เข้าสู่ระบบAtasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis.
Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku. Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini? “Tante …” Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien. Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos. Aroma tubuhnya yang hangat dan wangi parfum mahal langsung menyelimutiku. “Ayo, ke mobil,” katanya singkat dan tegas. Satu tangannya memegang pinggangku, menyangga langkahku yang masih goyah karena trauma, sementara tangan lainnya mengambil tas dan ponselku yang tercecer di lantai. Kami bergegas ke SUV hitam miliknya yang terparkir tak jauh dari sana. Begitu pintu mobil tertutup rapat dan mesin menyala, Tante Sarah tak langsung mengemudi. Dia mematikan AC sebentar, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan yang dalam dan penuh perhatian yang tak biasa. “Kamu kotor sekali, Radit,” katanya pelan, suaranya kini merendah. “Biar Tante bersihin dulu sebelum kita pulang. Gak enak kalau papamu tahu kamu habis begini.” Dia langsung meraih tisu basah dari dashboard, mengeluarkan beberapa lembar, lalu mendekatkan tubuhnya ke arahku. Kursi penumpang yang kududuki direbahkannya sedikit, membuat posisiku setengah berbaring di hadapannya. Aku yang paham dengan maksudnya, langsung mencoba menahan tangannya dengan sedikit gemetar, “Aku … aku bisa sendiri, Tante.” Namun, Tante Sarah justru tersenyum lembut, senyum yang terasa punya maksud lain. Tangannya mulai mengusap dadaku yang kotor dengan gerakan memutar. “Badanmu gemetar begini, gimana bisa mengusap sampai bersih?” Aku berkedip cepat. Wajahku terasa terbakar karena malu. Saat ini, aku hanya memakai celana kolor merah dengan blazer miliknya yang terbuka di bagian depan. Aku menahan tangannya lagi, kali ini lebih tegang. “A... aku bisa kok, Tante.” Dia berhenti bergerak, matanya menatapku dalam, seolah sedang memburu mangsa. Senyum tipis yang nakal muncul di bibirnya. “Kamu tegang sekali,” bisiknya sangat pelan di dekat telingaku. Jarinya yang lentik masih di sana, menyentuh kulit perut bawahku. “Biar Tante bantu hilangkan ketegangan ini juga. Di sini aja, gak ada yang lihat kok.” Aku menahan napas, tubuhku kaku di kursi. Tante Sarah mendekat lebih jauh lagi, dada besarnya yang kenyal hampir menyentuh lenganku, aroma parfumnya menyergap hebat. Tangannya turun perlahan, menyusuri perut bawahku yang penuh noda kotor, lalu jari-jarinya dengan berani menyentuh pinggiran celana kolor merah itu. “Tante…” suaraku serak, tenagaku seolah lenyap. Dia tersenyum lebih lebar, matanya penuh hasrat yang tak lagi disembunyikan. “Tenang, Dit. Biar Tante urus semuanya.” Jarinya menyelinap masuk ke dalam celanaku, menyentuh kulit hangat yang sensitif di sana, lalu dengan mantap memegang barangku yang sudah tegang maksimal karena sensasi tadi. Gerakannya lambat namun pasti, mengelus dari pangkal ke ujung dengan ritme yang membuatku tersentak. Aku ingin menolak, tapi tubuhku justru mengkhianati pikiranku. Napasku terengah, pikiranku kacau balau antara trauma dan gairah yang membara. Tapi, tiba-tiba... KRING! KRING! Aku tersentak bangun. Kamar gelap langsung menyerbu penglihatanku. Tubuhku basah kuyup oleh keringat padahal AC masih menyala dingin. Selimut kusut melilit pinggangku. “Mimpi?” gumamku pelan dengan napas tersengal. Sial, jadi semua itu hanya mimpi?! Aku menyibak selimut dan mengumpat pelan saat mendapati celanaku basah di bagian depan. Di balik kain itu, barangku masih setengah bangun dan berdenyut karena sisa imajinasi tadi. “Ck! Ada-ada aja ah!” gerutuku kesal, merasa bodoh. Aku menarik napas panjang, tangan menutup mata sejenak. Jam di ponsel menunjukkan pukul 6 pagi. Bayangan Tante Sarah di mobil tadi terasa sangat nyata, kehangatan kulitnya, tekanan dadanya, dan sentuhan tangannya masih terasa di kulitku. “Bego ah,” gumamku sambil beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka dan membersihkan sisa mimpi basah itu. Setelah berganti baju olahraga, aku langsung memakai sepatu dan pergi lari pagi di sekitaran komplek. Biasanya, aku memang rutin lari pagi untuk menjaga badan agar tetap atletis. Pagi ini jalanan komplek terasa ramai, banyak anak muda dan warga yang memanfaatkan hari libur untuk berolahraga. Setelah berlari hampir satu jam dan berkeringat hebat, aku duduk sebentar di bangku taman. Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat kukenali memanggil. “Woy, Radit!” Aku menoleh. Itu Bang Tio, satpam muda komplek yang sudah seperti kakakku sendiri. Dia mahir karate dan sering melatihku dulu. “Semalam kulihat ada wanita cantik seksi ke rumahmu. Siapa, Dit?” tanyanya dengan logat Batak yang kental sambil terkekeh nakal. “Oh, itu calonnya Papa, Bang,” jawabku jujur. “Weh, mantap juga selera bapak kau. Segar matamu punya mamak macam dia ya,” sahutnya sambil tertawa lebar. Aku ikut terkekeh, meski dalam hati ada rasa canggung mengingat mimpi tadi. Setelah Bang Tio pamit pulang shift malam, aku pun kembali ke rumah untuk mandi dan sarapan. Saat aku sedang asyik menyendok nasi, papaku datang membawa ponsel dengan panggilan video yang masih menyala. “Eh Radit, liat ini anaknya Tante Sarah udah pulang. Nih kenalan dulu kamu, besok kita keluar bareng,” kata papaku bersemangat. Aku menerima ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar. Di layar, tampak Tante Sarah memakai gaun rumahan tipis bertali satu yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Dia tersenyum lebar. Di belakangnya, ada seorang perempuan berambut panjang yang sedang sibuk merapikan koper. “H-halo, Tante,” sapaku gugup. Bayangan mimpi di dalam mobil tadi mendadak melintas lagi di kepalaku. “Hai Radit, lagi sarapan ya?” balas Tante Sarah antusias. Tante Sarah kemudian memanggil anaknya. “Rara, ini Radit, calon saudara tiri kamu. Ayo kenalan dulu.” Aku memperhatikan layar dengan seksama. Rara yang semula menunduk, menghela napas pendek lalu mendongak. “Iya, Ma, sebentar,” jawabnya lembut. Tangannya meraih ponsel itu dengan hati-hati, seolah tak ingin membuat ibunya merasa diabaikan. Dia membenahi rambutnya sejenak sebelum menatap kamera. “Hai, Radit. Maaf tadi agak sibuk. Senang kenal sama kamu,” sapanya ramah dengan senyum manis yang terlihat sangat tulus. Namun, saat wajahnya muncul jelas di layar, aku mematung. Nasi yang baru saja ingin kumasukkan ke mulut berhenti di udara. Wajah itu. Tatapan mata itu. Garis wajahnya benar-benar tidak asing. Bahkan, itu adalah wajah yang menjadi mimpi burukku selama bertahun-tahun.Jantungku bergedup kencang secara abnormal. Rasa panik yang menyesakkan dada tiba-tiba datang menyerang, persis seperti gangguan kecemasan yang kuderita dulu. Jadi Rara adalah Kia. Kia, si ketua geng kejam yang dulu merundungku habis-habisan, yang pernah menelanjangiku di depan umum. Tapi, kenapa sikapnya sekarang begitu lembut? Bagaimana mungkin predator itu kini berubah menjadi calon adik tiriku?Beberapa hari berlalu, Tante Sarah jadi lebih sering datang ke rumah. Tentu saja, itu semua aku manfaatkan untuk menjalin kedekatan dengannya. Sekaligus mencari letak lemah wanita itu.Hari ini, hujan datang sejak pagi. Papaku baru akan kembali dari kantor di malam hari. Jadi, seharian aku seorang diri.Namun, sore itu aku tidak menyangka jika orang yang seharusnya mulai menjaga jarak denganku, justru datang. Bel rumah berbunyi dan saat aku membukanya, Tante Sarah sudah berdiri di sana.“Eh, Tante Sarah. Kok gak kasih tahu dulu mau ke sini?” tanyaku basa-basi, tapi mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya yang basah kuyup.Blouse putih gading yang dipakainya nyaris transparan karena tubuhnya yang basah setelah berlari dari mobil ke pintu rumah. Rok span hitam basah yang dipakainya berhasil mencetak jelas garis pakaian dalamnya.Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi, sekarang terlihat lepek dan agak acak-acakan. Tapi, itu justru membuatnya tampak semakin seksi.“Iya, Tante habis dar
"M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku."Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya."Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April.""Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau."Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan. Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.Deg.
Bab 4“Dit, kamu kenapa?”Pertanyaan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.“Hah? Nggak, Pa,” jawabku cepat sambil menggeleng.Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.Aku sangat yakin itu Kia.Tapi bagaimana mungkin?Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.“Pa…”Papaku menepuk bahuku, sementara Tante Sarah di layar tersenyum lebar.“Papa tahu ini mendadak, tapi akhir bula
Atasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis.Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku.Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini?“Tante …”Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien. Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos.Aroma tubuhnya yang hangat dan wang
Aku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah. Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi. Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangann
“Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…” Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas. Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku. “Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana. Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian kecil yang telah mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku. “Radit … jangan …” Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan







