Share

Bab 3

Penulis: Lusi Kalila
Sebenarnya, Susan nggak ingin buka itu, namun karena kebiasaan, jarinya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Seperti sebuah kebiasaan yang nggak mampu dihentikan, dia tetap tekan notifikasi itu. Video itu isinya cuma ada satu foto.

Di dalam foto itu, Lukas sedang jongkok di hadapan Yesi, menatapnya dengan penuh perhatian.

Keterangan videonya berbunyi:

[Aku cuma minum alcohol sedikit, terus kena angin malam. Begitu aku telepon kamu, kamu langsung datang. Rasanya indah sekali punya seseorang seperti kamu di sisiku.]

Meski telah berkali-kali lihat hal serupa, hati Susan tetap terasa nyeri tanpa alasan yang jelas. Kalau memang mereka saling cinta sedalam itu, bukannya seharusnya dia belajar untuk berlapang dada? Biarkan mereka bersama. Kalau benar-benar cerai, dia hanya inginkan hak asuh putrinya dan bagian harta yang memang jadi haknya. Selain itu, dia nggak mau apa pun.

Susan simpan kembali HP-nya, lalu melangkah masuk ke Vila Ceria. Bu Suharti yang lihat kedatangannya sempat tertegun.

"Nyonya?"

"Sinta di mana?"

"Nona kecil lagi main boneka Barbie di lantai atas."

Belum sempat Bu Suharti selesaikan ucapannya, suara mungil yang penuh kejutan sudah terdengar dari atas.

"Ibu?"

Mata Susan langsung memerah. Sudah terlalu lama dia nggak ketemu dengan putrinya. Perasaan rindu yang selama ini dipendam seketika menyeruak penuhi dadanya. Dia bergegas naiki tangga, peluk Sinta erat-erat, lalu jongkok di depannya. Dia genggam kedua pipi putrinya dengan lembut. Kemudian ciumi wajah kecil itu berkali-kali tanpa henti. Namun baru saja Susan hendak buka mulut, dia lihat Sinta angkat tangan kecilnya. Anak itu terus usap bekas ciuman di pipinya. Terus usap sampai kulitnya memerah.

Jantung Susan seolah diremas. Semua kata yang sudah ada di ujung lidahnya tertelan kembali. Matanya berkaca-kaca saat pandangi putrinya. Ada begitu banyak perasaan yang bercampur jadi satu. Sedih, kecewa, sakit, dan kehilangan.

Sebelum Susan sempat berkata apa pun, Sinta lebih dulu bicara dengan penuh semangat, "Ibu, untung Ibu datang! Aku sebenarnya juga mau telepon Ibu. Aku sebentar lagi masuk TK. Aku mau sekolah di TK Mahari yang di Jalan Barak Utara."

Saat sebut nama taman kanak-kanak itu, mata Sinta berbinar penuh antusias. Susan sedikit heran. Meski begitu, lihat putrinya begitu ingin itu, Susan nggak tega untuk tolak. Lagian itu hanya soal sekolah. Kalau nanti ternyata nggak cocok, mereka masih bisa pindah. Akhirnya dia mengangguk sambil tersenyum.

"Oke. Kita pilih TK itu."

Dengar jawaban itu, Sinta langsung lompat kegirangan.

"Makasih, Ibu! Ibu yang paling baik!"

Lihat putrinya begitu bahagia, Susan justru semakin sulit ucapkan hal yang sebenarnya ingin dia tanyakan. Tanpa sadar dia usap perutnya sendiri, lalu menatap Sinta dengan sungguh-sungguh.

"Sinta, kalau Ibu punya adik untuk kamu. Kamu lebih pingin adik laki-laki atau adik perempuan?"

Sinta tampak ingin segera kembali ke kamarnya, namun dia tetap berpikir sejenak sebelum jawab, "Aku mau adik laki-laki."

Jawaban itu menusuk hati Susan seperti sebilah pisau. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dia tanya lagi, "Kalau Ibu takut lahirkan gimana?"

Meski bahaya emboli air ketuban telah lama berlalu, luka di dalam hatinya nggak pernah benar-benar sembuh.

Sinta menatapnya dengan polos, lalu jawab dengan sangat serius, "Ibu jangan egois, dong. Bukannya Ibu dulu juga lahirkan Sinta?"

Dalam sekejap rasanya seperti petir menyambar tepat di atas kepalanya. Tubuh Susan membeku. Seketika wajahnya jadi pucat. Lama sekali dia hanya berdiri terpaku. Bibirnya bergerak-gerak, namun nggak ada suara yang keluar.

Setelah berusaha keras, akhirnya dia berhasil tanya lirih, "Kalau gitu, Sinta nggak takut kehilangan Ibu?"

