Share

Bab 2

Penulis: Lusi Kalila
Susan simpan rapat hasil pemeriksaan kehamilannya, lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Berbeda dengan biasanya, kali ini dia bahkan nggak sapa siapa pun.

Dulu, Susan selalu percaya dengan polosnya kalau selama dia rawat mertuanya dengan sepenuh hati dan jadi istri yang pengertian serta penuh perhatian, suatu hari nanti Lukas pasti akan lihat ketulusannya. Namun kenyataan telah menamparnya tanpa belas kasihan.

Bahkan jika Susan robek dadanya dan persembahkan seluruh isi hatinya ke Keluarga Hidayat, belum tentu mereka sudi lirik dia sekali pun. Lima tahun memberi tanpa pernah menerima. Sekarang saatnya dia tarik kembali semua yang telah dia korbankan. Lukas tahu alasan dia pulang malam ini hanyalah untuk urusan "itu". Dia melirik Bu Tuti sekilas lalu berkata datar, "Bu Tuti, antar Nyonya keluar."

Sejak awal hingga akhir, Susan hanya berdiri di samping tanpa ucapkan sepatah kata pun. Namun di balik tatapannya ada sesuatu yang berbeda, jadi lebih dingin.

Lukas adalah pewaris sekaligus pemimpin Keluarga Hidayat. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan berkembang pesat. Kepribadiannya juga nyaris sempurna. Kepada orang tua, dia berbakti dan penuh hormat. Kepada teman-temannya, dia setia dan dapat dipercaya. Kepada bawahan, dia tegas namun adil. Kepada para karyawan, dia dikenal murah hati dan perhatian ….

Hampir semua orang yang kenal dia hanya selalu kasih pujian ke Lukas. Bahkan banyak teman mereka berkata, Susan pasti telah selamatkan galaksi di kehidupan sebelumnya sampai bisa nikahi pria sebaik Lukas. Sayangnya semua kebaikan Lukas nggak pernah sekalipun diberikan ke istrinya sendiri.

Saat lewati Susan, Lisa tiba-tiba hentikan langkahnya. Dengan nada menyalahkan, dia berkata, "Kalau kali ini kamu masih gagal lahirkan anak laki-laki, gimana nanti kamu berani menghadap leluhur Keluarga Hidayat?"

Seandainya dulu, Susan pasti hanya akan menunduk dan tahan semuanya. Namun sekarang dia nggak lagi merasa perlu bersabar. Susan menatap ibu mertuanya lurus-lurus. Nggak ada lagi senyum yang berusaha senangkan hati lawan bicara, nggak ada lagi sikap merendah. Dengan suara tenang, dia balik tanya, "Bu, kita sama-sama perempuan. Lahirkan anak laki-laki atau perempuan, apa itu cuma tanggung jawabku saja?"

Lisa tercengang. Selama ini, Susan selalu penurut. Di matanya, tekan menantu itu semudah balikkan telapak tangan. Siapa sangka hari ini perempuan itu justru berani lawan. Namun Lisa juga bukan orang yang akan ngalah. Tanpa pikir panjang, dia angkat tangan dan sebuah tamparan keras mendarat di wajah Susan.

"Kurang ajar! Begitu caramu bicara ke orang tua? Berlutut! Minta maaf sekarang juga!"

Lisa tahu persis betapa besar cinta Susan ke putranya. Demi Lukas, perempuan itu rela korbankan harga dirinya, rela telan penghinaan, bahkan rela diperlakukan layaknya pelayan Keluarga Hidayat.

Namun sekarang, Susan nggak ingin terus-terusan ngalah. Tatapan Susan jadi gelap. Tanpa sepatah kata, dia angkat tangannya, hendak balas tamparan itu. Sayangnya, sebelum telapak tangannya sempat kenai Lisa, sebuah tangan besar cengkeram pergelangan tangannya di udara. Bersamaan dengan itu, suara dingin penuh amarah terdengar di telinganya.

"Susan! Sudah cukup belum ulahmu?"

Susan mendongak. Wajah tampan Lukas penuhi pandangannya. Rautnya tetap dingin dan tegas. Sorot matanya menusuk seperti pecahan es.

Dulu wajah itulah yang sanggup buat jantungnya berdebar dan jatuh cinta berkali-kali. Namun sekarang, semakin lama Susan menatapnya, semakin jelas rasa jijik yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.

Gimana mungkin ada orang yang bisa setega ini? Dia bisa terima kenyataan kalau Lukas nggak cinta dia. Dia juga bisa terima perselingkuhan dan perlakuan dingin yang selama ini diterimanya.

