LOGIN"Aku nggak perhatikan," jawab Arvin."Jadi kamu nggak tahu dia sudah keluar dari penjara, benar?""Nggak tahu."Arvin menggeleng, lalu bertanya dengan bingung, "Dia sudah keluar? Siapa yang kasih tahu kamu?""Aku baru saja melihatnya." Renee masih menatap Arvin dengan saksama, tidak melewatkan sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya. "Lebih tepatnya, dia baru saja menungguku di toilet.""Apa yang terjadi?" Arvin langsung tegang. Kedua tangannya memegang bahu Renee sambil menatapnya dari atas ke bawah. "Apa dia melakukan sesuatu padamu? Kamu terluka?""Nggak." Renee menggeleng pelan."Dia nggak melakukan apa-apa padaku. Tapi, dia bilang kamulah yang membebaskannya dari penjara.""Arvin, aku nggak percaya kamu akan melakukan itu. Tapi dia mengatakannya dengan sangat serius. Dia bahkan menyuruhku datang untuk tanyakan langsung sama kamu kalau aku nggak percaya.""Jadi, aku datang."Nissa mengira dia masih Renee yang dulu, gadis tuli yang tidak berani berkata apa-apa dan tidak berani be
"Kenapa? Nyonya Suryana secepat itu sudah nggak kenal aku lagi?" Nissa menyunggingkan senyum sinis, matanya penuh kebencian."Kamu ...."Renee membuka mulutnya, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kedua tangannya yang bertumpu di wastafel perlahan mengepal semakin erat.Wanita menyebalkan ini muncul lagi. Mana mungkin dia tidak khawatir? Mana mungkin dia tidak takut kehidupan yang baru saja kembali tenang itu akan hancur lagi?Namun, Nissa malah sangat menikmati reaksinya. Senyum di sudut bibirnya semakin terlihat jahat. Dia melangkah mendekat sedikit demi sedikit dan menatap Renee, lalu berkata dengan jelas satu per satu, "Renee, masa-masa bahagiamu sudah berakhir."Tubuh Renee tanpa sadar gemetar, kedua kakinya melemah hingga hampir jatuh ke lantai."Nyonya Suryana, apa perlu setegang itu? Aku keluar dari sana memang hanya soal waktu. Atau kamu kira aku akan tinggal di dalam selamanya?"Nissa melangkah semakin dekat. "Kalau aku bilang Arvin yang membebaskanku, apakah kam
"Apa kamu bilang?" Renee mengira dirinya salah dengar.Apalagi, dulu ketika dia mengandung Renji, Arvin sangat tidak suka dan bahkan sangat menentang dia melahirkan anak itu. Kalau bukan karena Jerico, Renji mungkin juga tidak akan lahir."Anak kedua?" Tanpa sadar dia bertanya lagi.Arvin mengangguk. "Kamu nggak mau?""Aku ...."Bukan karena Renee tidak mau, melainkan dia sama sekali tidak pernah memikirkan soal ini. Dia selalu merasa bahwa bisa memiliki Renji saja sudah menghabiskan seluruh keberuntungan dalam hidupnya.Mana berani dia memikirkan soal anak kedua."Aku nggak pernah memikirkannya," jawabnya dengan jujur.Arvin tiba-tiba tertawa, lalu menunduk mencium keningnya. "Aku cuma bercanda, aku nggak mau anak kedua!"Renee terdiam.Ternyata hanya bercanda.Dia juga merasa begitu. Bahkan Renji saja dulu Arvin tidak menginginkannya, bagaimana mungkin dia mau anak kedua?Hatinya terasa agak dingin. Dia baru saja hendak melepaskan diri dari pelukan Arvin untuk menemani Renji melihat
"Mama, aku mau yang ini, Mama aku mau yang itu, Mama, aku mau semuanya, gimana?"Dalam waktu singkat, pelukan Renji sudah penuh dengan boneka.Renee berjongkok dengan lembut di depannya, melihat boneka-boneka di pelukannya lalu menggeleng. "Nggak boleh, Renji cuma boleh pilih satu yang paling kamu suka. Kita nggak boleh beli terlalu banyak mainan.""Tapi Renji suka.""Walaupun suka, kita nggak boleh selalu membeli terlalu banyak mainan. Kita harus punya kebiasaan hidup hemat, mengerti?"Renji tampak setengah mengerti. Namun, melihat ibunya yang paling menyayanginya pun mengatakan tidak boleh, dia terpaksa menyerah. Dia memilih satu boneka beruang bertelinga panjang yang paling disukainya dari tumpukan boneka, lalu memberikannya kepada ibunya."Mama, Renji mau yang ini. Lembut sekali kalau dipeluk, seperti pelukan Mama."Renee tertawa oleh cara Renji menggambarkannya dan hatinya terasa hangat. Dia mengangkat kepala dan melirik Arvin. "Kamu sadar nggak, Renji semakin perhatian dan semaki
