LOGINMy mother got mated to the Alpha King. That gave me a stepbrother who wanted me dead. Silas Thorne blamed me for ruining his life. I lived in his pack, slept under his roof, and breathed his air. He said he would haunt me, bleed me, break me. I should have hated him. I did hate him, But when his best friend asked me out, I said yes. Not because I liked Kelavra but because it would make Silas furious. However I had no idea Silas would hate me, yet yearn for me .I had no idea my sworn enemy… would kill for me, and when he returned home… everything changed
View MoreTepat pukul 7 malam, terdengar dari luar suara hujan yang turun sangat deras, suara gemuruh itu sangat jelas terdengar di telinga, sampai-sampai suara pesan yang masuk ke handphone minimarket pun sedikit tidak terdengar, hari ini tepat di sekitar universitas bintang ternama di kota bengkulu Kevin sedang bekerja seperti biasanya, menjaga toko minimarket yang sudah dari dulu berdiri disana.
"Selamat malam kakak, bisa tolong antarkan sekotak pengaman, satu bungkus tisu magic dan vigel, lalu kirimkan barang tersebut ke alamat ini, di perempatan jalan anggrek. Hotel Surya, lantai 3 kamar nomor 1625, ditunggu segera!, Terimakasih…"Setelah membaca pesan, Kevin langsung mencari dan mempersiapkan barang yang dipesan, dan bersiap-siap untuk mengantarkan barang tersebut. Dengan mengendarai sepeda motornya, karena hujan sangat deras, dia pun mengenakan jas hujan dan bergegas menuju hotel surya di perempatan Anggrek.Saat kevin melewati sebuah jalan yang tergenang air cukup panjang, Kevin tidak sengaja jatuh dan terpeleset. Celana dan sepatunya menjadi basah dan itu terlihat sangat memalukan. Tetapi untungnya barang yang di bawanya tidak basah, dia juga tidak berani untuk berlama lama meratapi kemalangannya, kemudian Kevin menaiki motornya kembali dan melanjutkan perjalanan menuju hotel.Setelah sampai di hotel surya, kevin langsung melangkahkan kakinya menuju lantai atas kamar 1625, Kevin menaikkan tangannya untuk mengetuk pintu dan tidak lama pintu itu pun terbuka. "Halo selamat malam kak, ini barang yang anda pesan..." Kevin tercengang ketika dia mengatakan setengah dari kalimatnya.Wanita di depannya bukanlah orang lain, melainkan dia adalah pacarnya sendiri, dengan sangat terkejut dia melihat ke arah orang itu, dan berkata. "Dinda! Kamu…?"Dia hanya melihat Dinda yang hanya mengenakan handuk mandi berwarna putih dan rambut panjangnya yang hitam terurai menutupi kedua bahunya, sedangkan aroma campuran sabun mandi dan sampo berhembus ke arah wajah Kevin. "Din.. Dinda, kenapa kamu berada di sini…?" Kevin menatap Dinda dengan sangat tidak percaya. Hingga sekarang, pikirannya masih dalam kondisi bingung. Berkata dalam hati, "Apa jangan-jangan dia sengaja ingin menemuiku…"Tiba-tiba Dinda bertanya kepadanya, "Kenapa yang mengantarkan barang ini adalah kamu…?" Dinda terkejut karena Kevin yang tiba-tiba muncul di hadapannya, dengan tanpa sadar Dinda melangkahkan kaki nya sedikit mundur selangkah ke belakang, Dinda bingung bagaimana menjelaskan ini semua kepada Kevin, jelas-jelas dia sudah tertangkap basah, walaupun kecurigaan Kevin belum ke arah manapun, tetapi Dinda sangat tertekan dengan hadirnya Kevin saat ini.Terdengar suara dari dalam kamar itu, "Ada apa ini, kenapa lama sekali…?" Suara itu ternyata dari seorang pria yang berjalan keluar dari dalam kamar dan juga dia mengenakan handuk mandi yang melingkari setengah badannya. Kevin dibuat sangat terkejut untuk kedua kalinya, ternyata dia mengenali pria tersebut. pria itu tidak lain adalah Mario, pria yang begitu tampan dan sangat kaya dari jurusan Manajemen Ekonomi di universitas bintang, kota Bengkulu ini.Mario telah dikenal oleh banyak orang, terutama oleh kaum hawa, dia adalah lelaki yang sangat kaya dan ada banyak wanita yang ingin sekali mendekatinya, tapi kevin bergumam dalam hati "Kenapa pacarku juga dia dekati…?" Kevin langsung mendekat ke arah Mario, dengan sangat emosi dia berkata kepadanya, "Mario! Berani-beraninya kamu menyentuh wanitaku..." Kevin tidak bisa menahan amarahnya dia sudah mengepalkan kedua tangannnya untuk bersiap-sip memukul wajah lelaki hidung belang itu. "Hentikan…!" Dinda menghalanginya saat Kevin akan memukul Mario, mendengar perkataan Dinda, Kevin segera menenangkan dirinya, melonggarkan kedua kepalan tangannya. Dengan sikap yang sangat dingin Mario berbicara kepada Dinda, "Jika kita sudah ketahuan oleh Kevin, maka tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, lebih