Share

CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu
Author: Caitlyn

Bab 1

Author: Caitlyn
Di rumah sakit.

Renee Witansa berdiri di depan layar televisi besar, menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja dia dapatkan. Hasilnya menunjukkan ... gangguan pendengarannya bukan hanya tidak membaik sedikit pun, malah menjadi lebih parah dari sebelumnya.

Berbeda dengan dirinya yang terdiam membeku, di layar besar televisi itu, seorang wanita tengah duduk di atas panggung berlampu indah, memainkan piano dengan lembut. Setiap gerakannya memancarkan keanggunan, kecerdasan, dan pesona yang memukau ....

Sementara itu, pria yang duduk di barisan penonton adalah suaminya, Arvin Suryana.

Tiga tahun sudah mereka menikah. Namun, ini pertama kalinya Renee melihat tatapan penuh cinta seperti itu di mata Arvin, yang bukan ditujukan padanya. Hatinya seperti jatuh ke dasar jurang.

Di telinganya, ibunya, Ferawati, terus-menerus memarahi, "Kenapa bisa makin parah? Kamu nggak minum obat tepat waktu ya? Atau nggak menjalani terapi dengan benar?"

"Cinta sejati Arvin sudah terang-terangan muncul di depanmu, tapi kamu masih nggak punya rasa waspada? Kalau kamu terus begini, Keluarga Suryana cepat atau lambat bakal mengusirmu keluar rumah!"

"Kalau kamu bercerai dengan Arvin, gimana nasib Keluarga Witansa? Gimana dengan ayahmu? Kenapa diam saja?" Ferawati mendorong bahu Renee.

Renee hanya bisa berucap dengan kaku, "Maaf, Ibu .... Aku sudah mengecewakan Ibu."

"Aku nggak butuh kata maaf, aku butuh kamu sembuh! Pertahankan posisimu sebagai Nyonya Suryana!"

"Tapi aku sudah berusaha keras ...."

Dia sudah minum obat setiap hari sesuai resep dokter. Dia juga sudah melakukan semua terapi dengan tekun. Namun, pendengarannya tetap tak membaik, malah semakin menurun.

Sementara Arvin semakin kejam dan cinta sejatinya justru semakin bersinar. Apa lagi yang bisa dia lakukan?

Acara di televisi berganti menayangkan wawancara di belakang panggung. Sekelompok wartawan tengah mengelilingi Nissa.

"Bu Nissa, bolehkah kami tahu alasan Anda kembali ke tanah air kali ini?"

Di bawah sorotan lampu kamera, Nissa tersenyum manis. "Untuk seseorang, juga untuk menebus penyesalan hidupku."

Renee dan Ferawati sama-sama tahu siapa orang yang dimaksud. Ferawati marah besar, memaki Nissa habis-habisan sebagai perempuan murahan. Selesai memaki, dia mulai menekan anaknya.

"Wanita nggak tahu malu! Aku harus minta dokter menambah dosis obatmu biar pendengaranmu cepat sembuh!"

Renee ingin bilang semua itu percuma. Karena hati Arvin memang tak pernah untuknya. Bukan hanya karena dia memiliki gangguan pendengaran, tetapi karena sejak awal Arvin memang tidak pernah berniat menikahinya.

Namun, dia tidak mengatakan apa pun.

Renee masih ingat jelas kejadian tiga tahun lalu, ketika dia dan Arvin tertangkap basah oleh wartawan di kamar hotel.

Di tengah suara kamera yang bertubi-tubi, Renee hanya bisa menatap dengan tatapan kosong, panik, dan malu. Dia tidak tahu harus bagaimana.

Arvin bersandar dengan santai di kepala ranjang. Sebatang rokok terselip di jarinya. Dia baru berbicara setelah semua wartawan puas mengambil gambar.

"Kalau kalian begitu tertarik dengan urusan ranjangku dengan tunanganku, perlu aku sekalian tunjukkan di sini? Mau lihat?"

Nada suaranya malas, tetapi tekanannya cukup membuat semua orang terdiam. Para wartawan saling memandang, lalu satu per satu pergi.

Setengah jam kemudian, berita tentang pewaris Keluarga Suryana yang berkencan dengan putri Keluarga Witansa yang memiliki penyakit pendengaran pun tersebar di seluruh situs berita besar.

Saat netizen sibuk mentertawakan selera aneh pewaris Keluarga Suryana, Renee justru diseret oleh Arvin ke kamar mandi. Dia ditarik paksa hingga alat bantu dengarnya terlepas dan disiram air dingin dari pancuran.

Tubuhnya gemetar karena kedinginan. Dia tak bisa mendengar apa yang Arvin katakan, tetapi dari ekspresi jijik pria itu, dia tahu kata-kata yang keluar pasti sangat kejam.

