Share

Bab 4

Penulis: Lusi Kalila
Pintu mobil perlahan terbuka. Seperti biasa, Lukas lebih dulu angkat tangannya, lindungi kepala Yesi agar nggak kebentur bagian atas mobil, lalu dia ulurkan tangan ke Yesi. Saat jemari mereka saling bertaut, Susan perlahan palingkan wajahnya.

Pemandangan itu begitu menusuk hati. Namun anehnya dia tetap tenang. Mungkin karena akhirnya dia telah terima kenyataan. Karena itulah, saat ini dia bisa berdiri setenang permukaan danau tanpa riak. Seandainya ini terjadi dulu, mungkin dia sudah nangis hingga sesak. Tetapi sekarang, yang ingin dia ketahui hanyalah makna dari kalimat Lukas tadi. "Yesi lebih pantas jadi seorang ibu dibanding kamu."

"Lukas, apa maksudmu?"

Bibir Susan bergetar. Bahkan suaranya terdengar serak.

Yesi turun dari mobil dengan tangan yang masih melingkar manja di lengan Lukas. Di bawah sinar bulan, bayangan mereka memanjang di atas jalan. Terlihat begitu serasi. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Lukas bertindak seakan nggak dengar pertanyaan Susan. Dia langsung gandeng Yesi menuju gerbang Vila Cerisa.

Sudah berapa kali dia diabaikan seperti ini? Bahkan Susan sendiri sudah nggak sanggup hitung. Hatinya telah lama berlubang dan dipenuhi luka. Namun dalam urusan putrinya dia nggak mungkin nyerah begitu saja.

Dengan langkah cepat, Susan kejar mereka. Entah dari mana datangnya tenaga itu, dia genggam erat pergelangan tangan Lukas.

"Lukas! Jawab aku!"

Akhirnya Lukas berhenti. Dia berbalik perlahan. Tatapannya tetap dingin. Nggak ada sedikit pun kehangatan. Dengan mudah dia putar pergelangan tangannya dan lepaskan diri dari genggaman Susan, lalu berkata datar, "Kamu sibuk kerja. Sinta juga masih kecil. Sinta butuh seseorang untuk rawat dia. Nanti setelah kamu hamil anak kedua, biar Yesi saja yang rawat Sinta."

Begitulah Lukas selama ini. Setiap kali ambil keputusan, dia nggak pernah minta pendapat Susan. Lukas hanya kasih tahu saja. Seolah semua keputusannya adalah perintah yang wajib dipatuhi. Namun kali ini Susan nggak akan lagi biarkan Lukas tentukan hidupnya sesuka hati.

Padahal ketika putuskan ikuti program pelatihan di provinsi lain, Susan sudah jauh-jauh hari carikan pengasuh terbaik untuk Sinta. Tetapi baru bulan lalu, dia tahu kenyataan yang sebenarnya. Pengasuh itu telah dipecat diam-diam oleh Lukas.

Selama enam bulan dirinya ada di luar kota, Yesi justru tinggal di Vila Cerisa. Jalani kehidupan yang manis bersama Lukas dan Sinta. Layaknya sebuah keluarga kecil yang utuh.

Selama ini Susan pilih diam. Bukan karena dia nggak peduli. Melainkan karena dia masih simpan secercah harapan. Dia percaya, setidaknya Lukas masih akui dirinya sebagai Nyonya Hidayat. Namun siapa sangka, tanpa dia sadari, bahkan putrinya pun perlahan telah direbut dari dia.

Gimana mungkin Susan bisa pergi dengan tenang setelah semua itu? Begitu pembicaraan beralih ke Sinta, emosi Susan langsung meledak.

"Aku bisa rawat anakku sendiri! Aku nggak butuh orang luar!"

Namun Lukas sama sekali nggak gubris perasaannya. Dengan nada mutlak, dia berkata, "Sudah diputuskan."

Amarah Susan akhirnya meluap. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia nggak lagi bersikap lembut.

"Aku sudah bilang! Aku bisa urus Sinta sendiri!"

Suasana mendadak tegang. Yesi yang berdiri di belakang Lukas segera sadar dengan situasi itu. Dengan suara lembut dia berkata, "Lukas, kalian berdua bicara saja dulu. Aku masuk temui Sinta."

Lukas mengangguk pelan.

Barulah Yesi melangkah menuju halaman Vila Cerisa. Namun baru beberapa Langkah, suara Susan hentikan dia.

"Yesi. Berhenti."

Yesi baru saja noleh …. Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Yang menamparnya adalah Susan. Lukas baru tersadar beberapa detik kemudian. Dia segera dorong Susan menjauh, lalu peluk bahu Yesi dengan wajah panik.

"Kamu nggak apa-apa?"