baik untuk kita mengakui saja semuanya tentang hubungan yang kita jalani selama ini…!" Ujar Mario kepada Dinda.Dinda berteriak pada Kevin dengan tajam, "Kevin, hubungan kita cukupkan saja sampai disini…!" Kevin dibuat tercengang atas perkataan Dinda, "Apa? Maksudmu kita putus…?" Matanya melebar dan memelototi Dinda karena tidak percaya dengan kata katanya, "Dinda, hubungan kita sudah lebih dari setahun, dan sekarang kamu minta putus denganku…?""Benar, Putus!..." Dinda menatap Kevin tanpa mengelak, "Sangat terkejut bukan? Ketika aku jalan keluar untuk makan bersama kamu, aku hanya bisa makan di warung pinggir jalan yang sangat sederhana dan tidak enak. Kosmetik yang selalu kamu belikan untukku sangat murahan. Lihatlah pakaian yang kamu beli tidak lebih dari 100 Ribu. Setiap kali jalan-jalan denganmu, orang lain diam-diam menertawakan aku, asalkan kamu tahu, aku sangat malu dengan semua ini…?""Ini bukan kehidupan yang aku inginkan, kehidupanku sangatlah mahal dan sama sekali bukan dengan orang pecundang miskin seperti dirimu. Ketika aku masih mahasiswi, aku terlalu naif untuk dibodohi oleh dirimu Kevin…!" Ketika Dinda berbicara demikian, dia membawa aura kebencian yang sangat kuat! Dinda menggenggam tangan Mario yang ada di sebelahnya dan berkata kepada Kevin, "Ini adalah pacarku! Mulai sekarang, aku Dinda tidak ada hubungannya denganmu lagi dan jangan datang mengganggu diriku, karena aku sudah bahagia bersamanya, mulai dari sekarang dan seterusnya…!""Tampaknya kamu adalah mantan pacar Dinda yang malang itu…!" Mario menatap Kevin dengan senyuman sinis dan menantang. Kevin yang mengenakan jas hujan dengan lumpur di celana dan sepatunya benar-benar terlihat seperti pecundang di hadapan Dinda dan Mario.Mario mengulurkan tangannya dan mengambil kantong plastik di tangan Kevin. Dia mengeluarkan kotak pengaman dari dalamnya, lalu mengguncangnya, Mario tertawa ringan dan berkata kepada Kevin, "Kamu Secara khusus mengantarkan pengaman ke hotel ini untuk mantan pacarmu, aduh sobat, kamu sungguh murah hati sekali, haha…!" Dengan tertawa sangat keras, Mario begitu merendahkan Kevin dihadapan Dinda."Apakah kamu tidak keluar dari sini…?" Ujar Dinda yang sangat sinis berkata terhadap Kevin. "Lebih baik jika dia tidak keluar, mungkin saja dia ingin melihat apa yang akan dilakukan aku dengan kamu. Mari kita melakukan siaran langsung di depan matanya..." Kata Mario sambil mengejek dan menatap ke arah Kevin.Ketika melihat Dinda yang Dia cintai mengkhianatinya, Kevin pun melihat bahwa Dinda memang sudah tidak ingin bersama Dirinya. Kevin sedang dalam suasana hati yang buruk dan hancur. Dia perlahan berbalik dan berjalan menjauh dari kamar itu selangkah demi selangkah."Hei kawan, apa kamu tidak akan mengambil uangnya? Sungguh sangat menarik, selain pacar, masih dapat pengaman gratis haha…!" Mario merasa sangat puas ketika melihat Kevin yang putus asa, kemudian menutup pintu kamar. Saat keluar dari hotel itu, hujan turun semakin deras. Kevin melepaskan jas hujannya dan hujan yang deras itu telah membasahi seluruh tubuhnya, tetapi itu juga membuat pikirannya lebih tenang. Bagaimanapun, Dinda masih berpikir dia tidak punya uang. Dia seharusnya merasa beruntung untuk kehilangan wanita yang realistis dan matre seperti Dinda, mengapa dia harus merasa sedih?Ponsel Milik Kevin di sakunya bergetar. Kevin mengeluarkannya dan melihat ada sebuah pesan, tetapi ketika dia melihat nomor itu, Kevin terkejut dan menghentikan laju motornya..."Menurut keputusan dari pengadilan, keturunan dari keluarga Jaya, Kevin lulus dari uji pelatihan kemiskinan dan mulai sekarang akan diberi hak untuk mengontrol harta kekayaannya." Air hujan yang menetes di atas layar, membuat pesan ini berangsur-angsur tidak terlihat lagi.SILASThe leather steering wheel of the lead Suburban was freezing cold under my hands, but the suffocating tension inside the cab was a hell of a lot worse.My father had made his demands crystal fucking clear before we even pulled out of the pack garage. Seraphina wasn't riding in the team bus with the rest of the guys. She wasn't riding with Killian, and she damn sure wasn't riding with Kelavra. Thorne had ordered her straight into my front passenger seat so I could watch her like a hawk for the entire six-hour drive up north."If she so much as breathes sideways, Silas, you lock her down," Thorne had snarled in my ear right before we left. "I am not having that rogue bitch ruin this four-game tournament."Now, three hours into the mountain pass, the sky had turned a dirty, bruised purple. White-out blizzard conditions slammed against the windshield. The wipers were useless, slapping heavy ice back and forth while the wind howled outside like a dying wolf.Seraphina sat shoved as f
