Home / Romansa / CINTA MANUSIA DAN HANTU / Bab 4. *Ikut Meeting*

Share

Bab 4. *Ikut Meeting*

last update publish date: 2026-06-26 09:13:16

_Jam 10.00 Tepat - Ruang Meeting Lantai 32_

Pintu kaca terbuka. Stiven masuk dengan wajah datar. Jas biru tuanya tidak berkerut sedikit pun. Dia Stiven Anderson. Dia tidak bisa kalah. Tidak di depan klien ataupun musuhnya.

"Selamat pagi, Tuan. Kita mulai saja meetingnya hari ini," katanya, suaranya kembali berwibawa.

Presentasi berjalan. Slide berganti. Angka 2 triliun melayang di layar. Tapi di kursi kulit sebelah Stiven... ada beban. Kursi itu turun 3 cm.

Stiven tidak menoleh. Tapi dia merasakan. Sari duduk di sana. Kaki jenjangnya yang pucat melayang 5 cm dari lantai. Gaun putih sobeknya sekarang lebih bersih. Seakan darah di bajunya sudah dia cuci pakai air bersih.

Jari-jari tulang Sari merayap ke atas meja perlahan-lahan. Menghindari pandangan beberapa pria berjas mahal. Jari itu menyentuh ujung berkas Stiven, membalik satu halaman. Di halaman itu, ada foto Stiven saat wisuda. Sari mengelus foto itu dengan ibu jarinya. Bekas merah darah tertinggal di pipi Stiven yang ada di foto itu.

"Pak Stiven, untuk data denda keterlambatan bagaimana?" tanya klien paling tua di antara mereka.

"Tidak ada denda. Karena dia tidak akan pernah terlambat... untukku."

Ruangan hening 2 detik. Klien saling pandang satu sama lain. Tidak terkecuali Cindi, si sekretaris pribadinya.

Stiven sadar apa yang dia katakan. Dengan sigap Stiven menutup mulut dengan kepalan tangan. "Maaf. Tenggorokan saya kering." Padahal di dalam kepalanya dia berteriak: _DIAM KAU SETAN GILA...!_

Buru-buru Cindi memberikan segelas air putih. "Ini. Minum dulu, Pak, agar batuknya reda."

"Sari hanya bantu jawab, Pak. Sari calon istri yang baik, kan?"

Meeting selesai. Kontrak ditandatangani. Stempel "APPROVED" menghantam kertas dengan bunyi "DUK" yang menggelegar.

Saat klien pulang dan pintu tertutup... topeng Stiven runtuh. Lututnya lemas. Dia berpegangan ke meja. Jari-jarinya meremas kuat ujung meja. Napasnya tersengal.

Sari muncul utuh di depannya. Kali ini tidak tembus pandang. Kulitnya tidak sepucat tadi. Pipinya ada semburat merah. Merah darah yang tidak akan hilang.

"Lihat? Sari bisa jadi sekretaris terbaikmu," katanya sambil merapikan dasi Stiven yang berantakan. Jari dinginnya menyentuh leher Stiven. "Tidak ada wanita hidup yang bisa sebisa Sari. Sari bisa baca pikiranmu. Sari bisa jaga berkasmu. Sari bisa... temani tidurmu."

"Tidak!" Stiven menepis tangan Sari kasar. Tapi tangan itu tembus. Tidak ada yang bisa dia sentuh.

Sari tidak marah. Dia hanya cemberut. Cemberut seorang anak 17 tahun yang cintanya ditolak. "Ibu Guru bilang cinta dengan manusia itu neraka. Jadi Sari terima. Sari mau masuk neraka itu bersamamu, Stiven."

Dia mendekat sampai hidungnya hampir menyentuh hidung Stiven. Mata Sari yang tadinya kosong... sekarang penuh. Penuh obsesi, penuh lapar, dan ingin menyantap rakus makanannya detik itu juga.

"Aturan boleh dilanggar... kalau untuk cinta, kan?" bisiknya, mengulang tulisan di buku catatannya.

Lampu ruangan tiba-tiba saja padam. Gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Hanya suara detak jam dinding yang berbunyi: tik... tak... tik... tak...

Dalam gelap, Stiven merasakan bibir dingin menyentuh pipinya. Bukan ciuman. Tapi gigitan kecil. Tidak berdarah. Tapi meninggalkan rasa terbakar.

Lampu menyala lagi. Wujud gadis itu sudah menghilang. Yang tersisa hanya bekas lipstik merah di pipi Stiven. Dan di meja meeting, di atas kontrak 2 triliun itu... ada satu helai rambut panjang hitam. Rambut milik Sari.

Di bawah helai rambut itu, tergores tulisan kuku di kayu meja:

_"Jam 10 malam nanti... giliran aku yang kau temani pulang, Stiven."_

Stiven memejamkan mata. Untuk pertama kali dalam hidupnya... Stiven Anderson yang tidak terkalahkan itu... merasa takut. Takut pada cinta yang datang dari neraka.

Setelah meeting selesai, Cindi merasa ada hal yang aneh tengah mengusik atasannya itu.

