Share

Bab 6

Penulis: Lusi Kalila
Saat pintu kamar perlahan terbuka, Lukas secara refleks ulurkan tangan dan matikan lampu. Dalam sekejap seluruh ruangan tenggelam dalam gelap. Sambil buka ikatan jubah tidurnya, dia berkata dengan nada datar, "Sudah agak telat. Kita langsung mulai saja. Nanti aku masih ada urusan."

Saat pintu terbuka, cahaya dari lorong masuk dan menyinari sosok yang berdiri di ambang pintu. Namun dalam remang-remang, wajah orang itu nggak terlihat jelas.

Bu Tuti yang dengar ucapan Lukas langsung membeku. Dia nggak berani melangkah lebih jauh. Dengan suara kecil dia buru-buru berkata, "Tuan, ini saya."

Lukas terdiam sesaat. Setelah sadari siapa yang datang, dia segera nyalakan lampu.

Tatapannya jatuh pada Bu Tuti. Dengan nada bingung Lukas tanya, "Dia belum pulang?"

Bu Tuti tampak berkeringat karena gugup. Dia mengangguk pelan.

"Iya."

Seketika suasana kamar jadi jauh lebih dingin.

Bu Tuti tahu Lukas lagi nggak senang, namun dia juga nggak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa coba tenangkan, "Nyonya biasanya pulang pagian. Bulan lalu saja, sebelum pukul enam dia sudah sampai. Hari ini Nyonya belum pulang, mungkin ada urusan yang buat dia telat."

Lukas paham maksud Bu Tuti, namun dia nggak bicara apa pun. Dia hanya jawab singkat, "Aku tahu."

Bu Tuti baru hendak ingatkan Lukas agar istirahat lebih awal. Namun sebelum kata-kata itu keluar, Lukas tiba-tiba bangkit dari tempat tidur. Ucapan yang sudah sampai di ujung lidahnya pun terpaksa dia telan kembali.

Lima menit kemudian, Lukas sudah ganti pakaian. Dia tinggalkan Vila Permai. Bu Tuti antar dia sampai ke bawah. Namun entah mengapa, hatinya merasa seperti lupakan sesuatu.

Barulah setelah mobil Lukas hilang dari pandangan, Bu Tuti teringat Nyonya pernah pesankan tentang sesuatu yang ada di ruang kerja.

Di dalam mobil, baru saja Lukas keluar dari area Vila Permai ketika HP-nya berdering. Panggilan dari Yesi.

"Kenapa?"

Di bawah cahaya redup malam, wajah Lukas tampak jauh lebih lembut. Nggak ada ketajaman yang biasanya terlihat. Suara Yesi terdengar lembut dari seberang telepon.

"Lukas, besok aku ada konser yang sangat penting. Tapi besok juga ada kegiatan orang tua dan anak di taman kanak-kanak Sinta. Aku takut ...."

Kalimatnya belum selesai, namun Lukas sudah paham maksudnya.

"Aku ngerti. Aku akan minta Susan yang pergi."

Dengar itu, Yesi menghela napas lega.

"Aku sudah bicarakan itu dengan Sinta. Kamu cukup kabarin itu ke Susan."

Lukas jawab, "Oke. Kamu fokus saja ke konsermu."

Setelah panggilan berakhir, Lukas hentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia buka daftar kontak, namun dia cari cukup lama, tetap nggak temukan nomor yang biasanya begitu mudah dia temukan.

Barulah saat itu Lukas sadar sesuatu. Susan sudah sangat lama nggak pernah telepon dia lebih dulu. Saat Susan masih jadi ibu rumah tangga penuh waktu dan urus Sinta setiap hari, dia selalu telepon tanya apa Lukas pulang untuk makan malam, namun Lukas hampir nggak pernah pulang. Kalaupun pulang, perhatiannya hanya untuk putrinya.

Setelah rencana punya anak kedua dimulai, Susan masih sesekali tanya apa dia akan pulang. Tetapi dia nggak pernah jawab semua panggilan itu. Kadang Lukas tutup panggilan teleponnya. Kadang dia biarkan telepon itu berhenti sendiri. Namun ketika dia sendiri ingin hubungi Susan, nomornya selalu bisa ditemukan dengan mudah.

Tapi sekarang, Lukas sudah balik beberapa halaman daftar kontak, tetap nggak ada. Entah berapa lama dia cari, akhirnya dia temukan nomor itu. Namun, riwayat komunikasi terakhir mereka ternyata sudah tiga bulan yang lalu.

