공유

BAB 190

작가: Langit Parama
last update 게시일: 2026-01-28 07:26:24

“Pa … Papa?” ulang Dante dengan suara terbata, seolah kata itu terlalu berat untuk keluar begitu saja.

Anggita mengangguk pelan. “Om Papa Anggi, kan? Kata Papa, Om itu Papa kandung, alias Papa asli Anggi.”

Pandangan Dante beralih dari wajah kecil itu menuju Radja, matanya menyimpan banyak tanya.

“Seperti yang Anda minta sebelumnya,” ucap Radja tenang. “Hari ini saya menepatinya.”

“Ka-kamu sudah ….” Dante menggantung ucapannya.

“Hm. Saya dan dia sudah berpisah,” jawab Radja singkat. “Meski
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (14)
goodnovel comment avatar
niayaya
sok bermimpi aja lah inggrit Satya. Radja tidak akan tinggal diam pst akan lebih waspada
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
apa yg akan dilakukan Satya ya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 501

    Radja telah dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat inap VIP. Kondisinya mulai stabil. Namun sudah lima hari telah berlalu sejak kecelakaan itu terjadi, dan pria itu belum juga membuka mata. Djiwa dan ketiga anaknya terus menunggu. Berharap. Namun berkali-kali harapan itu seakan digantung tanpa kepastian. “Ratu gak mau sekolah sampe Daddy bangun,” ucap Ratu, melipat kedua tangannya di dada. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis yang siap pecah kapan saja. Regan langsung merangkul bahu adiknya, menariknya mendekat. “Daddy pasti bangun, percaya sama Mas, ya.” Bibir Ratu bergetar. Dan akhirnya satu tetes air mata jatuh. Djiwa yang melihat itu hanya bisa diam. Dadanya terasa sesak. Anak-anaknya masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Sementara dirinya yang juga rapuh harus tetap berdiri kuat di hadapan mereka. “Mommy keluar sebentar, ya,” ucap Djiwa pelan. “Kalian tunggu di sini.” “Mommy mau ke mana?” tanya Naren cepat, langsung bangkit dan mendekat. “Sebentar aja, N

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 500

    Sultan berdiri di depan jendela besar yang langsung menampilkan keindahan panorama kota di siang hari, tepat di ruang kerjanya di rumah sakit. Ponsel di telinganya. Panggilan yang terhubung dengan salah satu anggota kepolisian yang sedang mencari tahu penyebab kecelakaan Radja. Rahangnya mengeras. “Bagaimana dengan kondisi mobilnya?” tanyanya tegas. Di seberang sana, suara tersebut terdengar ragu. “Mobilnya sudah kami bawa ke bengkel resmi untuk melakukan penyelidikan, Tuan. Awalnya kami kira memang murni kecelakaan.” Sultan menyipitkan mata. “Awalnya?” Ada jeda. Seolah orang di seberang sana sedang menimbang apakah harus melanjutkan atau tidak. “Setelah dicek lebih dalam, mekaniknya mengatakan ada yang aneh, Tuan.” Napas Sultan tertahan samar. “Aneh bagaimana?” “Remnya, Tuan.” suara itu menurun. “Bukan sekadar blong biasa. Bukan kesalahan mesin mobil. Karena mesin mobil masih bagus, dan baru-baru selesai diservis menurut keterangan sopir pribadi Tuan Radja.” Sultan mengepalk

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 499

    “Makan yang banyak, ya. Jangan sampai kalian ikut sakit,” ucap Fairish lembut pada Regan, Naren, dan Ratu yang sedang sarapan dari makanan yang ia bawa. Regan, sebagai yang paling dewasa, mengangguk kecil. “Terima kasih, Tante.” “Sama-sama,” balas Fairish dengan senyum tipis. Sejak menjadi seorang ibu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Nalurinya meluas—tak hanya untuk Binar, tapi juga untuk anak-anak di sekitarnya. Termasuk ketiga keponakannya ini, yang ia sayangi seperti anaknya sendiri. Namun Ratu tampak berbeda. Sendok di tangannya bergerak lambat, nyaris tak menyentuh makanan. “Kenapa, Ratu?” tanya Fairish pelan. “Makanannya gak cocok?” Ratu menggeleng kecil. “Gak nafsu makan.” Fairish menghela napas, paham betul perasaan itu. “Dipaksa sedikit, ya, Nak,” bujuknya lembut. “Tante ngerti, tapi kalau kamu gak makan, nanti kamu sakit. Daddy sama Mommy kamu pasti sedih.” Bahu Ratu merosot. Namun perlahan, ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya—meski dengan terpaksa.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 498

