Share

Menuju Krematorium

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-06-18 23:13:12

Setelah selesai makan, Calista dan Arvin kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mobil yang dikendarai Calista melaju membelah jalanan kota sebelum perlahan berbelok memasuki area Nusantara Medical Center melalui jalur menuju basement.

"Kak, kita ke rumah sakit?" tanya Arvin pelan. Keningnya sedikit berkerut ketika melihat gedung rumah sakit.

"Sebentar lagi kita sampai," jawab Calista sambil menganggukkan kepala. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi jemari yang menggenggam setir terlihat sedi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pemeriksaan Ulang

    Waktu terus berlalu, tetapi Calista belum juga kembali. Raka beberapa kali mengangkat pandangannya ke arah jam itu sebelum kembali menatap meja kerja Calista yang masih kosong."Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu, Dokter Raka?" tanya Dokter Hadi. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh ke arah Raka yang sejak tadi tampak tidak tenang."Saya akan melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh kepada Tuan Adrian sebentar lagi," jawab Raka sambil mengembuskan napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada meja Calista. "Tapi Dokter Calista belum juga kembali.""Oh, jadi itu penyebabnya." Dokter Hadi menganggukkan kepala. Ia melirik jam dinding sebelum kembali menatap Raka. "Sepertinya kau harus melakukannya sendiri. Dokter Calista memang sangat jarang kembali ke departemen kalau hari sudah sore."Raka terdiam beberapa saat. Ia akhirnya mengangguk, lalu meraih map rekam medis yang telah dipersiapkannya sejak tadi."Baiklah kalau begitu," ucap Raka sambil berdiri dari kursinya.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Permintaan Maaf

    Di ruang krematorium, peti jenazah Tuan Baskoro telah dipersiapkan untuk memasuki mesin kremasi. Dua orang petugas berdiri di sisi peti, sementara Raka dan Kevin ikut membantu mendorongnya dengan perlahan. Di sudut ruangan, Nita tetap berada di samping Arvin, menemaninya sejak tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Calista melangkah masuk dengan tenang. Kehadirannya membuat beberapa orang menoleh, termasuk Nita dan Arvin yang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya."Kakak..." ucap Arvin lirih.Calista membalas dengan senyum tipis, lalu menghampiri Arvin hingga berdiri di sampingnya. "Arvin," ucapnya lembut, "ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berpamitan kepada ayahmu."Arvin mengangguk pelan. Ia tidak melangkah mendekati peti jenazah, melainkan memejamkan mata sambil merapatkan kedua telapak tangannya.Ketika peti itu perlahan bergerak memasuki mesin kremasi, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ayah... selamat tinggal," ucapnya lirih.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Nyaris Kehilangan Kendali

    "Rangga Tirta..." ucap Putri Jayasari lirih. Kepalanya masih bersandar di bahu pria itu. "Apakah kau senang telah diangkat menjadi Jenderal Perang?"Rangga Tirta yang semula menegang perlahan memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan."Sepertinya lebih banyak tidak senangnya," jawab Rangga Tirta."Kenapa?" tanya Putri Jayasari. Ia sedikit mengangkat wajahnya, berusaha mencari jawaban dari ekspresi pria di sampingnya."Tanggung jawab yang hamba pikul kini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," ucap Rangga Tirta tenang. "Jika hamba memimpin perang, bukan hanya nyawa hamba yang dipertaruhkan, tetapi juga nyawa seluruh prajurit yang berada di bawah komando hamba.""Lalu?" Putri Jayasari kembali bertanya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria itu. "Apa lagi yang membuatmu tidak senang?"Rangga Tirta terdiam sejenak. Pandangannya kosong menatap lantai sebelum akhirnya tersenyum tipis."Entahlah." Ia menggeleng pelan.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan Terlarang

    Setelah pelantikan resmi selesai, para prajurit mengadakan pesta besar untuk merayakan pengangkatan Rangga Tirta sebagai Jenderal Perang Kerajaan Jayantara. Sebelumnya, Rudha Wisesa telah meminta izin kepada Maharaja Jayawardhana untuk mengadakan perayaan tersebut, dan sang raja mengizinkannya. Hingga malam tiba, suara tawa, dentingan gelas, serta alunan musik masih memenuhi camp para prajurit."Rangga Tirta," ucap Rudha Wisesa dengan wajah memerah karena pengaruh arak. "Sedikit sekali kau minum. Ini pesta untukmu, jadi habiskan semuanya."Rangga Tirta hanya tersenyum tipis sambil menatap gelas di tangannya. "Jenderal tahu aku tidak terbiasa minum sebanyak itu," jawabnya tenang sebelum meneguk sedikit arak di dalam gelasnya."Tidak, aku tahu itu bukan alasanmu." Rudha Wisesa menunjuknya dengan gelas yang hampir kosong. "Jika kau benar-benar seorang lelaki, minumlah sampai tidak sadarkan diri. Percayalah, itu sedikit membantu menghadapi perasaan yang tidak bisa kau lawan."Rangga Tirta

