Share

32 | Interupsi Hasrat

Penulis: Eliyen Author
last update Tanggal publikasi: 2025-08-21 19:24:25

“Kenapa sekeras ini?” Gista bertanya gugup. Dia mencoba bergerak, tetapi Akash mencengkeram panggulnya kuat-kuat.

“Jangan bergerak. Aku bisa meledak nanti,” geram Akash.

“Meledak?” Gista semakin gugup. “Apa maksudnya? Kamu … oh!” Mata Gista membelalak. Dia merasakan sesuatu di bawah sana. Tangannya refleks mencengkeram bahu Akash.

“Ya, oh.” Pria itu menepikan rambut Gista yang terjuntai ke satu sisi leher. Bibirnya mencium kulit halus leher Gista. “Kamu tahu? Dia tegang hanya buat kamu. Dia ker
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   199 | Sang Artis Besar

    “Apa Ibu Renata merestui aku jadi pacar anaknya?”Pertanyaan itu terus berputar di benak Gista. Aktivitasnya menulis jadi tertunda. Dia duduk termenung di rumah yang sunyi sepi.Akash masih belum pulang. Gista sendirian. Dia memutar-mutar ponsel, ragu untuk menghubungi Akash lebih dulu atau tidak. Namun, satu notifikasi pesan membuatnya sejenak melupakan Akash. [Guntur: Kak, aku balik Jakarta lagi. Kita perlu bicara sebelum orang lain duluan.]Gista menelan ludah. Pikirannya terpecah. Dia menatap keheningan malam. Wajah Ibu Renata dan Guntur silih-berganti berputar di dalam kepalanya.~~~Gista tidak membalas pesan Guntur. Juga tidak pagi harinya.Gista terbangun karena cumbuan kasar Akash. Saat membuka mata, Gista melihat kepala Akash sudah berada di antara kakinya.“Kapan kamu pulang?” Gista menggigit bibir. Lidah Akash amat sangat brengsek.“Baru saja.” Akash menjawab tanpa mengangkat kepala. “Kamu sengaja pakai baju seperti ini.”Gista nyengir. Ya, dia memang sengaja. Lingerie h

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   198 | Ujian Camer

    “Aku sudah bertemu calon menantu pertamaku. Sekarang aku ingin memastikan kamu bukan kesalahan kedua.”Gista bengong. Ponsel masih menempel di telinganya. “Anda ….”“Mama Akash,” jawab suara di seberang.Gista hampir saja menyenggol mug kopi di samping laptop. Jantungnya berdegup kencang. Buru-buru dia duduk tegak, meski sadar gesturnya tak bakal dilihat oleh wanita itu.“Ibu–”“Makan siang nanti di The Atrium. Sopir akan jemput kamu.”Klik.Telepon diputus. Gista mengerjap. Bengong. Sampai kesadarannya ditarik kembali oleh Adel yang mengguncang keras-keras bahunya.“Woi, Kak Gista! Buset, dipanggil dari tadi malah bengong.”Gista menoleh. “Jam berapa sekarang?”“Setengah dua belas. Kenapa? Eh, tunggu. Gue diminta sama Direktur buat ngasih draf promo–”“Mbak Gista.”Dua kepala menoleh. Kepala Gista dan Adel. Office boy berdiri di depan kubikel. Cengirannya lebar.“Mbak Gista order limosin? Tumben, mau makan siang aja mewah banget. Fine dining di mana, Mbak? Nggak nitip saya lagi?”Gi

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   197 | Kejujuran

    “Kenapa kamu nggak cerita kalau punya adik? Kenapa kamu tinggal sendirian di rumah bobrok itu? Kenapa kamu bekerja sangat keras di level rendah Megalitera? Kenapa kamu lakukan itu saat bisa menggenggam dunia, Gis?”Mulut Gista terbuka lebar-lebar mendengar rentetan pertanyaan Akash. Di restoran tadi, dia berhasil menghindari pertanyaan pria itu. Namun, setelah tiba di rumah, Gista tak bisa mengelak lagi.“Hidupmu sangat sederhana, padahal punya keluarga konglomerat.” Akash mengernyitkan dahi. “Kalau dipikir-pikir, keluargamu bisa jadi lebih kaya dibanding keluargaku. Laporan kekayaan Adinata sepuluh tahun lalu jelas lebih besar dibanding Salim.”Gista menelan ludah. Dia beringsut menjauh, tetapi Akash menariknya ke pangkuan. Gista tak bisa berkonsentrasi sama sekali.“Kamu nggak pernah ngomongin keluargamu sama sekali. Kukira kamu yatim piatu.” Akash menyibak poni yang menutupi dahi Gista.“Kalau tahu kamu dari keluarga Adinata, Papa pasti nggak akan ganggu kamu,” imbuh pria itu lagi.

