LOGIN
“Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…”
Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas.
Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku.
“Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana.
Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian atasnya yang mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku.
“Radit … jangan …”
Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan yang menjepit ketat.
Sementara tanganku yang lain mengeluarkan milikku yang sejak tadi meronta, tegang maksimal dan ingin segera bebas dari sangkarnya.
“Hngghh … Radit, berhenti …”
Aku tersenyum puas melihat wajahnya yang memerah antara malu dan nikmat.
Tiga tahun lalu, aku kembali ke rumah pamanku di Jakarta. Dia saudara kembar ayah kandungku. Meski statusnya hanya paman, sejak kecil aku selalu memanggilnya papa.
Setelah ayah dan ibuku bercerai saat aku berusia 10 tahun, aku tinggal di Malang bersama ibu dan suami barunya. Hubunganku dengan keluarga ayah makin jauh, apalagi setelah ayah kandungku meninggal karena sakit.
Sejak itu, hanya papa yang sesekali menanyakan kabarku. Tidak dekat, tapi cukup membuatku merasa masih punya keluarga di sana.
Beberapa kali dia menawariku tinggal bersamanya, dan dulu aku selalu menolak. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dengan penindasan di sekolah yang membuat gangguan kecemasanku makin parah. Aku pun memutuskan pindah ke Jakarta dan tinggal di rumahnya.
Tinggal bersamanya sebenarnya bukan pilihan yang sangat ideal.
Papa bukan orang yang hangat atau perhatian. Dia jarang bertanya kabarku dan lebih sering membiarkanku mengurus diri sendiri, selama aku tidak merepotkan. Kadang aku merasa keberadaanku hanya penting saat dia butuh bantuan.
Tapi dibanding kembali ke Malang dan bertemu orang-orang yang sama, aku tahu aku tidak akan pernah benar-benar pulih. Di Jakarta, setidaknya aku bisa mulai dari nol.
Lingkungan baru memberiku kesempatan untuk belajar lebih berani dan pelan-pelan mengatasi gangguan kecemasanku.
“Radit, habis ini ada tamu, calon mama baru buatmu. Kamu jangan pergi keluar, ya,” kata papaku yang sedang berdiri di depan pintu kamarku.
Aku menatap papaku sejenak, lalu menggelengkan kepala pelan. “Oke, Pa.”
Papaku memang sudah berusia 47 tahun, tapi posturnya masih terlihat gagah dan kuat. Sejak pernikahan terakhirnya dulu yang juga kandas, dia memang belum menikah lagi. Hidupnya fokus pada usaha desain bangunan yang dia rintis sendiri.
Aku bukan anak kandungnya dan dia juga tidak memperlakukanku seperti anak sendiri sepenuhnya. Lebih seperti tanggung jawab tambahan … atau kadang terasa seperti alat yang bisa dipakai sewaktu-waktu. Disuruh antar dokumen, diminta jaga rumah, atau sekadar jadi “pajangan sopan” saat ada tamu penting.
Kadang dia menyuruh ini itu, mengingatkan hal-hal kecil, tapi jarang benar-benar bertanya apa yang kuinginkan.
“Oke. Nanti jangan pakai kaos ya, gak enak dilihat orang,” katanya lagi, tangannya bersedekap di dada.
“Iya, Pa,” jawabku seadanya.
“Yang ini cantik. Cocok buat papa. Kamu juga nanti pasti setuju,” lanjutnya, seolah pendapatku sudah pasti sama dengan miliknya.
“Matre gak? Nanti ngincar uang doang,” sahutku apa adanya, karena di pernikahannya sebelumnya, istrinya memang hanya mengincar harta.
“Nggak, aman kok. Dia juga punya bisnis sendiri,” jawabnya sambil tersenyum bangga. “Ya udah, papa mau jemput dia dulu. Jangan lupa mandi, pakai baju yang bagus.”
Setelah aku mengangguk, papaku pergi.
