Teilen

ALINTA INGIN BEKERJA

last update Veröffentlichungsdatum: 25.02.2022 13:00:55

Dua hari sebelum Alinta pulang ke rumah, saat Ia siuman.

"Mas, terima kasih sudah menjaga dan sekarang mas Arga menjadi suami setia untuk aku." Wanita itu tengah terbaring dan lemas, karena penyakit Epilepsi atau Ayan yang diderita sejak lahir. Terpaksa, Alinta harus kerja dengan kondisi yang tidak normal dan berbeda dari orang-orang yang sehat. Hari ini, wanita itu tengah tidur di rumah sakit dan disampingnya bersama sang suami baru yang memberi kehangatan. Seharusnya wanita yang tengah baring mendapat kehangatan kusus. Arga berpikir, kenapa harus Alinta yang bekerja keras dan bukan mantan suaminya? Kenapa mesti cinta dalam dusta ini terus berlanjur? Apakah tidak bisa seorang lelaki bersikap baik kepada wanita? Apakah dulu dia pernah membuat ibu kandungnya marah? Namun, pikiran dan pertanyaan itu dihilangkan oleh lelaki setia yang bersama wanita yang berambut lurus dan mata yang indah.

"Aku akan merawat kamu. Dan menjaga kamu."

Arga mencium kening Alinta. Di rumah sakit Alinta sedang disuapi bubur oleh Arga. Tante kandung Alinta datang. Tantenya memakai pakaian dokter dan mengenakan stetoskop, habis memeriksa kakak kandung Alinta.

"Alinta, boleh kita bicara berdua?" tanya tante kandung Arga. "Arga, bisa tinggalkan kami berdua? Aku ada urusan."

Arga meninggalkan ICU dan Alinta bersama Auranti di ICU. Alinta masih mengenakan alat medis di dada dan kepala, serta memakai infus.

"Alinta, kenapa kamu tidak cerita? Tante sempat kepikiran kondisi kamu saat di hotel."

"Tante, saat itu aku diancam oleh suamiku. Kalau aku tidak menuruti perintah, usaha kakakku tidak akan ditolong olehnya."

Alinta mengingat kejadian saat dia malam pertama dengan mantan suami.

"Ayo kita malam pertama,"ucap mantan suami Alinta. Mereka akhirnya malam pertama, namun Alinta tiba-tiba kesehatannya menurun. Ia tidak bisa banyak berpikir. Hanya memikirkan nafsu untuk malam pertama kondisi Alinta sudah menurun akibat penyakit ayan yang merusak otaknya sejak ia lahir.

"Mas, ambilkan aku obat Ayan di tas."

Alinta saat itu semakin menurun, penyakit Ayannya kambuh dan tidak bisa ditolong. Mantan suami memberikan obat dan meminumkannya, penyakit Ayan sudah hilang namun Alinta memiliki kejang-kejang karena setres.

"Kamu ini, diajak berduaan malam pertama malah seperti ini. Kalau tidak bisa memberikan gairah ku, aku minta kamu untuk memberikan anak."

Alinta menangis membayangkan kejadian yang memilukan. Auranti memijat kaki Alinta.

"Begitulah ceritanya, tante. Sampai di kasur penyakit kejang-kejangku tidak berhenti. Dia meminta aku untuk memberikan uang hasil jualan baju batik yang sudah laku."

"Kamu yang sabar ya."

"Tante, aku boleh minta panggilkan mas Arga." Wanita itu meminta tante kandung suaminya, Alinta sudah menganggap Auranti sebagai ibu pengganti dan saudara sendiri. Meski pun jarak diantara mereka. Wanita yang bernama Alinta ini, ia masih sibuk dengan kerja keras meski pun Arga adalah orang yang mampu batin dan nafkah untuk memberi semua kebutuhan Alinta.

"Boleh sayang, silahkan."

Alinta di kasur rumah sakit, ia menunggu Arga datang dan menemani tetapi ia kepikiran masa lalu dengan mantan suaminya.

"Mas, tolong bantu aku bangun. Aku lapar."

Mantan suami Alinta membantu Alinta bangun, namun tubuh Alinta kejang-kejang tidak terkendali. Saat itu mantan suami Alinta menaruh kembali ke kasur. Alinta kejang-kejang di kasur, ia mengatur napas. Matanya berlinang air mata karena menahan sakit, lelah, dan susah bernafas. Alinta berhenti dari kejang-kejang, ia melihat jam di ponsel. Saat ia menaruh ponsel, tubuhnya kembali kejang-kejang di kasur.

