Share

Bab 5

Penulis: Lusi Kalila
Saat Susan kembali buka mata, dia sudah terbaring di sebuah ruang rawat inap. Nggak lama kemudian, Jenny datang jenguk dia. Setelah periksa kondisinya, dia berpesan dengan serius, "Istirahat di rumah sakit dua hari lagi sebelum pulang. Setelah itu ingat jalani masa pemulihan seperti ibu yang baru melahirkan. Tubuhmu harus benar-benar dipulihkan."

Susan mengangguk pelan. Sebenarnya, dia sudah ambil keputusan. Dia akan jalani masa pemulihan selama satu bulan penuh. Tubuh ini adalah miliknya. Kalau bukan dirinya yang jaga, siapa lagi?

Setelah Jenny pergi, Susan ambil HP-nya. Dia melirik layar sebentar. Nggak kaget, nggak ada satu pun panggilan dari Lukas. Barangkali, bagi mereka kejadian semalam hanyalah sebuah insiden kecil yang mudah dilupakan. Namun bagi Susan, malam itu adalah titik balik dalam hidupnya. Setidaknya sekarang dia benar-benar kenali siapa mereka. Dan itu jauh lebih baik daripada terus hidup dalam siklus harapan, kekecewaan, dan penderitaan yang nggak berujung.

Tanpa sadar, dia kembali buka aplikasi yang selama ini sering dia lihat. Video pertama yang muncul masih milik Yesi.

Di atas nama akunnya tertera tulisan kecil: [Mungkin orang yang Anda kenal.]

Di dalam video itu, Yesi sedang gandeng tangan seorang anak kecil. Meski hanya terlihat dari belakang, Susan langsung kenali dia. Itu adalah Sinta. Keterangan videonya berbunyi:

[Senang rasanya saat dibutuhkan seseorang.]

Latar belakang video itu adalah ruang tamu Vila Cerisa.

Kali ini, Susan hanya tersenyum tipis. Tanpa ragu, dia tekan layar cukup lama, lalu pilih opsi [Nggak tertarik].

Sudah waktunya akhiri kebiasaan diam-diam intip kehidupan mereka.

Setelah keluar dari rumah sakit, Susan sewa seorang perawat khusus untuk rawat dia. Selama satu bulan penuh, Susan benar-benar istirahat. Nggak kerja, nggak pikirkan siapa pun. Dia hanya fokus pulihkan dirinya sendiri.

Sebulan kemudian, dia bayar seluruh upah sang perawat, lalu kenakan gaun panjang berwarna cerah. Susan rias wajah dengan riasan tipis, kemudian setir mobil menuju Kota Jasinto.

Hari itu kembali jatuh pada tanggal lima belas. Hari yang selama ini jadi jadwal tetap dirinya dan Lukas untuk "buat" anak kedua. Sejujurnya dalam urusan ranjang, Susan nggak pernah benar-benar merasa bahagia. Setiap kali bersama dirinya, Lukas selalu lakukan sekadarnya. Seolah hanya ingin segera selesaikan kewajibannya, agar bisa lebih cepat kembali temui Yesi. Namun malam ini, Susan datang bukan untuk penuhi kewajiban itu. Susan datang untuk akhiri semuanya.

Saat tiba di Vila Permai, hari sudah tunjukkan jam tujuh malam. Bu Tuti sambut dia seperti biasa dan siapkan makan malam. Setelah selesai makan, Susan langsung naik ke ruang kerja di lantai dua. Surat perjanjian perceraian masih tergeletak rapi di atas meja. Posisinya nggak berubah sedikit pun sejak sebulan lalu.

Jelas sekali Lukas sama sekali belum pernah pulang ke rumah ini. Susan tunggu. Jam delapan, jam sembilan.

Saat kesabarannya mulai habis, akhirnya terdengar suara langkah kaki dari luar. Pintu terbuka, namun yang masuk bukan Lukas. Melainkan Bu Tuti.

"Nyonya, Tuan tadi telepon. Dia bilang malam ini ada urusan, jadi nggak bisa pulang. Tuan minta Nyonya datang lagi bulan depan."

Susan hanya tersenyum pahit.

Bulan depan? Belum tentu bulan depan dia masih bersedia datang.

Susan sudah terlalu lama kurung dirinya sendiri dalam penjara bernama pernikahan ini. Dia lelah. Dia muak.

Setelah terdiam beberapa saat, Susan berdiri sambil bawa tasnya.

"Bu Tuti, kalau Tuan pulang nanti, tolong ingatkan kalau aku tinggalkan sesuatu di meja kerja."

"Baik, Nyonya."

Susan mengangguk pelan, lalu tinggalkan Vila Permai.

Susan setir mobil tanpa tujuan. Bahkan dirinya sendiri nggak tahu ke mana mobil itu membawanya. Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah gedung besar bertuliskan:

[Aula Besar Kota Jasinto.]

