Share

BAB 191

Author: Langit Parama
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-28 07:27:25
Fairish menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya menegang, sementara kedua telapak tangannya terasa dingin dan lembap.

Sejak terakhir kali ia melihat Inggrit ditampar, pergi dari mansion, lalu perutnya mendadak kram hebat, Fairish seperti kehilangan suara. Tak satu kata pun mampu keluar dari mulutnya.

Bayangan buruk terus berkelebat di kepalanya.

Bagaimana jika dia berada di posisi Inggrit?

Meski anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Kaisar, tetap saja ia telah mengkhianati Sulta
Langit Parama

Siapa yg udah gak sabar Radja sama Inggrit cerai? Aku, aku. Mungkin bab besok udah cerai🤭

| 99+
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (24)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
nurut saja jiwa
goodnovel comment avatar
Herawati Wiria
gimana tanggapanmu thor? koment drpara pembaca novel mu....heeeemmmm
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 483

    “Djiwa,” panggil Radja, suaranya berat, tertahan. Namun perempuan itu tidak berhenti. Ia tetap melangkah, meninggalkan pusara kecil itu, juga meninggalkan suaminya sendirian di belakang. Radja perlahan bangkit dari posisinya. Tatapannya tertuju pada punggung Djiwa yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal di sisi tubuh. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkah, menyusul hingga akhirnya berhasil meraih lengan sang istri. “Sayang, dengarkan saya,” pintanya rendah. Namun Djiwa langsung menepis tangan itu—tegas, tanpa ragu. Ia kembali melangkah. “Djiwa!” panggil Radja kali ini lebih keras. Ia kembali menarik lengan perempuan itu, lebih kuat dari sebelumnya. “Lihat saya.” Genggamannya tak memberi ruang untuk lepas. “Sayang … kamu kenapa?” desisnya pelan, suaranya ditekan, namun jelas menyimpan emosi. Djiwa tetap diam. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. “Kamu marah?” lanjut Radja, alisnya terangkat tipis. “Saya salah apa, hm? Justru seharusnya saya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 482

    Berkali-kali Radja mencoba menghubungi nomor Djiwa, namun tak satu pun panggilannya mendapat jawaban. Bukan ditolak, melainkan ponsel sang istri benar-benar tidak aktif. Meski begitu, jemarinya terus menekan tombol panggil, lagi dan lagi, seolah berharap pada percobaan berikutnya keajaiban kecil akan terjadi. Ponsel itu kembali menyala, dan suara Djiwa menjawab di seberang sana. “Pergi ke mana kamu, sayang?” gumamnya lirih, nyaris putus asa. Akhirnya, ia menjatuhkan iPad di atas ranjang dengan gerakan lelah, lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa sempat mengganti pakaian. “Daddy gak jadi mandi?” tanya Ratu heran saat melihat ayahnya keluar dengan langkah tergesa, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Radja berhenti sejenak, menatap putrinya. “Daddy ada urusan penting mendadak, Nak. Jadi harus keluar lagi. Kalian di rumah aja, ya. Nanti makan malam nggak usah nunggu Daddy.” Ratu langsung mencebik, bibirnya maju ke depan. “Ratu tungguin sampe Daddy pulang.” “Tidak, Ratu,” jawab Radja te

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 481

    “Kami kangen banget sama Kak Bagas. Udah lama gak ketemu,” ucap Ratu begitu ia tiba di ruang tengah, langsung mengambil tempat di meja belajar yang telah disiapkan. Naren spontan menoleh pada adiknya. “Ratu aja, Kak. Aku nggak, kok,” ujarnya cepat, seolah ingin meluruskan. Ratu mendengus pelan, melirik tajam ke arah kakaknya. Bagas tersenyum tipis, hangat. “Iya. Kak Bagas juga kangen sama kalian, terutama Non Ratu.” Senyum Ratu seketika merekah. “Ratu juga mau cerita, Mommy udah lahiran. Tapi—” “Kak Bagas udah tahu, Dek,” sela Regan lembut. “Beberapa hari ini Kak Bagas gak dateng karena tahu kita sedang berduka atas kepergian Dek Sankara.” “Oh …,” Ratu menatap Bagas, ragu. “Jadi Kakak udah tahu?” Bagas mengangguk pelan. “Iya, Non. Sudah. Tapi kalian harus tetap semangat belajar, ya, dan jangan putus mendoakan adek.” Ratu mengerutkan keningnya polos. “Tapi kan … adeknya udah gak ada, Kak. Buat apa didoain lagi? Dia kan udah gak bisa diselamatkan.” Bagas menahan senyum, lalu me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 480

    “Sayang, saya akan segera melakukan vasektomi,” ucap Radja pelan malam itu, suaranya tenang di tengah hening kamar. Djiwa yang sudah setengah berbaring langsung menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa, Mas?” Radja terkekeh pelan. Tangannya terulur, ibu jarinya mengusap lembut pipi istrinya. “Kenapa?” ulangnya pelan. “Supaya saya tidak pernah menghamili kamu lagi.” Djiwa menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Daripada Mas yang vasektomi, mending aku aja yang steril.” Radja terdiam sejenak, matanya menatap dalam. “Kamu sudah disterilkan, sayang.” “Hah?” Djiwa membulatkan mata, jelas terkejut. “Iya,” lanjut Radja tenang. “Dokter melakukannya saat operasi kemarin. Mereka tidak mau ambil resiko, karena kondisi kamu tidak memungkinkan untuk hamil lagi.” Djiwa terdiam. Ada perasaan aneh yang menyelusup—lega, sekaligus kehilangan yang tak bisa dijelaskan. “Kalau gitu … Mas gak perlu vasektomi lagi,” ucapnya pelan. “Aku kan udah steril.” Radja menggeleng tegas, meski senyumnya t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 479

    “Maaf ya, Bagas. Saya tidak sempat mengabari lebih dulu kalau les anak-anak untuk sementara harus ditunda. Kami masih dalam masa berkabung,” ucap Djiwa lembut, senyumnya tetap hangat meski ada kelelahan yang tersimpan di matanya. Bagas sempat terdiam, sedikit terkejut, lalu segera mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, Nyonya,” balasnya, sekilas melirik ke arah dalam mansion yang tampak lebih sunyi dari biasanya. “Kira-kira … saya bisa mulai mengajar lagi kapan?” “Setelah tujuh hari kepergian Sankara,” jawab Djiwa pelan, suaranya tetap tenang. “Baik, Nyonya. Kalau begitu ... saya permisi,” ucap Bagas, menunduk hormat. “Iya, hati-hati di jalan, ya.” Djiwa tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Bagas masih berdiri beberapa detik di tempatnya. Ada rasa takjub yang sulit ia jelaskan. Di balik kehilangan sebesar itu, wanita itu masih mampu berdiri tegak, bahkan tetap memikirkan orang lain. Bahkan menyampaikan permintaan maaf langsung padanya, tanpa me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 478

    “Kira-kira ... anak kamu laki-laki atau perempuan, Tan?” tanya Sekar melalui sambungan telepon, nadanya terdengar ringan, namun menyimpan tekanan. Di seberang sana, Sultan terdiam sejenak sebelum menjawab. “Entahlah, Mi. Saat ini saya tidak terlalu memikirkan soal itu.” Jawaban itu membuat Sekar mendengus pelan. “Sekarang sudah ada teknologi USG. Untuk apa ada, kalau tidak kalian manfaatkan?” desisnya, nada suaranya mulai menajam. Sultan menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang. “Saya sengaja tidak ingin tahu, Mi. Saya tidak mau Fairish merasa tertekan.” “Terutama kalau jenis kelamin anak kami tidak sesuai dengan harapan Mami,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih tegas. Sekar memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Kamu ini mulai mengikuti jejak Radja rupanya,” ucapnya dingin. “Dan Fairish semakin mirip dengan Djiwa sikapnya.” Kalimat itu menggantung. Namun kali ini, Sultan tidak memilih diam. “Kalau memang begitu,” balasnya pelan, tapi jelas, “Mungkin Ma

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 60

    “Mami lihat, Mi? Mami sadar sekarang? Ini konsekuensinya kalau kita satu frame sama rakyat jelata. Kita kelihatan buruk di mata orang lain, di cap gak punya empati.” Inggrit berseru pada ibu mertuanya usai sarapan sebelumnya. Setelah dia mendapatkan ultimatum pagi dari Radja yang tak memandang ibu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 42

    “Cemburu? Gimana rasanya? Sakit, hm?” Kaisar mendekat dengan senyum miring, tatapan dinginnya menusuk. Tubuhnya menutup seluruh ruang di antara mereka, Fairish sudah terkurung di antara dada Kaisar dan dinding. Napasnya tercekat. “K-Kaisar, jangan kayak gini … nanti ada yang lihat,” bisik Fairish

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 23

    Djiwa terkejut, matanya membelalak, namun sesuatu dalam cara pria itu menciumnya membuat tubuhnya mendadak kehilangan kemampuan untuk menolak. Dan sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, Radja menelusupkan tangan besarnya ke dalam roknya—membuat Djiwa membelalak. Djiwa meng

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 16

    Pukul sebelas siang, Djiwa terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua jam. Ketika dia mengangkat kepalanya, lehernya seketika ngilu karena posisi tidurnya yang sambil duduk. Tangannya juga kesemutan sampai dia tak bisa menggerakannya dengan benar. “Aduh!” rintihnya pelan, sambil terus membenarkan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status