LOGINSiapa yg udah gak sabar Radja sama Inggrit cerai? Aku, aku. Mungkin bab besok udah cerai🤭
Radja, Djiwa, dan anak gadis mereka akhirnya meninggalkan salon itu. Masih dengan mobil yang sama—Alphard putih mewah yang dibeli lima tahun lalu, mobil yang seharusnya sejak awal menjadi saksi kebersamaan keluarga itu. Dari balik mobilnya, Kaisar memperhatikan pemandangan tersebut dengan sorot mata yang tak lepas sedikit pun. Jantungnya berdegup tak beraturan. Itu Radja. Dia yakin. Dan perempuan di sampingnya, sang mantan istri. “Djiwa …,” gumam Kaisar lirih, matanya menyipit, berusaha memastikan dirinya tidak salah lihat. “Dia masih hidup. Dia ada di negara ini?” Napasnya tercekat. Kedua tangannya menggenggam setir lebih erat. “Terus selama ini dia ke mana?” gumamnya lagi. “Atau … jangan-jangan selama ini Mas Radja nyembunyiin dia di suatu tempat?” Kaisar langsung menggeleng pelan, menolak kemungkinan itu. “Gak mungkin.” Kalau memang be
“Mommy cantik di situ, tapi perutnya besar,” ucap Ratu polos sambil menatap foto pernikahan kedua orang tuanya yang terpajang besar di dinding ruang keluarga. Gadis kecil itu duduk manis di atas pangkuan sang ayah. Punggung kecilnya bersandar nyaman di dada bidang Radja, sementara Djiwa duduk di sisi kiri mereka, diam—menjadi penonton yang entah sejak kapan ikut terjebak di momen keluarga itu. “Iya,” jawab Radja lembut. “Itu Mommy waktu lagi hamil kamu.” “Mommy dulu rambutnya panjang,” lanjut Ratu lagi, matanya menelusuri foto itu. “Sekarang pendek.” “Tapi tetap cantik, kan, Nak?” Radja menggoda sambil mengecup puncak kepala putrinya. “Iya dong, Daddy,” sahut Ratu cepat. Lalu ia memiringkan kepala, menatap wajah Radja dengan serius. “Tapi … Daddy lebih ganteng yang di foto itu. Yang sekarang Daddy di mulutnya banyak rambutnya.” Djiwa yang sejak tadi memasang
“Ibu ….” gumam Ratu sambil mengucek matanya. Ia terbangun di atas ranjang empuk yang terasa asing—terlalu empuk, terlalu luas. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah merambat ke pukul delapan. “Aku di mana?” bisiknya bingung. Ratu buru-buru duduk. Kepalanya masih berat dan mengantuk, ingatannya belum sepenuhnya tersusun. Semalam terlalu banyak hal terjadi—atau justru tak sempat ia cerna. Yang ia tahu, ini bukan kamar kecil mereka dulu. Rasa takut merayap pelan. Dengan mata berkaca-kaca, Ratu turun dari ranjang, berjalan tertatih ke arah pintu kamar yang terbuka. “Ibu …,” isaknya pecah. “Ibu … Ibu.” Di kamar lain, Djiwa masih terlelap. Tubuhnya terasa hangat, nyaman—terlalu nyaman. Ketika ia membuka mata, napasnya tercekat. Radja. Lengan pria itu melingkar di pinggangnya, memeluknya
“Saya sudah tanyakan langsung pada Sultan setelah kamu bicara siang tadi,” ucap Radja, nadanya tegas namun tertahan. Djiwa menelan ludah dengan susah payah. “Terus?” “Sultan mengaku,” jawab Radja tanpa bertele-tele. “Dan dia juga mengakui kalau Mami yang memintanya melakukan semua itu.” Djiwa memalingkan wajah. Bahunya bergetar. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipi yang sejak lama menyimpan luka. “Saya juga korban,” lanjut Radja, suaranya kini lebih rendah, hampir berbisik. “Saya benar-benar tidak tahu apa-apa.” Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Saya minta maaf, Djiwa. Karena saya terlambat tahu. Kalau sejak awal kamu bicara, bukan pergi begitu saja, saya pasti bantu kamu.” Djiwa terkekeh pahit, lalu menoleh dengan tatapan tajam yang dipenuhi kecewa. “Tapi kamu juga sama, M
“Kasurnya empuuuk ….” Ratu terus meloncat di atas kasur besar itu, tawanya renyah, matanya berbinar penuh kebanggaan—seolah dunia barunya benar-benar nyata. Kemewahan yang baru ia rasakan hari ini seharusnya menjadi miliknya sejak bayi, seperti dua saudara lain yang ia kenal namun tak tahu kalau mereka saudara kembar. Radja melangkah mendekat, lalu menarik lengan kecil itu sebelum lompatannya semakin liar. “Jangan kenceng-kenceng, nanti jatuh,” katanya sambil mendudukkan Ratu di pangkuannya. Ratu tertawa kecil, lalu bersandar nyaman. “Seru, Daddy. Soalnya kasur di rumah lama itu keras, gak empuk,” adunya sambil matanya berkeliling. “Kamarnya gede banget. Lampunya banyak. Dapur sama WC juga jauh, gak nyatu.” Radja tersenyum tipis, ada bangga yang tak ia sembunyikan.
Mobil yang Radja minta akhirnya datang juga. Sebuah Alphard putih berhenti tepat di depan gang rumah petak itu, mobil yang dulu ia beli khusus untuk Djiwa, agar istrinya nyaman setiap kali bepergian. Kilau catnya masih sama, bersih dan elegan, sangat kontras dengan gang sempit yang mengelilinginya. Radja memang terpaksa memanggil mobil itu. Mobil sport yang ia kendarai sebelumnya tak cukup lapang untuk menampung barang-barang Ratu dan Djiwa. Pintu mobil terbuka. Sopir turun lebih dulu, membungkuk hormat. “Silakan, Tuan.” Djiwa berdiri kaku, menatap mobil itu lama. Matanya menyapu dari velg, pintu geser otomatis, hingga interior mewah yang sekilas terlihat dari luar. Dadanya naik turun pelan, seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Radja tak mendesak. Ia hanya mengulurkan tangan pada Ratu lebih dulu. “Ayo, Nak.” Ratu langsung menyambar tangan ayahnya dengan senyum lebar, lalu menoleh ke Djiwa. “Mommy ikut, kan? Daddy bilang rumahnya gede.” Djiwa terdi