Di depan pintu keluar, banyak anak muda berbondong-bondong tinggalkan gedung. Nggak lama kemudian kerumunan mulai berkurang. Yang terakhir keluar adalah tiga orang. Dan ketiganya buat Susan nggak mampu alihkan pandangan.

Di tengah ada Yesi. Di sisi kanan dan kirinya ada Lukas dan Sinta. Mereka bertiga saling gandeng tangan, benar-benar tampak seperti keluarga.

"Bibi Yesi! Tadi Bibi hebat sekali! Bibi cantik sekali! Seperti bidadari! Lagu piano yang Bibi mainkan juga indah sekali. Nanti kalau aku sudah besar, Bibi mau ajari aku main piano, kan? Iya kan, Bibi?" Sinta goyang-goyangkan lengan Yesi sambil berkata manja.

Malam itu, Yesi kenakan gaun putih panjang. Anggun dan berkelas. Di bawah cahaya lampu malam, dia tampak bagaikan bintang yang jatuh ke bumi. Bersinar begitu terang. Dia membungkuk sedikit, lalu cubit hidung Sinta dengan lembut sambil tersenyum.

"Kalau Sinta suka, tentu saja Bibi akan ajari kamu."

Dengar jawaban itu, Sinta langsung lompat kegirangan. Kemudian dia noleh ke Lukas.

"Ayah, Bibi Yesi hebat sekali, kan?"

Lukas tersenyum tipis.

"Hm."

Jawabannya hanya satu kata. Namun dari sorot matanya, terlihat jelas rasa bangga dan kekaguman yang begitu dalam.

Sinta makin bersemangat.

"Kalau aku besar nanti, aku juga mau sehebat Bibi Yesi."

Dari balik kaca mobil, Susan saksikan semuanya dengan jelas. Tatapan penuh kekaguman di mata putrinya, nggak pernah sekalipun diberikan ke dia. Namun setelah dipikir-pikir, itu memang wajar.

Sejak nikah, seluruh hidupnya hanya berputar di sekitar suami dan anak. Sedikit demi sedikit dia berhenti rawat dirinya. Tinggalkan semua hobi yang dulu dia cintai. Di mata Sinta, dia hanyalah seorang ibu rumah tangga yang setiap hari berkutat di dapur. Sedangkan Yesi adalah sosok yang bersinar, indah, sempurna, nggak tersentuh. Pikirkan hal itu hati Susan kembali dipenuhi rasa sakit.

Di depan aula, Sinta tiba-tiba rentangkan kedua tangannya. Sambil lompat-lompat dia merengek, "Bibi Yesi, gendong aku!"

Lukas segera hentikan dia.

"Sinta. Bibi Yesi lagi pakai gaun. Nggak nyaman kalau gendong kamu. Nanti saja kalau sudah masuk mobil."

Dengar itu, Sinta langsung pasang wajah cemberut. Lihat itu, Yesi segera membungkuk, lalu angkat tubuh Sinta ke dalam pelukannya. Dia tersenyum ke Lukas.

"Nggak apa-apa. Selama Sinta mau aku gendong dia."

Tatapan Lukas langsung jadi lembut. Matanya dipenuhi kasih sayang yang nggak berusaha dia sembunyikan. Yesi gendong Sinta turuni anak tangga. Sinta terus peluk lehernya, usap pipinya, bermanja tanpa henti. Sementara itu, Lukas jalan di belakang. Dengan sabar angkat ujung gaun panjang Yesi agar nggak sentuh lantai.

Pria yang begitu disegani di dunia bisnis. Pria yang nggak pernah tundukkan kepala kepada siapa pun. Sekarang rela membungkuk demi jaga gaun seorang wanita. Nggak lama kemudian, mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Mobil itu perlahan melaju pergi.

Jadi, inilah yang dimaksud Lukas dengan "ada urusan." Susan nggak kuasa tahan senyum getirnya. Dia tetap duduk di dalam mobil cukup lama. Hingga akhirnya HP-nya berdering. Panggilan dari rumah sakit. Setelah tersambung, dia sapa dengan sopan, "Dokter Detha."

Susan adalah dokter spesialis bedah anak, namun karena sempat jadi ibu rumah tangga selama empat tahun, ketika kembali kerja dia harus mulai lagi dari posisi paling bawah.

Di seberang telepon, Kepala Dokter Detha berkata, "Program pelatihanmu boleh diakhiri lebih awal. Minggu depan kamu sudah bisa kembali kerja."

Susan terdiam sejenak, kemudian tanya pelan, "Dokter Detha, bukannya rumah sakit lagi buka program pemeriksaan kesehatan gratis untuk anak-anak di daerah pedesaan? Aku mau daftar."

