Mag-log inLaboratorium rumah sakit hampir kosong pada pukul 11 malam ini. Hanya Dr. Adrian Wijaya yang masih membungkuk di atas mikroskop, jemarinya dengan teliti menggeser slide berisi sampel darah Damian. Kantong mata menghiasi wajahnya yang lelah, tapi tatapannya penuh konsentrasi. Ini adalah hari ketiga sejak Damian Lesmana sadar dari koma, dan sesuatu dalam hasil tesnya terus mengganggu Dr. Adrian.
"Lagi-lagi menjadi dokter detektif, Adrian?"
Dr. Maya Suryadi, kepala departemen neurologi, tersenyum dari ambang pintu. Wanita berusia lima puluhan itu dikenal sebagai salah satu ahli neurologi terbaik di Asia Tenggara.
"Ada sesuatu yang salah pada sampel darah Damian," jawab Adrian tanpa mengalihkan tatapannya dari mikroskop. "Lihat ini."
Dr. Maya mendekat, mengambil alih mikroskop. "Hmm. Sel darah merah dengan struktur membran yang tidak normal. Kau yakin ini bukan karena reaksi obat-obatan yang kita berikan selama dia koma?"
"Positif. Aku sudah memeriksa semua obat dalam protokol perawatannya, tidak ada yang akan menyebabkan perubahan struktur seperti ini." Adrian menggeser beberapa hasil tes ke arah Dr. Maya. "Dan lihat hasil toksikologi ini. Ada senyawa asing yang tidak teridentifikasi sistem."
Dr. Maya mengamati grafik dengan dahi berkerut. "Ini memang aneh. Mungkin kita perlu mengirim sampel ke laboratorium pusat di Singapura untuk analisis lebih lanjut."
"Sudah kulakukan," jawab Adrian, membuka laptop dan menunjukkan email yang telah ia kirim. "Dan ada satu hal lagi yang menggangguku." Dia membuka file digital scan otak Damian. "Lihat pola kerusakan di hippocampus ini. Terlalu... terkonsentrasi, terlalu spesifik untuk trauma benturan biasa."
"Hmm, kau benar," Dr. Maya mengamati scan dengan seksama. "Kerusakan akibat benturan biasanya lebih tersebar. Ini seperti... area tertentu ditargetkan secara spesifik."
"Persis," Adrian mengangguk. "Dan semakin aku pelajari, semakin aku percaya ada hubungan antara senyawa asing dalam darahnya dan pola kerusakan ini."
"Kau mencurigai... neurotoksin?" Dr. Maya menatap Adrian dengan alis terangkat.
"Aku masih belum bisa memastikan, tapi itu hipotesis yang paling masuk akal." Adrian menarik napas panjang. "Damian Lesmana bukan pasien biasa, Maya. Dia CEO perusahaan teknologi multi-miliar yang memiliki banyak pesaing dan mungkin musuh."
"Dan kau mencurigai sabotase?" Dr. Maya menurunkan suaranya, meski laboratorium kosong.
"Wanita mencurigakan muncul di ruangannya kemarin. Vianna Darmawan, mengaku sebagai asisten eksekutifnya. Tapi wakil direktur perusahaan Damian mengungkapkan bahwa wanita itu sebenarnya telah dipecat sebulan sebelum kecelakaan karena spionase industri."
Dr. Maya mendudukkan diri di kursi, mencerna informasi ini. "Adrian, ini tuduhan serius. Kau bicara tentang percobaan pembunuhan."
"Atau setidaknya sabotase yang bertujuan menghapus ingatan spesifik." Adrian menatap koleganya dengan serius. "Kecelakaan pesawat itu mungkin hanya kedok."
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Menunggu hasil analisis dari Singapura, sambil terus memonitor pemulihan Damian. Aku ingin melihat apakah ada pola dalam memori yang kembali dan yang tetap hilang."
