เข้าสู่ระบบSiapa yg udah gak sabar Radja sama Inggrit cerai? Aku, aku. Mungkin bab besok udah cerai🤭
“Djiwa,” panggil Radja, suaranya berat, tertahan. Namun perempuan itu tidak berhenti. Ia tetap melangkah, meninggalkan pusara kecil itu, juga meninggalkan suaminya sendirian di belakang. Radja perlahan bangkit dari posisinya. Tatapannya tertuju pada punggung Djiwa yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal di sisi tubuh. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkah, menyusul hingga akhirnya berhasil meraih lengan sang istri. “Sayang, dengarkan saya,” pintanya rendah. Namun Djiwa langsung menepis tangan itu—tegas, tanpa ragu. Ia kembali melangkah. “Djiwa!” panggil Radja kali ini lebih keras. Ia kembali menarik lengan perempuan itu, lebih kuat dari sebelumnya. “Lihat saya.” Genggamannya tak memberi ruang untuk lepas. “Sayang … kamu kenapa?” desisnya pelan, suaranya ditekan, namun jelas menyimpan emosi. Djiwa tetap diam. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. “Kamu marah?” lanjut Radja, alisnya terangkat tipis. “Saya salah apa, hm? Justru seharusnya saya
Berkali-kali Radja mencoba menghubungi nomor Djiwa, namun tak satu pun panggilannya mendapat jawaban. Bukan ditolak, melainkan ponsel sang istri benar-benar tidak aktif. Meski begitu, jemarinya terus menekan tombol panggil, lagi dan lagi, seolah berharap pada percobaan berikutnya keajaiban kecil akan terjadi. Ponsel itu kembali menyala, dan suara Djiwa menjawab di seberang sana. “Pergi ke mana kamu, sayang?” gumamnya lirih, nyaris putus asa. Akhirnya, ia menjatuhkan iPad di atas ranjang dengan gerakan lelah, lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa sempat mengganti pakaian. “Daddy gak jadi mandi?” tanya Ratu heran saat melihat ayahnya keluar dengan langkah tergesa, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Radja berhenti sejenak, menatap putrinya. “Daddy ada urusan penting mendadak, Nak. Jadi harus keluar lagi. Kalian di rumah aja, ya. Nanti makan malam nggak usah nunggu Daddy.” Ratu langsung mencebik, bibirnya maju ke depan. “Ratu tungguin sampe Daddy pulang.” “Tidak, Ratu,” jawab Radja te
“Kami kangen banget sama Kak Bagas. Udah lama gak ketemu,” ucap Ratu begitu ia tiba di ruang tengah, langsung mengambil tempat di meja belajar yang telah disiapkan. Naren spontan menoleh pada adiknya. “Ratu aja, Kak. Aku nggak, kok,” ujarnya cepat, seolah ingin meluruskan. Ratu mendengus pelan, melirik tajam ke arah kakaknya. Bagas tersenyum tipis, hangat. “Iya. Kak Bagas juga kangen sama kalian, terutama Non Ratu.” Senyum Ratu seketika merekah. “Ratu juga mau cerita, Mommy udah lahiran. Tapi—” “Kak Bagas udah tahu, Dek,” sela Regan lembut. “Beberapa hari ini Kak Bagas gak dateng karena tahu kita sedang berduka atas kepergian Dek Sankara.” “Oh …,” Ratu menatap Bagas, ragu. “Jadi Kakak udah tahu?” Bagas mengangguk pelan. “Iya, Non. Sudah. Tapi kalian harus tetap semangat belajar, ya, dan jangan putus mendoakan adek.” Ratu mengerutkan keningnya polos. “Tapi kan … adeknya udah gak ada, Kak. Buat apa didoain lagi? Dia kan udah gak bisa diselamatkan.” Bagas menahan senyum, lalu me
