Share

Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!
Penulis: Lusi Kalila

Bab 1

Penulis: Lusi Kalila
Saat Susan Tanoko kembali ke Vila Permai, jarum jam telah tunjukkan jam sepuluh malam. Hari ini adalah tanggal lima belas, hari masa suburnya. Anak pertamanya adalah seorang anak perempuan. Sejak lama, mertua terus desak dia untuk segera punya anak kedua. Kalau keluarga lain yang berkata begitu, mungkin dia sudah tanya dengan sinis, memangnya keluarga kalian punya takhta kerajaan yang harus diwariskan? Namun Keluarga Hidayat memang beda. Mereka adalah keluarga terkaya di Jerisa, dengan kekayaan capai ratusan triliun rupiah. Dan semua harta itu hanya tunggu seorang pewaris laki-laki.

Saat masuki kamar tidur, Lukas Hidayat sudah selesai mandi dan bersiap. Nggak ada sapaan, nggak ada perhatian. Mereka langsung lakukan apa yang memang jadi tujuan pertemuan malam itu. Tiga menit kemudian, Lukas masuk ke kamar mandi. Nggak lama setelah itu, dia keluar sambil belakangi Susan, kenakan pakaian.

"Cek terus hasil tesnya. Kalau sudah muncul dua garis, baru hubungi aku."

Selama lima tahun menikah, begitulah cara Lukas perlakukan dia. Hemat kata. Dingin. Seolah nggak ada sedikit pun kehangatan antara suami dan istri. Pernikahan mereka tinggal nama.

Lukas pelihara wanita lain di luar sana. Susan pernah habiskan waktu berhari-hari telusuri seluruh akun media sosial suaminya. Setelah temukan sedikit petunjuk, akhirnya dia berhasil temukan akun wanita itu. Sejak saat itu, diam-diam Susan awasi dia.

Wanita tersebut rajin bagikan kehidupannya. Mulai dari menu sarapan, makan siang, dan makan malam, hingga ulang tahun, hari raya, dan berbagai momen spesial lainnya. Sebelum rencana punya anak kedua dimulai, Susan hampir nggak pernah bisa ketemu Lukas. Sekarang, mereka hanya ketemu sebulan sekali. Tahu suaminya hendak segera pergi, Susan buru-buru bangkit.

"Bisa nggak kita bicara?"

Lukas noleh. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

"Tentang apa?"

Susan pelankan suara. Nada bicaranya nyaris terdengar memohon.

"Aku mau jalani rumah tangga kita dengan baik."

Dia tahu, pernikahan ini sebenarnya sudah nggak layak dipertahankan. Namun, dia masih ingin coba. Gimana jika masih ada harapan?

Dia telah susah payah nikahi pria yang dicintainya dan lahirkan putri mereka. Dia nggak ingin pernikahan itu berakhir dengan kegagalan. Namun ucapannya tenggelam begitu saja. Nggak tahu Lukas beneran nggak dengar atau hanya pura-pura tuli.

Setelah kenakan pakaian dan jam tangannya dengan rapi, dia melangkah keluar. Tepat sebelum Lukas pergi, Susan akhirnya nggak mampu lagi tahan semuanya.

"Lukas! Kamu cuma pulang ke Vila Permai sebulan sekali. Kamu nggak pernah telpon aku lebih dulu. Kita belum pernah makan bersama sekalipun. Hati kita sudah lama saling menjauh, menurutmu, pernikahan seperti ini apa masih pantas disebut pernikahan?"

Langkah Lukas terhenti. Beberapa saat kemudian dia noleh. Tatapannya tetap dingin. Dia abaikan air mata istrinya, abaikan segala luka dan keluh kesahnya. Yang keluar dari bibirnya hanyalah satu kalimat.

"Kalau kamu sudah hamil anak laki-laki, aku bakal balik tinggal di Vila Permai."

Selesai berkata demikian, dia pergi tanpa noleh lagi. Susan berdiri mematung. Dia nggak kejar lagi.

Delapan tahun cinta dengan Lukas, lima tahun jadi istrinya. Dia sudah berikan segalanya. Bahkan ketika lahirkan putri mereka, dia alami emboli air ketuban. Dokter sampai tiga kali keluarkan peringatan kondisi kritis. Meski begitu, dia tetap rela pertaruhkan nyawanya sekali lagi demi lahirkan anak laki-laki sebagai pewaris Keluarga Hidayat. Namun pada detik ini dia mulai bertanya-tanya. Apa semua itu benar-benar sepadan? Atau sejak awal semuanya memang nggak pernah layak untuk diperjuangkan?