Dr. Maya tampak ragu. "Kau perlu sangat berhati-hati, Adrian. Jika dugaanmu benar, siapapun yang berada di balik ini adalah orang dengan sumber daya dan koneksi yang luar biasa. Neurotoksin yang bisa menarget area memori spesifik? Itu teknologi tingkat militer atau intelijen."
"Aku tahu," Adrian mengangguk serius. "Itulah mengapa aku hanya membicarakan ini denganmu."
Setelah Dr. Maya pergi, Adrian kembali memeriksa hasil tes darah Damian. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari nomor tak dikenal:
"Berhenti menggali. Demi kebaikanmu sendiri."
Jantung Adrian berdegup kencang. Ia cepat-cepat mengunci laboratorium dan menuju ke tempat parkir. Di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi, ia tidak menyadari sosok yang mengawasinya dari kejauhan.
---
Keesokan paginya, Damian duduk di tepi tempat tidur rumah sakit, menunggu dokumen administrasi terakhir untuk kepulangannya. Rafi baru saja pergi untuk mengurus surat-surat, meninggalkan Damian bersama Eliza yang dengan tenang merapikan barang-barang pribadinya.
"Kau yakin sudah siap pulang?" tanya Eliza, melipat piyama rumah sakit Damian. "Dr. Adrian menyarankan observasi minimal lima hari, tapi kau baru di sini tiga hari."
"Aku bisa beristirahat dengan sama baiknya di mansion," jawab Damian tegas. "Dan di sana lebih aman."
Eliza mengangguk, tidak membantah. Dia telah belajar selama tiga tahun terakhir bahwa ketika Damian membuat keputusan dengan nada itu, sangat sedikit yang bisa mengubah pikirannya.
Pintu terbuka, dan Dr. Adrian masuk dengan map berisi dokumen. Wajahnya terlihat lelah, seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Damian," Dr. Adrian mengangguk. "Aku sudah menandatangani surat keluarmu, tapi dengan beberapa syarat yang harus kau patuhi."
"Aku akan memastikan dia mengikutinya," Eliza menjawab sebelum Damian bisa protes.
Dr. Adrian tersenyum tipis, sebelum ekspresinya kembali serius. "Aku perlu bicara denganmu secara privat, Damian."
Eliza mengangguk pengertian. "Aku akan membantu Rafi dengan administrasi." Dia keluar dari ruangan, meninggalkan Damian dan Dr. Adrian.
"Ada apa?" tanya Damian, menyadari keseriusan di wajah dokternya.
"Aku menghabiskan sepanjang malam menganalisis hasil scan otakmu," Dr. Adrian menurunkan suaranya. "Ada sesuatu yang sangat tidak biasa dengan pola kerusakan di hippocampus-mu, area yang bertanggung jawab untuk pembentukan memori."
"Tidak biasa bagaimana?"
"Kerusakan terlalu terkonsentrasi, terlalu... spesifik." Dr. Adrian ragu sejenak. "Damian, aku mulai mencurigai bahwa amnesiamu bukan semata-mata akibat trauma benturan."
Damian menegakkan punggungnya, tatapannya menajam. "Kau mencurigai ini disengaja?"
"Aku menemukan senyawa asing dalam sampel darahmu. Sudah kukirim ke Singapura untuk analisis lebih lanjut, tapi intuisiku mengatakan ini semacam neurotoksin."
Mata Damian menggelap. "Kau mencurigai seseorang meracuniku untuk menghapus ingatanku?"
"Aku tidak ingin membuat tuduhan tanpa bukti kuat," Dr. Adrian menjawab hati-hati. "Tapi setelah insiden dengan Vianna Darmawan kemarin, dan melihat hasil tes darahmu... ya, itu kemungkinan yang harus kita pertimbangkan."
"Dan apa pendapatmu tentang Eliza dalam semua ini?" tanya Damian, suaranya rendah.
"Aku telah mengamati interaksinya denganmu selama dua minggu kau koma, Damian. Kekhawatirannya, kesetiaannya, semua terlihat genuinely. Dan berdasarkan reaksi Rafi, mereka memang memiliki hubungan yang baik. Aku tidak melihat alasan untuk mencurigainya."