Namun, gimana mungkin seorang suami perlakukan istrinya nggak lebih dari sekadar alat untuk lahirkan anak? Lukas tahu tubuhnya pernah nyaris mati karena emboli air ketuban saat lahirkan anak pertama. Tetapi tetap paksa dia hamil anak kedua.

Bukannya itu sama saja dengan kirim dia menuju kematian? Pikirkan semua itu buat perut Susan mendadak mual. Dia hampir muntah. Saat dia hendak katakan sesuatu, Lukas justru lepaskan tangannya dengan kasar, lalu berkata dengan nada dingin, "Hari ini aku lagi nggak pingin. Urusan anak kedua kita tunda sampai bulan depan."

Selesai berkata demikian, dia topang lengan Lisa dan berjalan keluar. Sebelum pergi, Lisa sempat noleh ke belakang. Senyum kemenangan tergambar jelas di wajahnya. Tatapan itu seolah berkata. gimanapun juga, dia anak kandungku. Jelas dia akan belain aku. Sedangkan kamu cuma orang luar, masih belum sadar diri juga?

Kalau ini terjadi dulu, Susan pasti sudah nangis karena Lukas selalu pilih bela ibunya. Namun kini, entah sejak kapan dia sudah terbiasa. Sampai-sampai hatinya sudah nggak kecewa lagi. Lihat Lukas hampir lewati pintu utama, Susan segera panggil dia, "Lukas."

Susan bukan tipe orang yang mudah berubah pikiran. Sekali dia ambil keputusan, dia akan melangkah sampai akhir. Delapan tahun cinta Lukas buat dia benar-benar lelah. Pria itu nggak pernah lihat segala pengorbanannya, nggak pernah berniat bangun rumah tangga bersama.

Alasan Lukas nikahi dia pun bukan karena cinta. Semata-mata karena saat itu dia hamil di luar nikah. Sebagai laki-laki, dia merasa harus bertanggung jawab. Pernikahan mereka ibarat sebuah makam, namun yang terkubur di dalamnya, hanya Susan seorang. Seharusnya dia sudah sadar sejak lama.

Lukas berhenti di depan pintu. Susan kira pria itu sedang tunggu dia bicara, dia tarik napas panjang sebelum akhirnya berkata perlahan, "Aku nggak mau jalani pernikahan ini lagi. Kita cerai saja."

Begitu kalimat itu keluar dari bibirnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Susan merasa begitu lega. Namun tepat pada saat itu, Lukas angkat HP-nya ke telinga.

Nggak tahu apa yang dikatakan orang di seberang sana. Yang terdengar hanyalah jawaban Lukas yang dipenuhi kepanikan.

"Oke. Aku sebentar lagi ke sana."

Telepon berakhir. Tanpa sedikit pun noleh ke belakang, Lukas rangkul ibunya dan menghilang dari ruang tamu Vila Permai.

Sedangkan kalimat yang baru saja diucapkan Susan, kalimat yang dia kira akan bebaskan dia, ternyata nggak ada seorang pun yang pedulikan.

Setelah antar mereka keluar, Bu Tuti kembali ke ruang tamu. Lihat Susan masih berdiri mematung dengan tatapan kosong, dia terkejut.

"Nyonya?"

Susan akhirnya tersadar. Dia jalan menuju sofa lalu duduk perlahan.

"Bu Tuti, tolong buatkan aku makan malam."

Selama ini, Susan selalu urus semuanya sendiri. Dia masak, bersihkan rumah, urus keluarga. Semuanya dia lakukan hanya demi dapatkan sedikit perhatian dari Lukas. Sekarang dia benar-benar lelah.

Barulah dia teringat, kalau dulu dirinya juga seorang putri kecil yang dimanja. Seorang gadis yang bahkan nggak pernah sentuh pekerjaan dapur. Ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya selalu jaga dan sayangi dia dengan sepenuh hati.

Selesai makan malam, Susan naik ke ruang kerja di lantai atas. Dia mulai susun sebuah perjanjian perceraian.

Keluarga Tanoko bukan keluarga biasa. Selain itu, Susan sendiri adalah seorang dokter bedah anak. Dia juga nggak kekurangan uang. Dia juga bisa kasih masa depan terbaik bagi Sinta.

Namun lima tahun pilih diam, lima tahun nggak pernah bertengkar, yang dia dapatkan hanyalah sikap dingin dan kejam dari suaminya. Karena itu, isi perjanjian tersebut sangat jelas. Setengah dari seluruh penghasilan Lukas selama masa pernikahan jadi haknya. Selain itu, Lukas juga wajib bayar biaya hidup Sinta sebesar 4 miliar setiap bulan. Namun begitu pikirkan putrinya, Susan kembali bimbang.