Selesai mandi, Susan keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, dia ambil HP-nya, buka sebuah aplikasi video, lalu masuk ke daftar "Sering Dilihat". Di sana hanya ada satu akun. Foto profilnya menampilkan gadis berwajah manis.

Nama akunnya: Yesi Nugraha.

Saat buka berandanya, Susan dapati sebuah video baru yang diunggah dua menit lalu. Video itu hanya berisi foto dua bayangan orang di bawah lampu jalan. Namun di sudut kanan bawah foto, tampak jelas dua tangan yang saling genggam erat. Di pergelangan masing-masing terpasang gelang pasangan. Keterangan videonya berbunyi:

[Di bawah lampu jalan ada dua bayangan. Yang satu milikku, dan yang satunya lagi juga milikku.]

Dada Susan terasa sesak. Namun dibandingkan saat pertama kali tahu hubungan mereka hingga rasanya dunia runtuh, kali ini dia justru begitu tenang. Mungkin karena dia sudah terbiasa.

Setiap kali Lukas buru-buru tinggalkan dia, semuanya hanya demi temui wanita itu. Tetapi setelah tenangkan diri dan pikirkan lagi, Susan tetap hibur dirinya sendiri. Selama Lukas masih inginkan dia untuk lahirkan pewaris laki-laki Keluarga Hidayat, maka posisi Nyonya Hidayat nggak akan pernah direbut siapa pun. Hanya saja kepahitan pernikahan ini, harus dia telan sendiri.

...

Sebulan kemudian, jam tujuh malam. Susan genggam erat hasil pemeriksaan kehamilan yang baru saja keluar sambil bergegas pulang ke Vila Permai. Baru saja hendak melangkah masuki ruang tamu, suara ibu mertuanya, Lisa Inata, terdengar dari dalam.

"Lukas, umurmu sudah tiga puluh dua tahun. Kalau Susan tetap nggak bisa lahirkan anak laki-laki, suruh saja wanita di luar itu yang lahirkan untuk kamu."

Tanpa ragu, Lukas langsung nolak, "Itu nggak sama."

Lisa jadi kesal.

"Apa bedanya?"

Susan yang berdiri di luar pintu tanpa sadar mundur beberapa langkah. Untuk sesaat jantungnya berdegup pelan karena pria itu malah membelanya.

Benar juga. Seberapa pun liarnya Lukas di luar sana, istri sahnya tetap hanya dia. Namun nggak lama kemudian, suara Lukas kembali terdengar.

"Bu, apa Ibu lupa waktu Susan lahirkan Sinta dulu? Dia kena emboli air ketuban."

Bukannya luluh, Lisa malah semakin kesal.

"Kamu masih berani-beraninya ungkit itu? Orang lain lahirkan empat atau lima anak baik-baik saja. Hanya dia yang hampir mati segala. Benar-benar pembawa sial!"

Lukas sama sekali nggak tanggapi omelan ibunya.

Dia hanya berkata pelan, "Melahirkan itu risikonya besar. Yesi masih sangat muda. Aku nggak berani biarkan dia tanggung risiko seperti itu."

Kalimat itu hantam Susan seperti sambaran petir. Tubuhnya membeku. Air mata nggak sanggup keluar lagi. Lukas nggak tega biarkan Yesi pertaruhkan nyawanya. Lalu dirinya? Apa nyawanya memang nggak berarti?

Padahal Susan tahu Lukas nggak cinta dia, tahu kalau Lukas telah khianati dia. Susan juga tahu pernikahan mereka seharusnya sudah lama berakhir. Namun Susan masih begitu bodoh. Dia masih berharap bisa ikat hati Lukas melalui seorang anak.

Susan selalu kira, selama apa pun Lukas bermain-main di luar, status Nyonya Hidayat akan selalu jadi miliknya. Tetapi kenyataan jauh lebih kejam daripada yang pernah dia bayangkan.

Di mata Lukas, ternyata dirinya hanyalah alat untuk lahirkan pewaris. Padahal setelah lahirkan Sinta Hidayat, dia pernah alami depresi berat. Bahkan lihat darah saja bisa pingsan.