“Sayang, saya akan segera melakukan vasektomi,” ucap Radja pelan malam itu, suaranya tenang di tengah hening kamar. Djiwa yang sudah setengah berbaring langsung menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa, Mas?” Radja terkekeh pelan. Tangannya terulur, ibu jarinya mengusap lembut pipi istrinya. “Kenapa?” ulangnya pelan. “Supaya saya tidak pernah menghamili kamu lagi.” Djiwa menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Daripada Mas yang vasektomi, mending aku aja yang steril.” Radja terdiam sejenak, matanya menatap dalam. “Kamu sudah disterilkan, sayang.” “Hah?” Djiwa membulatkan mata, jelas terkejut. “Iya,” lanjut Radja tenang. “Dokter melakukannya saat operasi kemarin. Mereka tidak mau ambil resiko, karena kondisi kamu tidak memungkinkan untuk hamil lagi.” Djiwa terdiam. Ada perasaan aneh yang menyelusup—lega, sekaligus kehilangan yang tak bisa dijelaskan. “Kalau gitu … Mas gak perlu vasektomi lagi,” ucapnya pelan. “Aku kan udah steril.” Radja menggeleng tegas, meski senyumnya t
“Maaf ya, Bagas. Saya tidak sempat mengabari lebih dulu kalau les anak-anak untuk sementara harus ditunda. Kami masih dalam masa berkabung,” ucap Djiwa lembut, senyumnya tetap hangat meski ada kelelahan yang tersimpan di matanya. Bagas sempat terdiam, sedikit terkejut, lalu segera mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, Nyonya,” balasnya, sekilas melirik ke arah dalam mansion yang tampak lebih sunyi dari biasanya. “Kira-kira … saya bisa mulai mengajar lagi kapan?” “Setelah tujuh hari kepergian Sankara,” jawab Djiwa pelan, suaranya tetap tenang. “Baik, Nyonya. Kalau begitu ... saya permisi,” ucap Bagas, menunduk hormat. “Iya, hati-hati di jalan, ya.” Djiwa tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Bagas masih berdiri beberapa detik di tempatnya. Ada rasa takjub yang sulit ia jelaskan. Di balik kehilangan sebesar itu, wanita itu masih mampu berdiri tegak, bahkan tetap memikirkan orang lain. Bahkan menyampaikan permintaan maaf langsung padanya, tanpa me
“Kira-kira ... anak kamu laki-laki atau perempuan, Tan?” tanya Sekar melalui sambungan telepon, nadanya terdengar ringan, namun menyimpan tekanan. Di seberang sana, Sultan terdiam sejenak sebelum menjawab. “Entahlah, Mi. Saat ini saya tidak terlalu memikirkan soal itu.” Jawaban itu membuat Sekar mendengus pelan. “Sekarang sudah ada teknologi USG. Untuk apa ada, kalau tidak kalian manfaatkan?” desisnya, nada suaranya mulai menajam. Sultan menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang. “Saya sengaja tidak ingin tahu, Mi. Saya tidak mau Fairish merasa tertekan.” “Terutama kalau jenis kelamin anak kami tidak sesuai dengan harapan Mami,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih tegas. Sekar memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Kamu ini mulai mengikuti jejak Radja rupanya,” ucapnya dingin. “Dan Fairish semakin mirip dengan Djiwa sikapnya.” Kalimat itu menggantung. Namun kali ini, Sultan tidak memilih diam. “Kalau memang begitu,” balasnya pelan, tapi jelas, “Mungkin Ma
“Mama tadi siang ke sini, Pa,” ujar Anggita pelan saat makan malam. Dante menghentikan gerak sendoknya. Tatapannya beralih pada putrinya. “Ke sini?” ulangnya. “Masuk ke apartemen?” Anggita mengangguk sing
“Ibu ….” gumam Ratu sambil mengucek matanya. Ia terbangun di atas ranjang empuk yang terasa asing—terlalu empuk, terlalu luas. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah merambat ke pukul delapan. “Aku di mana?” bisiknya bingung. Ratu buru-buru
“Ke mana Daddy, Mas?” tanya Narendra malam itu pada saudara kembarnya, Regantara. Keduanya masih terjaga meski jarum jam sudah mendekati pukul sebelas. Mereka berbaring di kamar ayahnya, berharap pintu terbuka dan sosok Radja muncul seperti biasanya. Namun sampai lampu-lampu mansion mulai dired
“Djiwa menghilang, Mi,” ucap Kaisar pelan namun tegas pagi itu, memecah sunyi meja makan. Sekar yang tengah menyendok bubur terhenti. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap anak bungsunya dengan sorot mata tajam. “Menghilang bagaimana maksud kamu?” Kaisar menghela







