Home / Romansa / CINTA MANUSIA DAN HANTU / Bab 3. *Kehadirannya*

Share

Bab 3. *Kehadirannya*

last update publish date: 2026-06-25 20:42:51

Air mata menetes di pipi pucatnya. "Jadi Sari nggak boleh deketin Stiven? Padahal dia satu-satunya yang Sari suka..."

"Nggak boleh, Nak," Devina mengelus lembut kepala Sari. Tangannya terasa dingin. "Kecuali... kecuali dia udah mati seperti kamu. Baru boleh. Itu baru namanya jodoh dunia akhirat."

Sekelas langsung heboh. "IH.... BU GURU JAHAT!" "SARI SABAR YA!" "DOAIN AJA STIVEN KESELIP SEPATU ATAU KETENDANG KIJANG GITU!" teriak mereka serentak.

"Cukup! Pelajaran kita lanjutkan sekarang! Gak ada alasan buat ngebantah peraturan yang sudah ada. Tes 2: Cara Masuk Ke Dalam Mimpi Basah. Tapi inget! Targetnya HANTU COWOK! Yang kedapatan masuk mimpi manusia hidup, langsung Ibu hukum push up 1000x pake satu tangan!"

Semua murid langsung melakukan praktek. Kelas jadi rame lagi. Ada yang latihan bisikin nama target, ada yang latihan niup-niup kuping boneka latihan.

Blush on di tangannya dia buang. "Jadi... Sari harus nyerah sama Stiven?"

Desi yang berada didekat Sari menepuk pelan pundak sahabatnya. "Udah Sar, ikhlasin aja. Mending kita cari hantu cowok yang mau diajak ngobrol. Hantu Belanda katanya romantis. Suka bilang 'lieveling'..."

Caca ikut menimpalin: "Iya. Daripada kamu dihukum Bu Guru. 1000x push up pake satu tangan? Tangan kamu kan cuma tinggal tulang."

Blush on merah darahnya luntur. Tapi di dadanya, nama "Stiven" masih kebakar. Masih berada di dalam hatinya.

Di luar kelas, petir menyambar. Seakan alam semesta juga tidak setuju dengan aturan konyol yang sudah ada.

Dalam hati Devani dia berbicara: "Maaf, Nak. Ibu nggak mau kamu ngerasain sakit kayak Ibu dulu. Cinta sama manusia... itu neraka, Nak. Neraka yang nggak ada apinya, tapi panasnya ngalahin lahar."

Bel pulang sekolah berbunyi. "Creeet".

Murid-murid berhamburan. Tinggal Sari yang masih duduk. Di buku catatannya dia menulis kata kecil:

_"Peraturan boleh dilanggar... kalau buat cinta, kan?"_

****

Pagi-pagi sekali Stiven sudah selesai melakukan aktifitas mandi paginya. Hari ini dia dan sekretarisnya akan melakukan meeting bersama klien penting dari kota Kalimantan.

Toxsedo hitam, dasi biru tua, celana bahan senada dan jas biru tua yang sewarna dengan dasinya. Pantulan wajahnya memperlihatkan garis wajah tampannya seorang Stiven Anderson yang tak bisa terkalahkan.

"Astagah. Di mana berkas meetingku?" tanyanya bingung. Ia mencari-cari kumpulan berkas yang akan di pakai untuk meeting nanti jam 10.00 pagi ini. "Aneh? Tadi malam aku meletakkan berkas itu di meja ini!" tunjuknya pada meja kerja yang ada di kamarnya. "Mengapa berkas itu hilang? Apa jangan-jangan setan gatal itu yang menyembunyikannya?"

"Aku di sini, Sayang,"

Stiven tidak menjawab panggilan itu. Sorot matanya tidak pernah lepas dari pantulan cermin di belakangnya. Kabut putih muncul di sela-sela cermin, sebuah tulisan tergores rapi dengan warna merah darah.

_"Aku di sini, Stiven. Selalu di sini bersamamu."_

Tangan Stiven gemetar. Berkas 2 triliun di tangannya terasa berat seperti batu nisan. Dia melempar berkas itu ke meja cepat. "KELUAR KAU!" teriaknya dengan suaranya pecah.

Tidak ada jawaban. Hanya desir angin dingin yang meniup tirai kamar sampai hampir lepas dari gantungan. Bau melati busuk semakin menusuk. Kali ini bercampur aroma besi karat dan roma darah busuk.

*09.50 - Di Dalam Mobil*

Stiven duduk merapat ke pintu. Jaraknya dengan Cindi, sekretarisnya, sengaja dia jauhkan. Dia tidak mau "sesuatu" itu menyentuh Cindi.

"Pak, Bapak yakin tidak apa-apa?" Cindi melirik lewat spion. "Wajah Bapak seperti orang habis ketemu setan."

