Share

Bab 7

Author: Caitlyn
Arvin menahan emosinya dengan susah payah dan bertanya, "Renee, kamu masih mau pura-pura di depanku ya?"

"Aku nggak ngerti maksudmu. Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup dulu ya."

"Tunggu dulu." Arvin menahannya. "Kamu yakin nggak ada yang ingin kamu bicarakan?"

Renee merasa hari ini Arvin agak aneh dan cerewet. Biasanya dia selalu pelit kata-kata di depannya.

Di layar lift sedang diputar jadwal konser Nissa. Gambar berganti ke cuplikan wawancara Nissa. Dia tersenyum lembut dan berkata bahwa lagu penutup konsernya kali ini adalah lagu anak-anak yang khusus dia tulis untuk si kecil tersayang.

Pewawancara penasaran dan bertanya, siapa si kecil itu? Nissa tersenyum misterius dan menyahut, "Itu anak angkatku."

Renee memalingkan pandangan. Saat melihat ke bawah, ternyata telepon masih tersambung dan di seberang sana Arvin sudah kehilangan kesabaran.

"Renee, jangan pura-pura nggak dengar!"

Renee menarik napas perlahan, suaranya tenang. "Pak Arvin, besok kamu punya waktu?"

Akhirnya mau menyenangkannya? Arvin tidak bisa menahan senyumannya. Nadanya pun dipenuhi kesombongan. "Nggak ada."

"Kalau begitu, nanti pas ada waktu, kabarin saja. Kita urus surat cerainya."

"Kamu barusan bilang apa?"

"Aku bilang, nanti pas kamu sempat, kita urus surat cerainya."

Selesai berbicara, Renee langsung menutup telepon tanpa ragu.

Arvin tidak bisa berkata-kata. Sementara itu, Renee benar-benar polos seperti selembar kertas putih. Dia berpikir selama dirinya cukup tegas, pernikahan ini pasti bisa diakhiri.

Namun, tak lama kemudian dia menerima telepon dari ibunya. Tanpa sapaan, tanpa perhatian, hanya teguran tajam dari awal. "Kudengar kamu kabur dari rumah ya?"

"Renee, kamu itu nggak tahu diri ya? Bisa menjadi menantu Keluarga Suryana itu berkah delapan turunan! Bukannya disyukuri, malah buat drama. Kamu ...."

"Ibu!" sela Renee. "Setidaknya tanya dulu kenapa aku sampai begini, 'kan?"

"Apanya yang perlu ditanya? Gara-gara si Nissa, 'kan? Kenapa memangnya kalau Arvin pelihara dia di luar? Memangnya itu ngaruh sama nasibmu di Keluarga Suryana yang sudah enak begini?"

"Kamu urusin saja pengobatan telingamu baik-baik dan rawat Arvin yang benar. Kalau kamu takut si perempuan itu bakal rebut Arvin, ya cepat hamil lagi. Kalau sudah punya anak laki-laki dan perempuan, apa lagi yang perlu ditakutkan?"

Ferawati terus mengomel panjang lebar. Renee sudah lebih dulu melepas alat bantu dengarnya.

Dia tidak boleh mendengar, tidak boleh berpikir, tidak boleh membiarkan siapa pun menggoyahkan tekadnya. Kalau tidak, dia akan selamanya terjebak dalam pernikahan tanpa kehangatan ini.

Karena melepas alat bantu dengar, dia tidak mendengar suara mobil dari belakang. Sebuah mobil menabraknya hingga dia terjatuh ke tanah.

Mobil itu berhenti. Seorang pemuda keluar dari kursi pengemudi. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?"

Pria itu tinggi, tampan, dengan raut wajah lembut. Renee tak bisa mendengar suaranya, tetapi dari ekspresinya, dia tahu pria itu sedang mengkhawatirkannya.

Dia mengusap lutut yang perih, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maaf, aku yang nggak lihat jalan."

"Kamu terluka? Perlu aku antar ke rumah sakit?" Pria itu menatap kakinya.

Renee tak mendengar jelas ucapannya, hanya membalas dengan senyuman sopan.

"Kamu nggak bisa bicara?" tanya pria itu dengan heran.

Renee mengenakan kembali alat bantu dengarnya dengan tenang, lalu berkata, "Maaf, tadi aku nggak dengar kamu bilang apa."

Oh, ternyata dia tidak bisa mendengar suara. Pria itu menatapnya dan rasa iba pun muncul dalam hatinya. Gadis semuda dan secantik ini, ternyata memiliki gangguan pendengaran.

"Nggak apa-apa, cuma ... luka di kakimu itu ...."

"Nggak parah, nggak sakit," sahut Renee dengan santai. Hanya sedikit lecet, sebentar juga sembuh.