Dia adalah wanita yang pernah ditarik kembali dari ambang kematian oleh para dokter. Lukas takut Yesi alami sesuatu. Namun Lukas lupa kalau tubuh Susan justru jauh lebih rapuh. Suara-suara dari dalam rumah masih terus terdengar. Namun Susan sudah nggak mampu dengar sepatah kata pun.

Dia rela pertaruhkan nyawanya demi teruskan garis keturunan Keluarga Hidayat. Sebagai balasannya dia habiskan malam-malam sendirian di ranjang yang dingin. Dan di atas kepalanya terbentang penghianatan yang begitu terang-terangan.

Susan genggam erat hasil pemeriksaan kehamilan di tangannya. Mungkin sudah waktunya semua ini diakhiri. Hari ini seharusnya jadi hari mereka kembali jalankan rencana punya anak kedua. Namun kini semuanya sudah nggak ada artinya lagi. Ternyata bikin hati benar-benar mati, semua itu hanya butuh satu momen. Anak yang ada di dalam kandungannya, rasanya juga nggak perlu dipertahankan lagi. Kalau orang lain nggak peduli pada hidup dan matinya ... setidaknya dia harus peduli pada dirinya sendiri.

Saat hendak berbalik pergi, Bu Tuti, salah seorang pembantu rumah tangga lihat dia.

"Nyonya, kamu sudah pulang?"

Susan balas dengan sebuah senyum tipis. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk bicarakan perceraian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 50

    Ketika kuliah hampir selesai, Justin minum seteguk air sebelum menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa di bawah podium.“Selanjutnya, saya akan tunjuk seorang mahasiswa untuk jawab sebuah pertanyaan. Jika seorang pasien memiliki kontraindikasi operasi pada saat yang sama, misalnya gangguan pembekuan darah yang parah dan abdomen akut yang mengancam jiwa, gimana seharusnya kita bangun model stratifikasi risikonya? Pertimbangkan berbagai kondisi dan susun alur pengambilan keputusan yang sesuai. Saya beri kalian waktu tiga menit untuk diskusi.”Begitu kata-kata itu terucap, suasana kelas seketika langsung jadi riuh. Lukas bukan mahasiswa kedokteran. Karena itu, Yesi langsung noleh ke Rudi dan berkata, “Kak Rudi, ayo kita diskusi sama-sama.”Namun, Rudi sama sekali nggak jawab dia. Dia justru langsung putar tubuhnya dan mulai diskusi dengan Susan.Lihat itu, Yesi tertegun. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Susan juga lihat kalau Yesi sebenarnya ingin diskusi dengan Rudi, tetapi pria

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 49

    Akhir pekan tiba.Rudi datang ke kediaman Keluarga Tanoko untuk jemput Susan dan ajak dia hadiri kuliah di fakultas kedokteran. Mereka tiba di ruang kelas lima menit lebih awal, tetapi tempat-tempat terbaik ternyata sudah ditempati. Pada akhirnya, mereka hanya bisa duduk di barisan paling depan.Susan bukanlah murid Profesor Justin. Mau nggak mau, dia merasa sedikit bersalah sekaligus gugup.Begitu Rudi masuki ruang kelas, para mahasiswa yang duduk di depan maupun belakang langsung sapa dia dan panggil dia kakak kelas. Beberapa bahkan tampak penasaran dan bertanya-tanya siapa Susan yang datang bersamanya. Rudi hanya tersenyum tipis, nggak kasih penjelasan lebih lanjut.Profesor Justin sudah nggak muda lagi. Dia nggak suka suasana berisik, apalagi sebentar lagi kelas akan dimulai. Bukan karena Rudi nggak mau jawab sapaan mereka, tetapi dia nggak berani lagi keluarkan suara. Di hadapan Justin, bahkan Rudi pun harus patuh dan ikuti aturan.Begitu waktu kuliah tiba, Justin masuk ke dalam k

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 48

    “Bibi lagi nggak senang, yah?”Susan sempat ragu sebelum akhirnya jawab, “Nggak apa-apa kok.”Sebenarnya, dia memang lagi nggak baik-baik saja. Sinta dibesarkannya dengan tangannya sendiri, tetapi sekarang anak itu justru tumbuh jadi seperti ini. Gimana mungkin hatinya bisa merasa tenang?Setelah itu, selera makan Susan jadi turun. Dia terus pikirkan Sinta dan merasa sangat khawatir dengan dia. Rudi sadar dengan perubahan suasana hatinya, jadi dia nggak banyak bicara lagi.Setelah makan, mereka berdua jalan keluar dari restoran. Begitu sampai di pintu masuk, dua orang kebetulan masuk dari arah berlawanan. Mereka adalah Guntur dan Yanto. Saat lihat mereka, Susan nggak bicara sepatah kata pun. Dia justru lewati mereka berdua begitu saja dan langsung pergi. Rudi ikuti langkahnya dari belakang.“Eh ... tunggu ... ini kenapa lagi?”Guntur pandangi punggung Susan yang semakin menjauh dengan wajah bingung. Yanto yang berdiri di sampingnya hanya angkat bahu.“Mana aku tahu?”Selama ini, dalam

