Share

BAB 132

Author: Langit Parama
last update Last Updated: 2026-01-09 08:31:18
“Anak Fairish laki-laki, Yun?” tanya Mbah Kinasih pada keponakannya, Sekar Ayunda, yang hari itu datang berkunjung untuk menyampaikan kabar baik.

Sekar tersenyum lebar. “Iya, Bi. Akhirnya, setelah hampir lima tahun, ada juga yang memberi keturunan laki-laki dari tiga menantuku. Tapi ya … sebenarnya harapanku cuma dari dua menantu saja.”

Anggun, adik kandung Sekar yang ikut duduk di sana, menyunggingkan senyum kecil.

“Mbak, Mbak. Tetap saja, ketiganya menantu kamu. Mereka sama-sama mengabdi ke anak-anak kamu. Jangan dibeda-bedain begitu.”

Sekar melirik Anggun dengan tatapan sinis. “Suka-suka aku, lah.”

“Syukurlah,” ucap Mbah Kinasih tulus, matanya berbinar. “Akhirnya Fairish dan Kaisar akan segera punya anak.”

Anggun spontan menutup mulutnya, menahan tawa. “Lho, kok jadi Kaisar, Bi? Fairish itu istrinya Sultan.”

“Eh?” Mbah Kinasih tampak terkejut. “Terus … istrinya Kaisar siapa namanya?”

“Kalau menantu dianggap gak penting, memang susah diingat, Bi,” sela Sekar dengan na
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
radayinta
ternyata mbah Kinarsih lebih tau drpd ibu Sekar, bagian ini malah seperti spoiler dar mbah Kinarsih buat keluarga mereka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 137

    “Pokoknya aku gak ikhlas,” Djiwa membuka suara saat mereka baru saja keluar dari ruang dokter kandungan. Langkahnya cepat, napasnya masih belum stabil.“Gak ikhlas kamu nanya macam-macam ke dokter. Bahkan aku sendiri gak mau tahu hasil pemeriksaan USG tadi. Jenis kelaminnya, plasentanya ada berapa—aku gak mau tahu apa pun.”Radja tetap berjalan di sampingnya dengan tenang, kedua tangan masuk ke saku celana. Wajahnya lurus menghadap depan, seolah kata-kata Djiwa hanya angin lalu.“Mas,” Djiwa berhenti mendadak dan berdiri tepat di hadapan Radja. “Kamu denger aku ngomong, gak?”Radja ikut menghentikan langkahnya. Ia menurunkan pandangan, menatap Djiwa dengan sorot mata yang jauh lebih lembut dari sikapnya barusan.“Iya, sayang,” jawabnya singkat, hampir berbisik.Satu kata itu membuat dada Djiwa mengencang. Panggilan itu, lagi, untuk kedua kalinya. Pipinya langsung memanas, jantungnya berdetak tidak beraturan.Radja mengulurkan tangan, menggenggam lengan Djiwa dengan mantap. “Sekarang k

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 136

    Radja melangkah masuk dengan santai, namun wibawanya langsung memenuhi ruangan.Aura dominan itu membuat udara terasa menegang seketika, seolah kehadirannya menggeser seluruh poros perhatian ke satu titik.Djiwa kembali menatap dokter di hadapannya. Tatapannya dingin, menuntut penjelasan tanpa kata. Dokter itu hanya menggeleng singkat, jelas tak tahu apa-apa, ia bahkan juga kaget.“Kamu datang ke sini tidak mengajak suami kamu, sayang?” tanya Radja ringan sambil mendekat, kedua tangannya terselip santai di saku celana.Ia menarik kursi di samping Djiwa, lalu duduk tanpa ragu. Satu tangannya terangkat dan merangkul bahu wanita itu seolah tindakan tersebut adalah hal biasa.Djiwa melirik tangan Radja di pundaknya, lalu menatap wajah pria itu dengan napas tertahan.“Mas ….” bisiknya menegur, tak nyaman karena masih ada dokter di hadapan mereka.“Hm?” Radja mengangkat kedua alisnya santai, sama sekali tak merasa bersalah.Ia menunduk, lalu mengecup kening Djiwa dengan lembut. Terlalu lemb