Sejak Sinta lahir ... Susan-lah yang asuh dia siang dan malam. Dia yang menyusui. Dia yang menidurkan. Dia yang begadang setiap malam. Empat tahun penuh, Susan hampir nggak pernah nikmati tidur nyenyak.

Saat ini dia hanya ingin tahu satu hal. Apa putrinya masih cinta dia?

Namun yang Susan lihat hanyalah Sinta kerutkan kening dengan wajah nggak sabar.

"Aduh, aku mau tidur."

Begitu selesai berkata, gadis kecil itu langsung lari masuk ke kamar.

Lalu .... Brak! Pintu tertutup rapat.

Susan masih berdiri membisu di depan tangga. Tubuhnya sedingin es. Nggak lama kemudian, suara Sinta yang riang terdengar dari balik pintu kamar.

"Bibi Yesi! Aku jadi boleh sekolah di TK Mahari Jalan Barak Utara! Nanti kalau Bibi pulang kerja, Bibi bisa langsung jemput aku! Jadi Bibi nggak akan capek lagi."

"Oh iya, oh iya. Bibi Yesi jangan hamil adik dulu yah. Aku dengar Ibu bilang melahirkan itu berbahaya. Bisa keluar banyak darah. Bahkan bisa meninggal. Kalau soal lahirkan adik laki-laki, biar Ibu saja yang lakukan. Soalnya Ibu sudah pernah lahirkan aku. Jadi Ibu pasti nggak takut. Aku kangen sekali sama Bibi Yesi, pingin dengar Bibi cerita. Aku juga ingin dipeluk Bibi ...."

Di luar pintu Susan pejamkan mata. Dia teringat gimana beberapa menit yang lalu putrinya hapus semua bekas ciumannya dengan penuh penolakan. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Dia selalu pikir, kalau pun suatu hari dia cerai dengan Lukas, setidaknya Sinta akan tetap jadi miliknya. Namun kenyataannya, bahkan putrinya sendiri sekarang lebih dekat dengan wanita lain.

Barulah saat itu Susan benar-benar sadar. Segala pengorbanan, segala air mata, dan seluruh hidup yang ia persembahkan untuk pernikahan ini, ternyata hanyalah sebuah lelucon. Nggak ada seorang pun yang peduli dengan apa yang telah ia lakukan selama ini.

Entah sudah berapa lama berlalu, Susan akhirnya seret langkahnya yang terasa begitu berat turuni tangga. Bu Suharti lihat wajahnya yang kosong dan pucat. Dia segera hampiri dengan wajah khawatir. Namun sebelum sempat tanya, Susan hanya angkat tangan pelan, beri isyarat agar wanita itu nggak berkata apa-apa.

Begitu keluar dari Vila Cerisa, Susan langsung telepon Lukas. Sekali nggak diangkat. Dua kali, masih nggak ada jawaban. Tiga kali, tetap sama. Namun malam ini Susan nggak nyerah. Dia terus telepon tanpa henti. Biasanya, setelah satu atau dua panggilan nggak dijawab, dia akan berhenti. Tetapi malam ini Susan seperti orang gila. Akhirnya telepon itu tersambung. Suara Lukas terdengar dingin dari seberang.

"Aku lagi sibuk. Kenapa …."

Belum sempat Lukas selesaikan kalimatnya, Susan sudah potong dengan suara bergetar, "Aku mau ketemu kamu. Sekarang juga. Detik ini juga!"

Melalui sambungan telepon, Susan teriak sekeras-kerasnya. Seolah seluruh luka yang selama lima tahun dipendam akhirnya meledak dalam satu malam.

Setelah Susan sedikit lebih tenang, Lukas baru berkata datar, "Apa pun urusannya, bahas saja bulan depan waktu kita ketemu."

Kalimat itu baru selesai, sambungan telepon langsung diputus.

Dengar nada sibuk yang terus berbunyi, Susan sudah nggak mampu nangis lagi.

Lukas memang selalu seperti itu, nggak kasih dia kesempatan untuk marah, nggak kasih dia tempat untuk lampiaskan semua luka.

Lima tahun terlalu melelahkan. Apa pun yang terjadi, kali ini dia pasti akan cerai. Namun hak asuh Sinta harus jadi miliknya. Sekalipun sekarang putrinya lebih sayang Yesi, dia tetap akan perjuangkan Sinta, karena Sinta adalah darah dagingnya. Anak yang dia kandung selama sembilan bulan. Anak yang dia besarkan dengan begadang dan air mata. Dia nggak akan serahkan begitu saja ke siapa pun.

Baru saja tekad itu menguat di dalam hatinya, sebuah Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan gerbang Vila Cerisa.