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 47

    Siang itu, Rudi pulang kerja lebih cepat. Bahkan sebelum jam dua belas, dia sudah ada di bagian bedah anak untuk tungguin Susan. Susan baru saja terima seorang anak laki-laki dengan luka bakar cukup luas. Setelah selesaikan proses rawat inap dan kasih seluruh instruksi medis, barulah dia pergi cuci tangan dan lepaskan jas putihnya. Rudi tunggu Susan dengan sabar. Sesekali, dia ngobrol singkat dengan para perawat muda yang datang sapa dia. Ketika mereka tinggalkan rumah sakit, waktu sudah hampir tunjukkan jam setengah satu siang.Rudi setir mobil bawa Susan menuju pusat kota. Dia bawa Susan ke sebuah restoran makanan Asia kelas atas.Setelah duduk, mereka pilih tempat di dekat jendela. Dari sana, seluruh pusat Kota Jasinto terbentang jelas di bawah pandangan mereka. Rudi masih ingat dengan baik apa yang disukai Susan. Setelah pesan makanan, dia tuangkan segelas air hangat untuk Susan.“Lagi lihat apa?”Susan alihkan pandangannya. Dia nggak jawab pertanyaan Rudi, melainkan berkata, “Ruma

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 46

    Ingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Lukas ke dia waktu di dalam mobil, Susan merasa sesak sekaligus begitu tersiksa. Demi Lukas, dia telah lahirkan Sinta. Demi Keluarga Hidayat, dia bahkan rela kerja rodi, nggak ngeluh sedikit pun. Namun pada akhirnya, diia nggak pernah dapat satu kata pujian pun. Kalau dipikir-pikir, semua itu sungguh konyol sekaligus menyedihkan.Sesampainya di kediaman Keluarga Tanoko, Kevin masih tungguin Susan di depan rumah.“Kak, kenapa nggak masuk dan duduk di dalam?” Susan lari kecil hampiri kakaknya.“Kenapa hari ini pulangnya malam banget?” Kevin kernyitkan keningnya, matanya dipenuhi rasa khawatir. Karena nggak ingin buat kakaknya cemas, Susan cari alasan dan berkata, “Tadi siang aku ada operasi, jadi nggak sempat angkat telepon.”Kevin tundukkan pandangan ke adiknya. Binar air mata di sudut mata Susan belum benar-benar kering. Namun, dia nggak ingin bongkar kelemahan yang sedang berusaha disembunyikan adiknya.Saat mereka jalan masuk ke dalam rum

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 45

    Begitu nyalakan HP-nya, Susan lihat ada begitu banyak panggilan nggak terjawab. Ada panggilan dari kakaknya dan kakak iparnya, dari kepala bagian di rumah sakit, dan juga dari Rudi.Seharusnya sore itu dia dapat jadwal praktik di poliklinik. Dia tiba-tiba hilang dan nggak masuk kerja, jadi rumah sakit seharusnya kasih sanksi ke dia. Susan sudah persiapkan mental untuk itu. Gimanapun, paling jelek dia hanya akan dipecat. Di dalam taksi, dia telepon kepala bagian rumah sakit.“Dokter Detha.”“Susan, kamu gimana sekarang?” Suara Dokter Detha terdengar biasa saja, sama sekali nggak kelihatan aneh.Susan merasa heran dan untuk sesaat nggak tahu harus bicara apa. Namun, Dokter Detha justru tanya dengan nada penuh perhatian, “Kamu gimana? Sudah enakan?”Susan semakin bingung.“Apa?”Dokter Detha terdengar sedikit bersalah.“Sebagai atasan, aku memang kurang perhatikan bawahan. Kamu lagi demam, tapi aku masih jadwalkan kamu buat praktik di poliklinik. Gini saja, aku kasih kamu cuti tiga hari.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status