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   196 | G-Ash Media

    “Kamu bikin G-Ash Media?” Daging yang hendak disuap Gista terhenti di udara. Di sampingnya Akash mengangguk.“Gista & Akash. Nama kita bersama. Website buku itu adalah proyek pertama. Novelmu selanjutnya adalah proyek gabungan Megalitera dan G-Ash.”“Tunggu dulu.” Gista terperangah. “Tapi kamu CEO Salim!”“Posisiku genting,” senyum Akash tipis.Gista tertegun, tiba-tiba teringat perkataan Leo yang memintanya bersabar atas sikap Akash.“Jadi, ini yang dimaksud kondisi khususmu?” gumam Gista.Seolah mengerti maksud perkataan Gista, pria itu mengangguk. “Leo yang kasih tahu kamu?”“Iya, juga hubungan dia sama Adel.”“Ah, itu. Ada gunanya juga punya pacar yang baik hati. Pacarnya bisa menolong pacarku.” Akash mengangguk-angguk. “Akan kusuruh direktur Mega menaikkan gaji Adel.”“Nepotisme banget, sih,” kelakar Gista.“Siapa saja yang sudah bantu pacarku wajib diapresiasi.” Akash tersenyum lagi.Gista meraih tangan Akash. “Ini karena aku? Karena kamu bertengkar sama papa-mu gara-gara aku?”

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   195 | Bercumbu di Restoran

    Silakan lewati bab ini bila Readers belum 18 tahun. ^^~~~~~“Sekali lagi kamu nempelin mata ke layar itu, Gista, aku akan pastikan ponselmu hancur di bawah sepatuku.”Gista langsung mendongak. Belum apa-apa, satu ciuman kuat langsung hinggap di bibirnya.“Akash!” seru Gista kaget, “Kita lagi di kafe ini.”“Bodo amat,” gerutu Akash. “Aku nggak mau diduakan dengan ponselmu. Kita sudah susah-payah ketemuan, kenapa masih harus ada ponsel di antara kita?”Gista tertawa dalam hati. Ucapan pacarnya ini benar. Setelah akhirnya bisa bertemu lagi, sesudah Akash menghindari Gista beberapa hari, rasanya sangat berbahaya kalau dia sibuk dengan ponsel.Masalahnya notifikasi di ponsel saat ini jauh lebih menarik dibanding pertemuan dengan Akash. Karena itulah, Gista menunjukkan layar ponselnya kepada pria itu.“Lihat,” tunjuk Gista mengabaikan ekspresi masam dan cemberut di wajah pacarnya, “novelku “naik”, nih.”Akash menyipitkan mata. Anehnya, respons pria itu sangat datar alih-alih ikut histeris

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   194 | Pengakuan Leo

    “Kalian pacaran? Kapan? Kenapa nggak ngomong sama aku? Emang niat privat, ya?” Gista memberondong Leo dan Adel dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia duduk di depan dua orang itu layaknya hakim yang sedang mengadili terdakwa. “Udah lama,” jawab Leo. “Masih barusan, kok,” ujar Adel. Gista menaikkan sebelah alis. Pandangannya bergantian menatap tajam Adel dan Leo. Yang ditatap saling melempar pandangan. “Jadi, yang bener yang mana?” Sejurus kemudian, Leo memberikan senyum lebarnya. “Biar gue yang ngomong.” “Tapi–” “Miss Gista berhak tahu. Gue udah ngomong ke Akash juga.” Ada denyut sakit di hati Gista mendengar nama Akash disebut. Sudah tiga hari ini pacarnya menghilang. Ponselnya aktif, tetapi telepon dan pesannya tak direspons sama sekali. “Kita udah pacaran lama,” suara Leo memecah lamunan Gista. “Sebelum Adel datang ke Mega.” Gista berkedip cepat. “Sebelum … ke Mega?” “Benar. Maafin aku, Kak Gista. Awalnya aku diutus buat melindungi Kak Gista di sini. Perlindungan diam-diam de

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   170 | CEO Six Pack is Calling

    “Kamu tahu nggak rasanya disembunyikan kayak sesuatu yang kotor?”“Aku nggak sembunyikan kamu karena malu, Sayang. Aku cuma belum siap kalau Papa tahu aku beneran sayang.”Gista termangu teringat obrolannya dengan Akash semalam. “Kupikir kamu sembunyiin aku dari papamu. Tapi kayaknya nggak, Akash,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   162 | Bercinta dari Rumah Sakit

    “Kamu mau aku jawab apa?”Gista menatap Akash. “Aku mau, kamu nggak tengkar sama orang tuamu karena aku.”Bibir Akash melengkung membentuk senyum tipis. “Kalau begitu, aku nggak akan tengkar sama mereka. Sekarang temani aku tidur. Benar-benar tidur. Jangan aku yang merem, tapi kamu tetap bangun.”G

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   164 | Rongrongan Orang Tua

    “Pulang sekarang juga! Mama nggak mau tahu! Pokoknya kamu nggak boleh tinggal sendiri.”“Tapi, Ma–”“Tega kamu, Kash. Masak Mama dengar kamu kecelakaan justru dari tayangan gosip? Mau ditaruh di mana muka Mama di depan teman-teman sosialita Mama?”Akash menghela napas berat. Jauh-jauh menelepon dar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   169 | Lingerie Transparan

    “Akash, buka! Papa mau bicara!”Gista langsung menjauh dari Akash. Matanya membelalak lebar. Dia menutupi tubuhnya dengan dua tangan karena gaun tidur yang dikenakannya memang hanya bertali tipis.“Papamu?” Gista bertanya tanpa suara.Akash menggeram kesal. Kesenangannya terganggu oleh si orang tua

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status