Share

BAB 219

Author: Langit Parama
last update Last Updated: 2026-02-06 01:07:19

“Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan.

Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit.

Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang punggung.

“Ada apa, Grit?” tanyanya rendah.

“Pa,” napas Inggrit tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. “Mas Radja, selama ini dia selingkuh dari Inggrit, Pa.”

“Mas Radja ceraiin Inggrit bukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (23)
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
iy kan udh janji kl cerita Candu dekapan kakak ipar masuk beranda terpanas up chapternya banyakan... semangat kaka author... ...
goodnovel comment avatar
Null_null
Ditunggu 4 bab nya kak langit
goodnovel comment avatar
Langit Parama
Besok 4 bab, yuk kencengin vote gemnya...️
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 293

    “Cie … Daddy sama Ibu—eh, sama Mommy so sweet,” goda Ratu riang dari dalam gendongan Djiwa, matanya berbinar menatap Radja yang barusan mengecup kening ibunya. Djiwa terperanjat. Matanya membulat, napasnya tertahan. Sementara Radja sudah menarik diri, memasang senyum tipis—tenang, seolah apa yang barusan terjadi hal paling wajar di dunia. “Mommy udah sadar, kan, kalau itu Daddy?” seru Ratu antusias. “Ini Daddy, Bu. Daddy udah pulang dari kerja jauh.” “Iya, sayang,” Radja menimpali lembut sambil mengusap puncak kepala putrinya. “Mommy kamu cuma kaget.” Tatapannya beralih pada Djiwa, suaranya tetap tenang. “Bayangkan saja, Daddy pergi kerja jauh sejak kamu masih bayi. Daddy juga salah karena tidak pernah memberi kabar. Wajar kalau Mommy kamu lupa, dan mungkin kecewa.” Bibir Ratu mencebik, lalu menatap ibunya penuh harap. “Mommy jangan marah, ya. Daddy udah minta maaf. Terus Ratu di

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 292

    “Ratu … Ratu, Ratu,” panggil Djiwa berulang kali begitu memasuki rumah sepetak itu. Suaranya menggema di ruang sempit yang menyatukan kamar, dapur, dan kamar mandi dalam satu tarikan napas kehidupan mereka. Namun rumah itu kosong. Terlalu kosong. Tak ada tawa kecil. Tak ada langkah kaki berlari. Hatinya langsung mengerat. “Jangan-jangan masih di taman,” gumamnya lirih. Tanpa sempat berganti alas kaki, Djiwa kembali melangkah cepat menuju angkringan dekat taman—tempat Ratu biasa bermain sebelum senja. Keramaian menyambutnya. Asap makanan mengepul, suara tawa bercampur musik pelan. Beberapa influencer sibuk mengarahkan kamera ke makanan, tertawa riuh, seolah dunia sedang baik-baik saja. Namun mata Djiwa hanya mencari satu hal. Ia menyapu taman dengan pandangan cemas. Empat anak kecil terlihat tertawa di ayunan. Tapi bukan Ratu. “Nggak ada,”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 291

    “Iya, Om. Adjiva,” ucap Ratu pelan, seolah takut salah. “Nama depannya sama kayak Ibu.” Radja menelan ludahnya. Suaranya keluar lirih, bergetar tanpa ia sadari. “Siapa nama ibu kamu, Nak?” “Adjiva Nadjwa.” Dunia Radja runtuh seketika. Tangannya yang semula bertengger lembut di puncak kepala Ratu perlahan turun, mengepal di samping tubuhnya. Napasnya terasa berat, dadanya seolah diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tatapan gelapnya menelisik wajah gadis kecil di hadapannya, dan di sanalah ia akhirnya melihat dengan jelas. Mata itu. Hidung kecil itu. Lengkungan senyum yang bahkan saat menangis pun masih sama. Semuanya milik Djiwa. “Di mana … Papa kamu?” tanya Radja akhirnya, suaranya berat, ragu, seolah ia berdiri di tepi jurang yang dalam dan gelap. Ratu terdiam. Bibirnya bergetar. “Papa …,” gumamnya lirih, matanya kembali berkaca-kaca. Radja menahan napas. “Kenapa, Nak?” “Kata Ibu, Papa udah meninggal,” jawab Ratu pelan, nyaris tak terdengar. “Ratu gak punya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 290