"Sepertinya ada sesuatu yang mengusik, Tuan Stiven? Tapi apa? Aku juga tidak mengerti,"

"Ada apa? Sepertinya kau sedang banyak pikiran?" tanya salah satu gadis yang menjadi teman satu kos gadis itu.

Menarik napas dalam. "Aku juga tidak tahu apa alasanku bisa banyak pikiran seperti ini."

"Aneh. Kau tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu, hm?" Siska hanya mengelus pundak sahabatnya itu. "Ceritakan padaku semuanya perlahan-lahan. Aku ini sahabatmu, kan?"

Cindi menatap sekilas ke arah Siska. "Ada yang aneh sedang terjadi pada Tuan Stiven, Sis,"

"Sesuatu terjadi dengan atasanmu itu?" alis Siska menukik tajam. "Katakan! Siapa tahu aku bisa membantumu."

Sebagai seorang sahabat, Siska merasakan bagaimana Cindi yang sedang kalut memikirkan atasan yang dia sukai.

"Dia terlihat aneh, Siska. Dia seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat,"

"Hahaha..." tawa Siska menggelegar di dalam kamar kos. "Ini semua karena kau kebanyakan menonton film horor, Cin. Sudah, jangan pikirkan hal aneh itu lagi. Lagian, mana mungkin seorang Stiven Anderson berubah gila? Berbicara dengan makhluk astral? Yang benar saja?"

"Kau mengatakan makhluk astral seperti hantu, gitu?"

"Benar. Jadi, apa kau ingin menanggapi ucapanku itu serius?" Akhirnya Siska kembali ke setelan awal. Wajahnya menatap dalam sosok sahabatnya, Cindi.

Cindi hanya diam. Dia tampak berpikir sejenak.

"Sudahlah, Cin. Mungkin itu semua hanya perasaanmu saja. Sebaiknya kita kembali ke kamar. Besok pagi kau ada tugas penting, bukan, bersama bos galakmu itu?"

"Kau benar, Sis. Untung saja kau ingatkan aku. Jika tidak, aku pasti akan terlambat bangun besok pagi."

"Yuk, kita tidur sekarang," ajak Siska dengan merangkul pundak Cindi.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 15. *Sinar Dibalik Luka*

    Angin malam berdesir pelan di antara celah-celah jendela gedung tua itu. Cat temboknya sudah terkelupas, memperlihatkan bata merah yang kusam. Sebagian kaca pecah, dan pagar besinya berkarat seperti sudah puluhan tahun tidak disentuh manusia. Rumput liar tumbuh menembus celah paving, dan di plang depannya masih terbaca samar dengan cat yang mengelupas: _RS. Harapan Sejahtera_. Tempat ini dulu rumah sakit. Sekarang orang-orang menyebutnya gedung seram. Anak-anak tidak berani lewat sini saat magrib. Ojek online menolak kalau dapat orderan ke daerah sini malam-malam. Katanya sering ada suara tangisan dari lantai 3. Katanya sering ada bayangan perempuan di jendela kamar 204.Dan di depan gerbangnya, seorang gadis berdiri sendirian.Sari.Dia tertawa.Tawanya pecah, nyaring, menggema sampai memantul di dinding kosong gedung itu. Tawa yang kalau didengar orang lewat pasti akan membuat bulu kuduk merinding. Karena tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya dia. Hanya bayangan dan rongsokan masa l

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 14. *Tembok Darah Di Pemakaman Tua*

    Jam sudah menunjukkan pukul 23.55. Udara hutan seperti basah. Tapi bukan bau air yang tercium. Bau anyir besi tua memenuhi hutan. Langkah Stiven patah-patah di tanah licin. Napasnya berat. Jesika di belakangnya menggenggam ujung baju Stiven erat-erat, sampai buku jarinya putih. Nenek Rouli paling depan. Tongkat kayunya mengetuk batu tiap 3 langkah. _Tok... tok... tok..._ seperti menghitung mundur nyawa mereka. "Kokokan kedua," bisik Nenek Rouli tanpa menoleh. Suaranya serak, ketelan angin. "Tinggal satu. Kalau ayam ketiga berkokok sebelum kita sampai ke batu nisan Sari... roh itu akan ikut pulang bersama kita." Jesika menelan ludah. "Masih jauh, Nek?" "Di ujung. Lewat pohon beringin yang batangnya berdarah itu." Stiven mendongak. Dan darahnya dingin. Di depan mereka, pohon beringin tua. Batangnya sebesar 3 orang dewasa. Kulit kayunya retak-retak. Dan dari retakan itu, merembes cairan merah kental. Bukan getah. Terlalu kental. Terlalu berbau besi. "Astaga..." Jesi

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 13. *Nenek Rouli di Desa Terpencil*

