Se connecter"Nggak. Karena aku menebak kamu pasti akan berbohong."Renee merapikan selimut Renji dengan lembut. Dia berdiri dari tepi tempat tidur, lalu menatap wanita di hadapannya yang tampak murka dan kehilangan kendali."Bu Nissa, biar aku beri tahu. Orang yang benar-benar yakin menang nggak perlu bersikap seperti kamu, garang dan panik.""Apa yang bisa Arvin lakukan padamu? Apa yang bisa dia katakan padamu? Nggak mungkin juga dia menyuruhmu memakai stoking hitam sambil menidurimu di depan Renji lalu berjanji akan menikahimu, 'kan?"Ekspresi Nissa sedikit berubah.Renee melanjutkan, "Hemat tenagamu. Jangan terus-menerus memakai trik rendahanmu itu untuk menguji kecerdasanku.""Renee, kamu ini hanya berani karena dibela Pak Jerico, 'kan? Buah yang dipetik paksa nggak akan terasa manis. Memangnya yang kamu lakukan ini ada gunanya?""Nggak manis pun aku tetap akan memetiknya." Renee tersenyum tipis ke arahnya. "Bu Nissa, sebelumnya aku masih berpikir, meskipun kamu terus menghasut Renji agar meno
"Dia itu gadis baik-baik. Setelah dipermalukan kakekmu seperti itu, siapa tahu dia bisa melakukan hal yang nekat. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, apa kamu sanggup menanggungnya?""Ibu." Arvin memotongnya dengan datar, "Tolong diam.""Kamu ini sedang menghindar. Tapi, apa gunanya menghindar? Kamu bisa menghindar sementara, tapi apa bisa menghindar seumur hidup? Menurutku ....""Kalau Ibu tetap memaksa menekanku dengan urusan ini, aku hanya punya satu pilihan. Aku akan membawa Renee dan Renji pergi dari Kota Haidar, membuat Ibu seumur hidup nggak akan pernah bisa bertemu Renji lagi.""Kamu ...."Juwita jelas terkejut dan terintimidasi oleh kata-katanya.Bagaimanapun, putra dan cucu adalah nyawanya, juga jaminan posisinya di keluarga ini.Arvin tidak berkata apa-apa lagi. Dia bangkit dan meninggalkan ruang makan. Dia naik ke lantai dua. Namun bukannya kembali ke kamarnya sendiri, langkahnya berbelok menuju kamar anak.Nissa benar-benar sedang menangis. Dia memeluk tubuhnya sendiri d
"Kalian makan saja dulu, aku naik ke atas temani Renji makan."Nissa benar-benar takut pada Jerico. Mana berani dia makan satu meja dengannya?Jerico duduk di kursi utama. Seperti kebiasaannya, Renee melangkah ke arah kursi paling ujung.Dulu, ketika Juwita sengaja menyuruhnya duduk di posisi paling belakang, Arvin tidak pernah membelanya sekali pun. Namun kali ini, Arvin malah menahan pergelangan tangannya.Dengan senyum palsu, dia memerintahkan Renee, "Duduk."Tujuan Renee sebenarnya sudah tercapai, jadi dia memutuskan untuk tahu diri dan tidak melanjutkan. Dia berjalan ke sisi Arvin lalu duduk.Meski senyum mereka berdua sama-sama terlihat palsu, mereka tetap tampak serasi dari luar. Melihar mereka, raut wajah Jerico pun membaik. Namun, itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kembali menjadi tegang."Masa cuma mikirin makan sendiri? Ambilkan lauk untuk Renee. Lihat tuh, sampai kurus begitu."Tangan Arvin yang sedang mengambil udang untuk piringnya sendiri langsung terhenti di u
Karena bagaimanapun juga, selama dia tidak menikah, dia tetap menjadi bagian dari Keluarga Suryana seumur hidup dan akan menikmati kemewahan serta kejayaan seumur hidup.Felicia merasa kesal bukan main. Dia berbalik dan hendak keluar."Berhenti!"Jerico memanggilnya, lalu berkata, "Minta maaf sama kakak iparmu. Katakan bahwa kamu nggak punya tata krama, makanya sampai panggil kakak iparmu tuli."Disuruh minta maaf sama si tuli? Felicia semakin marah.Dia menoleh dan memandang Arvin dengan penuh harap. Namun, Arvin berpura-pura tidak melihat permintaannya. Lagi pula, lengannya masih sangat sakit dan dia tidak ingin mencari masalah lagi.Juwita juga dipenuhi amarah, tetapi dia hanya bisa menahannya. Bagaimanapun, memaki putrinya tidak berpendidikan sama saja dengan memaki dirinya sendiri."Kamu nggak ngerti bahasa manusia?"Jerico sudah didorong Renee turun dari lift ke lantai satu. Meskipun mengenakan setelan hitam dan duduk di kursi roda, seluruh tubuhnya tetap terpancar tekanan yang m
Renee segera berjalan mendekat, berjongkok di samping kaki Jerico sambil terisak. "Terima kasih, Kakek selalu begitu menghargaiku.""Kenapa bicara begitu?" Jerico tersenyum sambil menepuk kepala Renee. "Kamu itu istri Arvin, ibu Renji. Mana mungkin Kakek nggak menghargaimu?""Kakek tahu betul sifat Arvin itu. Selama ini kamu yang banyak menahan diri.""Kakek, aku ...." Renee ingin mengatakan bahwa dirinya tidak merasa tertekan, tetapi mengingat situasinya sekarang, dia memutuskan untuk terlihat tertekan."Kakek, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja.""Mm, hidup yang baik, pada akhirnya kamu akan punya hari bersinarmu sendiri."Hari bersinar? Renee belum pernah memikirkannya.Sejak hari dia menikah dengan Arvin, dia tak pernah berpikir ingin berkuasa atau menonjol. Dia hanya ingin hidup tenang dan punya keluarga yang damai.Kalau bukan karena kemunculan Nissa yang tiba-tiba, dia pun tidak akan berakting seperti ini di depan Jerico.Jerico kembali tersenyum. "Tadi Kakek sudah bertemu Re
"Aku sudah tahu. Kalau nggak ada aku, kamu pasti nggak akan memperlakukan Renee dengan baik. Kamu melakukan apa lagi padanya?"Arvin terdiam, untuk sesaat tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.Jerico lalu beralih bertanya kepada Renee. Nada suaranya melembut. "Renee, bilang sama Kakek, apa yang bocah ini lakukan padamu?"Renee menunduk. Dia memaksa air mata yang sudah disiapkan keluar dari mata, lalu mendongak menatap Jerico."Kakek, aku bisa mengerti kalau Arvin nggak mencintaiku, tapi aku nggak bisa mengerti, apalagi menerima, kalau dia membawa Nissa ke kamar kami.""Benar begitu?" Jerico menoleh pada Arvin. "Arvin, yang Renee katakan itu benar? Kamu bawa Nissa ke kamar kalian?"Tangan Arvin yang diletakkan di pangkuannya semakin mengepal erat sampai memutih. Namun, dia tetap menunduk dengan patuh."Kakek, Nissa diundang khusus oleh Ibu untuk menjadi guru privatnya Renji. Renji memang sangat menyukainya. Dia mengajar dengan baik juga. Aku awalnya berencana menunggu Renji beradaptas