Dokter Detha terdengar sedikit terkejut.

"Pekerjaan di desa cukup berat dan nggak banyak bantu jenjang kariermu. Rumah sakit cuma sediakan kuota, nggak ada kewajiban untuk ikut."

Namun keputusan Susan telah mantap.

"Aku bersedia. Anggap saja ini hadiah liburan untuk diriku sendiri."

Lihat tekadnya begitu kuat, Dokter Detha akhirnya ngalah.

"Oke. Kalau gitu dua bulan."

Waktu kembali berlalu, sebulan lagi telah lewat. Sinta sudah sebulan masuk taman kanak-kanak. Dua bulan berturut-turut Lukas gagal jalankan rencana punya anak kedua. Keluarga Hidayat kembali desak dia. Karena itulah tanggal lima belas bulan ini, Lukas pulang jauh lebih awal daripada biasanya. Bahkan belum jam enam sore, dia sudah tiba di Vila Permai.

Bu Tuti tampak terkejut lihat dia.

"Tuan pulang secepat ini?"

Lukas nggak jawab. Sambil naiki tangga menuju lantai dua, dia hanya pesan, "Kalau Nyonya datang, suruh dia ke kamar."

"Siap, Tuan."

Bu Tuti mengangguk sambil memandang punggung Lukas yang semakin jauh.

Saat lewati ruang kerja, Lukas bahkan nggak lirik tempat itu. Dia langsung menuju kamar tidur. Baginya alasan pulang ke rumah ini hanya satu. Anak kedua. Selain itu, nggak ada hal lain yang pantas tarik perhatiannya.

Setelah mandi, Lukas duduk di tepi ranjang, tunggu. Jam tujuh. Delapan. Sembilan. Tiga jam berlalu. Susan tetap nggak datang.

Untuk pertama kalinya, Lukas mulai hilang kesabaran. Tepat saat itulah, suara langkah kaki akhirnya terdengar dari balik pintu....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 50

    Ketika kuliah hampir selesai, Justin minum seteguk air sebelum menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa di bawah podium.“Selanjutnya, saya akan tunjuk seorang mahasiswa untuk jawab sebuah pertanyaan. Jika seorang pasien memiliki kontraindikasi operasi pada saat yang sama, misalnya gangguan pembekuan darah yang parah dan abdomen akut yang mengancam jiwa, gimana seharusnya kita bangun model stratifikasi risikonya? Pertimbangkan berbagai kondisi dan susun alur pengambilan keputusan yang sesuai. Saya beri kalian waktu tiga menit untuk diskusi.”Begitu kata-kata itu terucap, suasana kelas seketika langsung jadi riuh. Lukas bukan mahasiswa kedokteran. Karena itu, Yesi langsung noleh ke Rudi dan berkata, “Kak Rudi, ayo kita diskusi sama-sama.”Namun, Rudi sama sekali nggak jawab dia. Dia justru langsung putar tubuhnya dan mulai diskusi dengan Susan.Lihat itu, Yesi tertegun. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Susan juga lihat kalau Yesi sebenarnya ingin diskusi dengan Rudi, tetapi pria

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 49

    Akhir pekan tiba.Rudi datang ke kediaman Keluarga Tanoko untuk jemput Susan dan ajak dia hadiri kuliah di fakultas kedokteran. Mereka tiba di ruang kelas lima menit lebih awal, tetapi tempat-tempat terbaik ternyata sudah ditempati. Pada akhirnya, mereka hanya bisa duduk di barisan paling depan.Susan bukanlah murid Profesor Justin. Mau nggak mau, dia merasa sedikit bersalah sekaligus gugup.Begitu Rudi masuki ruang kelas, para mahasiswa yang duduk di depan maupun belakang langsung sapa dia dan panggil dia kakak kelas. Beberapa bahkan tampak penasaran dan bertanya-tanya siapa Susan yang datang bersamanya. Rudi hanya tersenyum tipis, nggak kasih penjelasan lebih lanjut.Profesor Justin sudah nggak muda lagi. Dia nggak suka suasana berisik, apalagi sebentar lagi kelas akan dimulai. Bukan karena Rudi nggak mau jawab sapaan mereka, tetapi dia nggak berani lagi keluarkan suara. Di hadapan Justin, bahkan Rudi pun harus patuh dan ikuti aturan.Begitu waktu kuliah tiba, Justin masuk ke dalam k

