Share

Bab 2

Penulis: Caitlyn
Renee tidak menanyakan ke mana Arvin pergi semalam. Arvin pun tidak memberi tahu apa-apa. Seolah-olah berita utama tentang skandalnya dengan Nissa sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan menantu sah Keluarga Suryana.

Arvin makan dengan elegan. Sementara Renee merasa makanan di mulutnya hambar. Setelah menelan beberapa suapan dengan susah payah, dia akhirnya berkata, "Pak Arvin, siang ini ada waktu? Kita pergi memilih kue ulang tahun untuk Renji, boleh?"

Renee selalu memanggilnya "Pak Arvin". Itu kebiasaannya sejak awal menikah dan Arvin tidak pernah berusaha mengubahnya.

Arvin tidak mengangkat kepala sedikit pun. "Siang ini aku makan dengan klien. Nggak sempat."

"Kalau sore?" tanya Renee lagi.

Sendok di tangan pria itu terhenti sejenak sebelum akhirnya dia menatap Renee. Mata indahnya tetap sedingin es.

"Kue ulang tahun Renji akan aku suruh orang siapkan. Kamu nggak perlu repot-repot."

"Tapi aku ingin pilih sendiri."

Biasanya Renee sangat penurut, jarang sekali membantah. Namun, kali ini demi ulang tahun anaknya, dia mencoba untuk memperjuangkannya sedikit saja.

Sayangnya, Arvin tidak memberinya kesempatan. Keningnya berkerut.

"Renee, jangan cari masalah."

"Pak Arvin, aku ini ibu Renji."

Tiga tahun menikah, baru kali ini Renee bersikeras pada pendiriannya sendiri. Seperti yang bisa diduga, Arvin menjadi kesal, bahkan selera makannya pun langsung hilang.

Arvin meletakkan sendoknya, mengambil tisu, menyeka sudut bibir, dan berkata dengan datar, "Kalau kamu nggak ada kerjaan, pergilah jalan-jalan atau nonton film. Lakukan apa saja."

Melihat punggung pria itu melangkah pergi, hati Renee terasa seperti diremas. Karena Arvin tidak mau menemaninya, Renee akhirnya pergi sendiri untuk memilih kue ulang tahun Renji.

Dia bukan hanya memilih kue dengan hati-hati, tetapi juga sudah lama menyiapkan hadiah ulang tahun untuk anaknya.

Karena jarang bertemu Renji, Renee tidak tahu apa yang disukai anak itu. Untungnya, Rosa memberitahunya bahwa belakangan ini Renji sedang suka boneka kecil.

Renee lalu menghabiskan waktu sebulan penuh untuk memilih kain yang paling lembut, menjahit sendiri boneka berbulu keriting untuk anaknya. Dia berharap boneka itu bisa menemani Renji tidur setiap malam, menggantikan dirinya.

Sore harinya, Renee membawa kue dan hadiah ke rumah lama Keluarga Suryana. Dari ruang utama, terdengar suara piano yang indah dan lagu ulang tahun yang ceria.

Ketika mendekat, Renee melihat ruang tamu sangat ramai. Nissa duduk di depan piano memainkan lagu ulang tahun, sementara Juwita duduk sambil memeluk Renji di depan kue. Renji pun menepuk tangan mungilnya mengikuti irama.

Arvin duduk di sofa. Wajah dinginnya untuk pertama kali memancarkan senyuman lembut.

Setelah lagu berakhir, Nissa berjongkok di samping Renji dan melambaikan tangan kepada Arvin. "Arvin, cepat sini, kita tiup lilin bersama!"

Renji meniru gerakannya, tertawa ceria sambil melambaikan tangan. "Papa, tiup ... tiup ...."

Arvin tersenyum tipis, lalu bergeser mendekat. Ketiganya meniup lilin di atas kue.

Di bawah cahaya lampu yang hangat, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.

Renee menggenggam erat kue dan boneka di tangannya. Dadanya terasa sesak. Jelas-jelas dia adalah ibu kandung Renji. Seharusnya dia yang berdiri di sana menemani anaknya meniup lilin, bukan Nissa.

Tiba-tiba, seseorang berkata, "Renee datang."

Semua orang di sofa menoleh. Juwita langsung memasang ekspresi dingin dan bertanya dengan galak, "Kamu ke sini buat apa?"

Renee menahan perasaan terhinanya, melangkah masuk sambil menyahut dengan lembut, "Ibu, hari ini ulang tahun Renji. Aku ingin menemaninya."

