Share

Bab 02

Author: Dang Aldo
last update Last Updated: 2026-01-29 01:02:05

Aku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.

Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”

Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.

Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.

“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.

Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah. Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi.

Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangannya yang gelisah itu justru terlihat… menggoda.

Aku menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbalik. Saat akhirnya aku menoleh, Tante Sarah masih menunduk, pipinya merona merah.

Tapi saat matanya bertemu denganku, dia cepat-cepat mengalihkan pandangan lagi, sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Gerakan itu… entah sadar atau tidak, malah bikin darahku berdesir lebih kencang.

“Maaf, Tante… tadi gak sengaja lihat, kirain gak ada orang di dalam,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Aku mengangguk kikuk, lalu mulai mengambil langkah cepat untuk keluar dari toilet. Namun, Tante Sarah tiba-tiba kembali bersuara, menghentikan langkahku di ambang pintu, lalu dengan suara yang hampir berbisik sambil menatap ke bawah, “Itu… resletingnya belum rapet, Dit.”

Aku langsung menunduk. Benar saja, resletingku masih setengah terbuka, memperlihatkan sedikit warna celana dalam.

Wajahku panas sekali. Buru-buru aku menariknya ke atas sampai bunyi srek terdengar, lalu buru-buru melangkah

keluar sambil bergumam, “Pe… permisi, Tante.”

Aku kembali ke ruang tengah dengan wajah masih merah padam, jantung berdegup kencang. Papa sedang duduk santai sambil memegang remote TV.

Aku langsung duduk di sebelahnya, tapi pikiranku masih penuh dengan Tante Sarah tadi. Akhirnya aku tak tahan, lalu bertanya pelan, hampir seperti berbisik, “Pa… Papa serius mau nikah sama Tante Sarah?”

Papaku menoleh dengan wajah antusias, “Iya, gimana menurut kamu? Dia cantik, baik, punya usaha butik makanya orangnya modis.”

Aku terdiam paham. Pantas saja seleranya begitu berani. Ternyata dia memang wanita yang paham bagaimana cara memamerkan lekuk tubuh.

Sejenak aku menimbang untuk memberitahu papaku soal sikap nyeleneh Tante Sarah di toilet tadi. Tapi, melihat binar di mata papaku yang tampak benar-benar jatuh cinta, aku mengurungkan niatku.

Aku mengangguk pelan. “I–iya, baik orangnya.”

Tak lama, Tante Sarah muncul kembali dengan senyum lembutnya yang terlihat sangat polos, seolah kejadian di toilet tidak pernah ada. “Maaf ya lama.”

Papaku menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dengan semangat yang meluap. “Sarah, karena Radit udah setuju sama hubungan kita, aku rasa sebaiknya kita percepat pernikahan kita. Aku akan urus semua, jadi bulan depan kita bisa menikah.”

Aku tersentak. Kepalaku terasa berputar.

Bulan depan?

Aku membuka mulut hendak protes, merasa semua ini terlalu cepat. Namun, belum sempat suara keluar, Tante Sarah sudah melangkah mendekatiku. Gerakannya tenang tapi pasti.

Dia berdiri tepat di sampingku, lalu dengan lembut merangkul bahuku. Tubuh matangnya mendekat tanpa ragu, dan aku langsung merasakan tekanan kenyal dan hangat dari dada besarnya yang menempel telak pada lengan kiriku.

Gaun ketat tali satu itu benar-benar tipis, membuatku bisa merasakan tekstur tubuhnya yang padat di balik kain. Aroma parfumnya yang manis dan merangsang kembali menyergap, membuat napasku terasa berat.

“Terima kasih ya, Radit sudah merestui kami,” bisiknya tepat di dekat telingaku.

Hembusan napasnya terasa panas di kulit leherku. Suaranya terdengar penuh syukur, namun aku menangkap nada genit yang sengaja dia selipkan. “Tante senang sekali.”

Aku kaku seperti batu. Bahunya yang telanjang menyentuh leherku, dan tekanan dadanya semakin nyata setiap kali ia mengambil napas dalam. Gila. Aku bisa merasakan sensor di otakku mulai mengirim sinyal bahaya ke bagian bawah tubuhku.

Aku hanya bisa mengangguk kikuk, bibirku terkatup rapat karena takut suaraku akan bergetar.

Papaku tertawa kecil, benar-benar buta dengan situasi di depannya. “Lihat, Sarah, anak kita ini malu-malu. Pasti senang dapat mama baru kayak kamu.”

Tante Sarah tersenyum lebar, jemarinya meremas bahuku pelan sementara tubuhnya tetap menempel erat. “Pasti, Mas. Radit anak baik. Tante yakin kita akan jadi keluarga yang harmonis.”

Aku hanya bisa menatap lurus ke depan, berusaha mati-matian mengabaikan kehangatan yang terus menekan lenganku.

***

Siang itu, koridor kampus mulai terasa sunyi. Aku berjalan menuju gedung parkiran belakang dengan langkah berat, bermaksud mengambil motor untuk segera pulang. Kuliah hari ini cukup melelahkan.

Tapi begitu aku memasuki area parkiran yang remang, darahku seolah berhenti mengalir.

Di depan tiang beton besar, berdiri empat orang yang bayangannya selalu menghantuiku. Kia, si ketua geng sialan di SMA dulu, berdiri di tengah. Rambut panjang hitamnya masih sama, begitu juga senyum tipisnya yang selalu terasa seperti racun.

Di sampingnya ada Doni, si otot besar yang tangannya sudah mengepal, siap menghajar. Miya dengan wajah diamnya yang licik, dan Galih yang sudah bersiap tertawa.