SILASThe grand hall of the pack mansion reeked of my father's suffocating Alpha presence. Alpha Thorne stood behind his heavy mahogany desk, staring up at the security monitor mounted on the stone wall. The security camera footage from the locker room played on an endless, brutal loop... the shattered clear plastic bottle... the red pre-workout liquid splashing across the floor... the silver sheen of wolfsbane oil spreading over the dark rubber mats.I stood right in the center of the hall. My dark hair was still soaked with sweat from my off-ice workout, sticking to my forehead. My eyes were locked straight ahead on the stone wall, keeping my jaw clenched tight, refusing to look my father in the eyes while his anger filled the air.Out of the corner of my eye, I felt Seraphina standing near the double doors, her back pressed flat against the wood. Her heavy medic bag was slung over her shoulder. Her lip was swollen where she had bitten her own tongue, the metallic scent of her blood
SERAPHINA"I tried to put a leash on a rabid dog, you psychotic bastard," I spat, holding my ground even as my knees trembled under the crushing weight of his murderous aura.Silas moved faster than my human eyes could follow. His massive hand shot out, wrapping around my throat like a steel band, and slammed me backward into the metal lockers with enough force to rattle the hinges down the entire aisle. The back of my skull hit the cold steel, making my vision spot with white stars. My oxygen cut off instantly. My fingers flew to his wrist, my claws extending fully and digging deep into his skin, drawing fresh ribbons of blood, but he did not even blink."Where did you get refined wolfsbane oil, Seraphina?" Silas snarled, leaning his face so close I could feel the scalding heat radiating off his skin. "Answer me right fucking now, rogue.""Fuck you," I choked out, my voice raspy and thin as my lungs screamed for air. "I will die before I answer a single question from you, Silas.""Y
SERAPHINAThe locker room reeked of ice, sweat, and stale pre-workout powder. Heavy bass from the wall speakers hit the metal lockers like a fist. Outside on the rink, the rest of the team took their early warm-up laps, their blades cutting through the ice in long, rhythmic scrapes. The air in here was freezing, but my palms were slick with sweat.I stood in front of Silas’s open locker with my heavy medic bag slung over my collarbone, my heart hammering a chaotic rhythm against my ribs. On the top narrow shelf sat his dark gear bag, his freshly taped sticks, and his clear shaker bottle filled with that thick red pre-game mix he downed before every single period.My fingers trembled inside my jacket pocket as they wrapped around the glass vial Killian had slipped me at the library. I pulled it out slowly. The silver wolfsbane oil caught the harsh overhead lights, thick and swirling like liquid grease. My inner wolf woke up instantly. She went absolutely insane behind my ribs, snarling
SERAPHINAPrayers are very dangerous things, I learned that the night my mother got mated to the alpha king. I had spent years begging the moon goddess for a brother. When Silas Thorne walked into my life, I started begging to take back my wish.My fingers trembled around the bouquet of wildflower
SERAPHINACold chills seeped down my bones as I stuffed my bags angrily. My wolf growled low in my chest. Irritation crawled down my spine as I packed every last bit of my stuff into my box. My wolf perked up her ears. I heard the lock click on the door and I felt uneasy. I had expected him to stay
SILASI stiffened… her scent hit my nose. My wolf lifted his head inside me. Everyone in the hallway went still. Their breaths caught. A few lower rank wolves lowered their eyes."Silas…" she called out. Her breath hitched as I turned to face her. My wolf growled low in my chest. Her red wavy hair
SERAPHINA2 years laterI stared at my phone. The hunt was over. My pack had taken the championship.I screamed so loud my wolf howled with me. Thorne groaned. My mum grumbled. This was the final match of the season, and my pack had beaten them all."Pull over," I ordered the driver behind the whee
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews