MasukAku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.
Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”
Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.
Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.
“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.
Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah.
Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi. Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangannya yang gelisah itu justru terlihat… menggoda.
Aku menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbalik. Saat akhirnya aku menoleh, Tante Sarah masih menunduk, pipinya merona merah.
Tapi saat matanya bertemu denganku, dia cepat-cepat mengalihkan pandangan lagi, sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Gerakan itu… entah sadar atau tidak, malah bikin darahku berdesir lebih kencang.
“Maaf, Tante… tadi gak sengaja lihat, kirain gak ada orang di dalam,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Aku mengangguk kikuk, lalu mulai mengambil langkah cepat untuk keluar dari toilet. Namun, Tante Sarah tiba-tiba kembali bersuara, menghentikan langkahku di ambang pintu, lalu dengan suara yang hampir berbisik sambil menatap ke bawah, “Itu… resletingnya belum rapet, Dit.”
Aku langsung menunduk. Benar saja, resletingku masih setengah terbuka, memperlihatkan sedikit warna celana dalam. Wajahku panas sekali.
Buru-buru aku menariknya ke atas sampai bunyi srek terdengar, lalu buru-buru melangkah keluar sambil bergumam, “Pe… permisi, Tante.”
Aku kembali ke ruang tengah dengan wajah masih merah padam, jantung berdegup kencang. Papa sedang duduk santai sambil memegang remote TV.
Aku langsung duduk di sebelahnya, tapi pikiranku masih penuh dengan Tante Sarah tadi.
Akhirnya aku tak tahan, lalu bertanya pelan, hampir seperti berbisik, “Pa… Papa serius mau nikah sama Tante Sarah?”
Papaku menoleh dengan wajah antusias, “Iya, kenapa? Dia cantik, baik, punya usaha butik makanya orangnya modis.”
Aku terdiam paham. Pantas saja seleranya begitu berani. Ternyata dia memang wanita yang paham bagaimana cara memamerkan lekuk tubuh.
Sejenak aku menimbang untuk memberitahu papaku soal sikap nyeleneh Tante Sarah di toilet tadi. Tapi, melihat binar di mata papaku yang tampak benar-benar jatuh cinta, aku mengurungkan niatku. Lagipula, seharusnya aku juga tidak ikut campur dengan urusan pribadinya.
Aku mengangguk pelan. “I–iya, baik orangnya.”
Tak lama, Tante Sarah muncul kembali dengan senyum lembutnya yang terlihat sangat polos, seolah kejadian di toilet tidak pernah ada. “Maaf ya lama.”
Papaku menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dengan semangat yang meluap. “Sarah, karena Radit udah setuju sama hubungan kita, aku rasa sebaiknya kita percepat pernikahan kita. Aku akan urus semua, jadi bulan depan kita bisa menikah.”
Aku tersentak. Kepalaku terasa berputar.
Bulan depan?
Aku membuka mulut hendak protes, merasa semua ini terlalu cepat. Namun, belum sempat suara keluar, Tante Sarah sudah melangkah mendekatiku. Gerakannya tenang tapi pasti.
Dia berdiri tepat di sampingku, lalu dengan lembut merangkul bahuku. Tubuh matangnya mendekat tanpa ragu, dan aku langsung merasakan tekanan kenyal dan hangat dari dada besarnya yang menempel telak pada lengan kiriku.
Gaun ketat tali satu itu benar-benar tipis, membuatku bisa merasakan tekstur tubuhnya yang padat di balik kain. Aroma parfumnya yang manis dan merangsang kembali menyergap, membuat napasku terasa berat.
“Terima kasih ya, Radit sudah merestui kami,” bisiknya tepat di dekat telingaku.
Hembusan napasnya terasa panas di kulit leherku. Suaranya terdengar penuh syukur, namun aku menangkap nada genit yang sengaja dia selipkan. “Tante senang sekali.”
