Share

Bab 03

Author: Dang Aldo
last update Last Updated: 2026-01-29 01:18:50

Atasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis. 

Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku.

Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini?

“Tante …”

Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien.

Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos. Aroma tubuhnya yang hangat dan wangi parfum mahal langsung menyelimutiku.

“Ayo, ke mobil,” katanya singkat dan tegas. 

Satu tangannya memegang pinggangku, menyangga langkahku yang masih goyah karena trauma, sementara tangan lainnya mengambil tas dan ponselku yang tercecer di lantai.

Kami bergegas ke SUV hitam miliknya yang terparkir tak jauh dari sana. Begitu pintu mobil tertutup rapat dan mesin menyala, Tante Sarah tak langsung mengemudi. Dia mematikan AC sebentar, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan yang dalam dan penuh perhatian yang tak biasa.

“Kamu kotor sekali, Radit,” katanya pelan, suaranya kini merendah. “Biar Tante bersihin dulu sebelum kita pulang. Gak enak kalau papamu tahu kamu habis begini.”

Dia langsung meraih tisu basah dari dashboard, mengeluarkan beberapa lembar, lalu mendekatkan tubuhnya ke arahku. Kursi penumpang yang kududuki direbahkannya sedikit, membuat posisiku setengah berbaring di hadapannya.

Aku yang paham dengan maksudnya, langsung mencoba menahan tangannya dengan sedikit gemetar, “Aku … aku bisa sendiri, Tante.”

Namun, Tante Sarah justru tersenyum lembut, senyum yang terasa punya maksud lain. Tangannya mulai mengusap dadaku yang kotor dengan gerakan memutar. “Badanmu gemetar begini, gimana bisa mengusap sampai bersih?”

Aku berkedip cepat. Wajahku terasa terbakar karena malu. Saat ini, aku hanya memakai celana kolor merah dengan blazer miliknya yang terbuka di bagian depan.

Aku menahan tangannya lagi, kali ini lebih tegang. “A... aku bisa kok, Tante.”

Dia berhenti bergerak, matanya menatapku dalam, seolah sedang memburu mangsa. Senyum tipis yang nakal muncul di bibirnya.

“Kamu tegang sekali,” bisiknya sangat pelan di dekat telingaku. Jarinya yang lentik masih di sana, menyentuh kulit perut bawahku. “Biar Tante bantu hilangkan ketegangan ini juga. Di sini aja, gak ada yang lihat kok.”

Aku menahan napas, tubuhku kaku di kursi. Tante Sarah mendekat lebih jauh lagi, dada besarnya yang kenyal hampir menyentuh lenganku, aroma parfumnya menyergap hebat. 

Tangannya turun perlahan, menyusuri perut bawahku yang penuh noda kotor, lalu jari-jarinya dengan berani menyentuh pinggiran celana kolor merah itu.

“Tante…” suaraku serak, tenagaku seolah lenyap.

Dia tersenyum lebih lebar, matanya penuh hasrat yang tak lagi disembunyikan. “Tenang, Dit. Biar Tante urus semuanya.”

Jarinya menyelinap masuk ke dalam celanaku, menyentuh kulit hangat yang sensitif di sana, lalu dengan mantap memegang barangku yang sudah tegang maksimal karena sensasi tadi. Gerakannya lambat namun pasti, mengelus dari pangkal ke ujung dengan ritme yang membuatku tersentak.

Aku ingin menolak, tapi tubuhku justru mengkhianati pikiranku. Napasku terengah, pikiranku kacau balau antara trauma dan gairah yang membara.

Tapi, tiba-tiba...

KRING! KRING!

Aku tersentak bangun.

Kamar gelap langsung menyerbu penglihatanku. Tubuhku basah kuyup oleh keringat padahal AC masih menyala dingin. Selimut kusut melilit pinggangku.

“Mimpi?” gumamku pelan dengan napas tersengal.

Sial, jadi semua itu hanya mimpi?!

Aku menyibak selimut dan mengumpat pelan saat mendapati celanaku basah di bagian depan. Di balik kain itu, barangku masih setengah bangun dan berdenyut karena sisa imajinasi tadi.

“Ck! Ada-ada aja ah!” gerutuku kesal, merasa bodoh.

Aku menarik napas panjang, tangan menutup mata sejenak. Jam di ponsel menunjukkan pukul 6 pagi. Bayangan Tante Sarah di mobil tadi terasa sangat nyata, kehangatan kulitnya, tekanan dadanya, dan sentuhan tangannya masih terasa di kulitku.

“Bego ah,” gumamku sambil beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka dan membersihkan sisa mimpi basah itu.

Setelah berganti baju olahraga, aku langsung memakai sepatu dan pergi lari pagi di sekitaran komplek. Biasanya, aku memang rutin lari pagi untuk menjaga badan agar tetap atletis.