Yesi tutupi pipinya. Air mata langsung mengalir dari sudut matanya. Wajahnya tampak begitu rapuh dan penuh luka. Lukas benar-benar panik. Dia tiup pipi wanita itu pelan, usap bekas tamparannya dengan hati-hati. Tatapan matanya dipenuhi rasa sayang dan cemas.

Lihat semua itu, Susan sama sekali nggak merasa Yesi layak dikasihani. Perempuan normal mana yang akan begitu dekat dengan pria beristri dan bahkan punya anak?

Tentu saja perselingkuhan nggak mungkin terjadi hanya karena satu pihak. Yesi salah, namun Lukas juga sama kotornya.

Susan baru hendak membuka mulut, ketika sebuah sosok kecil berlari keluar dari dalam Vila Cerisa.

"Ayah! Bibi Yesi!"

Sinta lari sekencang-kencangnya. Karena terlalu terburu-buru, dia bahkan nggak sempat pakai sepatu. Begitu sampai, gadis kecil itu langsung peluk kaki Yesi. Dengan wajah penuh kekhawatiran dia mendongak.

"Bibi Yesi, sakit nggak? Sinta tiup ya ...."

Tadi sebenarnya Sinta sudah bersiap tidur. Namun dari balik jendela, dia lihat mobil ayahnya masuki halaman. Sinta tahu Ayah pasti pulang bersama Bibi Yesi, karena itulah dia buru-buru turun sambut mereka. Tetapi sesampainya di depan pintu, yang dia lihat justru Susan tampar Yesi. Sinta pun langsung lari keluar. Bahkan sepatunya sampai tertinggal di dalam rumah.

Susan hanya mampu berdiri terpaku. Lihat suaminya dan putrinya bersama-sama hibur wanita lain. Saat itu juga dia seakan dengar suara hatinya sendiri yang remuk berkeping-keping. Namun dia masih belum sanggup percayai itu. Bunga mawar yang dia rawat dengan kedua tangannya sendiri, kini justru tusukkan durinya ke dia. Dengan tangan yang terus gemetar, Susan ulurkan tangan ke arah putrinya.

"Sin ...."

Namanya bahkan belum selesai terucap. Sinta sudah berbalik. Dengan wajah penuh amarah, gadis kecil itu berlari hampiri Susan. Tangan mungilnya terus pukul tubuh ibunya.

"Ibu jahat! Ibu jahat! Kenapa Ibu pukul Bibi Yesi? Ibu itu Ibu yang jahat! Aku nggak mau punya Ibu sejahat Ibu!"

Susan membeku. Wajahnya seketika langsung pucat pasi.

Baru pada detik itulah dia benar-benar tersadar. Hak asuh yang selama ini ingin dia perjuangkan, ternyata hanyalah angan-angannya sendiri. Suaminya nggak butuh dia. Putrinya juga nggak ingin dia. Keberadaannya di tempat itu nggak lebih dari sebuah lelucon.

Yang lebih menyedihkan lagi, dia bahkan lagi hamil anak kedua dari pria yang sama sekali nggak cinta dia. Susan nggak tahu sudah berapa lama Sinta pukulin dia. Dia juga nggak dengar lagi apa saja yang diucapkan putrinya. Sebab satu kalimat itu saja sudah cukup bunuh seluruh harapannya.

"Ibu jahat."

Susan berdiri termangu cukup lama. Kemudian dia tersenyum tipis. Senyum yang jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. Tanpa noleh lagi ke Lukas dan Sinta, Susan berbalik pergi.

Di belakangnya Lukas dan Sinta masih sibuk kelilingi Yesi. Mereka terus tanyakan keadaannya. Nggak ada satu pun yang sadar kalau Susan telah tinggalkan tempat itu. Saat lewati tikungan jalan, Susan nggak mampu tahan diri untuk noleh sekali lagi. Dua orang yang paling ia cintai selama lima tahun terakhir, jalan di sisi kiri dan kanan Yesi. Masing-masing genggam salah satu tangan wanita itu. Mereka melangkah masuk ke Vila Cerisa bersama. Begitu hangat, begitu harmonis. Seolah merekalah keluarga yang sesungguhnya.

Susan tersenyum, namun dadanya dipenuhi rasa sesak. Dia ingin nangis, tetapi nggak ada satu tetes air mata pun yang sanggup keluar.

Lima tahun ini telah menguras seluruh tenaga, harapan, dan jiwanya. Selama ini Susan selalu tempatkan mereka sebagai prioritas utama. Mulai hari ini, itu nggak akan terjadi lagi. Setelah tinggalkan Vila Cerisa, Susan jalan sendirian menyusuri jalan yang panjang. Kenangan lima tahun terakhir terus berputar di benaknya. Sebenarnya dia sudah lama tahu. Nggak seharusnya dia terus korbankan dirinya dalam hubungan yang hanya menyakitinya. Hanya saja, dia selalu tolak terima kenyataan. Sekarang akhirnya dia ngerti. Mulai sekarang dia akan belajar cintai dirinya sendiri. Dan hanya orang-orang yang benar-benar cinta dia yang pantas dapat cintanya.