Aku kaku seperti batu. Bahunya yang telanjang menyentuh leherku, dan tekanan dadanya semakin nyata setiap kali ia mengambil napas dalam. Gila. Aku bisa merasakan sensor di otakku mulai mengirim sinyal bahaya ke bagian bawah tubuhku.
Aku hanya bisa mengangguk kikuk, bibirku terkatup rapat karena takut suaraku akan bergetar.
Papaku tertawa kecil, benar-benar buta dengan situasi di depannya. “Lihat, Sarah, anak kita ini malu-malu. Pasti senang dapat mama baru kayak kamu.”
Tante Sarah tersenyum lebar, jemarinya meremas bahuku pelan sementara tubuhnya tetap menempel erat. “Pasti, Mas. Radit anak baik. Tante yakin kita akan jadi keluarga yang harmonis.”
Aku hanya bisa menatap lurus ke depan, berusaha mati-matian mengabaikan kehangatan yang terus menekan lenganku.
***
Siang itu, koridor kampus mulai terasa sunyi. Aku berjalan menuju gedung parkiran belakang dengan langkah berat, bermaksud mengambil motor untuk segera pulang. Kuliah hari ini cukup melelahkan.
Tapi begitu aku memasuki area parkiran yang remang, darahku seolah berhenti mengalir.
Di depan tiang beton besar, berdiri empat orang yang bayangannya selalu menghantuiku.
Kia, si ketua geng sialan di SMA dulu, berdiri di tengah. Rambut panjang hitamnya masih sama, begitu juga senyum tipisnya yang selalu terasa seperti racun.
Di sampingnya ada Doni, si otot besar yang tangannya sudah mengepal, siap menghajar. Miya dengan wajah diamnya yang licik, dan Galih yang sudah bersiap tertawa.
Pikiran langsung berputar kacau. Mereka seharusnya tidak di sini. Tapi, kenapa sekarang mereka ada di Jakarta?
“Radit… lama gak jumpa,” sapa Kia dengan nada manis yang memuakkan.
Matanya yang tajam memindai tubuhku dari atas ke bawah, seolah aku hanyalah seonggok daging yang siap dikuliti. “Masih culun kayak dulu ya?”
Aku mundur selangkah, insting bertahan hidupku berteriak. Tapi Doni bergerak lebih cepat, dia sudah berdiri di belakangku, menghalangi satu-satunya jalan keluar. “Jangan kabur dulu, Dit. Kita lagi kangen nih sama lo.”
Tanpa ampun, mereka menyeret tubuhku ke tiang beton. Miya mengeluarkan tali rafia tebal dari tasnya. Tanganku dipaksa melingkar ke belakang tiang dan diikat dengan sangat kencang hingga pergelangan tanganku terasa panas terbakar.
Aku meronta sekuat tenaga, tapi tenaga Doni jauh di atas kemampuanku yang sekarang.
“L... lepasin,” lirihku, rasa takut mulai menguasai.
“Enak aja, Gendut!” seru Galih keras sambil melempar kulit pisang dan sisa minuman plastik ke wajahku. Sampah itu membasahi wajahku, baunya menyengat.
“Kita tuh kangen sama lo, Gendut culun,” kata Kia sambil melangkah sangat dekat.
Dia meraih kerah kemejaku, lalu dengan satu sentakan kuat, dia merobek kancing-kancingnya hingga berhamburan di lantai.
Aku mencoba menendang, tapi Doni menginjak kakiku dengan sepatu beratnya, membuatku mengerang kesakitan.
Dalam sekejap, kemeja dan celanaku sudah dilepas paksa oleh tangan-tangan mereka yang kasar. Pakaianku tergeletak menyedihkan di lantai yang kotor.
Aku sekarang hanya mengenakan celana dalam merah, berdiri telanjang di depan mereka, hanya ditempeli sampah-sampah yang mereka lempar.