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 48

    “Bibi lagi nggak senang, yah?”Susan sempat ragu sebelum akhirnya jawab, “Nggak apa-apa kok.”Sebenarnya, dia memang lagi nggak baik-baik saja. Sinta dibesarkannya dengan tangannya sendiri, tetapi sekarang anak itu justru tumbuh jadi seperti ini. Gimana mungkin hatinya bisa merasa tenang?Setelah itu, selera makan Susan jadi turun. Dia terus pikirkan Sinta dan merasa sangat khawatir dengan dia. Rudi sadar dengan perubahan suasana hatinya, jadi dia nggak banyak bicara lagi.Setelah makan, mereka berdua jalan keluar dari restoran. Begitu sampai di pintu masuk, dua orang kebetulan masuk dari arah berlawanan. Mereka adalah Guntur dan Yanto. Saat lihat mereka, Susan nggak bicara sepatah kata pun. Dia justru lewati mereka berdua begitu saja dan langsung pergi. Rudi ikuti langkahnya dari belakang.“Eh ... tunggu ... ini kenapa lagi?”Guntur pandangi punggung Susan yang semakin menjauh dengan wajah bingung. Yanto yang berdiri di sampingnya hanya angkat bahu.“Mana aku tahu?”Selama ini, dalam

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 47

    Siang itu, Rudi pulang kerja lebih cepat. Bahkan sebelum jam dua belas, dia sudah ada di bagian bedah anak untuk tungguin Susan. Susan baru saja terima seorang anak laki-laki dengan luka bakar cukup luas. Setelah selesaikan proses rawat inap dan kasih seluruh instruksi medis, barulah dia pergi cuci tangan dan lepaskan jas putihnya. Rudi tunggu Susan dengan sabar. Sesekali, dia ngobrol singkat dengan para perawat muda yang datang sapa dia. Ketika mereka tinggalkan rumah sakit, waktu sudah hampir tunjukkan jam setengah satu siang.Rudi setir mobil bawa Susan menuju pusat kota. Dia bawa Susan ke sebuah restoran makanan Asia kelas atas.Setelah duduk, mereka pilih tempat di dekat jendela. Dari sana, seluruh pusat Kota Jasinto terbentang jelas di bawah pandangan mereka. Rudi masih ingat dengan baik apa yang disukai Susan. Setelah pesan makanan, dia tuangkan segelas air hangat untuk Susan.“Lagi lihat apa?”Susan alihkan pandangannya. Dia nggak jawab pertanyaan Rudi, melainkan berkata, “Ruma

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 46

    Ingat kembali kata-kata yang pernah diucapkan Lukas ke dia waktu di dalam mobil, Susan merasa sesak sekaligus begitu tersiksa. Demi Lukas, dia telah lahirkan Sinta. Demi Keluarga Hidayat, dia bahkan rela kerja rodi, nggak ngeluh sedikit pun. Namun pada akhirnya, diia nggak pernah dapat satu kata pujian pun. Kalau dipikir-pikir, semua itu sungguh konyol sekaligus menyedihkan.Sesampainya di kediaman Keluarga Tanoko, Kevin masih tungguin Susan di depan rumah.“Kak, kenapa nggak masuk dan duduk di dalam?” Susan lari kecil hampiri kakaknya.“Kenapa hari ini pulangnya malam banget?” Kevin kernyitkan keningnya, matanya dipenuhi rasa khawatir. Karena nggak ingin buat kakaknya cemas, Susan cari alasan dan berkata, “Tadi siang aku ada operasi, jadi nggak sempat angkat telepon.”Kevin tundukkan pandangan ke adiknya. Binar air mata di sudut mata Susan belum benar-benar kering. Namun, dia nggak ingin bongkar kelemahan yang sedang berusaha disembunyikan adiknya.Saat mereka jalan masuk ke dalam rum

  • Bye, Lukas! Kali Ini Aku Pergi Selamanya!   Bab 45

    Begitu nyalakan HP-nya, Susan lihat ada begitu banyak panggilan nggak terjawab. Ada panggilan dari kakaknya dan kakak iparnya, dari kepala bagian di rumah sakit, dan juga dari Rudi.Seharusnya sore itu dia dapat jadwal praktik di poliklinik. Dia tiba-tiba hilang dan nggak masuk kerja, jadi rumah sakit seharusnya kasih sanksi ke dia. Susan sudah persiapkan mental untuk itu. Gimanapun, paling jelek dia hanya akan dipecat. Di dalam taksi, dia telepon kepala bagian rumah sakit.“Dokter Detha.”“Susan, kamu gimana sekarang?” Suara Dokter Detha terdengar biasa saja, sama sekali nggak kelihatan aneh.Susan merasa heran dan untuk sesaat nggak tahu harus bicara apa. Namun, Dokter Detha justru tanya dengan nada penuh perhatian, “Kamu gimana? Sudah enakan?”Susan semakin bingung.“Apa?”Dokter Detha terdengar sedikit bersalah.“Sebagai atasan, aku memang kurang perhatikan bawahan. Kamu lagi demam, tapi aku masih jadwalkan kamu buat praktik di poliklinik. Gini saja, aku kasih kamu cuti tiga hari.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status