Susan kembali ke Vila Permai dengan mobil. Masuk ke ruang kerja, lalu susun ulang surat perjanjian perceraian. Pembagian harta tetap sama. Masing-masing dapatkan setengah. Namun kali ini untuk urusan Sinta, dia pilih lepaskan hak asuh.

Setelah dokumen itu dirapikan dan diletakkan di atas meja kerja, malam itu juga dia langsung setir kembali menuju provinsi tempatnya kerja.

Keesokan paginya, setelah istirahat semalam, Susan datang lebih awal ke rumah sakit.

Dokter yang bertugas di poli kebidanan hari itu adalah teman kuliahnya.

Jenny Winarko.

Jenny tahu sedikit banyak tentang kehidupan pernikahan Susan, namun begitu dengar keputusan sahabatnya, dia benar-benar terkejut.

"Bayi ini nggak gampang dapatnya. Kenapa justru mau digugurkan? Meskipun hubungan kalian memang sudah nggak bisa diselamatkan, lahirkan anak tanpa pertahankan suaminya juga bukan pilihan yang buruk."

Susan duduk tenang di hadapan sahabatnya. Wajahnya begitu damai. Seolah telah lepaskan seluruh beban yang selama ini menyesakkan dadanya.

"Jenny, aku ini seorang perempuan. Dan bentuk tanggung jawab terbesar seorang perempuan terhadap dirinya sendiri adalah nggak sembarangan lahirkan anak. Apalagi nyawaku juga berharga. Aku sudah putuskan. Tolong jadwalkan operasi untuk aku pagi ini."

Perempuan yang dulu bernama Susan telah mati bersama semua harapannya. Mulai hari ini dia hanya akan cintai dirinya sendiri, dan orang-orang yang juga cinta dia. Sedangkan mereka yang nggak pernah hargai dia, dia pilih lepaskan semuanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 50

    Ketika kuliah hampir selesai, Justin minum seteguk air sebelum menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa di bawah podium.“Selanjutnya, saya akan tunjuk seorang mahasiswa untuk jawab sebuah pertanyaan. Jika seorang pasien memiliki kontraindikasi operasi pada saat yang sama, misalnya gangguan pembekuan darah yang parah dan abdomen akut yang mengancam jiwa, gimana seharusnya kita bangun model stratifikasi risikonya? Pertimbangkan berbagai kondisi dan susun alur pengambilan keputusan yang sesuai. Saya beri kalian waktu tiga menit untuk diskusi.”Begitu kata-kata itu terucap, suasana kelas seketika langsung jadi riuh. Lukas bukan mahasiswa kedokteran. Karena itu, Yesi langsung noleh ke Rudi dan berkata, “Kak Rudi, ayo kita diskusi sama-sama.”Namun, Rudi sama sekali nggak jawab dia. Dia justru langsung putar tubuhnya dan mulai diskusi dengan Susan.Lihat itu, Yesi tertegun. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Susan juga lihat kalau Yesi sebenarnya ingin diskusi dengan Rudi, tetapi pria

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 49

    Akhir pekan tiba.Rudi datang ke kediaman Keluarga Tanoko untuk jemput Susan dan ajak dia hadiri kuliah di fakultas kedokteran. Mereka tiba di ruang kelas lima menit lebih awal, tetapi tempat-tempat terbaik ternyata sudah ditempati. Pada akhirnya, mereka hanya bisa duduk di barisan paling depan.Susan bukanlah murid Profesor Justin. Mau nggak mau, dia merasa sedikit bersalah sekaligus gugup.Begitu Rudi masuki ruang kelas, para mahasiswa yang duduk di depan maupun belakang langsung sapa dia dan panggil dia kakak kelas. Beberapa bahkan tampak penasaran dan bertanya-tanya siapa Susan yang datang bersamanya. Rudi hanya tersenyum tipis, nggak kasih penjelasan lebih lanjut.Profesor Justin sudah nggak muda lagi. Dia nggak suka suasana berisik, apalagi sebentar lagi kelas akan dimulai. Bukan karena Rudi nggak mau jawab sapaan mereka, tetapi dia nggak berani lagi keluarkan suara. Di hadapan Justin, bahkan Rudi pun harus patuh dan ikuti aturan.Begitu waktu kuliah tiba, Justin masuk ke dalam k