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 135

    Dokter kandungan itu tersenyum ramah setelah selesai memeriksa. Ia meletakkan pulpen, lalu menatap Djiwa dengan ekspresi menenangkan, cara khas dokter yang ingin memastikan pasiennya tidak cemas. “Baik, Bu Djiwa,” ucapnya dengan suara tenang dan profesional. “Dari hasil pemeriksaan hari ini, kehamilan Anda dalam kondisi sehat dan normal.” Djiwa mengangkat pandangan, napasnya sedikit lega. “Tekanan darah ibu stabil, detak jantung janin terdengar baik, dan perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan,” lanjut dokter itu sambil membuka lembar catatan medis. “Tidak ada tanda-tanda kontraksi dini atau gangguan pada rahim.” Dokter kemudian menjelaskan lebih rinci, menggunakan bahasa yang mudah dipahami. “Selama ibu tidak mengalami keluhan seperti nyeri hebat, pendarahan, atau pusing berlebihan, kehamilan ibu tergolong aman.” Djiwa mengangguk pelan, jemarinya refleks menyentuh perutnya. “Untuk aktivitas sehari-hari,” sambung dokter itu, “Ibu tetap boleh bekerja dan beraktivitas ri

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 134

    “Mantan gimana, Mi?” Inggrit mengangkat bahu, nada suaranya terdengar malas. “Gimana Inggrit bisa tahu, kalau orangnya aja belum pernah Inggrit lihat?” “Oh, soal itu …,” Sekar menyahut tenang. “Mami punya fotonya. Anggun sempat ambil gambar kemarin dan langsung kirim ke Mami. Dan Mami cukup yakin, pria ini sangat mirip dengan Anggi.” Sekar membuka tas tangannya yang mahal, mengeluarkan ponsel, lalu menyodorkannya pada Inggrit. Layar ponsel sudah terbuka pada galeri, menampilkan satu foto seorang pria. Dengan ragu, Inggrit menerima ponsel itu. Dan seketika, wajahnya menegang. Seorang pria berkemeja hitam, lengan digulung hingga siku memamerkan ototnya yang kekar, berdiri dengan sorot mata tajam yang begitu ia kenali. Dante. Darah Inggrit serasa tersedot turun. Namun ekspresi itu hanya bertahan sepersekian detik, cukup singkat untuk ia sembunyikan. “Kamu kenal?” tanya Sekar, menelisik wajah menantunya dengan saksama. “Mantan kamu?” Inggrit segera menggeleng pelan, lalu me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 133

    “Keguguran?” gumam Radja dengan nada rendah, lalu tersenyum tipis. “Mana ada keguguran hanya karena berhubungan intim?” “Bisa jadi ada,” Djiwa mendorong wajah Radja yang terlalu dekat, cukup jauh agar ia bisa bernapas normal meski masih mencium aroma mint dari pria itu. Radja mengernyit, jelas tak sepenuhnya setuju dengan jawaban ambigu itu. Namun Djiwa melanjutkan, suaranya menurun dan sedikit ragu. “Gerakan yang terlalu intens bisa bikin janin terguncang.” Ia menggigit bibirnya, pipinya memerah karena malu. “Takutnya rahim aku kontraksi.” Radja terkekeh pelan. “Selama saya tidak kasar, harusnya aman.” “Tapi kan Mas Radja gak pernah pelan-pelan,” balas Djiwa refleks, terlalu jujur. Radja terdiam. Fakta itu sulit dibantah. Ia tak menyangka Djiwa akan menggunakan itu. Ia menghela napas berat, lalu menarik tubuhnya sedikit menjauh. “Saya janji bakal pelan,” ucapnya rendah, nyaris seperti permohonan. “Boleh?” Djiwa menggeleng. “Nggak. Djiwa gak yakin Mas Radja bisa nepatin janji

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 132

    “Anak Fairish laki-laki, Yun?” tanya Mbah Kinasih pada keponakannya, Sekar Ayunda, yang hari itu datang berkunjung untuk menyampaikan kabar baik. Sekar tersenyum lebar. “Iya, Bi. Akhirnya, setelah hampir lima tahun, ada juga yang memberi keturunan laki-laki dari tiga menantuku. Tapi ya … sebenarnya harapanku cuma dari dua menantu saja.” Anggun, adik kandung Sekar yang ikut duduk di sana, menyunggingkan senyum kecil. “Mbak, Mbak. Tetap saja, ketiganya menantu kamu. Mereka sama-sama mengabdi ke anak-anak kamu. Jangan dibeda-bedain begitu.” Sekar melirik Anggun dengan tatapan sinis. “Suka-suka aku, lah.” “Syukurlah,” ucap Mbah Kinasih tulus, matanya berbinar. “Akhirnya Fairish dan Kaisar akan segera punya anak.” Anggun spontan menutup mulutnya, menahan tawa. “Lho, kok jadi Kaisar, Bi? Fairish itu istrinya Sultan.” “Eh?” Mbah Kinasih tampak terkejut. “Terus … istrinya Kaisar siapa namanya?” “Kalau menantu dianggap gak penting, memang susah diingat, Bi,” sela Sekar dengan na

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status