"Alinta, aku datang. Tante tadi menyuruh ku untuk menemuimu,"ucap Arga. Arga melihat Alinta menangis dan ia berlari menemui sang istri tercinta. "Kamu kenapa, istriku."

"Mas, makasih udah menerima aku yang cacat. Tapi aku boleh tidak setelah pulang dari rumah sakit, aku mau kerja."

"Boleh, tetapi kamu harus merawat kesehatanmu."

Saat ini, di rumah Arga, Alinta sedang tidur. Ia tidur dengan pulas, hujan turun deras membuat mereka tidak bisa ke kantor karena pasti jalanan di Ibu kota macet.

"Mah, hari ini kita cuti ke kantor saja ya."

Arga sedang membawakan minyak herbal untuk diluluri ke perut Alinta.

"Makasih, pah udah bantu mama. Pa, mama perutnya sakit."

Arga yang sedang menaruh minyak obat, segera ke sofa dan membuka baju Alinta.

"Maaf ya ma, papa obatkan perutmu biar ga sakit."

Arga meluluri perut Alinta. Alinta yang sedang diurut memegang sofa dengan kuat.

"Pah, udah. Mama kesakitan. Jangan diurut lagi,"ucap Alinta. Arga membetulkan kancing baju. Saat kancing baju sudah dibetulkan di baju Alinta, Alinta yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba kejang-kejang dan mulutnya mengcap. Ia sampai susah bernapas.

"Ma, tarik napas. Mama harus kuat,"ucap Arga. Arga mengambil obat Ayan kemudian menyuapkan ke Alinta. Kondisi Alinta membaik, tetapi Alinta tiba tiba mengalami kejang-kejang tanpa sadar.

Arga melihat bibir Arlinta yang merot-merot dan matanya putih serta tubuh Alinta yang kejang-kejang, ia tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba menetes. Beberapa jam kemudian, Alinta sudah sadar. Ia kemudian tertidur pulas, Arga memijat kaki Alinta. Alinta namun kondisinya memburuk lagi, Arga yang melihatnya segera menolong Alinta.

"Ma, papa oleskan minyak angin ke perut mama ya."

Arga membuka kancing baju yang di perut Alinta. Ia kemdian mengoleskan minyak angin, Arga bersabar mengobati istrinya. Ia tidak ingin membuat kejadian Alinta di masa saat bersama sang mantan terulang kembali. Arga kemudian menutup kembali kancing baju.

"Pa, tolong bantu aku berdiri,"ucap Alinta. Arga membantu Alinta berdiri secara perlahan-lahan, Alinta masih belum bisa berjalan seperti orang normal.

"Mama mau kemana?" tanaya Arga.

"Mau ke kamar mandi. Mama ga bisa pakai popok orang dewasa. Mama masi bisa jalan. Setelah ke kamar mandi, mama mau mengecek keuangan perusahaan kita."

Arga pelan-pelan ia membawa Alinta ke kamar mandi. Alinta masih berjalan dengan gemetar. Saat sampai di depan kaman mandi, Arga membuka kan pintu. Alinta masuk ke kamar mandi perlahan-lahan.

"Mas, tunggu di luar ya. Kalau ada apa-apa, panggil mas aja."

"Iya mas Arga, aku sehat-sehat kok."

Namun, Alinta tiba-tiba memejamkan mata. Tumor di rahimnya membuat kesakitan.

Tolong, jangan sekarang. Aku tidak mau suamiku sedih melihat penyakitku kambuh, ucap Alinta dalam hati. Ia sambil mengelus perutnya yang bengkak untuk menenangkan pikiran dan membuat Alinta bertahan dari rasa sakit yang membuat dirinya susah untuk beraktivitas.

Alinta memegang tembok kamar mandi, namun ia tiba-tiba menoleh ke samping dan berteriak. Alinta terjatuh, dan kejang-kejang di kamar mandi.

"Sayang, kamu tidak apa-apa?"

Arga membuka pintu, ia telat. Alinta sudah tidak sadarkan diri dan kejang-kejang, Arga juga melihat mulut istrinya berbusa karena penyakit ayan. Arga mengangkat Alinta, dan membawa ke kamar tidur.

"Arga, istrimu kenapa?" tanya tantenya. Tante yang melihat keponakannya menggendong Alinta segera mencari oksigen.

Arga menaruh Alinta di kasur, ia merubah posisi tidur Alinta menjadi miring untuk mengeluarkan liur yang masih ke luar.