Pagi ini jalanan komplek terasa ramai, banyak anak muda dan warga yang memanfaatkan hari libur untuk berolahraga.

Setelah berlari hampir satu jam dan berkeringat hebat, aku duduk sebentar di bangku taman. Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat kukenali memanggil.

“Woy, Radit!”

Aku menoleh. Itu Bang Tio, satpam muda komplek yang sudah seperti kakakku sendiri. Dia mahir karate dan sering melatihku dulu.

“Semalam kulihat ada wanita cantik seksi ke rumahmu. Siapa, Dit?” tanyanya dengan logat Batak yang kental sambil terkekeh nakal.

“Oh, itu calonnya Papa, Bang,” jawabku jujur.

“Weh, mantap juga selera bapak kau. Segar matamu punya mamak macam dia ya,” sahutnya sambil tertawa lebar.

Aku ikut terkekeh, meski dalam hati ada rasa canggung mengingat mimpi tadi.

Setelah Bang Tio pamit pulang shift malam, aku pun kembali ke rumah untuk mandi dan sarapan. 

Saat aku sedang asyik menyendok nasi, papaku datang membawa ponsel dengan panggilan video yang masih menyala.

“Eh Radit, liat ini anaknya Tante Sarah udah pulang. Nih kenalan dulu kamu, besok kita keluar bareng,” kata papaku bersemangat.

Aku menerima ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar. Di layar, tampak Tante Sarah memakai gaun rumahan tipis bertali satu yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Dia tersenyum lebar. Di belakangnya, ada seorang perempuan berambut panjang yang sedang sibuk merapikan koper.

“H-halo, Tante,” sapaku gugup. Bayangan mimpi di dalam mobil tadi mendadak melintas lagi di kepalaku.

“Hai Radit, lagi sarapan ya?” balas Tante Sarah antusias.

Tante Sarah kemudian memanggil anaknya. “Rara, ini Radit, calon saudara tiri kamu. Ayo kenalan dulu.”

Aku memperhatikan layar dengan seksama. Rara yang semula menunduk, menghela napas pendek lalu mendongak.

“Iya, Ma, sebentar,” jawabnya lembut. Tangannya meraih ponsel itu dengan hati-hati, seolah tak ingin membuat ibunya merasa diabaikan.

Dia membenahi rambutnya sejenak sebelum menatap kamera.

“Hai, Radit. Maaf tadi agak sibuk. Senang kenal sama kamu,” sapanya ramah dengan senyum manis yang terlihat sangat tulus.

Namun, saat wajahnya muncul jelas di layar, aku mematung. Nasi yang baru saja ingin kumasukkan ke mulut berhenti di udara.

Wajah itu. Tatapan mata itu. Garis wajahnya benar-benar tidak asing. Bahkan, itu adalah wajah yang menjadi mimpi burukku selama bertahun-tahun.

Jantungku bergedup kencang secara abnormal. Rasa panik yang menyesakkan dada tiba-tiba datang menyerang, persis seperti gangguan kecemasan yang kuderita dulu.

Jadi Rara adalah Kia.

Kia, si ketua geng kejam yang dulu merundungku habis-habisan, yang pernah menelanjangiku di depan umum.

Tapi, kenapa sikapnya sekarang begitu lembut?

Bagaimana mungkin predator itu kini berubah menjadi calon adik tiriku?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 29

    Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik punggungnya yang menempel pada dadaku, sebuah ritme yang liar dan tak beraturan.Tanganku merayap lebih berani, menyelinap ke balik daster satin putihnya yang tipis. Begitu jemariku menyentuh area paling pribadinya, aku tertegun sejenak. Cairan hangat yang lengket dan banjir sudah membasahi kain tipis itu. Dia sudah benar-benar terjatuh dalam jurang nafsu yang kusiapkan.“Ma... rasakan ini,“ bisikku serak, tepat di telinganya.Aku tidak hanya mengelusnya. Aku mulai meremas bibir bawahnya yang sensitif dengan ritme yang menuntut.Mama Sarah tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi tanganku untuk menjelajah. Rintihan yang keluar dari mulutnya bukan lagi rintihan takut, melainkan suara pemuasan yang selama ini terpendam di balik topeng istri yang patuh.“Sebut namaku, Ma... ayo sebut,“ tuntutku, memberikan tekanan lebih dalam pada jemariku. “Jangan anggap aku anakmu. Sebut namaku!““Akhhh... R-R