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pelantikan

    Siang hari di alun-alun Kerajaan Jayantara, ribuan orang telah berkumpul untuk menyaksikan pengangkatan Jenderal Perang yang baru. Para prajurit berdiri berbaris dengan tombak dan panji-panji kerajaan yang berkibar mengikuti embusan angin, sementara rakyat memenuhi setiap sisi alun-alun dengan wajah penuh antusias.Di atas panggung batu bertingkat yang dibangun khusus untuk upacara kerajaan, Maharaja Jayawardhana duduk di atas singgasananya. Di samping sang Maharaja, Putri Jayasari, Patih Wiranega, Jenderal Rudha Wisesa, dan para pejabat tinggi kerajaan telah bersiap mengikuti prosesi sakral tersebut.Sementara itu, di bawah panggung batu, Rangga Tirta berlutut dengan satu kaki sambil menundukkan kepala. Zirah peraknya memantulkan cahaya yang membuat sosoknya tampak gagah dan berwibawa."Angkat kepalamu, wahai prajurit terpilih," ucap Maharaja Jayawardhana sambil berdiri dari singgasananya.Rangga Tirta segera mengangkat kepalanya. Tatapannya lurus tertuju kepada sang raja yang berdir

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Aku Hanya Seorang Prajurit

    Putri Jayasari berlari menuju kamar pribadinya sambil menahan isak tangis. Salah satu tangannya menutupi mulutnya, berusaha meredam suara sesenggukan yang terus keluar.Namun air mata yang membasahi pipinya tidak mampu ia hentikan. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah sebagian dari hatinya telah direnggut begitu saja.Di lorong istana, Nirmala yang sedang membawa beberapa pakaian segera menghentikan langkahnya ketika melihat sang putri dalam keadaan seperti itu."Tuan Putri?" panggil Nirmala dengan wajah terkejut. "Apa yang terjadi?"Namun Putri Jayasari tidak menjawab. Wanita itu langsung membuka pintu kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.Ia memeluk bantal dengan erat lalu membenamkan wajahnya di sana. Bahunya bergetar hebat seiring tangisan yang akhirnya pecah.Nirmala yang sebelumnya mengejar dari belakang segera memasuki kamar. Begitu melihat Putri Jayasari menangis seperti itu, ia buru-buru mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran."Tuan Putri..

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Masa lalu Arvin

    Sepanjang perjalanan menuju area parkir, Arvin beberapa kali melirik layar ponselnya. Jemarinya terus membuka aplikasi pesan, berharap ada kabar dari ayahnya. Namun, layar itu tetap kosong, membuat kegelisahan di wajahnya semakin sulit disembunyikan.Sementara itu, Calista yang berjalan beberapa la

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Langkah Menuju Perpisahan

    Calista berjalan menyusuri basement rumah sakit. Jas dokter putih yang sebelumnya dikenakannya sudah tidak terlihat, berganti dengan gaun hitam panjang yang membungkus tubuhnya dengan anggun. Rambut hitamnya yang tergerai lembut bergoyang pelan mengikuti langkahnya.Beberapa saat sebelumnya, Dirga

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Hatinya Tidak Mati

    Tawa kecil yang sebelumnya memenuhi ruang residen perlahan mereda. Kevin dan Nita kembali melanjutkan laporan pasien yang sempat tertunda, sesekali bertukar pendapat dengan suara pelan.Di ruang dokter spesialis, Raka telah kembali duduk di depan laptopnya. Beberapa jurnal medis terbuka di layar, s

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Kesedihan Seorang Dokter

    Calista berjalan menuju tangga darurat. Begitu tiba di sana, sosoknya menghilang dan berpindah ke tempat yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Bersamaan dengan itu, jas dokter putih yang dikenakannya berganti menjadi gaun hitam yang anggun.Hamparan padang bercahaya membentang tanpa batas di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status