แชร์

BAB 56

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-14 03:36:03
Inggrit baru saja tiba di mansion.

Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional.

Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus.

Arga mengantar bocah itu pulang karena Inggrit benar-benar hilang kendali dan meninggalkan anaknya begitu saja usai dimarahi Radja tadi.

“Om … makasih, ya?” ucap Anggita pelan. Suaranya bergetar, matanya masih penuh air yang
Langit Parama

Happy weekend and Happy reading🫰🏻🥰

| 99+
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (24)
goodnovel comment avatar
Aku Abim
nah kan ketauan kamu Kaisar.sukurin.
goodnovel comment avatar
Bacakan Bang Yudi
seruuu amat
goodnovel comment avatar
Owoh Lee Lea
waduh makin seruh..
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 540

    “Om Sultan!” seru Ratu penuh semangat begitu melihat Sultan, Fairish, dan Binar datang menjenguk. Sultan tersenyum, lalu berjongkok di hadapan keponakannya. “Ada apa, hm?” Ratu langsung berdiri tegap, wajahnya berbinar bangga. “Nanti kalau Ratu udah besar, Ratu mau jadi dokter kayak Om. Biar kalau Daddy, Mommy, Mas Regan, sama Mas Naren sakit, Ratu yang obatin!” Sultan terkekeh pelan, lalu mencubit gemas pipi chubby itu. “Nah, ini baru anak pintar.” Ia menarik Binar mendekat. “Kak Binar juga mau jadi dokter.” Mata Ratu langsung membulat tak percaya. “Hah? Kak Binar juga mau jadi dokter?” Binar mengangguk mantap, tak kalah semangat. “Iya, dong. Aku mau jadi dokter kayak Papa, biar bisa nyembuhin banyak orang.” “Yeay!” Ratu bertepuk tangan kecil. “Berarti Ratu punya temen! Ratu jadi makin semangat!” Fairish yang melihat interaksi itu tersenyum lembut, matanya hangat menatap kedua anak kecil tersebut. Di sisi lain, Djiwa ikut tersenyum. Namun senyum itu terasa dipaksakan, ia men

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 539

    Karin baru saja tiba di mansion Reinard tepat pukul enam lewat lima belas menit. Langit sudah gelap, hanya lampu-lampu taman yang menyala redup menerangi halaman luas itu. Ia berdiri seorang diri di teras, diam terlalu lama, seolah kakinya enggan melangkah masuk. Pertemuannya yang mendadak dengan Radja tadi siang masih membekas di kepalanya. Tatapan pria itu dingin, tajam, dan seakan tahu segalanya. Membuat dadanya terasa sempit. Karin melamun, menatap kosong ke depan. “Kamu dari mana?” Suara berat yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat tubuhnya tersentak. Jantungnya seolah berhenti sesaat. Ia segera menoleh. “Mas Kai?” suaranya nyaris tercekat saat mendapati Kaisar sudah berdiri di belakangnya, menatapnya lurus tanpa berkedip. “Kamu dari mana?” ulang Kaisar, kali ini dengan nada lebih rendah. Tatapannya menyelidik. Karin menelan ludahnya pelan. “Aku … aku dari rumah Bunda.” Kaisar mengernyit. “Rumah Bunda?” Langkah Kaisar mendekat perlahan, membuat Karin refleks mundur

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 538

    “Kamu operasi, ya, Mas ….” bisik Djiwa lirih dalam dekapan suaminya. Kepalanya bersandar di dada bidang Radja, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, seolah takut kehilangan. Tak ada jawaban. Djiwa perlahan mendongak, menatap wajah Radja yang tetap tenang—terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Kamu harus operasi, Mas.” “Harus?” alis Radja terangkat tipis, suaranya datar namun menyimpan arti. “Iya,” jawab Djiwa tegas, meski suaranya bergetar. “Kalau gak, aku bakal kasih tahu anak-anak kalau Daddy-nya gak mau berjuang buat hidup. Kamu egois, kamu gak mikirin aku sama anak-anak.” Sudut bibir Radja terangkat, membentuk seringai tipis yang justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Jangan senyum kayak gitu,” lanjut Djiwa, napasnya memburu. “Aku tahu aku juga pernah keras kepala waktu milih antara aku sama Sankara. Tapi makasih, karena kamu akhirnya tetep milih aku buat hidup.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Sekarang aku minta hal yang sama dari kamu,” ucap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 537