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 28

    Aku terbangun dengan energi yang meluap. Setelah kejadian di dapur dini hari tadi, tidurku mungkin tidak lama, tapi adrenalin di dalam nadiku membuatku merasa sangat bugar. Aku segera membasuh wajah, menatap pantulan diriku di cermin yang kini tampak lebih mengintimidasi, lalu mengganti pakaian dengan celana pendek olahraga dan kaos singlet yang melekat ketat.Aku harus menjaga asetku. Roti sobek di perut dan otot-otot ini adalah senjataku untuk membuat wanita di rumah ini bertekuk lutut.Aku memulai dengan lari kecil memutari area rumah, lalu berakhir di halaman belakang yang cukup luas. Aku menjatuhkan diri ke rumput yang masih berembun, melakukan serangkaian push up dengan ritme cepat. Keringat mulai mengucur, membuat kulitku mengkilap dan kaosku basah, menonjolkan setiap garis otot dada dan perutku. Setelah itu, aku beralih mengambil barbel besi yang terletak di sudut teras belakang.Satu... dua... tiga...Suara pintu belakang yang berderit menghentikan hitunganku.Aku melirik

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 27

    Aku bisa merasakan setiap inci tubuh Mama Sarah yang menempel pada tubuhku yang bertelanjang dada. Daster satin basah yang ia kenakan kini bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kulit kedua yang transparan, yang mempertemukan panas tubuh kami tanpa penghalang yang berarti.Aku menyadari satu hal, tidak ada perlawanan. Tangannya yang tadi mencengkeram bahuku karena takut pada tikus, kini mulai meremas kulitku dengan cara yang berbeda, sebuah cengkeraman yang lahir dari rasa lapar yang tertunda.”Ma...” bisikku, suaranya parau, bergetar karena keinginan yang hampir meledak.Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memeluk pinggangnya secara tiba-tiba, menarik tubuh matangnya hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara kami. Mama Sarah terkesiap, kepalanya terdongak ke belakang, menatapku dengan mata yang sayu dan kabur oleh kabut gairah. Dia tidak mendorongku. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam, membiarkan dadanya yang kenyal tanpa pelindung itu tertekan hebat pada dadaku.Ini ad

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 26

    Aku berguling ke kiri, lalu ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman di atas kasur yang mendadak terasa seperti tumpukan bara api. Pikiranku kacau. Bayangan Mama Sarah yang bergerak liar di atas Papa, lalu wajah murungnya saat ditinggalkan tidur begitu saja, terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku.”Sialan, aku benar-benar tidak bisa menutup mata,” umpatku lirih sambil menyugar rambut dengan frustrasi.Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah daster satin maroon itu. Gairah dan dendam adalah campuran yang berbahaya, dan malam ini, keduanya sedang berpesta di dalam nadiku.Aku bangkit dari tempat tidur, merasa tenggorokanku kembali kering atau mungkin itu hanya alasanku untuk kembali berburu.Aku turun ke bawah dengan langkah yang lebih ringan dari hembusan angin. Saat kakiku mencapai lantai dapur yang dingin, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Mama Sarah sedang berdiri memb

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 25

    Aku mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. ”Sial, sepertinya setelah makan malam yang penuh sandiwara itu aku malah ketiduran,” gumamku serak.Tenggorokanku terasa seperti padang pasir yang kerontang. Efek dari ketegangan di meja makan dan adrenalin yang meledak tadi sore sepertinya menguras cairan tubuhku. Aku bangkit, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaos, dan melangkah keluar kamar. Rumah ini terasa seperti makam, sunyi, dingin, dan penuh rahasia yang terpendam di balik tembok-temboknya yang megah.Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan lantai kayu yang bisa saja berderit. Di dapur, aku menuangkan air dingin dari dispenser, membiarkan cairan itu membasahi kerongkonganku dalam satu tegukan panjang. Segar. Namun, rasa segar itu tidak bertahan lama ketika telingaku menangkap sebuah frekuensi yang tidak asing.Ah... hh... mmpth...Aku mematung. Gelas di tanganku hampir saja merosot. Suara itu berasal

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 24

    Aku memicingkan mata, menatap ke arah tangga menuju ke bawah. Sunyi. Hanya sayup-sayup suara denting piring dari lantai bawah yang menandakan aktivitas makan malam sudah dimulai.Aku kembali masuk ke kamar dan memberi isyarat pada Kiara yang masih berdiri kaku dengan handuk melilit bahunya. ”Sekarang. Lewat balkon belakang, loncat ke jendela kamar lo. Pastikan nggak ada suara,” desisku tajam.Kiara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sisa ketakutan, namun juga ada gumpalan rasa yang aku tahu adalah benih-benih ketergantungan yang baru saja kutanam. Tanpa kata, dia menyelinap keluar. Aku berdiri di ambang pintu balkon sampai aku yakin dia sudah masuk ke kamarnya dengan selamat. Aku mengelus dadaku, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar. Hampir saja, batinku. Selangkah lagi, dan rencana besar untuk menghancurkan hidupnya akan hancur berantakan.Setelah merapikan kaos dan rambutku, aku turun ke bawah dengan langkah yang kelihatannya sangat santai. Di ruang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status