustakaan.Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Jarum infus tertancap di punggung tanganku, sementara alat monitor jantung di samping tempat tidur terus berbunyi.Orang pertama yang datang adalah dosen pembimbingku. Dia menelepon Siska di lorong rumah sakit.Orang kedua yang datang adalah Keenan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang secepat itu. Belakangan baru kuketahui bahwa dua minggu sebelumnya dia sudah menyewa sebuah apartemen di Kota Bershka. Tepat di gedung sebelah tempat tinggalku.Saat aku membuka mata, dia sedang duduk di samping ranjang. Matanya dipenuhi urat merah. Dagunya mulai ditumbuhi janggut tipis.Begitu melihatku membuka mata, dia langsung berdiri. Namun, seolah takut membuatku terkejut, dia perlahan duduk kembali."Dokter bilang kamu anemia dan kecapekan. Kamu perlu dirawat di rumah sakit untuk menjalani observasi."Aku menggerakkan jari, berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Namun, ge
Keenan tidak mendengarkan perkataanku.Keesokan harinya, dia datang lagi. Kali ini, dia tidak muncul di gedung perkuliahan, melainkan di bawah apartemen tempat tinggalku.Dia membawa dua kantong besar berisi barang dan berdiri di depan pintu masuk gedung. Aku melihat ke bawah dari jendela. Setelah ragu selama satu menit, aku tidak turun.Dia berdiri di sana selama tiga jam. Pada akhirnya, dia meletakkan barang-barang itu di pos satpam lalu pergi.Saat aku turun untuk mengambilnya, satpam berkata, "Suamimu yang datang? Penampilannya lumayan rapi. Dia berdiri di sana lama sekali lho."Aku tidak menjelaskan apa-apa dan membawa kantong-kantong itu ke atas. Isinya susu bubuk untuk ibu hamil, asam folat, tablet kalsium, dan celana hamil berbahan katun yang tebal.Label ukurannya masih terpasang. Ukurannya pas. Dia masih ingat ukuranku. Selama dua tahun menikah, dia tidak pernah membelikanku pakaian.Aku memasukkan semua barang itu ke lemari tanpa menggunakannya.Hari ketiga, dia datang lagi.
Malam setelah menutup telepon itu, aku tidak bisa tidur.Pukul 3 dini hari, bayi di dalam perut menendangku sekali. Aku mengusap perut, lalu terjaga sepenuhnya.Siapa pun ayah Negan, apa yang telah dilakukan Keenan tidak akan berubah. Dia menyuruhku menggugurkan kandungan. Dia memberiku selembar surat keterangan aborsi sebagai bentuk pertanggungjawaban.Dari awal sampai akhir, dia bahkan tidak pernah bertanya kepadaku, apakah aku bersedia. Semua fakta itu tidak akan menghilang hanya karena satu panggilan telepon.Keesokan harinya, aku tetap pergi kuliah seperti biasa. Saat jam istirahat, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.[ Halo, Shania. Aku Martha. ]Aku menatap layar selama sepuluh detik tanpa membalas. Dia kembali mengirim pesan.[ Bisa bertemu? Aku ingin menjelaskan soal Negan kepadamu. ]Aku sempat mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Pada akhirnya, aku hanya membalas dua kata.[ Nggak perlu. ]Dia tidak mengirim pesan lagi.Sore harinya di perpustakaan, dosen pembim












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.