Kia menatapku, senyumnya semakin melebar melihat tubuhku yang gemetar. “Wah, masih pakai kolor merah? Kayak dulu pas lo ditelanjangin di gudang olahraga. Lucu ya, makin gede makin kelihatan jelas.”
Dadaku sesak, gangguan kecemasanku menyerang balik dengan hebat. Pandanganku kabur oleh air mata yang mulai turun, dan keringat dingin membasahi seluruh kulitku.
Mereka tertawa puas, suara tawa yang sangat kukenali dari masa lalu. Sampah terus berjatuhan di tubuhku yang basah. Doni menepuk perutku dengan keras, membuatku tersentak.
“Masih ada lemaknya nih. Olahraganya yang bener dong, Culun!”
Setelah merasa cukup menghinaku, Kia menepuk pipiku dengan kasar. “Besok kita ketemu lagi ya, Dit. Jangan lupa bawa celana ganti, atau mungkin jangan pakai baju sekalian.”
Mereka pergi sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkanku terikat di tiang, nyaris telanjang, dikelilingi sampah dan rasa hina yang luar biasa.
Parkiran kembali sunyi, hanya menyisakan suara isak tanganku. Aku tidak berani berteriak, takut ada orang lain yang melihat kondisiku yang memalukan ini.
Sampai tiba-tiba, derap langkah sepatu hak tinggi yang tegas terdengar mendekat.
“Radit?”
Aku mendongak dengan sisa tenaga yang ada.
Tante Sarah berdiri di sana.
Cahaya matahari dari luar menyorot tajam dari belakangnya, mempertegas lekuk tubuhnya yang matang dan seksi. Matanya menatap tubuhku yang hanya tertutup celana dalam merah dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik punggungnya yang menempel pada dadaku, sebuah ritme yang liar dan tak beraturan.Tanganku merayap lebih berani, menyelinap ke balik daster satin putihnya yang tipis. Begitu jemariku menyentuh area paling pribadinya, aku tertegun sejenak. Cairan hangat yang lengket dan banjir sudah membasahi kain tipis itu. Dia sudah benar-benar terjatuh dalam jurang nafsu yang kusiapkan.“Ma... rasakan ini,“ bisikku serak, tepat di telinganya.Aku tidak hanya mengelusnya. Aku mulai meremas bibir bawahnya yang sensitif dengan ritme yang menuntut.Mama Sarah tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi tanganku untuk menjelajah. Rintihan yang keluar dari mulutnya bukan lagi rintihan takut, melainkan suara pemuasan yang selama ini terpendam di balik topeng istri yang patuh.“Sebut namaku, Ma... ayo sebut,“ tuntutku, memberikan tekanan lebih dalam pada jemariku. “Jangan anggap aku anakmu. Sebut namaku!““Akhhh... R-R
Aku terbangun dengan energi yang meluap. Setelah kejadian di dapur dini hari tadi, tidurku mungkin tidak lama, tapi adrenalin di dalam nadiku membuatku merasa sangat bugar. Aku segera membasuh wajah, menatap pantulan diriku di cermin yang kini tampak lebih mengintimidasi, lalu mengganti pakaian dengan celana pendek olahraga dan kaos singlet yang melekat ketat.Aku harus menjaga asetku. Roti sobek di perut dan otot-otot ini adalah senjataku untuk membuat wanita di rumah ini bertekuk lutut.Aku memulai dengan lari kecil memutari area rumah, lalu berakhir di halaman belakang yang cukup luas. Aku menjatuhkan diri ke rumput yang masih berembun, melakukan serangkaian push up dengan ritme cepat. Keringat mulai mengucur, membuat kulitku mengkilap dan kaosku basah, menonjolkan setiap garis otot dada dan perutku. Setelah itu, aku beralih mengambil barbel besi yang terletak di sudut teras belakang.Satu... dua... tiga...Suara pintu belakang yang berderit menghentikan hitunganku.Aku melirik
