Share

Bab 6

Author: Caitlyn
"Nggak." Arvin langsung menolak tanpa berpikir panjang.

Suka pada si tuli itu? Hal itu mustahil terjadi seumur hidupnya.

Juwita masih ingin berbicara, tetapi sudah disela oleh suara Arvin yang datar, "Cukup, Ibu. Aku memang nggak suka Renee, tapi aku juga nggak pernah berpikir untuk menceraikannya."

"Apa katamu?" Mata Juwita membelalak.

"Arvin, kamu mau hidup seumur hidup sama si tuli itu? Kamu nggak peduli dengan martabat Keluarga Suryana?"

"Bukankah dulu aku menikahi Renee juga demi menjaga martabat keluarga?"

"Tiga tahun lalu, kakekmu yang memaksamu menikahinya. Sekarang kakekmu sudah nggak bisa ikut campur urusan ini. Kamu nggak perlu mengorbankan kebahagiaanmu demi seseorang yang cacat."

Juwita berdiri dan berjalan mendekatinya, menepuk pelan bahunya. "Arvin, kebahagiaan itu harus kamu genggam sendiri. Jangan biarkan rasa bersalah atau tanggung jawab mengekangmu."

Arvin terdiam. Beberapa detik kemudian, dia berkata dengan tenang, "Aku tahu."

Tanpa banyak berbicara lagi, dia melangkah ke luar dan menuju mobil.

Arvin mengemudi kembali ke Vila Panorama. Seperti semalam, vila besar itu tenggelam dalam kegelapan tanpa setitik pun cahaya, tanpa kehangatan, tanpa sosok yang familier.

Sambil melepas kancing kemejanya, dia naik ke lantai atas. Begitu masuk ke kamar utama, pandangannya langsung jatuh pada foto pernikahan yang sudah retak.

Gina ingin membereskan semuanya, tetapi Arvin mencegahnya. Dia ingin menunggu Renee kembali, menunggu wanita itu menempel ulang foto pernikahan itu dan menggantungkannya kembali di dinding, lalu melanjutkan perannya sebagai Nyonya Suryana.

Awalnya Arvin yakin Renee akan pulang malam ini. Namun, ternyata dugaannya salah. Bukan hanya tidak pulang, satu pesan darinya pun tidak ada.

Kemarahan yang sudah menumpuk kini semakin membara. Dengan kesal, dia melempar jaket ke sofa, menyalakan sebatang rokok, mengisap dalam-dalam, lalu mengambil ponsel dan menekan nomor asistennya, Andre.

Telepon segera tersambung. "Pak Arvin, sudah larut malam begini, ada perintah?"

"Istriku ke mana?"

"Hah?" Andre sempat tidak paham. Bosnya menelepon tengah malam hanya untuk menanyakan keberadaan istrinya?

Padahal biasanya Renee itu penurut seperti robot, tidak pernah membuat masalah. Kalaupun membuat Arvin kesal, Arvin biasanya tidak akan benar-benar peduli.

Arvin tampaknya juga menyadari hal itu. Nada suaranya merendah. "Istriku lagi ngambek. Kamu hubungi dia."

"Hah?" Andre kembali kaget. Istri bosnya ngambek? Begitu sadar, dia cepat-cepat meminta maaf. "Maaf, aku hanya terkejut saja. Tenang, Pak. Aku akan segera mencari Bu Renee."

"Nggak perlu." Arvin mengisap rokok lagi, meniupkan asap perlahan. "Kasih tahu dia, kalau dalam tiga hari dia nggak pulang, selamanya jangan kembali."

Andre langsung mengiakan. "Baik, Pak. Aku akan sampaikan besok."

Dia tahu betul bosnya menjaga gengsi. Mana mungkin bosnya akan memanggil istrinya pulang?

....

Renee memang tidak bekerja selama ini, tetapi dia sering membantu Michela membuat desain. Jadi, kembali ke dunia kerja tidak sulit baginya.

Pagi itu, dia mengendarai motor listrik menuju studio. Dari jauh, dia melihat Andre berdiri di depan pintu, sepertinya menunggunya.

"Bu Renee, Pak Arvin menyuruhku menyampaikan pesan."

Selama lima tahun bekerja dengan Arvin, Andre selalu bersikap sopan pada Renee.

"Katakan saja."

"Uh ...." Andre agak canggung, tetapi tetap menyampaikan dengan tepat, "Pak Arvin bilang, kalau dalam tiga hari Ibu nggak pulang, jangan pernah kembali lagi."