Susan noleh. Melalui kaca depan mobil, dia lihat Lukas duduk di balik kemudi. Di kursi penumpang Yesi sedang peluk setangkai bunga besar dengan wajah penuh senyum.

Lukas juga lihat Susan. Tatapan mereka bertemu dari kejauhan. Nggak satu pun bicara. Keheningan terasa begitu panjang. Dulu Susan nggak pernah berani permasalahkan keberadaan Yesi. Sekarang dia hanya merasa muak.

Beberapa saat kemudian, Lukas turun dari mobil. Seolah-olah Susan sama sekali nggak ada di sana, dia langsung jalan menuju sisi penumpang untuk bukakan pintu bagi Yesi. Namun sebelum sempat lakukan itu, suara Susan hentikan dia.

"Lukas. Kita perlu bicara."

Lukas sama sekali nggak anggap Susan.

Tangannya tetap terulur ke gagang pintu mobil. Susan segera lari hampiri dan tepis tangan pria itu. Dengan mata memerah dan suara penuh amarah, dia berkata, "Lukas! Kamu mau dengan siapa pun, aku nggak masalah. Tapi Sinta itu anak yang aku lahirkan. Dengan hak apa kamu biarkan orang luar ikut campur dalam hubungan antara aku dan putriku?"

Untuk pertama kalinya malam itu, Lukas akhirnya menatapnya. Tatapannya dingin, sombong, dan penuh jarak. Dengan suara rendah, dia berkata pelan, "Yesi lebih pantas jadi seorang ibu dibanding kamu."

Setelah ucapkan kalimat itu, Lukas dorong Susan ke samping, lalu buka pintu mobil untuk Yesi. Susan terpaku. Butuh waktu lama sebelum akhirnya dia pahami makna tersembunyi di balik ucapan itu.

Jangan-jangan Lukas benar-benar ingin putrinya panggil Yesi sebagai ibu?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 50

    Ketika kuliah hampir selesai, Justin minum seteguk air sebelum menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa di bawah podium.“Selanjutnya, saya akan tunjuk seorang mahasiswa untuk jawab sebuah pertanyaan. Jika seorang pasien memiliki kontraindikasi operasi pada saat yang sama, misalnya gangguan pembekuan darah yang parah dan abdomen akut yang mengancam jiwa, gimana seharusnya kita bangun model stratifikasi risikonya? Pertimbangkan berbagai kondisi dan susun alur pengambilan keputusan yang sesuai. Saya beri kalian waktu tiga menit untuk diskusi.”Begitu kata-kata itu terucap, suasana kelas seketika langsung jadi riuh. Lukas bukan mahasiswa kedokteran. Karena itu, Yesi langsung noleh ke Rudi dan berkata, “Kak Rudi, ayo kita diskusi sama-sama.”Namun, Rudi sama sekali nggak jawab dia. Dia justru langsung putar tubuhnya dan mulai diskusi dengan Susan.Lihat itu, Yesi tertegun. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Susan juga lihat kalau Yesi sebenarnya ingin diskusi dengan Rudi, tetapi pria

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 49

    Akhir pekan tiba.Rudi datang ke kediaman Keluarga Tanoko untuk jemput Susan dan ajak dia hadiri kuliah di fakultas kedokteran. Mereka tiba di ruang kelas lima menit lebih awal, tetapi tempat-tempat terbaik ternyata sudah ditempati. Pada akhirnya, mereka hanya bisa duduk di barisan paling depan.Susan bukanlah murid Profesor Justin. Mau nggak mau, dia merasa sedikit bersalah sekaligus gugup.Begitu Rudi masuki ruang kelas, para mahasiswa yang duduk di depan maupun belakang langsung sapa dia dan panggil dia kakak kelas. Beberapa bahkan tampak penasaran dan bertanya-tanya siapa Susan yang datang bersamanya. Rudi hanya tersenyum tipis, nggak kasih penjelasan lebih lanjut.Profesor Justin sudah nggak muda lagi. Dia nggak suka suasana berisik, apalagi sebentar lagi kelas akan dimulai. Bukan karena Rudi nggak mau jawab sapaan mereka, tetapi dia nggak berani lagi keluarkan suara. Di hadapan Justin, bahkan Rudi pun harus patuh dan ikuti aturan.Begitu waktu kuliah tiba, Justin masuk ke dalam k

