LOGINButiran air yang berbentuk kristal putih, terus berjatuhan di atap apartemen. Apartemen yang sederhana, namun menenangkan bagi suami istri yang sedang berada di Jepang. Alinta yang masih belum sadar dari koma, sejak bulan lalu masih memakai selang oksigen. Bulan Disember, salju turun lebat – bagi Arga, tidak ada kata untuk malas. Dia sedang menunggu kereta, demi bisa bertemu orang-orang penting untuk memulai bisnis di tahun baru. “Pak Arga, kami sudah menemui beberapa orang yang Anda cari. Beliau sudah bersedia untuk menandatangani surat perjanjian.”Arga sudah menggambar rancangan pakaian. Dia tahu betul untuk menawarkan produk batik bagi perusahaan besar yang berada di Jepang. Di Osaka, dia pernah bertemu dengan orang-orang terkenal. Dengan memperkenalkan budaya Indonesia, orang Jepang pasti menerimanya. Gambar pakaian dan tulisan batik, pasti disukai. Berkas yang dia susun rapi-rapi, sudah dimasukkan ke tas. Meski badai salju masih turun, dia bertekad menunggu kereta demi menyembuh
“Mas ... aku ... tidak ... kuat ... sesak napas ...” Lelaki itu kemudian terdiam, mendengar suara istrinya tiba-tiba terputus dan susah berbicara.“Kamu kenapa, apakah ada yang sakit?” tanya Arga. Arga kemudian mengelus kening istrinya, dia memijat tangan Alinta. Alinta tiba-tiba kembali lemah, padahal kemarin masih bisa tersenyum. Arga jantungnya berdetak kencang, dia tidak mau Alinta sakit. Dia berharap bisa membawa Alinta ke taman atau ke museum untuk menghibur Alinta. Arga sudah menyuruh temannya yang di Jepang untuk mencari restoran Indonesia, supaya Alinta mau makan dan semangat lagi. Arga tidak sempat pergi ke restoran Indonesia yang di Jepang, dia sibuk mengurus Alinta dan kantor supaya bisa dibagi. Dia bertekad supaya bisa bersama Alinta untuk beberapa hari. Arga tidak bisa menahan air mata, dia sudah tidak melihat istri yang terus – menerus yang kejang dan susah bernapas. Dia mencoba supaya Alinta bisa tenang saat kesakitan. Dia hanya bisa membuat menolong semampunya. Asis
Arga sudah memilih-milih toko kain kafan, buat persiapan untuk istrinya. Beberapa hari yang lalu, setelah selesai siaran di youtube – Alinta sempat berbicara bahwa dia ingin dibelikan kain putih untuk persiapan ketika sudah tidak kuat menahan penyakit. Ya, penyakit Alinta membuat Alinta setiap hari harus menahan kejang atau tremor. Belum lama ini, dia meminum obat setiap hari untuk menghilangkan rasa sakit. Obat yang dikasih juga mengandung zat yang membuat dia hilang ingatan, karena obat itu mengandung napza. Ibarat memakan buah yang manis, tetapi malah mendapatkan yang tidak terduga. Seperti itulah yang dirasakan Alinta, dia meminum obat supaya tidak kambuh penyakitnya malah seperti orang yang hilang akal. Arga makanya mematuhi perkataan wanita yang dia sayangi, dia tidak mau Alinta terus merasa kesakitan dan terpaksa memakan obat. Arga juga bijak dalam mengambil keputusan, supaya tidak salah memilih kain kafan. Demi membuat Alinta tidak bertanya dan melamun, jika dia melamun kare
Bunyi mesin komputer dihidupkan, lelaki yang memakai pakaian rapi dan berdandan mulai siaran di depan layar yang sudah hidup. Para penonton mulai menunggu, ada pertanyaan dari penonton. “Teman-teman, saya ingin membuat beberapa kegiatan sosial. Yaitu dengan membeli baju-baju yang saya buat, akan saya beri uang dari hasil penjualan untuk panti asuhan atau rumah kanker.”Kaki Alinta di ruang tidur susah bergerak, wanita itu hanya menangis karena menyusahkan suami tercinta. Kupu-kupu bergerak, Alinta hanya bisa memandang dari kaca tembus pandang yang terpasang di dinding. Kaca yang begitu bening, sehingga menampakkan langit yang indah di Jepang.Jika aku bisa membantu Arga siaran di youtube, aku tidak akan merasa bersalah. Batin Arlinta memilih untuk membantu, namun raganya tidak bisa bergerak sesuai yang ia katakan. Meski Alinta sudah sembuh, namun dia belum bisa pulih karena penyakitnya sudah parah. Letak meja dan kursi, di dekat jendela. Sehingga Arga bisa melihat pemandangan yang d
Alinta tiba-tiba kejang, di saat langit gelap dan semua orang tertidur. Arga yang mendengar Alarm dari monitor ECG langsung bangun, dia meneteskan air mata. Di jam tidur, sang istri tiba-tiba jantungnya melemah dan pernapasannya tidak normal. Dua hari yang lalu, Alinta masih tersenyum dan mendengar Arga berbicara. Lelaki yang memakai baju tidur dan rambut acak, segera menggosok gigi. Namun Alinta semakin memburuk, dia yang berkumur-kumur kemudian meletakkan sikat gigi dan pergi ke kamar Alinta. Lelaki itu terkejut melihat sang istri kejang-kejang dan tubunya membiru.“Alinta, kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?”Arga kemudian mencari ponsel di meja, dia membeli tiga ponsel. Satu buat memanggil dokter, satu buat menghubungi keluarga dan satunya lagi untuk kepentingan kantor. Ponsel yang ditaruh di kamar Alinta ketemu, dia kemudian menghubungi dokter. Bunyi telepon masih menandakan bahwa belum ada yang mengangkat panggilan darurat. Ibu kandung Alinta tidak ada, hanya Arga yang menjadi w
Sudah dua bulan, Alinta kehilangan semangat untuk jalan. Dia di diagnosis tidak bisa jalan, Auranti sudah di Jakarta, dia yang mendapat informasi dari Arga tiba-tiba meneteskan air mata dan lemas. Auranti berada jauh, dia tidak mungkin pergi ke Jepang.“Arga, apakah tidak bisa disembuhkan Alinta?” tanya Auranti di telepon. Arga yang memegang telepon, hanya bisa menangis dan tidak bisa berbicara lagi. “Tante, aku sedih sekali. Aku harus apa saat seperti ini?” tanya balik Arga dengan suara gemetar.Amanah dari sahabat Auranti berat sekali, Auranti tidak tega melihat Alinta setiap hari sakit. Arga yang menelepon Auranti, menahan tangis untuk membuat Alinta kuat.“Kamu harus tabah, Alinta tidak mau kamu seperti anak yang kehilangan ibunya.”Alinta mengalami edema di paru-paru karena penyakit keras. Penyakit Alinta sudah tidak bisa disembuhkan dan dia harus menerima keadaan. Alinta harus di kursi roda, karena mengalami kerapuhan di bagian tulang belakang.Indra penglihatan Alinta juga sud