"Renji sudah ditemani gurunya, kamu nggak perlu datang."

Guru? Renee menatap Arvin dengan bingung. Arvin menatap balik dengan wajah tenang dan sempurna. Di bawah cahaya, wajah itu tampak seperti dewa yang tak tersentuh. Namun, matanya tetap dingin tanpa emosi.

Seandainya dia tidak melihat sendiri bagaimana pria itu tadi tersenyum lembut pada Nissa dan Renji, dia mungkin akan mengira Arvin memang tidak bisa tersenyum.

Pria itu bangkit dan berjalan mendekat. Kalimatnya datar, entah itu adalah pengumuman atau penjelasan. "Nissa menguasai banyak bahasa asing dan juga belajar ilmu pendidikan anak. Kebetulan Renji sedang belajar bicara, jadi Ibu mempekerjakannya sebagai guru bahasa Renji."

Renee tertegun. Kepalanya berdengung. Nissa yang kuliah di bidang musik, belajar ilmu pendidikan anak? Bahkan orang bodoh pun bisa menebak, itu demi bisa masuk ke Keluarga Suryana.

Renee memang pernah takut Nissa akan merebut Arvin, tetapi tidak pernah terpikir kalau jalan masuknya akan melalui anaknya sendiri.

Nissa berjalan ke sisi Arvin, lalu mengulurkan tangan dan tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan menjaga dan mengajar Renji dengan baik."

Renee memandangi tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah cantik yang tersenyum lembut di depannya. Wanita ini memang sangat cantik, lebih memesona daripada saat di televisi.

Berdiri di sisi Arvin, keduanya tampak serasi, bagaikan pasangan yang diciptakan untuk bersama.

Renee menggigit bibir dan memandang Arvin dengan tegas. "Boleh aku menolak? Aku juga bisa enam bahasa, aku juga belajar ilmu pendidikan anak. Aku bisa mengajari Renji."

"Apa hakmu untuk menolak?" Juwita tiba-tiba berdiri dari sofa, menatapnya dengan dingin. "Renee, jangan lupa, meskipun kamu hebat, kamu tetap tuli. Aku nggak akan menyerahkan calon pewaris Keluarga Suryana padamu."

Renee tahu sejak awal ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak ingin berdebat.

Matanya menatap wajah tampan Arvin penuh harap. Namun, pria itu hanya berkata dengan nada datar, "Tanya saja Renji, apa dia mau sama kamu?"

Renee menoleh ke arah anak kecil itu. Renji bersembunyi di belakang Nissa, hanya kepala mungilnya yang tampak. Dia menatap Renee dengan penasaran.

Renee mengeluarkan boneka keriting dari tasnya, berjongkok sambil tersenyum lembut. "Renji, ini Mama. Lihat, ini hadiah ulang tahun yang Mama buat sendiri untukmu."

Renji memegangi rok Nissa, menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau Mama ... maunya Mama Nissa ...."

Mama Nissa .... Ternyata Nissa bukan hanya guru bahasa, tetapi juga ibu angkat anaknya. Hati Renee yang sudah dingin seketika membeku.

Nissa berjongkok sambil memeluk Renji. Suaranya lembut. "Renji, mamamu juga sangat sayang kamu. Nggak boleh bilang nggak mau mama ya? Lihat, ini boneka dari mamamu. Cantik sekali, 'kan?"

Nissa mengambil boneka dari tangan Renee dan menyerahkannya kepada Renji.

Anak kecil itu menatap boneka sebentar, lalu melemparkannya ke lantai. "Nggak mau ... jelek ...."

Kemudian, dia berlari kembali ke sofa, memeluk boneka baru, dan berseru manja, "Mama Nissa ... suka!"

Kata-katanya masih belum terlalu jelas, tetapi Renee mengerti. Renji lebih menyukai boneka dari Nissa.

Melihat itu, Juwita tersenyum sinis. "Renji memang punya selera bagus. Boneka dari mama angkatnya itu barang edisi khusus, lebih layak disimpan."

Wajah Renee pucat pasi.

Nissa menggenggam lembut tangan Renee yang gemetar dan berucap, "Jangan sedih. Anak kecil belum tahu mana yang benar dan salah. Kalau nanti sudah besar, dia pasti akan mengerti arti kata 'Mama'."

Ya ... anak dua tahun mana mungkin tahu mana yang benar atau salah, tetapi mereka belajar dari orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya pun jelas sengaja mengajarinya begitu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mamanya Ari Siregar
seru sich dan buat penasaran gimna akhir cerita nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status