Damian mengangguk pelan, memproses informasi ini. "Bagaimana dengan keselamatanku sekarang? Jika ada yang berniat menyabotase hidupku, apakah mereka akan mencoba lagi?"
"Itulah sebabnya aku setuju kau pulang lebih cepat. Rumah sakit terlalu terbuka, terlalu banyak akses. Mansion-mu dengan sistem keamanan modern jauh lebih aman."
"Dan kau sendiri? Apakah kau dalam bahaya karena menyelidiki ini?"
Dr. Adrian tersenyum kecut. "Aku menerima pesan ancaman tadi malam."
"Apa?" Damian terlihat terkejut.
"Seseorang menyuruhku berhenti menggali, demi kebaikanku sendiri." Dr. Adrian mengangkat bahu, berusaha terlihat lebih tenang dari yang ia rasakan. "Tapi aku tidak akan berhenti, Damian. Kau pasienku, dan aku bertekad menemukan apa yang sebenarnya terjadi padamu."
Damian menatap dokternya dengan respek baru. "Terima kasih, Adrian. Pastikan kau juga meningkatkan keamananmu. Aku bisa mengirim beberapa orang—"
"Tidak perlu," potong Dr. Adrian. "Aku sudah mengambil langkah pencegahan. Dan perhatian berlebihan justru bisa menarik kecurigaan."
Pintu terbuka, dan Rafi masuk dengan ekspresi puas. "Semua dokumen sudah selesai. Kita bisa pergi sekarang, Dam."
Damian mengangguk, berdiri dari tempat tidur. Meskipun dokter mengizinkannya pulang, tubuhnya masih terasa lemah setelah dua minggu koma. Dr. Adrian menyerahkan resep obat dan jadwal kontrol.
"Ingat, istirahat total selama tiga hari pertama. Tidak ada aktivitas menegangkan, tidak ada bekerja, tidak ada stress." Dr. Adrian menatap Damian dengan tegas. "Aku serius, Damian."
"Aku mengerti," jawab Damian, meski dalam hati ia sudah merencanakan untuk memeriksa beberapa dokumen perusahaan segera setelah tiba di mansion.
Eliza kembali masuk, membawa jaket Damian. "Mobil sudah siap di depan. Kirana sudah menyiapkan kamarmu dan semua yang kau butuhkan di mansion."
"Kau akan tinggal di guest house?" tanya Damian, mengingat diskusi mereka sebelumnya.
"Ya, seperti yang kita sepakati." Eliza tersenyum kecil. "Aku ingin memberimu ruang, Damian. Tapi aku tetap dekat jika kau membutuhkanku."
Untuk pertama kalinya sejak sadar, Damian merasakan apresiasi tulus terhadap pengertian dan kesabaran wanita ini. Mungkin dia memang tidak mengingat hubungan mereka, tapi ia mulai melihat kualitas yang mungkin membuatnya jatuh cinta pada Eliza dulu.
Saat mereka meninggalkan rumah sakit, Damian tidak menyadari sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan. Vianna Darmawan berdiri di seberang jalan, mengenakan kacamata hitam dan topi, berbicara pelan ke ponselnya.
"Target meninggalkan rumah sakit. Mereka menuju mansion sekarang."
"Sempurna," jawab suara pria dari ujung lain sambungan. "Kita ikuti rencana. Tapi kita perlu berhati-hati dengan Eliza. Dia lebih tangguh dari yang kuperkirakan."
