共有

Bab 7

作者: ZZ
Shania menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan.

Velen berjalan mendekat dengan sunggingan senyum kemenangan di wajahnya, "Kenapa kamu nggak ikutan teriak? Apa karena kamu nggak punya masa depan yang bisa diharapkan, ya?"

Shania tidak ingin memedulikannya. Tapi, baru saja dia berniat berbalik, Velen kembali berucap, "Jangan harap kamu bisa narik perhatian Yuga dengan bersikap sok asing kayak gini. Shania, di antara kalian itu ada utang nyawa, nyawa ibu Yuga! Sebesar apa pun dia pernah mencintaimu dulu, sekarang semua itu udah nggak mungkin lagi! Terlebih lagi sekarang di dalam hatinya cuma ada aku! Aku saranin kamu berhenti masang muka melas sok suci kayak gitu, lihatnya aja bikin najis!"

Shania memejamkan matanya dengan letih, lalu menyahut lirih, "Aku tahu. Kamu tenang aja, aku nggak bakal ganggu dia lagi ...."

Usai berkata demikian, dia berbalik untuk pergi. Tapi, Velen mendadak membentak dengan lantang, "Kamu berhenti!"

Bersamaan dengan itu, Velen berniat maju untuk menarik tubuh Shania. Malangnya, kakinya mendadak terpeleset hingga dia menjerit histeris, lalu tubuhnya menggelinding jatuh dari anak tangga!

"Velen!"

Yuga melesat datang bagai angin puyuh. Dia langsung mendekap tubuh Velen yang terkapar di bordes tangga dengan dahi mengucurkan darah dan sudah tidak sadarkan diri, lalu menatap Shania yang berdiri di atas tangga dengan penuh amarah, "Shania! Apa lagi yang kamu lakuin ke dia?"

"Bukan aku ... dia sendiri yang ...." Shania memberikan penjelasan yang sia-sia.

"Cukup!" Yuga sama sekali tidak percaya, tatapan matanya tampak bengis seakan ingin membunuh, "Kalau sampai terjadi sesuatu sama Velen, aku nggak bakal pernah ampuni kamu!"

Di saat bersamaan, seorang murid memekik panik, "Yuga, Velen pendarahan! Mending buruan bawa ke rumah sakit sekarang!"

Mendengar hal itu, Yuga langsung membentak teman-temannya yang berada di dekatnya, "Bawa Shania juga! Golongan darah dia sama kayak Velen."

Shania pun akhirnya dibawa ke rumah sakit dengan setengah dipaksa.

Benar saja, luka akibat jatuh yang dialami Velen tergolong parah sehingga operasinya membutuhkan transfusi darah dalam jumlah banyak, sementara persediaan golongan darah langkanya di bank darah kebetulan sedang kosong.

"Ambil darah dia!" Perintah Yuga kepada dokter tanpa ragu sedikit pun sembari menunjuk ke arah Shania.

Suster yang memegang laporan pemeriksaan milik Shania sebelumnya tampak mengernyitkan dahi, "Nggak bisa, dia nggak boleh mendonorkan darah ...."

Yuga mengernyit, "Kenapa nggak bisa?"

Wajah Shania pucat pasi. Dia tidak ingin Yuga mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dari mulut suster tersebut, sehingga dia bergegas memotong pembicaraan, "Maksud suster ... aku agak anemia, jadi kondisi fisikku lagi lemah .... Tapi nggak apa-apa kok, aku bisa donor."

Tatapan mata Yuga kian mendingin, "Kamu emang harus donor! Kalau bukan karena kamu mendorongnya, dia nggak bakal jadi kayak begini!"

Shania tidak lagi mengeluarkan suara, dia hanya berbaring pasrah di atas ranjang pengambilan darah dalam diam.

Jarum suntik yang dingin menusuk masuk ke pembuluh darahnya, lalu darah di dalam tubuhnya perlahan-lahan mulai disedot keluar.

Kondisi fisiknya yang memang sudah lemah kini kian limbung tidak berdaya, dengan warna kulit wajah yang memucat hingga nyaris transparan.

Sementara Yuga, sejak awal hingga akhir, terus berjaga di luar ruang operasi demi menantikan kabar tentang Velen dengan penuh kecemasan, tanpa melirik ke arah Shania sedikit pun.

Usai menjalani transfusi darah, Shania hampir tidak sanggup berdiri tegap. Dia bertumpu pada dinding koridor, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit seorang diri dalam keheningan.

Begitu tiba di rumahnya yang sunyi, tubuhnya tidak lagi mampu bertahan hingga membuat dia memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat banyak.

Sembari bersandar lemas di sudut dinding, dia membuka laman media sosialnya dan mendapati Yuga baru saja mengunggah sebuah status baru ....

[Berdoa untuk keselamatan.]

Foto yang dilampirkan menampilkan suasana koridor rumah sakit, menunjukkan dengan jelas bahwa pria itu sedang berjaga demi Velen.

Menatap foto tersebut, Shania teringat akan masa lalu saat dirinya hanya sekadar mengalami flu atau demam biasa, tapi Yuga sudah bisa panik setengah mati dan terjaga sepanjang malam demi menemaninya.

Kini di saat ajalnya sudah dekat, pria itu justru tidak tahu apa-apa dan seluruh pikirannya hanya tercurah untuk perempuan lain.

Baguslah kalau begitu.

Begini juga sudah bagus.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status