Pikiran langsung berputar kacau. Mereka seharusnya tidak di sini. Tapi, kenapa sekarang mereka ada di Jakarta?

“Radit… lama gak jumpa,” sapa Kia dengan nada manis yang memuakkan.

Matanya yang tajam memindai tubuhku dari atas ke bawah, seolah aku hanyalah seonggok daging yang siap dikuliti. “Masih culun kayak dulu ya?”

Aku mundur selangkah, insting bertahan hidupku berteriak. Tapi Doni bergerak lebih cepat, dia sudah berdiri di belakangku, menghalangi satu-satunya jalan keluar. “Jangan kabur dulu, Dit. Kita lagi kangen nih sama lo.”

Tanpa ampun, mereka menyeret tubuhku ke tiang beton. Miya mengeluarkan tali rafia tebal dari tasnya. Tanganku dipaksa melingkar ke belakang tiang dan diikat dengan sangat kencang hingga pergelangan tanganku terasa panas terbakar.

Aku meronta sekuat tenaga, tapi tenaga Doni jauh di atas kemampuanku yang sekarang.

“L... lepasin,” lirihku, rasa takut mulai menguasai.

“Enak aja, Gendut!” seru Galih keras sambil melempar kulit pisang dan sisa minuman plastik ke wajahku. Sampah itu membasahi wajahku, baunya menyengat.

“Kita tuh kangen sama lo, Gendut culun,” kata Kia sambil melangkah sangat dekat.

Dia meraih kerah kemejaku, lalu dengan satu sentakan kuat, dia merobek kancing-kancingnya hingga berhamburan di lantai.

Aku mencoba menendang, tapi Doni menginjak kakiku dengan sepatu beratnya, membuatku mengerang kesakitan.

Dalam sekejap, kemeja dan celanaku sudah dilepas paksa oleh tangan-tangan mereka yang kasar. Pakaianku tergeletak menyedihkan di lantai yang kotor.

Aku sekarang hanya mengenakan celana dalam merah, berdiri telanjang di depan mereka, hanya ditempeli sampah-sampah yang mereka lempar.

Kia menatapku, senyumnya semakin melebar melihat tubuhku yang gemetar. “Wah, masih pakai kolor merah? Kayak dulu pas lo ditelanjangin di gudang olahraga. Lucu ya, makin gede makin kelihatan jelas.”

Dadaku sesak, gangguan kecemasanku menyerang balik dengan hebat. Pandanganku kabur oleh air mata yang mulai turun, dan keringat dingin membasahi seluruh kulitku.

Mereka tertawa puas, suara tawa yang sangat kukenali dari masa lalu. Sampah terus berjatuhan di tubuhku yang basah. Doni menepuk perutku dengan keras, membuatku tersentak.

“Masih ada lemaknya nih. Olahraganya yang bener dong, Culun!”

Setelah merasa cukup menghinaku, Kia menepuk pipiku dengan kasar. “Besok kita ketemu lagi ya, Dit. Jangan lupa bawa celana ganti, atau mungkin jangan pakai baju sekalian.”

Mereka pergi sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkanku terikat di tiang, nyaris telanjang, dikelilingi sampah dan rasa hina yang luar biasa.

Parkiran kembali sunyi, hanya menyisakan suara isak tanganku. Aku tidak berani berteriak, takut ada orang lain yang melihat kondisiku yang memalukan ini.

Sampai tiba-tiba, derap langkah sepatu hak tinggi yang tegas terdengar mendekat.

“Radit?”

Aku mendongak dengan sisa tenaga yang ada.

Tante Sarah berdiri di sana. Cahaya matahari dari luar menyorot tajam dari belakangnya, mempertegas lekuk tubuhnya yang matang dan seksi. Matanya menatap tubuhku yang hanya tertutup celana dalam merah dengan ekspresi yang sulit terbaca.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 06

    Beberapa hari berlalu, Tante Sarah jadi lebih sering datang ke rumah. Tentu saja, itu semua aku manfaatkan untuk menjalin kedekatan dengannya. Sekaligus mencari letak lemah wanita itu.Hari ini, hujan datang sejak pagi. Papaku baru akan kembali dari kantor di malam hari. Jadi, seharian aku seorang diri.Namun, sore itu aku tidak menyangka jika orang yang seharusnya mulai menjaga jarak denganku, justru datang. Bel rumah berbunyi dan saat aku membukanya, Tante Sarah sudah berdiri di sana.“Eh, Tante Sarah. Kok gak kasih tahu dulu mau ke sini?” tanyaku basa-basi, tapi mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya yang basah kuyup.Blouse putih gading yang dipakainya nyaris transparan karena tubuhnya yang basah setelah berlari dari mobil ke pintu rumah. Rok span hitam basah yang dipakainya berhasil mencetak jelas garis pakaian dalamnya.Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi, sekarang terlihat lepek dan agak acak-acakan. Tapi, itu justru membuatnya tampak semakin seksi.“Iya, Tante habis dar

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 05

    "M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku."Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya."Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April.""Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau."Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan. Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.Deg.

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 04

    Bab 4“Dit, kamu kenapa?”Pertanyaan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.“Hah? Nggak, Pa,” jawabku cepat sambil menggeleng.Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.Aku sangat yakin itu Kia.Tapi bagaimana mungkin?Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.“Pa…”Papaku menepuk bahuku, sementara Tante Sarah di layar tersenyum lebar.“Papa tahu ini mendadak, tapi akhir bula

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 03

    Atasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis.Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku.Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini?“Tante …”Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien. Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos.Aroma tubuhnya yang hangat dan wang

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 02

    Aku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah. Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi. Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangann

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 01

    “Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…” Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas. Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku. “Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana. Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian kecil yang telah mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku. “Radit … jangan …” Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status