Aku bergegas mandi dan bersiap. Sejak pagi, aku memang belum mandi karena ini hari Sabtu. Ditambah lagi, kuliah sedang libur, jadi aku tidak ada kegiatan di luar.
Sejak pindah dan hidup dengan papaku, aku langsung berusaha berubah. Aku semakin rajin olahraga dan ikut gym. Dulu beratku hampir 90 kg. Penampilanku sering dicap culun karena kacamata besarku dan rambutku yang cepak lurus.
Sekarang, berat badanku sudah di angka 75 kg. Penampilanku sudah jauh berbeda. Badanku tampak lebih atletis dengan bahu yang lebar, gaya rambutku juga tertata rapi. Kacamataku pun lebih modis.
Papa angkatku tidak pernah memuji secara langsung, tapi dia juga tidak melarang saat aku meminta uang pendaftaran gym dulu. Itu sudah cukup bagiku.
Setelah masuk kuliah, aku juga mencoba menjadi lebih berani dan perlahan melawan gangguan kecemasanku. Sampai akhirnya, sekarang aku benar-benar merasa menjadi sosok yang baru. Cowok yang punya kendali.
Setelah hampir 2 jam, papaku akhirnya kembali. Aku yang sejak tadi sudah menunggu di ruang tengah langsung berdiri menyambutnya.
“Radit, kenalin ini Tante Sarah,” kata papaku sambil memperkenalkan wanita yang berdiri di sampingnya.
Aku terdiam sejenak menatap wanita itu.
Wow!
Montok!
Penampilannya sangat berbeda dengan wanita-wanita yang papaku bawa sebelumnya. Gaun ketat tali satu yang dikenakannya langsung menyita perhatian karena bahannya yang tipis itu melekat sempurna pada tubuhnya, garis leher rendah yang memperlihatkan belahan dada dalam dan menggoda.
Dadanya besar, bulat sempurna, terdorong ke atas oleh bra yang jelas-jelas dirancang untuk menonjolkan bentuknya, bergoyang lembut setiap kali dia bernapas. Aroma parfumnya yang manis dan tajam menusuk hidungku, memancing saraf bawah sadarku.
Pinggangnya ramping kontras dengan pinggul yang melengkung lebar, sempurna seperti gitar Spanyol, membuat gaun itu tampak dibuat khusus untuk memamerkan lekuk tubuh matang yang begitu memikat dengan satu tali di bahu.
Tante Sarah mungkin sudah berusia 40an, tapi badannya tampak masih kencang dan kenyal.
“Radit,” panggil papaku lagi, langsung membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya pa,” sahutku sambil berusaha bersikap biasa. Aku langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Tante Sarah. “Halo tante, saya Radit.”
“Halo, Radit. Senangnya akhirnya bisa ketemu kamu,” katanya sambil menerima uluran tanganku. Senyumnya lebar dan hangat, tapi matanya seolah memindai tubuh atletisku dengan cara yang aneh.
Aku mengangguk kaku, “Iya tante, saya juga senang.”
“Kita ngobrol sambil makan aja yuk,” ajak papaku akhirnya.
Kami pun bergegas menuju meja makan. Di sana, makanan sudah disiapkan oleh Bi Marni, ART di rumah ini. Aku duduk di seberang Tante Sarah, sementara papaku di sebelahnya.
“Radit ini masih kuliah semester 3. Anak kamu bukannya seumuran ya sama Radit?” tanya papaku pada Tante Sarah.
Tante Sarah tidak langsung menjawab. Dia menatapku sejenak, tatapannya jatuh tepat di dadaku yang bidang sebelum kembali ke mataku, lalu tersenyum. “Iya, anakku perempuan, sekarang masih kuliah semester 3 juga, tapi di Bandung. Besok dia pulang ke sini karena libur kuliah katanya.”
Aku hanya mengangguk. Sampai saat ini, aku memang masih agak kesulitan untuk mudah berbaur dengan orang baru.
“Oh ya? Kalau gitu nanti bisa kita atur pertemuan sama anak kamu itu,” sahut papaku antusias. “Siapa nama anakmu, Sarah?”