Tiga bulan? Jadi sudah selama itu? Lukas bahkan nggak ingat lagi apa panggilan terakhir dari Susan waktu itu dia angkat atau nggak. Dia nggak terlalu pikirkan itu. Lukas langsung telepon, namun suara otomatis yang dingin terdengar.

"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat tersambung."

Lukas belum pernah alami hal seperti ini. Dia sempat tertegun, namun tetap coba lagi. Panggilan kedua. Hasilnya sama. Dia coba empat hingga lima kali, tetap nggak berhasil. Akhirnya dia nyerah. Awalnya dia ingin lakukan panggilan video melalui Whatsapp. Namun setelah membuka daftar teman, dia baru sadar kalau Susan sudah nggak ada di daftar kontaknya.

Pada akhirnya, Lukas hanya bisa kirim pesan singkat.

[Besok Sinta ada kegiatan orang tua dan anak di sekolah. Sinta mau kamu temani dia. Jam dua siang, TK Mahari Jalan Barak Utara.]

Setelah pesan terkirim, Lukas kembali jalankan mobilnya. Dia pikir mungkin Susan sedang sibuk, jadi nggak jawab telepon. Begitu lihat pesan itu, Susan pasti akan datang temani putrinya. Pikirkan hal itu, Lukas merasa lega.

Di sisi lain ….

Jam sembilan malam di sebuah desa.

Susan baru selesai jalankan tugas terakhirnya hari itu di sebuah SD kecil. Dia tinggal di asrama guru. Setelah seharian kerja keras, dia hanya mandi sebentar, lalu langsung berbaring. HP-nya berada dalam mode senyap diletakkan di samping tempat tidur. Namun Susan sama sekali nggak lihat, dia langsung ketiduran.

Keesokan paginya, Susan terbangun karena suara HP-nya bergetar. Dengan mata setengah terbuka, dia raih HP. Namun ternyata bukan alarm, melainkan pengingat kalender. Besok adalah ulang tahun ayah mertuanya.

Tahun-tahun sebelumnya, pada hari seperti ini, dia selalu bangun sangat pagi. Pergi ke pasar beli bahan makanan, lalu kembali masak berbagai hidangan yang lezat. Susan habiskan satu hari penuh di dapur hanya demi jamuan Keluarga Hidayat pada malam hari. Namun sekarang semuanya sudah beda.

Tahun ini, dia nggak akan sebodoh itu lagi. Dia matikan pengingat kalender, lalu tidur kembali.

Hari ini adalah Jumat. Dia selesai kerja jam dua siang. Dulu, dia selalu hanya ingat ulang tahun ayah Lukas. Namun lupa kalau di hari yang sama adalah ulang tahun ayah kandungnya sendiri. Tapi tahun ini berbeda, dia putuskan pulang malam ini. Besok dia akan masak makan malam yang lezat untuk ayah dan keluarganya.

Sedangkan pesan dari Lukas semalam sudah tertimbun oleh berbagai notifikasi lain. Entah sudah ada di bagian mana.

Susan tiba di rumah Keluarga Tanoko tepat jam enam sore.

Waktu makan malam.

Saat dia buka pintu ruang tamu, seluruh keluarga sedang berada di sana. Ayah. Ibu. Kakak laki-laki. Kakak ipar. Keponakan perempuan. Semuanya.

Ketika sosok seseorang tiba-tiba muncul di depan pintu, Monika Tanoko yang sedang susun puzzle langsung terkejut. Namun setelah lihat lebih jelas, matanya membesar. Itu ternyata adalah bibinya yang sudah lama nggak pulang.

Monika segera letakkan puzzle, lalu berlari kecil hampiri Susan. Dia peluk erat kaki bibinya.

"Bibi! Bibi pulang!"

Susan berjongkok, peluk tubuh kecil itu erat-erat. Dia cium pipi Monika dengan lembut.

"Iya."

Satu kata sederhana itu, entah mengapa buat hatinya terasa begitu sakit. Matanya perlahan memerah. Monika peluk leher bibinya, lalu balas cium pipinya. Kemudian teriak ke arah dapur, "Ayah! Ibu! Bibi pulang!"

Dengar suara itu, Kevin Tanoko dan Weni Kuncara keluar dari dapur.

Begitu lihat Susan, kilatan bahagia sempat muncul di mata Kevin, namun sesaat kemudian dia sembunyikan itu. Wajahnya kembali dingin. Lihat itu, Weni diam-diam senggol lengannya, lalu tersenyum ke Susan.

"Sudah pulang saja sudah bagus. Makanan sebentar lagi siap."

Monika berdiri di depan ibunya. Dia tarik tangan Weni sambil berkata, "Ibu, Bibi paling suka daging asap. Waktu dulu aku ingin makan itu, Ibu bilang harus tunggu Bibi pulang dulu. Sekarang Bibi sudah pulang, berarti aku boleh makan, kan?"