    Tubuh Karin seketika menegang. Napasnya tercekat saat bayangan itu benar-benar menjelma menjadi sosok nyata di hadapannya. Radja. Berdiri tegak beberapa meter di belakangnya, dengan tatapan lurus—dingin, tajam, dan penuh tekanan. Tak ada senyum. Tak ada basa-basi. Hanya diam yang terasa menyesakkan. Perlahan, Radja melangkah mendekat. Sepatu kulitnya beradu dengan kerikil halus di area pemakaman, menciptakan suara kecil yang justru terdengar begitu keras di telinga Karin. “Karin.” Suara itu rendah tenang tapi menusuk. Karin menelan ludahnya susah payah, berdiri perlahan dari posisi jongkoknya. “A-aku ... gak nyangka kamu ada di sini, Mas,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. Meski suaranya sedikit bergetar. “Kamu ngapain di sini? Melayat kuburan siapa?” Radja berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat. Tatapannya turun sebentar ke nisan di hadapan mereka, lalu kembali naik menatap wajah Karin. “Apa yang membuatmu melakukan hal sejauh ini?” Angin sore berhembus pelan, menggerak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 536

    “Daddy kapan pulang dari sini?” tanya Ratu malam itu, suaranya lembut namun penuh harap. Radja menghela napas pelan, jemarinya terulur mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang. “Belum tahu, Nak. Nanti kalau dokter sudah izinkan, Daddy langsung pulang, ya.” “Tapi ... kenapa nanya begitu?” lanjutnya, sedikit memiringkan kepala. “Ratu tidak suka rumah sakit, hm?” Ratu menggeleng pelan. “Bukan … tapi Ratu gak suka lihat Daddy sakit.” Kalimat sederhana itu membuat dada Radja terasa sesak. “Padahal Daddy makan sayur sama buah, sama kayak Ratu, Mas Regan, Mas Naren,” lanjut Ratu polos. “Tapi kenapa Daddy sakit terus, kami nggak?” Radja terdiam sesaat, menahan sesuatu yang berusaha naik ke permukaan. “Sakit itu bisa datang dari banyak hal, Nak. Bukan cuma dari makanan.” “Terus Daddy sakit karena apa?” tanya Ratu lagi, matanya menatap lurus tanpa ragu. “Karena Daddy pernah kecelakaan. Kamu ingat, kan?” Bahu kecil itu langsung merosot. “Oh … iya.” “Iya,” Radja tersenyum tipis, me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 535

    “Kenapa Anda memberitahu istri saya?” tanya Radja dingin, begitu dokter selesai memeriksa kondisinya. Dokter itu tampak ragu sejenak. Ia menelan ludah, lalu menjawab hati-hati, “Saya terpaksa, Tuan. Ini demi keselamatan Anda. Saya berharap, dengan istri Anda mengetahui kondisi ini, Anda mau mempertimbangkan operasi.” Tatapan Radja mengeras. “Ini urusan saya,” ucapnya tegas. “Anda tidak perlu ikut campur.” “Justru saya harus ikut campur,” balas dokter itu, kali ini lebih mantap. “Karena ini menyangkut nyawa pasien saya.” Kedua tangan Radja mengepal di atas pangkuannya, rahangnya mengencang. Namun sebelum perdebatan itu berlanjut, pintu terbuka. Djiwa masuk. “Nyonya,” sapa dokter itu, langsung mengubah nadanya menjadi lebih ramah. “Kalau begitu, saya permisi.” Djiwa mengangguk singkat, memberi jalan. Tatapannya hanya sekilas mengikuti kepergian dokter itu, sebelum kembali beralih pada sosok di atas ranjang. Pintu tertutup. “Kamu gak seharusnya nyalahin dokter, Mas,” ucap Djiwa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 42

    “Cemburu? Gimana rasanya? Sakit, hm?” Kaisar mendekat dengan senyum miring, tatapan dinginnya menusuk. Tubuhnya menutup seluruh ruang di antara mereka, Fairish sudah terkurung di antara dada Kaisar dan dinding. Napasnya tercekat. “K-Kaisar, jangan kayak gini … nanti ada yang lihat,” bisik Fairish

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 16

    Pukul sebelas siang, Djiwa terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua jam. Ketika dia mengangkat kepalanya, lehernya seketika ngilu karena posisi tidurnya yang sambil duduk. Tangannya juga kesemutan sampai dia tak bisa menggerakannya dengan benar. “Aduh!” rintihnya pelan, sambil terus membenarkan

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 342

    “Mama tadi siang ke sini, Pa,” ujar Anggita pelan saat makan malam. Dante menghentikan gerak sendoknya. Tatapannya beralih pada putrinya. “Ke sini?” ulangnya. “Masuk ke apartemen?” Anggita mengangguk sing

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 297

    “Ibu ….” gumam Ratu sambil mengucek matanya. Ia terbangun di atas ranjang empuk yang terasa asing—terlalu empuk, terlalu luas. Tidurnya begitu nyenyak hingga tanpa sadar pagi sudah merambat ke pukul delapan. “Aku di mana?” bisiknya bingung. Ratu buru-buru

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status