    Ruangan intensif itu dipenuhi cahaya putih yang redup namun dingin. Suara mesin medis berdenting pelan—ritmis, konstan, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih bertahan di sana. Radja terbaring di atas ranjang. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Selang nasal kanul terpasang di hidungnya, membantu pernapasan yang masih lemah. Beberapa kabel monitor menempel di tubuhnya, menampilkan garis-garis kehidupan yang naik turun di layar. Wajahnya pucat. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya penuh kendali. Di sisi ruangan, Djiwa duduk di kursi, tak jauh dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari wajah suaminya. Matanya sembab, namun kini tak ada lagi tangis yang pecah—yang tersisa hanya kesedihan yang diam, dalam, dan menyesakkan. Regan berdiri di sampingnya. Diam. Anak itu tak banyak bicara, hanya sesekali menatap layar monitor, lalu kembali ke wajah ayahnya. Sementara di ruangan lain, di ruang rawat inap Djiwa sebelumnya—Ratu terlelap di atas sofa, tubuh

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 497

    Kelopak mata Djiwa bergerak pelan. Ia mengerjap beberapa kali, pandangannya masih buram—hingga perlahan fokus. Hal pertama yang ia lihat Regan dan Naren. “Mommy udah bangun,” ucap Regan cepat, langsung berdiri dari kursinya. Naren yang sejak tadi duduk di samping ranjang, langsung menggenggam tangan ibunya erat. “Mommy ….” Djiwa langsung tersentak, refleks ingin bangun. “Ratu …? Ratu di mana?” suaranya panik, tubuhnya berusaha terangkat dari baringannya. “Mommy, jangan banyak gerak,” cegah Regan cepat, menahan bahu ibunya dengan hati-hati. “Nanti infusnya lepas.” “Ratu dibawa Om Sultan ke ruang operasi, Mom,” tambah Naren, mencoba menenangkan. Djiwa terdiam sejenak. Lalu menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. “Syukurlah ….” Ia melirik punggung tangan kanannya—jarum infus tertancap di sana. Namun pikirannya tidak berhenti di situ. “Daddy …,” gumamnya lirih. “Gimana keadaan Daddy, Nak?” Regan dan Naren saling melirik, lalu menggeleng pelan. “Kita belum ke sana, Mom,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 496

    Sultan akhirnya tiba di rumah sakit. Ia datang seorang diri. Fairish tidak ikut—bukan karena tidak peduli, melainkan karena Binar sudah terlelap. Mereka tidak tega meninggalkan anak itu sendirian, takut terbangun dan tidak menemukan kedua orang tuanya. Langkah Sultan cepat, nyaris berlari menyusuri lorong menuju UGD. “Di mana kakak saya?” tanyanya pada salah satu perawat yang melintas. Perawat itu langsung berhenti. “Sudah dipindahkan ke ruang operasi, Dok. Bagian kepala pasien mengalami benturan cukup keras. Dokter bedah saraf sudah standby, dan operasi akan segera dimulai.” Sultan menelan ludah. “Dan … keluarganya?” “Sudah datang. Istri dan anak-anaknya juga ada di sini.” “Di mana mereka sekarang?” “Istri Tuan Radja sempat pingsan. Saat ini sedang di ruang VIP, bersama ketiga anaknya.” Napas Sultan tercekat. “Baik, terima kasih,” ucapnya singkat, lalu segera melangkah cepat menuju ruang VIP. Begitu pintu terbuka, suasana di dalam terasa sunyi namun berat. Ratu duduk di s

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 219

    “Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang

    last update최신 업데이트 : 2026-03-29
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 208

    “Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 213

    Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 184

    “Mi,” panggil Kaisar sambil melirik Sekar yang duduk di kursi penumpang. Sekar menoleh singkat. “Apa?” Kaisar menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya bicara. “Di antara ketiga anak Mami, apa cuma aku yang berandalan?” Sekar tak langsung menjawab. “Maksud aku,” lanjut Kaisar, matanya tetap fok

    last update최신 업데이트 : 2026-03-27
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status