"Sayang, kamu harus bisa melawan penyakit ayan kamu. Aku di sini, jangan takut sayang. Itu baik sayang, bernapas ya."

Aranti membawakan tabung oksigen, Arga memasangkan tabung oksigen ke hidung Alinta. Beberapa menit kemudian, kejang-kejang Alinta sudah berhenti. Alinta memegang tangan Arga.

"Mas, tolong ambilkan laptopku. Aku mau memeriksa keuangan perusahaan."

"Sayang, kamu baru saja sembuh."

"Aku sudah terbiasa dengan penyakit syarafku mas. Aku harus kuat, aku tidak mau membuat diriku jadi beban hidupmu,"ucap Alinta. Arga mengambil laptop, Alinta menunggu di kasur dan mengelus perutnya yang masih sakit.

"Sayang, aku memikirkan kondisi kamu. Kalau misal kamu kambuh bilang ke aku ya." Arga meletakkan laptop di meja kecil yang terletak di kasur. Alinta mengangguk dan tersenyum.

"Mas, keuangan kita masih membaik. Ada pesanan dari kantor X untuk distribusi barang-barang yang kita produksi." Alinta saat lagi mengetik, tiba-tiba saja ia kejang-kejang dan Arga yang melihat langsung mengangkat laptop dan meja.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • CINTA DALAM DUSTA : AKU BUKAN WANITA LEMAH   Arga Masuk

    Sertifikat tanah sudah Arga suruh ambil dan urus, Arga menyuruh tante Auranti supaya aman. Lelaki itu masuk dan membawa baskom berisi air dan handuk untuk meredakan demam. “Mas ... aku tidak kuat ... aku tidak mau menahan sakit ... capek sekali.”Koran di ruang tamu sudah Arga baca, dia hanya bisa menemani Alinta. Jika mengurus masalah di Indonesia, kapan selesainya dan Alinta harus butuh perhatian.“Kamu jangan banyak bicara dan berpikir. Istirahat ya, aku kompres kamu supaya demam turun.”Arga membersihkan wajah dan kening Alinta, perlahan-lahan dia memeras handuk basa dan menyeka. Rekening bank belum ke pakai dan dia berniat akan mengajak Alinta jalan-jalan. “Alinta hari ini kamu siap-siap, aku akan mengajak kamu jalan-jalan.”Desainer pakaian sudah menyelesaikan tugas, Arga belum bisa ke kantor. Dia harus menemani Alinta, istri Arga yang dulu bisa senyum sekarang hanya bisa menangis dan merintih kesakitan. Luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, membuat Ar

  • CINTA DALAM DUSTA : AKU BUKAN WANITA LEMAH   Alinta Tidak Tertolong

    Kesehatan Alinta semakin hari semakin tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Semenjak dia sesak napas, sekarang penglihatan yang memudar sedikit demi sedikit. Arga tidak mau amarahnya tiba-tiba keluar, dia menahan rasa kesal dengan sendirian. Hadiah yang pernah diberikan Alinta adalah mau menerima Arga yang super sibuk. Alinta tidak pernah mengeluh suaminya sibuk, dia hanya ingin diperlakukan seperti ratu bukan uang berjalan. Arga sebagai suami baru dan menjadi suami yang tulus, pernah mengajak jalan di Indonesia. Arga tidak pernah juga menyuruh Alinta diet ketat, dia tahu bahwa Alinta sudah memiliki penyakit bawaan lahir jadi makan yang sehat asal bisa membuat suasana hati bahagia.“Berita dari koran Indonesia tidak ada yang bilang, kalau nenek angkatnya ditahan.”Arga berbicara di telepon, Auranti sudah pulang ke Indonesia karena ada urusan mendesak. Auranti sebagai tante yang merawat Arga dari kecil, tahu kalau keponakannya sekarang lagi serba salah.“Arga, kondisi Alinta mungkin

  • CINTA DALAM DUSTA : AKU BUKAN WANITA LEMAH   Alinta Susah Bernapas?