Di taman bermain ada cukup banyak wahana yang cocok untuk anak kecil. Arvin melihat peta panduan dan mencari sebentar, lalu memilih yang paling seru untuk dimainkan lebih dulu.Renji ternyata juga anak yang terlalu lama dikurung. Setiap wahana terasa menyenangkan baginya, dan dia bermain dengan sangat puas.Renee diam-diam bertekad bahwa Renji tidak boleh menempuh jalan yang sama seperti Arvin, menjadi seseorang yang tidak memiliki masa kecil seperti robot. Keluarga kecil itu bermain sepanjang pagi dan akhirnya mulai merasa lelah.Saat meninggalkan taman bermain, Renji terlihat agak enggan.Renee khawatir dia bermain terlalu berlebihan hingga sulit tidur nanti malam, jadi dia menggendong Renji sambil membujuk, "Renji, kita pergi makan makanan enak, lalu setelah itu beli boneka, gimana?"Anak kecil memang mudah dibujuk. Begitu mendengar tentang makanan enak dan boneka, dia langsung menyetujuinya dengan gembira."Oke! Renji mau beli boneka!"Jarak dari taman bermain ke pusat kota lumayan
"Benarkah?"Renee melirik ke arah komidi putar, dan benar saja ada seorang staf yang memegang ponsel sedang mengambil foto. Dia pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu sedikit mendekat ke arah Arvin dan Renji.Sebuah foto keluarga yang sempurna pun tertangkap di dalam ponsel.Setiap gadis memiliki mimpi menjadi putri di komidi putar, dan setiap gadis juga ingin sekali duduk di komidi putar bersama pria yang dia cintai. Renee merasa mimpinya akhirnya terwujud pada hari ini.Kuda-kuda kayu itu berputar diiringi melodi yang indah. Bagaikan mimpi.Renee tiba-tiba memiliki sebuah keinginan, berharap komidi putar itu tidak akan pernah berhenti, berharap ia terus berputar selamanya. Dengan begitu, kebahagiaannya tidak akan pernah berakhir.Namun, pada akhirnya itu hanya mimpi.Komidi putar segera berhenti.Saat Arvin bertanya apakah dia ingin naik sekali lagi, Renee bahkan menjawab, "Kalian saja yang naik, aku nggak ikut."Dia merasa agak takut dengan perasaan bahagia yang tidak
"Memangnya bisa aku bisa rencanain apaan? Kalau bukan karena kamu sendiri yang setiap hari ribut mau cerai, ditambah Juwita yang memaksaku, mana mungkin aku berharap kamu cerai?"Renee tetap merasa ada yang janggal. Kalau benar-benar tidak ada konspirasi, ibunya tidak akan sebegitu tenangnya duduk d
Kalimat selanjutnya tidak lagi didengar oleh Renee, karena dia sudah melepas alat bantu dengarnya.Di balik pintu, dia tidak tahu apakah ibunya sudah pergi atau belum. Yang dia tahu hanyalah rasa sakit yang menusuk di dadanya. Sama sakitnya seperti waktu ibunya dulu menipunya minum susu beracun, lal
Renee terbentur tiang setelah dipukul, kepalanya robek dan mengucurkan darah. Seharian penuh setelah kejadian itu, Renee tetap menahan luka di kepalanya dan diam-diam menyelesaikan seluruh rangkaian upacara pernikahan.Ferawati memang selalu saja keras dan kejam kalau memukul. Saat kejadian di penga
Renee mendengarnya, tetapi tidak berniat menanggapi. Dia juga tidak berniat kembali ke rumah Keluarga Suryana.Untuk menunjukkan keputusannya, dia melepas alat bantu dengar dari telinganya. Dunia akhirnya menjadi tenang.Punggungnya yang diselimuti hujan tampak begitu keras kepala, membuat Ferawati