Weni cubit hidung putrinya dengan lembut.

"Kamu ini, yang dipikirkan cuma makanan. Ibu buatkan."

Monika langsung bersorak gembira. Dia lompat-lompat sambil bertepuk tangan. Dua ekor kuncirnya bergoyang ke sana kemari. Namun Kevin bahkan nggak lihat Susan. Dia hanya berkata dingin ke putrinya, "Nggak usah terlalu semangat ke orang yang bahkan nggak peduli ke kamu."

Susan punya keluarga yang sangat bahagia. Orang tua. Kakak. Kakak ipar. Semuanya sayang dia. Namun selama ini, dia justru berikan seluruh cinta dan tenaganya ke Keluarga Hidayat. Bahkan rela berkorban tanpa ngeluh.

Sayangnya, pengorbanannya nggak pernah sentuh hati Keluarga Hidayat. Yang terluka justru Keluarga Tanoko yang selalu cintai dia.

Sebenarnya malam ini ia merasa tidak pantas pulang. Namun setelah dipikirkan kembali, kasih sayang keluarga ini adalah sesuatu yang benar-benar nyata. Kakak dan ayahnya mungkin keras kepala, namun hati mereka lembut. Ibunya yang selalu nangis diam-diam demi dirinya. Kakak iparnya yang bijaksana dan penuh pengertian. Serta keponakan kecilnya yang ceria dan menggemaskan.

Susan akhirnya ngerti. Dia harus genggam erat hal-hal yang beri dia kehangatan. Sedangkan hal-hal yang hanya berikan dia rasa dingin, sudah seharusnya dia lepaskan sejak lama.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 50

    Ketika kuliah hampir selesai, Justin minum seteguk air sebelum menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa di bawah podium.“Selanjutnya, saya akan tunjuk seorang mahasiswa untuk jawab sebuah pertanyaan. Jika seorang pasien memiliki kontraindikasi operasi pada saat yang sama, misalnya gangguan pembekuan darah yang parah dan abdomen akut yang mengancam jiwa, gimana seharusnya kita bangun model stratifikasi risikonya? Pertimbangkan berbagai kondisi dan susun alur pengambilan keputusan yang sesuai. Saya beri kalian waktu tiga menit untuk diskusi.”Begitu kata-kata itu terucap, suasana kelas seketika langsung jadi riuh. Lukas bukan mahasiswa kedokteran. Karena itu, Yesi langsung noleh ke Rudi dan berkata, “Kak Rudi, ayo kita diskusi sama-sama.”Namun, Rudi sama sekali nggak jawab dia. Dia justru langsung putar tubuhnya dan mulai diskusi dengan Susan.Lihat itu, Yesi tertegun. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Susan juga lihat kalau Yesi sebenarnya ingin diskusi dengan Rudi, tetapi pria

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 49

    Akhir pekan tiba.Rudi datang ke kediaman Keluarga Tanoko untuk jemput Susan dan ajak dia hadiri kuliah di fakultas kedokteran. Mereka tiba di ruang kelas lima menit lebih awal, tetapi tempat-tempat terbaik ternyata sudah ditempati. Pada akhirnya, mereka hanya bisa duduk di barisan paling depan.Susan bukanlah murid Profesor Justin. Mau nggak mau, dia merasa sedikit bersalah sekaligus gugup.Begitu Rudi masuki ruang kelas, para mahasiswa yang duduk di depan maupun belakang langsung sapa dia dan panggil dia kakak kelas. Beberapa bahkan tampak penasaran dan bertanya-tanya siapa Susan yang datang bersamanya. Rudi hanya tersenyum tipis, nggak kasih penjelasan lebih lanjut.Profesor Justin sudah nggak muda lagi. Dia nggak suka suasana berisik, apalagi sebentar lagi kelas akan dimulai. Bukan karena Rudi nggak mau jawab sapaan mereka, tetapi dia nggak berani lagi keluarkan suara. Di hadapan Justin, bahkan Rudi pun harus patuh dan ikuti aturan.Begitu waktu kuliah tiba, Justin masuk ke dalam k