Klinik pribadi Adrian menempati satu lantai tersembunyi di sebuah gedung medis di Menteng—tempat yang sengaja dipilih karena tak ada satu pun nama Lesmana, GlobalPharm, atau DS Tech yang tahu keberadaannya. Dindingnya putih bersih, peralatannya berdenyut tenang, dan di tengah ruangan berdiri sebuah kursi pemulihan yang dikelilingi monitor.Damian melepas jasnya dan duduk. Adrian memasang sensor di pelipis dan dadanya, jari-jarinya cekatan tapi matanya serius.“Aku akan jujur sekali lagi,” kata Adrian, menyiapkan infus. “Nolembra bekerja dengan menghalangi konsolidasi ingatan—ia tidak menghapus apa pun, hanya mengunci pintunya. Selama tiga tahun, tubuhmu terus diberi dosis agar pintu itu tetap tertutup. Begitu kita keluarkan sisa senyawanya dan kuberi katalis ini, pintunya akan terbuka. Tapi tiga tahun ingatan yang tertahan akan kembali tidak berurutan, dan tidak lembut. Sebagian mungkin indah. Sebagian mungkin hal yang sengaja kau—at
Damian tidak tidur malam itu. Foto dari Vianna tergeletak di meja kerja, dan satu kalimat berputar tanpa henti di kepalanya: Ada hal-hal tentang hari itu yang bahkan Eliza tidak berani kau ingat.Saat ia menanyakannya, Eliza hanya berkata pelan, “Rumah kaca itu tempat kita memulai segalanya. Aku akan menceritakannya—tapi biar kau yang melihatnya sendiri dulu. Aku tidak mau memberimu ingatan versiku. Aku ingin kau menemukan versimu sendiri.” Lalu ia pergi tidur dengan bahu yang terlalu tegang untuk orang yang mengaku tidak menyembunyikan apa pun.Maka pagi itu, alih-alih ke ruang CEO, Damian turun ke lantai sebelas—lantai yang sudah tiga tahun nyaris tak pernah ia sentuh. Lantai Inovasi. Lantai tempat HomeSense lahir.Pintu kaca terbuka, dan sekelompok insinyur muda mendongak terkejut. Mereka mengenal Damian sebagai CEO yang dingin dan jauh, bukan sebagai orang yang pernah duduk di lantai ini sambil menggambar di
Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang Damian duga.Pukul tujuh pagi, layar ponselnya sudah penuh tajuk yang saling berebut: “Komisaris Senior LTI Diskors di Tengah Dugaan Konspirasi”, “Damian Lesmana Kembali Pegang Kendali Penuh”, “Drama Ruang Rapat Lantai Empat Puluh”. Foto-foto Gunawan keluar dari gedung dengan wajah tertunduk telah menjadi viral sebelum matahari benar-benar tinggi. Tiga tahun ia menanam racun perlahan; satu pagi cukup untuk merobohkannya.Namun di penthouse yang sunyi itu, Damian tidak merasa seperti pemenang.Rafi datang membawa laporan pagi seperti biasa, tetapi kali ini suaranya lebih hati-hati. “Dewan sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Mosi dinyatakan batal demi hukum, dan mereka—” Rafi berhenti sejenak, hampir tersenyum, “—secara aklamasi menegaskan kembali posisimu sebagai CEO. Beberapa dari mereka bahkan mengantre minta maaf secara pr
Rafi menekan satu tombol di panel konferensi, dan suara seorang lelaki memenuhi pengeras suara ruangan—suara yang dikenali separuh isi meja.“Selamat pagi, Dewan. Ini Dani Sasongko.”Gumaman terkejut menyebar. Vianna kehilangan satu detak ketenangannya—sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi padanya.“Aku tidak akan basa-basi,” suara Dani melanjutkan, tenang dan lelah. “Surat penunjukan wali yang baru saja dilempar Vianna ke meja kalian—akulah yang menyusun draf aslinya. Tiga tahun lalu. Atas perintahnya. Periksa metadata berkas digitalnya; properti dokumen, tanggal pembuatan, dan log revisinya tidak bisa dipalsukan semudah tinta di atas kertas. Nama Eliza ditulis di sana sebelum Damian bahkan sadar dari koma—jauh sebelum ada ‘tim Damian’ yang dituduhkan.”Damian meletakkan cetakan metadata itu di samping dokumen Vianna. Tanggal pembuatan file berkedip seperti tuduhan: tiga tahun lalu, dua hari sebelum Damian membuka mata di rumah sakit.