Pada akhirnya, dia pun dipulangkan ke rumah orang tuanya seperti sampah.

Hanya saja, meskipun Arvin begitu membencinya, dia tetap tidak bisa menghindari takdir untuk menikah dengannya.

Keluarga Suryana adalah keluarga terpandang. Mereka menjaga reputasi dengan ketat, tidak akan membiarkan rumor seperti "mempermainkan gadis cacat" mencoreng martabat mereka.

Sebulan kemudian, pernikahan Arvin dan Renee dilangsungkan di depan publik.

Renee tahu semua ini adalah rencana ibunya. Dia merasa semuanya begitu konyol. Dia sempat menolak menikah, tetapi ketika keadaan sudah sampai di titik itu. Bahkan Arvin pun tidak punya pilihan, apalagi dirinya?

Sebuah pernikahan terkutuk pun dimulai.

Selama tiga tahun ini, Renee berusaha keras memainkan perannya sebagai istri. Penuh perhatian, lembut, selalu menempatkan diri, berharap ketulusan hatinya bisa menebus kesalahan Keluarga Witansa terhadap Arvin.

Namun, yang dia dapat hanya satu kalimat dingin dari pria itu. "Aku nggak butuh pembantu."

Meskipun begitu, Renee tetap tidak menyerah.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia melewati pasar dan membeli bahan segar seperti biasa, lalu menyiapkan makan malam favorit Arvin.

Menjelang senja, empat hidangan dan satu sup tersaji di meja makan. Namun, Arvin tak kunjung pulang. Renee mengirim pesan menanyakan jam berapa dia akan kembali.

Beberapa saat kemudian, dia hanya menerima balasan empat kata.

[ Malam ini nggak pulang. ]

Dia seharusnya sudah terbiasa, tetapi tetap saja ada rasa kecewa yang menyelinap di hatinya.

Dia makan sendiri, mencuci piring sendiri, lalu mandi dan menelan dua butir obat dosis baru dari dokter. Sebelum tidur, Renee mengirim pesan kepada Rosa, pengasuh di rumah lama.

[ Apa Renji hari ini berperilaku baik? ]

Rosa adalah satu-satunya orang dari Keluarga Suryana yang masih mau berbicara padanya. Setiap kali Renee menanyakan tentang anaknya, Renji akan mengirim video pendek.

Di video itu, Renji yang baru berusia dua tahun tampak begitu lucu, meskipun tubuhnya agak kurus. Melihat tubuh mungil anaknya yang lemah, air mata Renee pun mengalir.

Renji adalah anak yang dia kandung selama sepuluh bulan, tetapi sejak lahir langsung dibawa oleh ibu mertuanya ke rumah lama, dengan alasan seorang perempuan tuli tidak pantas mendidik anak.

Bukan hanya itu, dia bahkan dilarang bertemu anaknya. Setiap kali dia merindukan anaknya hingga hampir gila, dia hanya bisa memohon pada Arvin agar diizinkan mengunjungi rumah lama, sekadar melihat putranya dari jauh.

Jadi, demi anaknya, dia tetap berusaha menyenangkan hati Arvin.

Video itu pendek, tetapi Renee menontonnya berulang-ulang. Sampai akhirnya dia tertidur di sofa sambil memeluk ponsel.

Dalam tidurnya, dia bermimpi berlari di taman bersama Renji. Anak kecil itu tertawa ceria seperti matahari kecil, berlari ke pelukannya sambil berseru manja, "Mama!"

Sebuah adegan sederhana bagi para ibu, tetapi baginya mustahil menjadi nyata. Saat terbangun, pipinya sudah basah oleh air mata.

Renee duduk termangu, sadar bahwa hari sudah pagi. Dari kamar mandi terdengar suara air. Mungkin Arvin sudah pulang.

Arvin tidak suka sarapan di luar, juga tidak suka terlambat ke kantor. Renee pun melihat jam, lalu segera mandi dan bersiap. Kemudian, dia turun ke dapur untuk membuat sarapan.

Arvin sangat pemilih soal makanan, tetapi Renee tahu betul seleranya. Bubur udang sederhana dan bergizi menguarkan aroma harum ke seluruh ruangan.

Waktunya pun pas, tepat pukul 7 pagi. Arvin turun dari lantai dua, mengenakan setelan rapi. Posturnya tegak, wajahnya tampan.

Cahaya pagi menyorot wajah tegasnya, membuatnya tampak berkilau seperti diselimuti emas, juga memancarkan aura seseorang yang berkuasa dan tak bisa dilawan Namun, tatapannya pada Renee sedingin es.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nani
bagus ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status