Renee sudah menduga tidak akan ada kata manis. Dia diam dua detik, lalu berkata pelan, "Tolong sampaikan pada Pak Arvin, aku sudah tinggalkan surat perjanjian cerai di meja kamar."

"Eh?" Andre melongo. Surat perjanjian cerai? Kali ini yang meninggalkan adalah sang istri?

Renee tidak berbicara lagi. Dia hanya tersenyum sopan, lalu masuk ke studio.

Andre kembali ke Vila Panorama untuk melapor. Dengan hormat, dia mengulang kata-kata Renee dan akhirnya bertanya dengan ragu, "Pak, perlu aku bantu ambil surat perjanjian cerainya?"

Ketika dia mendongak, wajah Arvin sudah sehitam arang. Andre bertanya lagi, "Bapak baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Aku nggak buta." Arvin menahan amarahnya. Surat itu jelas-jelas ada di meja, mana mungkin dia tidak lihat? Dia bahkan sudah merobeknya sejak awal.

Melihat Arvin begitu gusar, Andre bertanya dengan hati-hati, "Bukankah seharusnya Bapak senang karena Bu Renee setuju untuk bercerai?"

Ekspresi Arvin semakin kelam. Semua orang mengira dia seharusnya senang. Namun, entah kenapa dia sama sekali tidak merasa begitu.

"Kamu rasa aku harus senang?"

"Eee ...." Menyadari bahwa diceraikan oleh wanita tuli itu memalukan, Andre buru-buru menambahkan, "Aku rasa Bu Renee nggak sungguh-sungguh ingin cerai. Mungkin hanya ingin menggertak Bapak saja. Aku yakin belum sampai tiga hari, dia akan pulang."

Raut wajah Arvin sedikit membaik. Karena memang itu juga yang dia pikirkan.

Namun siapa sangka ... tiga hari berlalu begitu cepat. Wanita yang katanya sedang menggertak itu pun bukan hanya tidak pulang, tetapi bahkan tidak mengirim satu pesan pun.

Awalnya Arvin tidak terlalu ambil pusing. Namun, lama-kelamaan rasa gelisah dan kesal menumpuk.

Pagi-pagi, hanya karena tidak menemukan dasi biru tua kesukaannya, dia menendang tong sampah sampai terbang beberapa meter.

Gina sampai gemetar ketakutan, tetapi tidak berani berbicara. Dengan suara hati-hati, dia berkata, "Tuan, mungkin sebaiknya hubungi Nyonya saja. Biasanya Nyonya yang mengatur lemari dan ruang pakaian."

Arvin ingin menolak. Namun, kata yang hendak dikeluarkan tertelan kembali. Akhirnya, dia berjalan ke depan jendela besar. Satu tangan di saku, satu tangan mengambil ponsel.

Untuk pertama kalinya sejak Renee pergi seminggu lalu, Arvin meneleponnya.

Telepon segera tersambung. Arvin tersenyum puas, merasa wanita ini hanya berpura-pura keras. Pasti setiap hari menunggunya menelepon.

"Bu Renee, permainan tarik-ulurmu lumayan juga. Hati-hati, jangan sampai kebablasan."

Renee sedang memakai sepatu dan hendak keluar. Mendengar suara itu, dia sempat tertegun, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan tenang.

"Pak Arvin, pagi-pagi begini meneleponku, ada urusan apa?" Suaranya datar dan tenang.

Hal ini di luar dugaan Arvin. Sudut bibirnya turun lagi. "Aku cuma mau tanya, dasi biru tuaku kamu taruh di mana?"

"Semua dasi sudah kurapikan di kotak dasi. Silakan cari sendiri. Kalau nggak ketemu, bisa minta bantuan Kak Gina."

Renee sudah keluar dari apartemennya. Melihat lift hampir tertutup, dia buru-buru berlari kecil.

"Sebentar." Pintu lift terbuka kembali. Renee masuk dan tersenyum pada orang di dalam. "Terima kasih, Kak."

Bahkan lewat ponsel, Arvin bisa merasakan keceriaan dalam suaranya. Hatinya langsung terasa tak nyaman.

"Renee!" panggil Arvin dengan kesal.

Lift sedang penuh karena jam berangkat kerja. Setelah menemukan tempat, barulah Renee kembali berbicara, "Pak Arvin, ada urusan lain?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status