Selembar hasil laboratorium itu terbaring di tengah meja seperti pisau yang baru dicabut.“Silakan dibaca,” kata Damian. “Dr. Hendrik, kau ahli farmakologi. Mungkin kau bisa membantu dewan memahaminya.”Hendrik tidak menyentuh kertas itu. Wajahnya, yang tadi penuh wibawa medis, kini sepucat jasnya.“Dan dewan layak tahu satu hal lagi,” tambah Damian, suaranya dingin, “tentang ‘konsultan independen’ yang kalian percaya untuk menilai kewarasanku. Dr. Hendrik Santoso adalah Direktur Riset GlobalPharm—perusahaan yang menciptakan senyawa yang baru saja kalian dengar namanya. Independen dari apa, tepatnya?”Damian sendiri yang membacanya, suaranya jernih memenuhi ruangan. “Analisis toksikologi atas sampel darahku—diambil dan disimpan oleh Dr. Adrian Wijaya sejak hari pertama aku sadar dari koma, tiga tahun lalu. Hasilnya menunjukkan residu sebuah senyawa penekan konsolidasi memori berkode Nolembra. Produk riset rahasia GlobalPharm. Tidak ada di
Pukul sembilan kurang lima, lift eksekutif membuka pintunya ke lantai empat puluh, dan Damian melangkah masuk ke ruang yang dirancang untuk menjatuhkannya.Ia tidak tidur dua malam terakhir. Bukan karena takut—rasa takut itu sudah lama ia bakar habis—melainkan karena ia menghabiskan setiap jam memutar ulang skenario ini di kepalanya bersama Rafi, Eliza, dan Adrian, mencari satu celah yang mungkin terlewat. Mereka menyebutnya “rapat eksekusi”; seluruh isi gedung yakin hari ini adalah hari Damian dijatuhkan secara terhormat. Hanya Damian yang tahu bahwa ia datang bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai algojo yang menyamar jadi terdakwa.“Apa pun yang mereka lempar,” bisik Eliza tadi pagi sambil merapikan dasinya di lobi, jemarinya bergetar tipis, “jangan terpancing lebih awal. Biarkan mereka membangun tiang gantungan mereka sendiri.” Damian mencium keningnya. “Tiang gantungan terbaik,” jawabnya, “adalah yang dibangun musuh untuk lehernya sendiri.”Ruang rapat u
Fajar baru saja menyingsing ketika Damian terbangun dengan napas terengah. Mimpi yang sama—serpihan memori tentang dirinya melukis, tangan Eliza menuntun tangannya. Kepalanya masih berdenyut, efek samping dari kilasan ingatan semalam.Ia menyibakkan selimut dan berjalan ke je
Gerbang besar mansion Lesmana terbuka perlahan, menyambut kedatangan Range Rover hitam yang membawa Damian pulang. Di balik kaca gelap, Damian menatap bangunan bergaya modern minimalis yang sudah tiga tahun tidak ia ingat. Bentuk fisik mansionnya tetap sama seperti dalam ingatannya, tapi entah kena
Album foto itu terbuka di pangkuan Damian, halaman pertamanya menampilkan foto yang membuat dadanya terasa sesak. Dirinya dan Eliza di Kafe Enigma, tempat yang selama ini jadi favoritnya untuk menikmati espresso sebelum meeting pagi. Dalam foto itu, mereka duduk di sudut jendela, Damian tertawa lep
"Amnesia retrograde total akibat trauma kepala yang parah."Dr. Adrian Wijaya meletakkan hasil scan otak Damian di meja, memastikan cahaya dari negatoskop menerangi area yang ia tunjuk. Ruangan konsultasi itu sunyi, hanya terdengar deru halus dari pendingin udara. Damian duduk di kursi roda—sesuatu