    Rambut putih panjang disanggul rapi, mata tajamnya seperti bisa melihat isi hati keduanya. Di tangannya tongkat kayu tua menjadi penyangga tubuh rentanya. "Kalian terlambat," suara nenek itu terdengar serak tapi tegas. "Roh itu sudah marah karena kalian membawa dia sampai ke sini." Stiven langsung bersujud. "Nenek Rouli? Tolong kami, Nek. Ada roh gadis SMA namanya Sari. Dia bilang saya takdirnya. Dia selalu mengganggu saya tiap jam 10 malam. Teman saya koma karena ulah dia." Nenek Sumi menatap Stiven lama. Lalu menatap Jesika. Hidungnya kembang kempis seperti mencium bau tidak sedap. "Kau membawa bau kuburan," kata Nenek Rouli ke Stiven. "Dan kau," dia menunjuk Jesika, "kau membawa bau darah segar. Kau mau mati untuk sahabatmu." Tubuh Jesika menggigil. "Saya... saya hanya mau Cindi hidup, Nek." Nenek Rouli masuk ke dalam rumah. "Masuk. Sebelum ayam jantan berkokok ketiga kali. Kalau tidak, roh itu akan ikut masuk." Di dalam rumah: dinding dipenuhi jimat, tengkorak ayam,

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 12. *Malam Yang Mengerikan*

    Hari Kedua Hukuman Sari - 19.47, Apartemen Stiven.Jam dinding menunjuk 19.47. Tinggal 13 menit lagi menuju jam 10 malam. Jam yang Sari janjikan.Stiven duduk di sofa, dasinya berantakan. Di pipinya bekas lipstik merah sudah dia hapus 7 kali, tapi tetap muncul lagi. Tulisan "Milik Sari" di dadanya terasa panas seperti disetrika."Kau yakin mau ikut?" Stiven menatap Jesika yang sedang scroll HP cepat. "Ini bukan urusan manusia biasa, Jes."Jesika tidak menoleh. Matanya fokus ke layar. "Kalau bukan urusan manusia biasa, terus urusan siapa? Stiven, Cindi koma karena hantu yang tergila-gila padamu itu. Kau juga hampir mati tiap jam 10 malam. Jadi ini urusan kita bertiga."Dia mengetuk layar HP. "Dapat! Grup Facebook 'Misteri Sumatera Utara'. Ada yang bahas 'Nenek Rouli, dukun pengusir roh gentayangan'. Komentar orang-orang: 'Anak saya kesurupan 3 tahun, sekali diterapi nenek langsung sembuh'. 'Lokasinya di Desa Huta Silalahi, 2 jam dari jakarta. Masuk hutan sekitar 3 jam-an, Stive'."Stiv

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 11. *Penjelasan*

    "Stiven, boleh bicara sebentar?" Jesika menarik Stiven keluar ruangan. Di koridor kosong, Jesika langsung menatap Stiven tajam. "Jujur, Stiven. Apa yang sebenarnya terjadi pada Cindi?" Stiven menggosok pelipisnya. "Dia ketabrak truk. Sopir bilang dia berhenti di tengah zebra cross. Tidak fokus." "Tidak fokus?" Jesika menyilangkan tangan. "Cindi meneleponku malam sebelum kecelakaan. Dia bilang... dia melihat 'sesuatu' di kantor. Dia bilang dia mendengar kau menyebut nama 'Sari' dalam tidur." Stiven membeku. Punggungnya kaku. "Siapa Sari, Stiven?" Jesika maju selangkah. "Cindi bilang kau ngigau dan menyebut nama itu 3 kali. 'Sari... Sari... Sari'. Dan sejak itu dia berubah aneh. Dia bilang ada bau melati busuk di kantor. Dia bilang kursi sebelahmu sering bergerak sendiri." Stiven tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Jesika menatap mata Stiven dalam-dalam. Mata CEO itu tidak bisa bohong. Ada rasa bersalah. Ada rasa takut. "Stiven," suara Jesika melembut. "Aku tidak tahu

  • CINTA MANUSIA DAN HANTU   Bab 10. Mimpi Diantara Hidup Dan Mati*

    "Saat itu aku menggenggam foto pria yang sangat mirip dengannya." Sari membuka telapak tangannya. Di sana muncul foto kusut, hitam putih. Foto pria berjas mahal, mata tajam, senyum tipis. Wajahnya... 99% mirip Stiven Anderson. Cindi menutup mulut. "Tidak mungkin..." "Mungkin, Cin," Sari menutup foto itu. "10 tahun aku menunggu kehadirannya di kuburan. 10 tahun aku melihat manusia hilir mudik. Tertawa. Menikah. Punya anak. Tapi tidak ada yang mencari aku. Sampai Stiven datang. Dia CEO. Dia bersikap dingin. Dia tidak percaya hantu. Tapi dia memanggil namaku." Sari melangkah maju lagi. Kini jarak mereka hanya 30 cm. Cindi bisa lihat pantulan dirinya di mata hitam Sari yang satu lagi. "Cindi," bisik Sari. Napasnya dingin, tapi tidak mematikan. "Kau sekretarisnya bukan? Kau yang selalu mengantar kopi. Kau yang hafal jadwalnya. Kau yang suka padanya diam-diam." Cindi terkejut. "Aku... aku tidak--" "Bohong," Sari menyentuh pipi Cindi dengan jari dinginnya. Jari itu menembus ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status