Stiven tidak menjawab. Bibirnya mengatup rapat. Matanya terus menatap kaca jendela sebelahnya. Di kaca itu, embun kembali membentuk huruf. Kali ini lebih cepat, lebih marah:

_S-A-R-I M-I-L-I-K-M-U_

Huruf terakhir selesai. Jari pucat dengan kuku hitam panjang menggores kaca dari luar. "kriiit" suaranya membuat bulu kuduk Stiven berdiri. Padahal mobil melaju 60km/jam. Tidak mungkin ada orang di luar mobil bukan?

"Berhenti!" bentak Stiven tiba-tiba.

"Pak?! Kita sudah mau sampai kantor--"

"BERHENTI SEKARANG JUGA!"

Mobil mengerem mendadak. Ban berdecit panjang. Stiven keluar, menendang pintu mobil sampai penyok. Dia merasa mual bergejolak di perutnya, memuntahkan seluruh yang dia cerna. Yang keluar hanya cairan pahit dan benang-benang hitam tipis. Benang itu bergerak sendiri di aspal, lalu menghilang terserap tanah.

Dari belakang, tangan dingin kembali menyentuh punggungnya. Kali ini lebih berani. Lima jari menekan tulang belikatnya satu persatu.

"Tidak apa-apa, calon suamiku," bisik Sari di telinganya. Napasnya dingin, tapi suaranya terdengar manja. "Sari hanya kangen. 10 tahun Sari tunggu di alam sana. Tidak ada yang mau dengar Sari bicara."

Stiven menoleh dengan mata merah. "Kau sudah mati gadis sialan! Mati, mengerti?! Tubuhmu itu sudah tidak utuh lagi. Jadi, jangan berharap dengan manusia!"

Sari tertawa keras hingga melengking, tapi tidak ada wujudnya di sekitaran Stiven. Hanya kabut putih yang berputar di sekitar pria itu. "Mati karena cinta, Stiven. Dan cinta tidak pernah mati. Ibu Guru salah."

Meskipun Sari bukan manusia seperti pria incarannya, tapi apakah salah dia bisa mencintai Stiven tanpa syarat apa pun itu?

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 15. *Sinar Dibalik Luka*

    Angin malam berdesir pelan di antara celah-celah jendela gedung tua itu. Cat temboknya sudah terkelupas, memperlihatkan bata merah yang kusam. Sebagian kaca pecah, dan pagar besinya berkarat seperti sudah puluhan tahun tidak disentuh manusia. Rumput liar tumbuh menembus celah paving, dan di plang depannya masih terbaca samar dengan cat yang mengelupas: _RS. Harapan Sejahtera_. Tempat ini dulu rumah sakit. Sekarang orang-orang menyebutnya gedung seram. Anak-anak tidak berani lewat sini saat magrib. Ojek online menolak kalau dapat orderan ke daerah sini malam-malam. Katanya sering ada suara tangisan dari lantai 3. Katanya sering ada bayangan perempuan di jendela kamar 204.Dan di depan gerbangnya, seorang gadis berdiri sendirian.Sari.Dia tertawa.Tawanya pecah, nyaring, menggema sampai memantul di dinding kosong gedung itu. Tawa yang kalau didengar orang lewat pasti akan membuat bulu kuduk merinding. Karena tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dia. Hanya bayangan dan rongsokan masa l

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 14. *Tembok Darah Di Pemakaman Tua*

    Jam sudah menunjukkan pukul 23.55. Udara hutan seperti basah. Tapi bukan bau air yang tercium. Bau anyir besi tua memenuhi hutan. Langkah Stiven patah-patah di tanah licin. Napasnya berat. Jesika di belakangnya menggenggam ujung baju Stiven erat-erat, sampai buku jarinya putih. Nenek Rouli paling depan. Tongkat kayunya mengetuk batu tiap 3 langkah. _Tok... tok... tok..._ seperti menghitung mundur nyawa mereka. "Kokokan kedua," bisik Nenek Rouli tanpa menoleh. Suaranya serak, ketelan angin. "Tinggal satu. Kalau ayam ketiga berkokok sebelum kita sampai ke batu nisan Sari... roh itu akan ikut pulang bersama kita." Jesika menelan ludah. "Masih jauh, Nek?" "Di ujung. Lewat pohon beringin yang batangnya berdarah itu." Stiven mendongak. Dan darahnya dingin. Di depan mereka, pohon beringin tua. Batangnya sebesar 3 orang dewasa. Kulit kayunya retak-retak. Dan dari retakan itu, merembes cairan merah kental. Bukan getah. Terlalu kental. Terlalu berbau besi. "Astaga..." Jesi

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 13. *Nenek Rouli di Desa Terpencil*