Apa Sinta bakal pilih tinggal dengan dia atau justru dengan ayahnya?

Perjanjian itu baru selesai setengah. Susan merasa harus dengar keinginan putrinya lebih dulu, Susan bawa dokumen yang belum selesai itu lalu tinggalkan Vila Permai.

Setelah Sinta lahir, Lukas belikan sebuah vila khusus untuk putri mereka. Selama empat tahun penuh, Susan berhenti kerja demi urus anaknya. Barulah setelah itu dia kembali jadi dokter di sebuah rumah sakit. Seiring kesibukan pekerjaannya, waktu yang bisa dia habiskan bersama Sinta jadi semakin sedikit. Enam bulan terakhir, dia bahkan ikuti program pelatihan di rumah sakit provinsi di daerah tetangga.

Dua kali terakhir dia temui Lukas, semuanya karena kebodohannya sendiri. Dia masih berharap bisa ikat hati suaminya dengan punya anak kedua. Padahal jadwalnya sangat padat. Demi dapatkan waktu luang satu atau dua hari, dia sampai rela tukar jadwal dengan rekan kerjanya dan jalani tiga malam dinas berturut-turut, tanpa tidur.

Namun Susan nggak pernah pikir, kalau untuk punya anak kedua bukan hanya dirinya yang harus luangkan waktu. Kalau dia nggak bisa pulang, sebenarnya Lukas juga bisa datang temui dia. Sayangnya sebagian besar waktu Lukas telah diberikan ke Yesi.

Saat taksi berhenti di depan Vila Cerisa, waktu sudah tunjukkan lewat dari jam sembilan malam. Baru saja turun dari mobil, HP-nya bergetar pelan.

Aplikasi video yang biasa dia buka korimkan sebuah notifikasi.

Orang yang sering Anda lihat, "Yesi", baru saja unggah video baru.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 50

    Ketika kuliah hampir selesai, Justin minum seteguk air sebelum menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa di bawah podium.“Selanjutnya, saya akan tunjuk seorang mahasiswa untuk jawab sebuah pertanyaan. Jika seorang pasien memiliki kontraindikasi operasi pada saat yang sama, misalnya gangguan pembekuan darah yang parah dan abdomen akut yang mengancam jiwa, gimana seharusnya kita bangun model stratifikasi risikonya? Pertimbangkan berbagai kondisi dan susun alur pengambilan keputusan yang sesuai. Saya beri kalian waktu tiga menit untuk diskusi.”Begitu kata-kata itu terucap, suasana kelas seketika langsung jadi riuh. Lukas bukan mahasiswa kedokteran. Karena itu, Yesi langsung noleh ke Rudi dan berkata, “Kak Rudi, ayo kita diskusi sama-sama.”Namun, Rudi sama sekali nggak jawab dia. Dia justru langsung putar tubuhnya dan mulai diskusi dengan Susan.Lihat itu, Yesi tertegun. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Susan juga lihat kalau Yesi sebenarnya ingin diskusi dengan Rudi, tetapi pria

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 49

    Akhir pekan tiba.Rudi datang ke kediaman Keluarga Tanoko untuk jemput Susan dan ajak dia hadiri kuliah di fakultas kedokteran. Mereka tiba di ruang kelas lima menit lebih awal, tetapi tempat-tempat terbaik ternyata sudah ditempati. Pada akhirnya, mereka hanya bisa duduk di barisan paling depan.Susan bukanlah murid Profesor Justin. Mau nggak mau, dia merasa sedikit bersalah sekaligus gugup.Begitu Rudi masuki ruang kelas, para mahasiswa yang duduk di depan maupun belakang langsung sapa dia dan panggil dia kakak kelas. Beberapa bahkan tampak penasaran dan bertanya-tanya siapa Susan yang datang bersamanya. Rudi hanya tersenyum tipis, nggak kasih penjelasan lebih lanjut.Profesor Justin sudah nggak muda lagi. Dia nggak suka suasana berisik, apalagi sebentar lagi kelas akan dimulai. Bukan karena Rudi nggak mau jawab sapaan mereka, tetapi dia nggak berani lagi keluarkan suara. Di hadapan Justin, bahkan Rudi pun harus patuh dan ikuti aturan.Begitu waktu kuliah tiba, Justin masuk ke dalam k