“Namanya Rara, Mas Damar,” jawab Tante Sarah sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk diam.
Selama makan, aku melihat Tante Sarah beberapa kali seperti sengaja membusungkan dadanya ke arahku, membuat belahannya makin terlihat jelas setiap kali dia menyuap makanan. Gerakannya lambat, seolah sengaja memancing mataku untuk terus di sana.
Selesai makan, kami berpindah ke ruang tengah untuk mengobrol. Namun, saat itu aku izin untuk ke toilet terlebih dahulu.
Aku berdiri di depan kloset, memegang barangku sambil mengarahkan aliran. Pikiranku tadi sempat melayang ke Tante Sarah, ke cara dia memamerkan dadanya tadi, ke lekuk pinggang dan pinggulnya yang menggoda di balik kain ketat itu.
Tanpa sadar, joni sudah setengah tegang, berdenyut keras menuntut perhatian lebih meski cuma karena imajinasi sesaat. Aku bisa merasakan panas yang menjalar di selangkanganku.
Aku mendengus pelan. “Gila juga ini, cuma liat bentuk luar doang bisa sampai begini.”
Buru-buru aku menggoyang-goyang sisa tetesan air itu, tapi begitu aku membalikkan badan dengan posisi baru akan memasukkan si joni kembali ke celana, pintu toilet dibuka tanpa ketukan.
Aku membeku.
Di ambang pintu berdiri Tante Sarah. Matanya tidak menatap wajahku, melainkan langsung turun ke bawah, mengunci pandangannya pada tanganku yang masih memegang benda berhargaku yang sedang dalam kondisi tegang dan telanjang.
“Tante …”
Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik punggungnya yang menempel pada dadaku, sebuah ritme yang liar dan tak beraturan.Tanganku merayap lebih berani, menyelinap ke balik daster satin putihnya yang tipis. Begitu jemariku menyentuh area paling pribadinya, aku tertegun sejenak. Cairan hangat yang lengket dan banjir sudah membasahi kain tipis itu. Dia sudah benar-benar terjatuh dalam jurang nafsu yang kusiapkan.“Ma... rasakan ini,“ bisikku serak, tepat di telinganya.Aku tidak hanya mengelusnya. Aku mulai meremas bibir bawahnya yang sensitif dengan ritme yang menuntut.Mama Sarah tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi tanganku untuk menjelajah. Rintihan yang keluar dari mulutnya bukan lagi rintihan takut, melainkan suara pemuasan yang selama ini terpendam di balik topeng istri yang patuh.“Sebut namaku, Ma... ayo sebut,“ tuntutku, memberikan tekanan lebih dalam pada jemariku. “Jangan anggap aku anakmu. Sebut namaku!““Akhhh... R-R
Aku terbangun dengan energi yang meluap. Setelah kejadian di dapur dini hari tadi, tidurku mungkin tidak lama, tapi adrenalin di dalam nadiku membuatku merasa sangat bugar. Aku segera membasuh wajah, menatap pantulan diriku di cermin yang kini tampak lebih mengintimidasi, lalu mengganti pakaian dengan celana pendek olahraga dan kaos singlet yang melekat ketat.Aku harus menjaga asetku. Roti sobek di perut dan otot-otot ini adalah senjataku untuk membuat wanita di rumah ini bertekuk lutut.Aku memulai dengan lari kecil memutari area rumah, lalu berakhir di halaman belakang yang cukup luas. Aku menjatuhkan diri ke rumput yang masih berembun, melakukan serangkaian push up dengan ritme cepat. Keringat mulai mengucur, membuat kulitku mengkilap dan kaosku basah, menonjolkan setiap garis otot dada dan perutku. Setelah itu, aku beralih mengambil barbel besi yang terletak di sudut teras belakang.Satu... dua... tiga...Suara pintu belakang yang berderit menghentikan hitunganku.Aku melirik