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 48

    “Bibi lagi nggak senang, yah?”Susan sempat ragu sebelum akhirnya jawab, “Nggak apa-apa kok.”Sebenarnya, dia memang lagi nggak baik-baik saja. Sinta dibesarkannya dengan tangannya sendiri, tetapi sekarang anak itu justru tumbuh jadi seperti ini. Gimana mungkin hatinya bisa merasa tenang?Setelah itu, selera makan Susan jadi turun. Dia terus pikirkan Sinta dan merasa sangat khawatir dengan dia. Rudi sadar dengan perubahan suasana hatinya, jadi dia nggak banyak bicara lagi.Setelah makan, mereka berdua jalan keluar dari restoran. Begitu sampai di pintu masuk, dua orang kebetulan masuk dari arah berlawanan. Mereka adalah Guntur dan Yanto. Saat lihat mereka, Susan nggak bicara sepatah kata pun. Dia justru lewati mereka berdua begitu saja dan langsung pergi. Rudi ikuti langkahnya dari belakang.“Eh ... tunggu ... ini kenapa lagi?”Guntur pandangi punggung Susan yang semakin menjauh dengan wajah bingung. Yanto yang berdiri di sampingnya hanya angkat bahu.“Mana aku tahu?”Selama ini, dalam

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 47

    Siang itu, Rudi pulang kerja lebih cepat. Bahkan sebelum jam dua belas, dia sudah ada di bagian bedah anak untuk tungguin Susan. Susan baru saja terima seorang anak laki-laki dengan luka bakar cukup luas. Setelah selesaikan proses rawat inap dan kasih seluruh instruksi medis, barulah dia pergi cuci tangan dan lepaskan jas putihnya. Rudi tunggu Susan dengan sabar. Sesekali, dia ngobrol singkat dengan para perawat muda yang datang sapa dia. Ketika mereka tinggalkan rumah sakit, waktu sudah hampir tunjukkan jam setengah satu siang.Rudi setir mobil bawa Susan menuju pusat kota. Dia bawa Susan ke sebuah restoran makanan Asia kelas atas.Setelah duduk, mereka pilih tempat di dekat jendela. Dari sana, seluruh pusat Kota Jasinto terbentang jelas di bawah pandangan mereka. Rudi masih ingat dengan baik apa yang disukai Susan. Setelah pesan makanan, dia tuangkan segelas air hangat untuk Susan.“Lagi lihat apa?”Susan alihkan pandangannya. Dia nggak jawab pertanyaan Rudi, melainkan berkata, “Ruma

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 46

    Ingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Lukas ke dia waktu di dalam mobil, Susan merasa sesak sekaligus begitu tersiksa. Demi Lukas, dia telah lahirkan Sinta. Demi Keluarga Hidayat, dia bahkan rela kerja rodi, nggak ngeluh sedikit pun. Namun pada akhirnya, diia nggak pernah dapat satu kata pujian pun. Kalau dipikir-pikir, semua itu sungguh konyol sekaligus menyedihkan.Sesampainya di kediaman Keluarga Tanoko, Kevin masih tungguin Susan di depan rumah.“Kak, kenapa nggak masuk dan duduk di dalam?” Susan lari kecil hampiri kakaknya.“Kenapa hari ini pulangnya malam banget?” Kevin kernyitkan keningnya, matanya dipenuhi rasa khawatir. Karena nggak ingin buat kakaknya cemas, Susan cari alasan dan berkata, “Tadi siang aku ada operasi, jadi nggak sempat angkat telepon.”Kevin tundukkan pandangan ke adiknya. Binar air mata di sudut mata Susan belum benar-benar kering. Namun, dia nggak ingin bongkar kelemahan yang sedang berusaha disembunyikan adiknya.Saat mereka jalan masuk ke dalam rum

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 45

    Begitu nyalakan HP-nya, Susan lihat ada begitu banyak panggilan nggak terjawab. Ada panggilan dari kakaknya dan kakak iparnya, dari kepala bagian di rumah sakit, dan juga dari Rudi.Seharusnya sore itu dia dapat jadwal praktik di poliklinik. Dia tiba-tiba hilang dan nggak masuk kerja, jadi rumah sakit seharusnya kasih sanksi ke dia. Susan sudah persiapkan mental untuk itu. Gimanapun, paling jelek dia hanya akan dipecat. Di dalam taksi, dia telepon kepala bagian rumah sakit.“Dokter Detha.”“Susan, kamu gimana sekarang?” Suara Dokter Detha terdengar biasa saja, sama sekali nggak kelihatan aneh.Susan merasa heran dan untuk sesaat nggak tahu harus bicara apa. Namun, Dokter Detha justru tanya dengan nada penuh perhatian, “Kamu gimana? Sudah enakan?”Susan semakin bingung.“Apa?”Dokter Detha terdengar sedikit bersalah.“Sebagai atasan, aku memang kurang perhatikan bawahan. Kamu lagi demam, tapi aku masih jadwalkan kamu buat praktik di poliklinik. Gini saja, aku kasih kamu cuti tiga hari.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status