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 48

    “Bibi lagi nggak senang, yah?”Susan sempat ragu sebelum akhirnya jawab, “Nggak apa-apa kok.”Sebenarnya, dia memang lagi nggak baik-baik saja. Sinta dibesarkannya dengan tangannya sendiri, tetapi sekarang anak itu justru tumbuh jadi seperti ini. Gimana mungkin hatinya bisa merasa tenang?Setelah itu, selera makan Susan jadi turun. Dia terus pikirkan Sinta dan merasa sangat khawatir dengan dia. Rudi sadar dengan perubahan suasana hatinya, jadi dia nggak banyak bicara lagi.Setelah makan, mereka berdua jalan keluar dari restoran. Begitu sampai di pintu masuk, dua orang kebetulan masuk dari arah berlawanan. Mereka adalah Guntur dan Yanto. Saat lihat mereka, Susan nggak bicara sepatah kata pun. Dia justru lewati mereka berdua begitu saja dan langsung pergi. Rudi ikuti langkahnya dari belakang.“Eh ... tunggu ... ini kenapa lagi?”Guntur pandangi punggung Susan yang semakin menjauh dengan wajah bingung. Yanto yang berdiri di sampingnya hanya angkat bahu.“Mana aku tahu?”Selama ini, dalam

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 47

    Siang itu, Rudi pulang kerja lebih cepat. Bahkan sebelum jam dua belas, dia sudah ada di bagian bedah anak untuk tungguin Susan. Susan baru saja terima seorang anak laki-laki dengan luka bakar cukup luas. Setelah selesaikan proses rawat inap dan kasih seluruh instruksi medis, barulah dia pergi cuci tangan dan lepaskan jas putihnya. Rudi tunggu Susan dengan sabar. Sesekali, dia ngobrol singkat dengan para perawat muda yang datang sapa dia. Ketika mereka tinggalkan rumah sakit, waktu sudah hampir tunjukkan jam setengah satu siang.Rudi setir mobil bawa Susan menuju pusat kota. Dia bawa Susan ke sebuah restoran makanan Asia kelas atas.Setelah duduk, mereka pilih tempat di dekat jendela. Dari sana, seluruh pusat Kota Jasinto terbentang jelas di bawah pandangan mereka. Rudi masih ingat dengan baik apa yang disukai Susan. Setelah pesan makanan, dia tuangkan segelas air hangat untuk Susan.“Lagi lihat apa?”Susan alihkan pandangannya. Dia nggak jawab pertanyaan Rudi, melainkan berkata, “Ruma

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 46

    Ingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Lukas ke dia waktu di dalam mobil, Susan merasa sesak sekaligus begitu tersiksa. Demi Lukas, dia telah lahirkan Sinta. Demi Keluarga Hidayat, dia bahkan rela kerja rodi, nggak ngeluh sedikit pun. Namun pada akhirnya, diia nggak pernah dapat satu kata pujian pun. Kalau dipikir-pikir, semua itu sungguh konyol sekaligus menyedihkan.Sesampainya di kediaman Keluarga Tanoko, Kevin masih tungguin Susan di depan rumah.“Kak, kenapa nggak masuk dan duduk di dalam?” Susan lari kecil hampiri kakaknya.“Kenapa hari ini pulangnya malam banget?” Kevin kernyitkan keningnya, matanya dipenuhi rasa khawatir. Karena nggak ingin buat kakaknya cemas, Susan cari alasan dan berkata, “Tadi siang aku ada operasi, jadi nggak sempat angkat telepon.”Kevin tundukkan pandangan ke adiknya. Binar air mata di sudut mata Susan belum benar-benar kering. Namun, dia nggak ingin bongkar kelemahan yang sedang berusaha disembunyikan adiknya.Saat mereka jalan masuk ke dalam rum

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 45

    Begitu nyalakan HP-nya, Susan lihat ada begitu banyak panggilan nggak terjawab. Ada panggilan dari kakaknya dan kakak iparnya, dari kepala bagian di rumah sakit, dan juga dari Rudi.Seharusnya sore itu dia dapat jadwal praktik di poliklinik. Dia tiba-tiba hilang dan nggak masuk kerja, jadi rumah sakit seharusnya kasih sanksi ke dia. Susan sudah persiapkan mental untuk itu. Gimanapun, paling jelek dia hanya akan dipecat. Di dalam taksi, dia telepon kepala bagian rumah sakit.“Dokter Detha.”“Susan, kamu gimana sekarang?” Suara Dokter Detha terdengar biasa saja, sama sekali nggak kelihatan aneh.Susan merasa heran dan untuk sesaat nggak tahu harus bicara apa. Namun, Dokter Detha justru tanya dengan nada penuh perhatian, “Kamu gimana? Sudah enakan?”Susan semakin bingung.“Apa?”Dokter Detha terdengar sedikit bersalah.“Sebagai atasan, aku memang kurang perhatikan bawahan. Kamu lagi demam, tapi aku masih jadwalkan kamu buat praktik di poliklinik. Gini saja, aku kasih kamu cuti tiga hari.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status