    Rokok di tangan Radja jatuh ke lantai, apinya mati terinjak tanpa sadar. Radja melepaskan kerah kemeja Sultan perlahan. Dadanya naik turun, napasnya berat, matanya memerah bukan karena marah semata—melainkan karena pengkhianatan. “Mami?” gumam Radja lirih, nyaris tak terdengar, seolah kata itu terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. “Jadi … benar, Mami juga terlibat?” Sultan menunduk lebih dalam. Bahunya mengeras, napasnya tertahan. Ia tak sanggup menatap wajah kakaknya. “Dan kamu memilih menuruti kemauan Mami,” suara Radja bergetar karena amarah yang ditahan mati-matian. “Membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah?” Kedua tangan Radja mengepal di sisi tubuhnya. Urat-urat di pelipisnya menegang. “Kenapa, Tan?” desaknya, suaranya merendah namun tajam. “Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa sampai setega itu? Saya … saya tidak pernah menyangka kamu bisa melakukan hal seperti ini.” “Saya terpaksa, Mas,” jawab Sultan akhirnya. Suaranya kecil, rapuh. “Terpaksa bagaimana?”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 289

    Mobil Radja akhirnya berhenti di depan penthouse yang lima tahun lalu ia beli—tempat yang dulu ia impikan sebagai rumah bagi dirinya, Djiwa, dan anak-anak mereka. Radja sadar, keluarganya akan terkejut jika tahu istrinya telah ditemukan setelah menghilang selama lima tahun. Karena itu, ia membawanya ke sini lebih dulu. Tempat yang masih ia anggap paling aman. “Ayo turun,” ucap Radja, tangannya sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan Djiwa. “Aku mau pulang ke rumah aku sendiri,” balas Djiwa tegas, tetap menatap lurus ke depan. Radja mengerutkan kening. “Ini rumah kamu, Djiwa.” Djiwa akhirnya menoleh, menatap mata Radja tanpa gentar. “Ini bukan rumah aku. Karena aku bukan lagi istri kamu.” Ia menarik napas dalam, menegakkan bahunya. “Kita udah pisah lima tahun, Mas. Gak ada nafkah materi, gak ada nafkah batin, gak ada kehidupan bersama. Pernikahan itu udah aku anggap gugur.” Radja hendak menyela, namun Djiwa lebih dulu melanjutkan, suaranya dingin dan terukur.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 288

    “Kamu pikir saya tidak bisa mengenali kamu,” ucap Radja sambil melangkah maju satu langkah, membuat Djiwa refleks mundur hingga punggungnya nyaris menyentuh daun pintu toilet. Pikiran Djiwa kacau. Kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban, bagaimana Radja bisa tahu? Radja berhenti tepat di hadapannya. Terlalu dekat. Tubuh besar pria itu mengurungnya, menyisakan ruang sempit yang membuat napas Djiwa semakin sesak. Djiwa menunduk, jemarinya gemetar. Ia tak sanggup menatap wajah itu. “Sudah lima tahun,” suara Radja rendah, tertahan, “Dan kamu pikir saya lupa seperti apa wajah istri saya?” Jantung Djiwa berdegup kencang, begitu keras hingga terasa menyakitkan. Lututnya melemas. “Istri saya,” lanjut Radja, suaranya bergetar namun sarat tekanan, “Perempuan yang sangat saya cintai. Mustahil saya tidak mengenalinya. Bahkan hanya dari punggungnya.” Radja mendekat setengah langkah lagi. “Ganti warna rambut. Potong pendek. Pakai topeng sekalipun,” rahang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status