Short
Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan

Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan

By:  MelodyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat Keenan Wijaya pulang sambil membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, aku sedang melihat-lihat ranjang bayi. Anak itu memiliki sepasang mata yang persis sama dengan cinta pertama Keenan. "Dia baru pulang dari luar negeri dan nggak punya tenaga untuk mengurus anak ini. Mulai sekarang, aku yang akan membesarkannya." Suara Keenan dingin dan tegas, terkesan tidak memberi kesempatan untuk dibantah. Namun, tatapannya tertuju pada perutku yang sedikit membuncit. "Kalau anak dalam kandunganmu ... gugurkan saja. Anak ini sangat sensitif. Untuk sementara, dia belum bisa menerima kehadiran adik." Jari-jariku yang menggenggam hasil USG sedikit gemetar. Aku terdiam cukup lama. Saking lamanya hingga rasa kesal dan bersalah yang ditahannya mulai terlihat di mata Keenan. Barulah aku mengangguk patuh. "Oke, aku turuti kemauanmu." Keesokan harinya, aku keluar dari ruang operasi seorang diri dan menyerahkan surat keterangan aborsi kepadanya. Keenan meletakkan surat itu kembali ke atas meja dengan santai, lalu berkata datar, "Besok, penthouse dupleks di Peninsula akan dialihkan atas namamu." Aku mengangguk tenang. "Oke, terima kasih." Tidak melihat tangisan atau keributan seperti yang dia bayangkan, alis Keenan sedikit bergerak. Dia pun tidak berkata apa-apa lagi. Namun, dia tidak tahu kalau aborsiku hanya pura-pura, sedangkan rumah itu benar-benar menjadi milikku. Lagi pula, dalam profesi kami sebagai wanita simpanan, ada sebuah aturan mutlak. Air mata harus sungguhan, hati harus pura-pura. Setiap rasa bersalah seorang pria harus bisa diuangkan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Malam setelah aku menyerahkan surat keterangan aborsi itu, aku mengemasi beberapa potong pakaian dan bersiap pindah ke kamar tidur lain. Anak laki-laki itu sudah ditempatkan di kamar anak yang berada di sebelah kamar tidur utama. Pengasuh sedang menyiapkan tempat tidurnya.

Saat aku melewati lorong sambil membawa bantal, Keenan sedang bersandar di dinding dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di antara jarinya.

"Shania, kenapa kamu nggak nanya siapa ibu anak itu?"

Aku terdiam sejenak.

Sebenarnya, aku tahu. Cinta pertama Keenan, Martha.

Tiga tahun lalu, dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Saat Martha pergi, Keenan berdiri di bandara selama empat jam. Setelah pulang, dia mabuk semalaman.

Namun, aku tidak mengatakannya. Aku hanya tersenyum tipis. "Kalaupun aku bertanya, memangnya apa yang akan berubah?"

Ucapan itu membuat ekspresi Keenan membeku. Dia mungkin sudah mempersiapkan diri menghadapi pertanyaanku, pertengkaran, bahkan amukanku yang membanting barang. Satu-satunya yang tidak dia duga adalah ketenanganku.

Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat dan bertanya, "Kamu nggak marah?"

"Kalau aku marah, apa kamu akan menyuruhnya pergi?"

Jakun Keenan bergerak. Dia tidak menjawab.

Aku menarik tanganku kembali dan berkata dengan lembut, "Kalau begitu, nggak ada yang perlu ditanyakan. Istirahatlah lebih awal."

Aku baru berjalan dua langkah ketika tiba-tiba dia berkata dari belakang, "Aku sudah minta Pak Kevin mempercepat proses pengalihan kepemilikan properti. Besok dokumennya sudah bisa ditandatangani."

Aku tidak menoleh dan hanya mengucapkan terima kasih dengan pelan.

Keesokan paginya, pengacara bernama Kevin datang ke rumah.

Aku menerima dokumen itu dan membolak-baliknya. Ternyata selain penthouse dupleks di Peninsula, ada tambahan sebuah mobil dan kartu berisi 10 miliar.

Kevin membetulkan kacamatanya lalu berkata pelan, "Pak Keenan menambahkannya tadi malam."

Tanganku tetap stabil saat menandatangani dokumen.

Setelah aku selesai menandatanganinya, Keenan turun dari lantai atas. Anak laki-laki itu menggandeng tangannya dan bersembunyi dengan takut-takut di belakangnya. Keenan menatapku, lalu setelah ragu sejenak berkata, "Kondisimu belum pulih. Siang nanti kita makan bersama."

Dulu, dia tidak pernah berinisiatif mengatakan hal seperti itu.

Kami sudah menikah selama dua tahun. Dia tidak pernah memberi kabar saat pergi dinas, tidak pernah memberi tahu saat akan pulang, bahkan kami selalu makan sendiri-sendiri.

Hatiku terasa getir, tetapi aku hanya memasang ekspresi sedikit keberatan. "Nggak perlu, Pak Keenan. Sore ini aku masih harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan."

Kata "pemeriksaan" membuat tatapannya berubah sesaat. Mungkin dia teringat surat keterangan aborsi itu. Bibirnya bergerak sedikit sebelum akhirnya dia hanya berkata, "Biar sopir antarin kamu."

"Nggak usah repot-repot." Aku menundukkan pandangan dan menimpali, "Aku bisa naik taksi."

Keenan jelas terlihat tidak senang. Dia tidak terbiasa aku menolaknya. Dulu, sedingin apa pun sikapnya, aku selalu tersenyum dan berusaha mendekatinya.

"Shania." Nada bicaranya menjadi lebih berat, "Kalau aku bilang sopir akan mengantarmu, biarkan dia mengantarmu."

Aku tidak menolak lagi. Tahu kapan harus berhenti adalah kemampuan dasar dalam profesi kami.

Di dalam mobil, Keenan mengirimiku sebuah pesan.

[ Beri tahu aku hasilnya setelah selesai diperiksa. ]

Sudah dua tahun kami bersama dan ini pertama kalinya dia peduli saat aku pergi ke rumah sakit. Sayangnya, itu hanya karena rasa bersalah. Aku membalas dengan satu kata "baik".

Sesampainya di rumah sakit, aku tidak pergi untuk pemeriksaan pascaaborsi. Aku malah pergi ke bagian kandungan.

Hasil USG menunjukkan usia kandunganku sudah empat bulan dan semuanya normal. Aku melipat hasil pemeriksaan itu dengan hati-hati, lalu menyelipkannya ke kompartemen terdalam di dalam tasku.

Setelah itu, aku memotret lobi rumah sakit dan mengirimkannya kepada Keenan dengan pesan.

[ Semuanya baik-baik saja. ]

Dia langsung membalas.

[ Ya, banyak istirahat. ]

Aku mematikan ponsel dan mengusap perutku, lalu berbisik, "Mama akan melindungimu. Tapi uang papamu juga tetap harus Mama ambil."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status