تسجيل الدخولHazel Adiwangsa tidak menyangka jika hubungan asmara yang sudah ia pertahankan dengan susah payah selama lima tahun kini berakhir sia-sia ketika ia tahu pacarnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Parahnya lagi, ketika hatinya masih hancur berantakan, ia tidak memiliki pilihan lain selain menikahi Adrian Winata, lelaki pilihan Papanya. Akankah Hazel menemukan oase di tengah gurun luka, ataukah Adrian justru menjadi badai baru dalam hidupnya?
عرض المزيد"Kamu tidak bisa putus dariku! Kamu sudah berjanji, Hazel!"
BRAK!
Damian memukul dinding tepat di samping telinga Hazel. Suara dentuman itu membuat Hazel terlonjak.
"Kamu, bisa-bisanya…" Hazel tercekat, berusaha meronta dari cengkraman Damian. "Bisa-bisanya kamu mengungkit janji itu setelah kamu berselingkuh di belakangku!"
Kalimat Hazel terputus seketika ketika tangan Damian mendarat di pipinya.
PLAK!
Perih. Panas. Dan Hazel membeku seketika. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan.
"Apa kamu tuli, hah?! Kubilang kamu tidak bisa putus dariku! Jangan pernah berani mencoba!" bentak Damian.
Tangannya melingkar di leher Hazel dan mencengkeramnya kuat. Pasokan oksigen Hazel terhenti dalam sekejap.
"Kamu yang memaksaku, Hazel. Kalau kamu nurut sama aku, aku tidak perlu bertindak seperti ini." Damian menggeram, kilatan amarah terlihat dari tatapannya. "Aku melakukannya dengan Sherly karena kamu tidak bisa memenuhi ekspektasiku."
"Damian… le... pas—" Hazel meronta, jemarinya berusaha menarik tangan besar yang kini menjerat nyawanya.
"Tapi soal putus atau enggak, bukan hakmu memutuskan. Memangnya kalau kamu putus dariku, kamu bisa apa? Kamu tidak berguna tanpa aku, Hazel. Kamu hanya rongsokan yang tidak punya tujuan hidup kalau aku tidak ada!" bentak Damian.
Apa ini? Apa yang terjadi? Pikiran Hazel mendadak kosong.
Seumur hidupnya, ia baru kali ini ditampar, dan yang melakukannya adalah pacarnya sendiri. Sekarang, pria itu bahkan tak segan-segan mencekiknya.
Hazel tidak menyangka akan menyaksikan sisi ini dari Damian selama lima tahun hubungan mereka. Pria yang selama ini lembut dan baik hati, tiba-tiba berubah dalam sekejap.
Padahal, satu jam lalu, Hazel masih merasa hidupnya bahagia. Sebelum sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sherly mengirimkan sebuah video dengan thumbnail gelap.
Ketika video itu terbuka, Hazel bisa melihat jelas wajah Damian bersama Sherly tengah berciuman sambil melakukan adegan erotis di sebuah kamar yang sangat Hazel kenal.
Kamar itu adalah apartemen yang Hazel hadiahkan pada Damian dari uang tabungannya. Hadiah sebagai ucapan selamat karena berhasil pada peluncuran proyek perusahaan pertamanya, yang juga Hazel danai.
Sherly bahkan tidak menghapus video itu. Seolah sengaja ingin menunjukkannya pada Hazel, ia justru mengirim pesan susulan, “Lihat, Hazel, pacarmu langsung datang ke sini setelah aku bilang kangen. Dia manis sekali, ya?”
Dada Hazel terasa terbakar, air matanya berkumpul di pelupuk mata.
Ia pun datang ke apartemen Damian. Pria itu menyambutnya dengan senyum menawan yang berhasil memikat Hazel. Dulu.
Samar-samar, Hazel mencium wangi parfum wanita di dalam ruangan itu. Hazel mengenal wangi ini, sebab ia sudah lama berteman dengan Sherly untuk memahami seleranya.
Namun, saat mengkonfrontasi Damian sambil menunjukkan video itu, Hazel tidak siap dengan reaksinya.
Ia tidak tahu jika pria itu akan bereaksi dengan kuat, mendorong Hazel dengan kasar, hingga punggungnya membentur dinding dingin, menamparnya, kemudian mencekik lehernya.
Dalam waktu yang singkat, tenggorokan Hazel mulai terasa sakit, paru-parunya juga mulai terasa nyeri, wajah Hazel mulai memucat akibat kekurangan oksigen.
Seketika itu, insting bertahan Hazel juga aktif tanpa diminta. Dengan sekuat tenaga, ia menendang alat kelamin lelaki yang mencekiknya ini.
Bugh!
“ARGH!” rintih Damian seraya berlutut dan memegang selangkangannya yang terasa nyeri.
Memanfaatkan kesempatan itu, Hazel segera berlari keluar dari pintu apartemen. Ia menyusuri lorong tanpa menoleh sedikit pun meski suara Damian menggelegar di belakangnya.
“Hazel! Kita belum selesai!”
— — —
Brak!
Hazel masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu. Napasnya kian memburu dan dadanya naik turun tidak beraturan. Tangannya bergetar hebat tanpa henti.
Hazel takut. Ia baru saja melihat sisi Damian yang lebih dari sekedar ‘posesif’. Ia masih merasakan nyeri di leher dan pipinya yang panas.
Pria itu, barusan sungguh-sungguh menyakitinya! Ia yakin Damian barusan ingin menghabisinya!