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 48

    “Bibi lagi nggak senang, yah?”Susan sempat ragu sebelum akhirnya jawab, “Nggak apa-apa kok.”Sebenarnya, dia memang lagi nggak baik-baik saja. Sinta dibesarkannya dengan tangannya sendiri, tetapi sekarang anak itu justru tumbuh jadi seperti ini. Gimana mungkin hatinya bisa merasa tenang?Setelah itu, selera makan Susan jadi turun. Dia terus pikirkan Sinta dan merasa sangat khawatir dengan dia. Rudi sadar dengan perubahan suasana hatinya, jadi dia nggak banyak bicara lagi.Setelah makan, mereka berdua jalan keluar dari restoran. Begitu sampai di pintu masuk, dua orang kebetulan masuk dari arah berlawanan. Mereka adalah Guntur dan Yanto. Saat lihat mereka, Susan nggak bicara sepatah kata pun. Dia justru lewati mereka berdua begitu saja dan langsung pergi. Rudi ikuti langkahnya dari belakang.“Eh ... tunggu ... ini kenapa lagi?”Guntur pandangi punggung Susan yang semakin menjauh dengan wajah bingung. Yanto yang berdiri di sampingnya hanya angkat bahu.“Mana aku tahu?”Selama ini, dalam

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 47

    Siang itu, Rudi pulang kerja lebih cepat. Bahkan sebelum jam dua belas, dia sudah ada di bagian bedah anak untuk tungguin Susan. Susan baru saja terima seorang anak laki-laki dengan luka bakar cukup luas. Setelah selesaikan proses rawat inap dan kasih seluruh instruksi medis, barulah dia pergi cuci tangan dan lepaskan jas putihnya. Rudi tunggu Susan dengan sabar. Sesekali, dia ngobrol singkat dengan para perawat muda yang datang sapa dia. Ketika mereka tinggalkan rumah sakit, waktu sudah hampir tunjukkan jam setengah satu siang.Rudi setir mobil bawa Susan menuju pusat kota. Dia bawa Susan ke sebuah restoran makanan Asia kelas atas.Setelah duduk, mereka pilih tempat di dekat jendela. Dari sana, seluruh pusat Kota Jasinto terbentang jelas di bawah pandangan mereka. Rudi masih ingat dengan baik apa yang disukai Susan. Setelah pesan makanan, dia tuangkan segelas air hangat untuk Susan.“Lagi lihat apa?”Susan alihkan pandangannya. Dia nggak jawab pertanyaan Rudi, melainkan berkata, “Ruma

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 46

    Ingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Lukas ke dia waktu di dalam mobil, Susan merasa sesak sekaligus begitu tersiksa. Demi Lukas, dia telah lahirkan Sinta. Demi Keluarga Hidayat, dia bahkan rela kerja rodi, nggak ngeluh sedikit pun. Namun pada akhirnya, diia nggak pernah dapat satu kata pujian pun. Kalau dipikir-pikir, semua itu sungguh konyol sekaligus menyedihkan.Sesampainya di kediaman Keluarga Tanoko, Kevin masih tungguin Susan di depan rumah.“Kak, kenapa nggak masuk dan duduk di dalam?” Susan lari kecil hampiri kakaknya.“Kenapa hari ini pulangnya malam banget?” Kevin kernyitkan keningnya, matanya dipenuhi rasa khawatir. Karena nggak ingin buat kakaknya cemas, Susan cari alasan dan berkata, “Tadi siang aku ada operasi, jadi nggak sempat angkat telepon.”Kevin tundukkan pandangan ke adiknya. Binar air mata di sudut mata Susan belum benar-benar kering. Namun, dia nggak ingin bongkar kelemahan yang sedang berusaha disembunyikan adiknya.Saat mereka jalan masuk ke dalam rum

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 45

    Begitu nyalakan HP-nya, Susan lihat ada begitu banyak panggilan nggak terjawab. Ada panggilan dari kakaknya dan kakak iparnya, dari kepala bagian di rumah sakit, dan juga dari Rudi.Seharusnya sore itu dia dapat jadwal praktik di poliklinik. Dia tiba-tiba hilang dan nggak masuk kerja, jadi rumah sakit seharusnya kasih sanksi ke dia. Susan sudah persiapkan mental untuk itu. Gimanapun, paling jelek dia hanya akan dipecat. Di dalam taksi, dia telepon kepala bagian rumah sakit.“Dokter Detha.”“Susan, kamu gimana sekarang?” Suara Dokter Detha terdengar biasa saja, sama sekali nggak kelihatan aneh.Susan merasa heran dan untuk sesaat nggak tahu harus bicara apa. Namun, Dokter Detha justru tanya dengan nada penuh perhatian, “Kamu gimana? Sudah enakan?”Susan semakin bingung.“Apa?”Dokter Detha terdengar sedikit bersalah.“Sebagai atasan, aku memang kurang perhatikan bawahan. Kamu lagi demam, tapi aku masih jadwalkan kamu buat praktik di poliklinik. Gini saja, aku kasih kamu cuti tiga hari.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status