Masuk“Sebelumnya aku udah bilang ke Mami kalau aku gak ikut,” ucap Karin lirih begitu memasuki kamar mereka di mansion. “Aku tahu Mbak Fairish gak akan suka lihat aku dateng.” Kaisar yang masuk setelahnya menutup pintu pelan, lalu menyusul sang istri ke tepi ranjang. Ia duduk di samping Karin, menghembuskan napas panjang. “Fairish memang seperti itu,” ujarnya tenang, pandangannya lurus ke depan. “Saya sudah kenal dia cukup lama.” Karin hanya tersenyum tipis. Ia tahu persis seperti apa hubungan masa lalu suaminya dengan Fairish. “Dulu dia bahkan sangat membenci Djiwa,” lanjut Kaisar. “Tapi lihat sekarang, mereka bisa dekat.” Karin menoleh cepat. “Jadi Mas mau aku gimana? Nerima aja semuanya? Dan nunggu momen di mana aku bisa diterima di keluarga ini kayak Djiwa dulu?” Sudut bibir Kaisar terangkat tipis. “Bukan begitu.” Ia akhirnya menatap istrinya. “Saya cuma mau kamu berhenti terlalu memikirkan orang yang memang tidak suka sama kamu.” Nada suaranya rendah, tegas. “Selama kamu tid
Lorong rumah sakit itu lengang, hanya suara langkah kaki yang samar dan dengung alat medis dari kejauhan. Radja menghentikan kursi rodanya. Tatapannya lurus, dingin. Karin berdiri beberapa langkah di depannya, tubuhnya seolah membeku di tempat. Napasnya tercekat saat menyadari tak ada lagi jalan untuk menghindar. “Mas ….” panggilnya pelan, nyaris tak terdengar. Radja tak menjawab, hanya menatap datar, kosong, dan sulit ditebak. Karin menelan ludahnya susah payah. Jari-jarinya saling meremas, gugup tanpa sebab yang jelas, atau mungkin dia sendiri tahu alasannya. “Aku … aku dengar kondisi Mas sekarang,” ucapnya hati-hati. “Tentang … kaki Mas.” Tak ada respon. Keheningan itu justru membuatnya semakin panik. “Dulu … Mas Adrian juga begitu,” lanjut Karin, sudut bibirnya terangkat tipis. “Waktu kecelakaan itu, dia juga lumpuh. Kena edema otak, dan dokter bilang umurnya gak lama.” Radja masih diam. Namun kali ini, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum yang sama sekali tak hangat, t
“Jenis kelaminnya laki-laki, Dok,” ucap bidan itu lembut, lalu menyerahkan bayi mungil yang masih merah kepada Sultan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sultan menerima putranya. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya—campuran haru, lega, dan tak percaya. Tatapannya perlahan beralih pada Fairish yang terbaring lemah di atas ranjang, napasnya masih belum teratur, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Anak kita laki-laki, Rish,” bisik Sultan, suaranya melembut. Fairish tersenyum tipis. Lelahnya begitu nyata, tapi ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. “Adipati ….” gumamnya lirih. Sultan tertegun. Nama itu, nama yang dulu sempat ia simpan, andai Binar terlahir sebagai anak laki-laki. Matanya kembali menatap bayi di pelukannya, lalu pada istrinya. “Terima kasih,” ucapnya tulus, nyaris berbisik. Di luar ruang persalinan, suasana jauh lebih riuh. “Mama!” Binar terus mengetuk pintu, wajahnya dipenuhi kecemasan dan rasa tidak sabar. Ia sempat menangis saat mendengar je
“Kamu temani Fairish di sini. Saya akan menjemput anak-anak, sekalian Binar juga,” ucap Radja pelan, menatap Djiwa yang sejak tadi tak berhenti mondar-mandir di depan ruang persalinan. Djiwa langsung menoleh, keningnya berkerut. “Gak usah, Mas. Biar Pak Aslan aja yang jemput mereka. Kamu di sini saja, sama aku.” “Tidak apa-apa,” balas Radja tenang. “Saya masih bisa melakukan itu. Sudah lama saya tidak menjalani rutinitas seperti ini.” Tangannya bergerak menekan tombol di kursi rodanya, berniat melaju pergi. “Mas.” Djiwa sigap menahan kursi itu sebelum bergerak lebih jauh. Tatapannya tegas, tapi penuh khawatir. “Jangan keras kepala. Kamu bisa lakuin semua itu nanti, setelah benar-benar pulih.” Hening sejenak. Radja menatap istrinya cukup lama, seolah menimbang antara keinginan dan kenyataan. Lalu perlahan, ia mengangguk. “Baiklah,” ucapnya singkat. “Kali ini saya turuti.” Djiwa tersenyum kecil, napasnya sedikit lega. Ia mendorong kursi roda itu mendekat ke deretan kursi tunggu
“Saya bukan bayi. Kenapa kamu bawa saya berjemur di bawah terik matahari seperti ini?” tanya Radja, matanya menyipit setiap kali cahaya menyentuh wajahnya. Djiwa tersenyum tipis, tetap berdiri di belakang kursi roda itu. “Biar kamu cepet sehat, Mas. Gak cuma bayi yang butuh matahari, orang dewasa juga.” Ia menghentikan langkahnya, lalu berjalan memutar dan berjongkok di hadapan suaminya. “Pernah denger ini?” tanyanya lembut. “Manusia itu lahir seperti bayi, dan suatu saat akan kembali seperti bayi lagi.” Radja menatapnya tanpa banyak ekspresi. “Bedanya,” lanjut Djiwa pelan, “Yang satu disambut dengan cinta, yang satu lagi dijaga dengan cinta.” Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma rumput yang masih basah oleh embun. Djiwa menunduk, tangannya perlahan meraih kaki Radja yang terbungkus celana panjang. Ia mulai memijatnya dengan lembut, penuh kehati-hatian. Gerakannya pelan. Terlatih. Seolah setiap sentuhan mengandung harapan. “Djiwa ….” gumam Radja rendah. “Kalau sakit bil
“Daddy,” panggil Ratu pagi itu. Dengan seragam sekolah yang sudah rapi, gadis kecil itu langsung berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Di dalam, ia menemukan Radja duduk di kursi roda, menghadap jendela. Tatapannya kosong sejenak, menikmati pemandangan taman samping yang basah oleh embun pagi. Suara langkah kecil itu membuatnya menoleh. “Iya, Nak?” sahutnya lembut. Senyum Ratu langsung mengembang lebar. “Daddy udah mau ngomong sama Ratu lagi?” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Kapan Daddy gak mau ngomong sama Ratu, hm?” tanyanya pelan, sambil memutar kursi rodanya mendekat. Ratu menunduk malu-malu. “Dari kemarin, pas Daddy sampe di bandara, gak ngomong sama Ratu.” Radja terkekeh pelan. “Daddy cuma capek, bukan gak mau ngomong sama Ratu.” Tangannya terulur. “Sini.” Ratu mendekat tanpa ragu. Namun matanya membulat kaget saat Radja dengan mudah mengangkat tubuh kecilnya dan mendudukkannya di atas pangkuannya. “Daddy …,” Ratu meringis kecil. “Ratu gak mau.” Radja mengerny
“Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc
Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu
Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u