Hazel panik, air matanya bercucuran seketika saat ia memacu mobil menjauhi area apartemen.
Bagaimana kalau Damian akan melakukan hal yang sama lagi? Kali ini, Hazel memang bisa lolos, tapi bukan berarti di kesempatan kedua ia juga bisa lepas.
Melihat kegilaan itu, bukan tidak mungkin Damian juga akan mengikutinya ke kediaman Hazel yang sekarang.
Hazel harus mencari perlindungan segera. Kalau bisa, ia harus mendapatkannya sekarang!
Hanya ada satu tempat yang terlintas di kepala Hazel. Satu-satunya tempat aman.
Dengan tangan yang masih gemetar, Hazel meraih ponselnya.
Tut… Tut… Tut…
Setelah beberapa saat, telepon tersambung.
"Papa… Hazel pulang."
Ia menelan ludah, menahan tangis.
"Dan… Hazel akan pertimbangkan lagi pernikahan dengan Adrian Winata."
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang. Adrian sudah rapi dengan setelan kerjanya, menyesap kopi hitam sambil sesekali memeriksa tablet di tangannya dengan raut wajah datar seperti biasa.Hazel duduk di seberangnya, berusaha menikmati sarapannya meski kepalanya masih memikirkan banyak hal. Keheningan itu pecah saat ponsel Adrian yang tergeletak di meja bergetar panjang.Adrian melirik layar ponselnya sejenak. Ia tidak langsung mengangkatnya. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, baru kemudian menggeser tombol hijau."Ya, selamat pagi, Pak Dian," sapa Adrian. Suaranya terdengar sangat stabil, hampir tanpa emosi.Hazel memperhatikan dari balik piringnya. Ia melihat rahang Adrian mengeras sesaat, namun ekspresi wajah suaminya tetap tidak berubah. Sorot matanya yang tadinya santai kini berubah menjadi sangat fokus dan tajam."Saya mengerti. Terima kasih sudah memberi tahu saya secara langsung," jawab Adrian pendek. "Saya akan meninjau dokumennya sekarang."Begitu p
Hazel masih mematung menatap layar ponselnya. Video Naura yang baru saja viral itu terus berputar di kepalanya, memberikan rasa puas sekaligus cemas yang aneh.Namun, bukan video itu yang benar-benar menyita pikirannya sekarang. Melainkan kata-kata Pak Darmawan yang terus terngiang seperti kaset rusak. Rahasia besar tentang pernikahanmu."Hazel?"Suara berat itu terdengar sangat dekat. Hazel tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia terlalu tenggelam dalam lamunannya sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di kamarnya.Hazel menoleh dan langsung membeku. Wajah Adrian berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Pria itu sedikit membungkuk, menatapnya dengan kening berkerut halus."Mas... Mas Adrian?" gumam Hazel pelan. Jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang sangat tipis."Saya sudah memanggilmu tiga kali, tapi kamu tidak menjawab. Sedang memikirkan apa sampai seserius itu?" tanya Adrian. Suaranya rendah dan terdengar sangat tenang, namun matanya me
Naura menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan Hazel bercerita tentang kekacauan di ruang rapat hotel kemarin dan bagaimana Adrian membongkar pengkhianatan orang dalam."Jadi, Damian dan Sherly benar-benar niat ya sampai sejauh itu?" tanya Naura pelan.Hazel mengangguk lemah. "Aku tidak menyangka, Nau. Ternyata dulu aku dikelilingi orang-orang yang ingin aku jatuh. Kalau bukan karena Mas Adrian dan Papa, mungkin aku sudah hancur sekarang."Naura tidak langsung menanggapi. Ia justru tersenyum—sebuah senyuman tipis yang terasa ganjil bagi Hazel. Senyum itu tidak terlihat seperti rasa lega, melainkan seperti seseorang yang baru saja menetapkan sebuah rencana besar di kepalanya."Kamu tenang saja, Zel. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Naura sambil menepuk pelan bahu Hazel. "Sekarang kamu istirahat ya."Hazel tidak menaruh curiga. Ia pikir Naura hanya berusaha menenangkannya. Namun, Hazel tidak tahu bahwa bagi Naura, melihat sahabatnya ditekan
"Saya tidak pernah berselingkuh."Suara Hazel terdengar jelas, memecah keheningan di ruangan itu. Walaupun tangannya di bawah meja sedikit gemetar, Hazel tetap mengangkat kepalanya. Ia menatap Pak Darmawan dengan berani."Semua cerita yang ada di luar sana itu cuma fitnah sepihak yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan saya. Jadi, saya tidak merasa perlu bersumpah hanya untuk membuktikan sesuatu yang memang tidak pernah saya lakukan."Pak Darmawan malah tertawa sinis, seolah-olah jawaban Hazel itu hanya alasan belaka. Ia memajukan posisi duduknya dan menaikkan nada bicaranya."Hanya itu pembelaan Anda? Semua orang juga bisa bilang tidak jika sedang merasa disudutkan begitu, Nyonya Hazel! Masalahnya, nama baik perusahaan juga ikut tercemar karena kasus tuduhan perselingkuhan Anda dengan pria bernama Damian itu!" cecar Pak Darmawan."Jika saja Anda menjaga sikap sebagai istri calon pewaris perusahaan keluarga Winata, pria bernama Damian itu tidak mungkin bisa memiliki kesempatan untuk mem


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.