"Kalau begitu, biar aku bantu kasih obat ya? Di mobilku ada obat." Pria itu segera berbalik menuju mobil untuk mengambil obat.

Renee tak tega menolak kebaikannya, jadi dia duduk di tangga, membiarkan pria itu mengobatinya.

Kulit kakinya putih dan halus, tetapi terlihat terlalu kurus. Pria itu tak bisa menahan rasa kasihan.

"Aku Nathan Gumarang. Siapa namamu?"

"Aku Renee Witansa."

"Kamu kerja di sekitar sini?"

"Ya, di gedung depan."

"Kebetulan banget, aku kerja di sebelahnya." Nathan menunjuk gedung tertinggi di depan sana dengan dagunya.

Renee menoleh. Gedung itu milik Grup Gumarang. Pria ini juga bermarga Gumarang ....

Nathan Gumarang? Putra kedua Keluarga Gumarang?

Renee refleks menurunkan roknya, menutupi lutut yang lecet. "Terima kasih, Pak Nathan. Aku baik-baik saja."

"Kamu buru-buru banget?"

"Ya ...."

"Boleh tukar kontak? Anggap saja nambah teman."

"Nggak usah, lukaku nggak parah. Terima kasih atas bantuannya."

Tanpa memperhatikan wajah kecewa Nathan, Renee berbalik dan masuk ke gedung di belakangnya.

Di dalam lift, Renee melihat pantulan dirinya yang tampak sedikit berantakan. Pikirannya melayang ke malam ulang tahunnya tiga tahun lalu.

Saat itu, ibunya menegurnya karena terlalu kurus, menyuruhnya makan yang bergizi, lalu memberinya segelas susu. Renee yang tak suka berdebat, menurut dan meminumnya. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa panas dan tak nyaman.

Ketika dia bertanya apakah ibunya menaruh sesuatu di dalam susu itu, Ferawati berkata dengan wajah serius, bahwa semua itu demi kebaikan Renee.

Rencana mereka sederhana. Renee akan menikah dengan putra kedua Keluarga Gumarang. Meskipun status Nathan rendah dan seperti "bank darah berjalan" untuk kakaknya, setidaknya dia masih anak Keluarga Gumarang. Dia tidak mungkin kekurangan uang.

Dengan begitu, Keluarga Witansa bisa terselamatkan berkat mahar yang diperoleh.

Saat itu, Renee marah besar dan menolak keras. Namun, karena pengaruh obat, tubuhnya lemah dan tak bisa melawan. Akhirnya, dia tetap dikirim ke kamar Nathan oleh ibu dan adiknya.

Namun keesokan paginya, pria yang tidur di sebelahnya bukan Nathan, melainkan Arvin. Bagaimana bisa terjadi, Renee sendiri tak tahu. Ibunya pun tidak tahu.

Namun, Ferawati justru sangat gembira. Keluarga Suryana jauh lebih berkuasa daripada Keluarga Gumarang. Posisi Arvin di Keluarga Suryana, bahkan di seluruh Kota Haidar, tidak tertandingi oleh siapa pun.

Bagi ibunya, ini benar-benar berkah yang datang dari kesalahan. Hingga kini, insiden itu pun hanya diketahui oleh Renee, ibunya, dan adiknya.

Renee bersyukur Nathan tidak mengenalinya. Kalau tidak, rasanya pasti sangat canggung.

....

Sementara itu, Andre baru sadar kalau Arvin beberapa hari ini luar biasa murung dan emosional. Khususnya hari ini.

Bosnya yang biasanya super efisien dan tajam, hari ini sudah memakinya "idiot" lebih dari sepuluh kali. Kalau saja Arvin bukan laki-laki, Andre mungkin sudah membuatkan segelas air gula untuk menenangkan suasana hatinya.

Setelah satu lagi kata "idiot" keluar dari mulut Arvin, Andre memberanikan diri untuk berkata, "Pak, aku dengar malam ini di Jalan Sungar ada pertunjukan kembang api. Mungkin bisa ajak Bu Renee dan Renji nonton bareng?"

Kalau Renee terus tidak pulang, Andre yakin dirinya akan benar-benar menjadi idiot karena terus dimaki.

Namun, wajah Arvin yang sudah muram langsung menggelap mendengar usul itu. Tatapannya dingin seperti melihat orang bodoh.

"Kamu suruh aku ngalah sama Renee? Ajak dia nonton kembang api?"

"Eh ... bukan begitu maksudku ...."

"Keluar!" Arvin melempar map di tangannya tepat ke wajah Andre.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rolin Lasibey
novelx bagus buat penasaran trus
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status