    Rambut putih panjang disanggul rapi, mata tajamnya seperti bisa melihat isi hati keduanya. Di tangannya tongkat kayu tua menjadi penyangga tubuh rentanya. "Kalian terlambat," suara nenek itu terdengar serak tapi tegas. "Roh itu sudah marah karena kalian membawa dia sampai ke sini." Stiven langsung bersujud. "Nenek Rouli? Tolong kami, Nek. Ada roh gadis SMA namanya Sari. Dia bilang saya takdirnya. Dia selalu mengganggu saya tiap jam 10 malam. Teman saya koma karena ulah dia." Nenek Sumi menatap Stiven lama. Lalu menatap Jesika. Hidungnya kembang kempis seperti mencium bau tidak sedap. "Kau membawa bau kuburan," kata Nenek Rouli ke Stiven. "Dan kau," dia menunjuk Jesika, "kau membawa bau darah segar. Kau mau mati untuk sahabatmu." Tubuh Jesika menggigil. "Saya... saya hanya mau Cindi hidup, Nek." Nenek Rouli masuk ke dalam rumah. "Masuk. Sebelum ayam jantan berkokok ketiga kali. Kalau tidak, roh itu akan ikut masuk." Di dalam rumah: dinding dipenuhi jimat, tengkorak ayam,

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 12. *Malam Yang Mengerikan*

    Hari Kedua Hukuman Sari - 19.47, Apartemen Stiven.Jam dinding menunjuk 19.47. Tinggal 13 menit lagi menuju jam 10 malam. Jam yang Sari janjikan.Stiven duduk di sofa, dasinya berantakan. Di pipinya bekas lipstik merah sudah dia hapus 7 kali, tapi tetap muncul lagi. Tulisan "Milik Sari" di dadanya terasa panas seperti disetrika."Kau yakin mau ikut?" Stiven menatap Jesika yang sedang scroll HP cepat. "Ini bukan urusan manusia biasa, Jes."Jesika tidak menoleh. Matanya fokus ke layar. "Kalau bukan urusan manusia biasa, terus urusan siapa? Stiven, Cindi koma karena hantu yang tergila-gila padamu itu. Kau juga hampir mati tiap jam 10 malam. Jadi ini urusan kita bertiga."Dia mengetuk layar HP. "Dapat! Grup Facebook 'Misteri Sumatera Utara'. Ada yang bahas 'Nenek Rouli, dukun pengusir roh gentayangan'. Komentar orang-orang: 'Anak saya kesurupan 3 tahun, sekali diterapi nenek langsung sembuh'. 'Lokasinya di Desa Huta Silalahi, 2 jam dari jakarta. Masuk hutan sekitar 3 jam-an, Stive'."Stiv

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 11. *Penjelasan*

    "Stiven, boleh bicara sebentar?" Jesika menarik Stiven keluar ruangan. Di koridor kosong, Jesika langsung menatap Stiven tajam. "Jujur, Stiven. Apa yang sebenarnya terjadi pada Cindi?" Stiven menggosok pelipisnya. "Dia ketabrak truk. Sopir bilang dia berhenti di tengah zebra cross. Tidak fokus." "Tidak fokus?" Jesika menyilangkan tangan. "Cindi meneleponku malam sebelum kecelakaan. Dia bilang... dia melihat 'sesuatu' di kantor. Dia bilang dia mendengar kau menyebut nama 'Sari' dalam tidur." Stiven membeku. Punggungnya kaku. "Siapa Sari, Stiven?" Jesika maju selangkah. "Cindi bilang kau ngigau dan menyebut nama itu 3 kali. 'Sari... Sari... Sari'. Dan sejak itu dia berubah aneh. Dia bilang ada bau melati busuk di kantor. Dia bilang kursi sebelahmu sering bergerak sendiri." Stiven tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Jesika menatap mata Stiven dalam-dalam. Mata CEO itu tidak bisa bohong. Ada rasa bersalah. Ada rasa takut. "Stiven," suara Jesika melembut. "Aku tidak tahu

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 10. Mimpi Diantara Hidup Dan Mati*

    "Saat itu aku menggenggam foto pria yang sangat mirip dengannya." Sari membuka telapak tangannya. Di sana muncul foto kusut, hitam putih. Foto pria berjas mahal, mata tajam, senyum tipis. Wajahnya... 99% mirip Stiven Anderson. Cindi menutup mulut. "Tidak mungkin..." "Mungkin, Cin," Sari menutup foto itu. "10 tahun aku menunggu kehadirannya di kuburan. 10 tahun aku melihat manusia hilir mudik. Tertawa. Menikah. Punya anak. Tapi tidak ada yang mencari aku. Sampai Stiven datang. Dia CEO. Dia bersikap dingin. Dia tidak percaya hantu. Tapi dia memanggil namaku." Sari melangkah maju lagi. Kini jarak mereka hanya 30 cm. Cindi bisa lihat pantulan dirinya di mata hitam Sari yang satu lagi. "Cindi," bisik Sari. Napasnya dingin, tapi tidak mematikan. "Kau sekretarisnya bukan? Kau yang selalu mengantar kopi. Kau yang hafal jadwalnya. Kau yang suka padanya diam-diam." Cindi terkejut. "Aku... aku tidak--" "Bohong," Sari menyentuh pipi Cindi dengan jari dinginnya. Jari itu menembus ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status