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 48

    “Bibi lagi nggak senang, yah?”Susan sempat ragu sebelum akhirnya jawab, “Nggak apa-apa kok.”Sebenarnya, dia memang lagi nggak baik-baik saja. Sinta dibesarkannya dengan tangannya sendiri, tetapi sekarang anak itu justru tumbuh jadi seperti ini. Gimana mungkin hatinya bisa merasa tenang?Setelah itu, selera makan Susan jadi turun. Dia terus pikirkan Sinta dan merasa sangat khawatir dengan dia. Rudi sadar dengan perubahan suasana hatinya, jadi dia nggak banyak bicara lagi.Setelah makan, mereka berdua jalan keluar dari restoran. Begitu sampai di pintu masuk, dua orang kebetulan masuk dari arah berlawanan. Mereka adalah Guntur dan Yanto. Saat lihat mereka, Susan nggak bicara sepatah kata pun. Dia justru lewati mereka berdua begitu saja dan langsung pergi. Rudi ikuti langkahnya dari belakang.“Eh ... tunggu ... ini kenapa lagi?”Guntur pandangi punggung Susan yang semakin menjauh dengan wajah bingung. Yanto yang berdiri di sampingnya hanya angkat bahu.“Mana aku tahu?”Selama ini, dalam

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 47

    Siang itu, Rudi pulang kerja lebih cepat. Bahkan sebelum jam dua belas, dia sudah ada di bagian bedah anak untuk tungguin Susan. Susan baru saja terima seorang anak laki-laki dengan luka bakar cukup luas. Setelah selesaikan proses rawat inap dan kasih seluruh instruksi medis, barulah dia pergi cuci tangan dan lepaskan jas putihnya. Rudi tunggu Susan dengan sabar. Sesekali, dia ngobrol singkat dengan para perawat muda yang datang sapa dia. Ketika mereka tinggalkan rumah sakit, waktu sudah hampir tunjukkan jam setengah satu siang.Rudi setir mobil bawa Susan menuju pusat kota. Dia bawa Susan ke sebuah restoran makanan Asia kelas atas.Setelah duduk, mereka pilih tempat di dekat jendela. Dari sana, seluruh pusat Kota Jasinto terbentang jelas di bawah pandangan mereka. Rudi masih ingat dengan baik apa yang disukai Susan. Setelah pesan makanan, dia tuangkan segelas air hangat untuk Susan.“Lagi lihat apa?”Susan alihkan pandangannya. Dia nggak jawab pertanyaan Rudi, melainkan berkata, “Ruma

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 46

    Ingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Lukas ke dia waktu di dalam mobil, Susan merasa sesak sekaligus begitu tersiksa. Demi Lukas, dia telah lahirkan Sinta. Demi Keluarga Hidayat, dia bahkan rela kerja rodi, nggak ngeluh sedikit pun. Namun pada akhirnya, diia nggak pernah dapat satu kata pujian pun. Kalau dipikir-pikir, semua itu sungguh konyol sekaligus menyedihkan.Sesampainya di kediaman Keluarga Tanoko, Kevin masih tungguin Susan di depan rumah.“Kak, kenapa nggak masuk dan duduk di dalam?” Susan lari kecil hampiri kakaknya.“Kenapa hari ini pulangnya malam banget?” Kevin kernyitkan keningnya, matanya dipenuhi rasa khawatir. Karena nggak ingin buat kakaknya cemas, Susan cari alasan dan berkata, “Tadi siang aku ada operasi, jadi nggak sempat angkat telepon.”Kevin tundukkan pandangan ke adiknya. Binar air mata di sudut mata Susan belum benar-benar kering. Namun, dia nggak ingin bongkar kelemahan yang sedang berusaha disembunyikan adiknya.Saat mereka jalan masuk ke dalam rum

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 45

    Begitu nyalakan HP-nya, Susan lihat ada begitu banyak panggilan nggak terjawab. Ada panggilan dari kakaknya dan kakak iparnya, dari kepala bagian di rumah sakit, dan juga dari Rudi.Seharusnya sore itu dia dapat jadwal praktik di poliklinik. Dia tiba-tiba hilang dan nggak masuk kerja, jadi rumah sakit seharusnya kasih sanksi ke dia. Susan sudah persiapkan mental untuk itu. Gimanapun, paling jelek dia hanya akan dipecat. Di dalam taksi, dia telepon kepala bagian rumah sakit.“Dokter Detha.”“Susan, kamu gimana sekarang?” Suara Dokter Detha terdengar biasa saja, sama sekali nggak kelihatan aneh.Susan merasa heran dan untuk sesaat nggak tahu harus bicara apa. Namun, Dokter Detha justru tanya dengan nada penuh perhatian, “Kamu gimana? Sudah enakan?”Susan semakin bingung.“Apa?”Dokter Detha terdengar sedikit bersalah.“Sebagai atasan, aku memang kurang perhatikan bawahan. Kamu lagi demam, tapi aku masih jadwalkan kamu buat praktik di poliklinik. Gini saja, aku kasih kamu cuti tiga hari.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status