Aku bisa merasakan setiap inci tubuh Mama Sarah yang menempel pada tubuhku yang bertelanjang dada. Daster satin basah yang ia kenakan kini bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kulit kedua yang transparan, yang mempertemukan panas tubuh kami tanpa penghalang yang berarti.Aku menyadari satu hal, tidak ada perlawanan. Tangannya yang tadi mencengkeram bahuku karena takut pada tikus, kini mulai meremas kulitku dengan cara yang berbeda, sebuah cengkeraman yang lahir dari rasa lapar yang tertunda.”Ma...” bisikku, suaranya parau, bergetar karena keinginan yang hampir meledak.Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memeluk pinggangnya secara tiba-tiba, menarik tubuh matangnya hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara kami. Mama Sarah terkesiap, kepalanya terdongak ke belakang, menatapku dengan mata yang sayu dan kabur oleh kabut gairah. Dia tidak mendorongku. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam, membiarkan dadanya yang kenyal tanpa pelindung itu tertekan hebat pada dadaku.Ini ad
Aku berguling ke kiri, lalu ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman di atas kasur yang mendadak terasa seperti tumpukan bara api. Pikiranku kacau. Bayangan Mama Sarah yang bergerak liar di atas Papa, lalu wajah murungnya saat ditinggalkan tidur begitu saja, terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku.”Sialan, aku benar-benar tidak bisa menutup mata,” umpatku lirih sambil menyugar rambut dengan frustrasi.Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah daster satin maroon itu. Gairah dan dendam adalah campuran yang berbahaya, dan malam ini, keduanya sedang berpesta di dalam nadiku.Aku bangkit dari tempat tidur, merasa tenggorokanku kembali kering atau mungkin itu hanya alasanku untuk kembali berburu.Aku turun ke bawah dengan langkah yang lebih ringan dari hembusan angin. Saat kakiku mencapai lantai dapur yang dingin, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Mama Sarah sedang berdiri memb
Aku mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. ”Sial, sepertinya setelah makan malam yang penuh sandiwara itu aku malah ketiduran,” gumamku serak.Tenggorokanku terasa seperti padang pasir yang kerontang. Efek dari ketegangan di meja makan dan adrenalin yang meledak tadi sore sepertinya menguras cairan tubuhku. Aku bangkit, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaos, dan melangkah keluar kamar. Rumah ini terasa seperti makam, sunyi, dingin, dan penuh rahasia yang terpendam di balik tembok-temboknya yang megah.Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan lantai kayu yang bisa saja berderit. Di dapur, aku menuangkan air dingin dari dispenser, membiarkan cairan itu membasahi kerongkonganku dalam satu tegukan panjang. Segar. Namun, rasa segar itu tidak bertahan lama ketika telingaku menangkap sebuah frekuensi yang tidak asing.Ah... hh... mmpth...Aku mematung. Gelas di tanganku hampir saja merosot. Suara itu berasal
Aku memicingkan mata, menatap ke arah tangga menuju ke bawah. Sunyi. Hanya sayup-sayup suara denting piring dari lantai bawah yang menandakan aktivitas makan malam sudah dimulai.Aku kembali masuk ke kamar dan memberi isyarat pada Kiara yang masih berdiri kaku dengan handuk melilit bahunya. ”Sekarang. Lewat balkon belakang, loncat ke jendela kamar lo. Pastikan nggak ada suara,” desisku tajam.Kiara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sisa ketakutan, namun juga ada gumpalan rasa yang aku tahu adalah benih-benih ketergantungan yang baru saja kutanam. Tanpa kata, dia menyelinap keluar. Aku berdiri di ambang pintu balkon sampai aku yakin dia sudah masuk ke kamarnya dengan selamat. Aku mengelus dadaku, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar. Hampir saja, batinku. Selangkah lagi, dan rencana besar untuk menghancurkan hidupnya akan hancur berantakan.Setelah merapikan kaos dan rambutku, aku turun ke bawah dengan langkah yang kelihatannya sangat santai. Di ruang