Aku bisa merasakan setiap inci tubuh Mama Sarah yang menempel pada tubuhku yang bertelanjang dada. Daster satin basah yang ia kenakan kini bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kulit kedua yang transparan, yang mempertemukan panas tubuh kami tanpa penghalang yang berarti.Aku menyadari satu hal, tidak ada perlawanan. Tangannya yang tadi mencengkeram bahuku karena takut pada tikus, kini mulai meremas kulitku dengan cara yang berbeda, sebuah cengkeraman yang lahir dari rasa lapar yang tertunda.”Ma...” bisikku, suaranya parau, bergetar karena keinginan yang hampir meledak.Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memeluk pinggangnya secara tiba-tiba, menarik tubuh matangnya hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara kami. Mama Sarah terkesiap, kepalanya terdongak ke belakang, menatapku dengan mata yang sayu dan kabur oleh kabut gairah. Dia tidak mendorongku. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam, membiarkan dadanya yang kenyal tanpa pelindung itu tertekan hebat pada dadaku.Ini ad
Aku berguling ke kiri, lalu ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman di atas kasur yang mendadak terasa seperti tumpukan bara api. Pikiranku kacau. Bayangan Mama Sarah yang bergerak liar di atas Papa, lalu wajah murungnya saat ditinggalkan tidur begitu saja, terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku.”Sialan, aku benar-benar tidak bisa menutup mata,” umpatku lirih sambil menyugar rambut dengan frustrasi.Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah daster satin maroon itu. Gairah dan dendam adalah campuran yang berbahaya, dan malam ini, keduanya sedang berpesta di dalam nadiku.Aku bangkit dari tempat tidur, merasa tenggorokanku kembali kering atau mungkin itu hanya alasanku untuk kembali berburu.Aku turun ke bawah dengan langkah yang lebih ringan dari hembusan angin. Saat kakiku mencapai lantai dapur yang dingin, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Mama Sarah sedang berdiri memb
Aku mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. ”Sial, sepertinya setelah makan malam yang penuh sandiwara itu aku malah ketiduran,” gumamku serak.Tenggorokanku terasa seperti padang pasir yang kerontang. Efek dari ketegangan di meja makan dan adrenalin yang meledak tadi sore sepertinya menguras cairan tubuhku. Aku bangkit, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaos, dan melangkah keluar kamar. Rumah ini terasa seperti makam, sunyi, dingin, dan penuh rahasia yang terpendam di balik tembok-temboknya yang megah.Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan lantai kayu yang bisa saja berderit. Di dapur, aku menuangkan air dingin dari dispenser, membiarkan cairan itu membasahi kerongkonganku dalam satu tegukan panjang. Segar. Namun, rasa segar itu tidak bertahan lama ketika telingaku menangkap sebuah frekuensi yang tidak asing.Ah... hh... mmpth...Aku mematung. Gelas di tanganku hampir saja merosot. Suara itu berasal
Aku memicingkan mata, menatap ke arah tangga menuju ke bawah. Sunyi. Hanya sayup-sayup suara denting piring dari lantai bawah yang menandakan aktivitas makan malam sudah dimulai.Aku kembali masuk ke kamar dan memberi isyarat pada Kiara yang masih berdiri kaku dengan handuk melilit bahunya. ”Sekarang. Lewat balkon belakang, loncat ke jendela kamar lo. Pastikan nggak ada suara,” desisku tajam.Kiara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sisa ketakutan, namun juga ada gumpalan rasa yang aku tahu adalah benih-benih ketergantungan yang baru saja kutanam. Tanpa kata, dia menyelinap keluar. Aku berdiri di ambang pintu balkon sampai aku yakin dia sudah masuk ke kamarnya dengan selamat. Aku mengelus dadaku, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar. Hampir saja, batinku. Selangkah lagi, dan rencana besar untuk menghancurkan hidupnya akan hancur berantakan.Setelah merapikan kaos dan rambutku, aku turun ke bawah dengan langkah yang kelihatannya sangat santai. Di ruang