    “Mas ... sesak sekali ... dadaku sakit ... tolong mas ...”Jam 8, langit sudah gelap terdengar suara tiupan angin. Di sebuah gedung, yang luasnya sekitar 18 hingga 25m persegi. Dua orang suami istri sedang saling menguatkan. Lelaki yang bersama Alinta, sang suami yang selalu setia meneteskan air mata. Dia tidak tahan ketika Alinta tiba-tiba saja susah bernapas karena penyakit jantung dan sesak napasnya kambuh. Alinta yang terbaring dan dengan keadaan seperti hamil, karena tumor yang diderita tidak bisa dioperasi. Alinta sudah berkali-kali ke rumah sakit, namun dokter sudah menyerah karena bisa bahaya keadaan jantung. Dokter spesialis jantung menyarankan Alinta untuk kemoterapi, supaya memperkecil tumor. “Sayang, kenapa kamu tiba-tiba keadaan melemah seperti ini?” Arga yang berada di sisinya, mencoba untuk mengelus dada Alinta pelan-pelan. Dia merasa Alinta kesusahan saat menghirup oksigen, detak jantung di ECG tiba-tiba saja berbunyi cepat. “Aku ... tidak ... kuat ... sakit ... sek

  • CINTA DALAM DUSTA : AKU BUKAN WANITA LEMAH   Badai Salju

    Butiran air yang berbentuk kristal putih, terus berjatuhan di atap apartemen. Apartemen yang sederhana, namun menenangkan bagi suami istri yang sedang berada di Jepang. Alinta yang masih belum sadar dari koma, sejak bulan lalu masih memakai selang oksigen. Bulan Disember, salju turun lebat – bagi Arga, tidak ada kata untuk malas. Dia sedang menunggu kereta, demi bisa bertemu orang-orang penting untuk memulai bisnis di tahun baru. “Pak Arga, kami sudah menemui beberapa orang yang Anda cari. Beliau sudah bersedia untuk menandatangani surat perjanjian.”Arga sudah menggambar rancangan pakaian. Dia tahu betul untuk menawarkan produk batik bagi perusahaan besar yang berada di Jepang. Di Osaka, dia pernah bertemu dengan orang-orang terkenal. Dengan memperkenalkan budaya Indonesia, orang Jepang pasti menerimanya. Gambar pakaian dan tulisan batik, pasti disukai. Berkas yang dia susun rapi-rapi, sudah dimasukkan ke tas. Meski badai salju masih turun, dia bertekad menunggu kereta demi menyembuh

  • CINTA DALAM DUSTA : AKU BUKAN WANITA LEMAH   Kenapa Alinta ?

    “Mas ... aku ... tidak ... kuat ... sesak napas ...” Lelaki itu kemudian terdiam, mendengar suara istrinya tiba-tiba terputus dan susah berbicara.“Kamu kenapa, apakah ada yang sakit?” tanya Arga. Arga kemudian mengelus kening istrinya, dia memijat tangan Alinta. Alinta tiba-tiba kembali lemah, padahal kemarin masih bisa tersenyum. Arga jantungnya berdetak kencang, dia tidak mau Alinta sakit. Dia berharap bisa membawa Alinta ke taman atau ke museum untuk menghibur Alinta. Arga sudah menyuruh temannya yang di Jepang untuk mencari restoran Indonesia, supaya Alinta mau makan dan semangat lagi. Arga tidak sempat pergi ke restoran Indonesia yang di Jepang, dia sibuk mengurus Alinta dan kantor supaya bisa dibagi. Dia bertekad supaya bisa bersama Alinta untuk beberapa hari. Arga tidak bisa menahan air mata, dia sudah tidak melihat istri yang terus – menerus yang kejang dan susah bernapas. Dia mencoba supaya Alinta bisa tenang saat kesakitan. Dia hanya bisa membuat menolong semampunya. Asis

  • CINTA DALAM DUSTA : AKU BUKAN WANITA LEMAH   Belikan Kain Putih

    Arga sudah memilih-milih toko kain kafan, buat persiapan untuk istrinya. Beberapa hari yang lalu, setelah selesai siaran di youtube – Alinta sempat berbicara bahwa dia ingin dibelikan kain putih untuk persiapan ketika sudah tidak kuat menahan penyakit. Ya, penyakit Alinta membuat Alinta setiap hari harus menahan kejang atau tremor. Belum lama ini, dia meminum obat setiap hari untuk menghilangkan rasa sakit. Obat yang dikasih juga mengandung zat yang membuat dia hilang ingatan, karena obat itu mengandung napza. Ibarat memakan buah yang manis, tetapi malah mendapatkan yang tidak terduga. Seperti itulah yang dirasakan Alinta, dia meminum obat supaya tidak kambuh penyakitnya malah seperti orang yang hilang akal. Arga makanya mematuhi perkataan wanita yang dia sayangi, dia tidak mau Alinta terus merasa kesakitan dan terpaksa memakan obat. Arga juga bijak dalam mengambil keputusan, supaya tidak salah memilih kain kafan. Demi membuat Alinta tidak bertanya dan melamun, jika dia melamun kare

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status