Share

BAB 219

Author: Langit Parama
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-06 01:07:19

“Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan.

Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit.

Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang punggung.

“Ada apa, Grit?” tanyanya rendah.

“Pa,” napas Inggrit tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. “Mas Radja, selama ini dia selingkuh dari Inggrit, Pa.”

“Mas Radja ceraiin Inggrit bukan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (31)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
gimana Nasih kake jiwa ya
goodnovel comment avatar
Grace Luhulima Mahulete
Ceriteranya jadi muter2 aja dan semakin Ndak ada ujungnya. Mana babnya semakin pendek. Djiea jangan rapuh ah harus lawan si Kaisar dong ...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 516

    “Kamu udah gak ngajar lagi di rumah Tuan Radja, Gas?” tanya Devi pelan sore itu, suaranya terdengar hati-hati, seolah takut mengusik sesuatu yang belum benar-benar selesai. Bagas menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit merosot. “Udah. Sekitar seminggu lebih.” Ia lalu menoleh, menatap Devi dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Kamu juga, udah lama gak kelihatan berangkat ke rumah sakit.” Devi menggigit bibirnya pelan, menahan sesuatu yang ingin keluar. “Aku juga udah gak kerja di sana. Sekarang pindah ke klinik.” Ia menunduk sebentar, sebelum melanjutkan lirih. “Jam kerjanya beda. Mungkin itu sebabnya kita gak pernah ketemu lagi.” “Kenapa pindah?” tanya Bagas, kali ini lebih pelan, tapi penuh makna. Devi terdiam. Hening sejenak menggantung di antara mereka, sampai akhirnya Bagas kembali bersuara. “Karena aku, ya?” Devi menggeleng cepat, meski tatapannya masih jatuh ke lantai. “Bukan salah siapa-siapa. Memang bukan rezekinya aja.” Namun Bagas tersenyum tipis, pahit. “Kita

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 515

    Radja memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya kembali. Saat dibuka, suaranya kembali rendah—tapi tegas. “Jangan bawa-bawa Mommy dalam hal ini.” Ratu benar-benar diam sekarang. Air matanya jatuh tanpa suara. Melihat itu, tangan Radja akhirnya kembali terangkat, mengusap kepala putrinya lebih lembut. “Daddy akan carikan guru yang lebih baik,” ucapnya pelan. “Percaya sama Daddy.” Ratu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, masih terisak kecil. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka, menampilkan Djiwa yang masuk dengan langkah tergesa. Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat pemandangan di dalam. Ratu terisak di hadapan ayahnya. “Ratu …?” suara Djiwa langsung dipenuhi kecemasan. Ia bergegas menghampiri, lalu berlutut di samping putrinya. “Kamu kenapa, Nak?” Tatapannya sempat melirik Radja yang justru membalas dengan pandangan dingin. “Kamu masih sedih Daddy sakit?” tanya Djiwa lagi, mencoba lembut, seraya merangkul tubuh kecil itu. Ratu langsung memeluk ibunya erat, waja

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 514

    “Mas ….” sapa Karin pelan saat Kaisar masuk ke kamar. Senyum kecil sempat terukir di wajahnya—hangat, menunggu. Namun senyum itu perlahan memudar ketika melihat ekspresi sang suami yang datar. Terlalu datar. “Aku dari rumah Mas Radja,” ucap Kaisar tanpa basa-basi. Karin terdiam sesaat, lalu memaksakan senyum tipis. “Oh, ya? Gimana keadaannya?” tanyanya, berusaha terdengar biasa. “Kamu sempat tanya dia, ke mana dia pergi malam itu? Setelah dari rumah Mami?” Kaisar menghela napas panjang. “Belum. Dia harus istirahat.” Karin mengangguk pelan. “Oh ….” gumamnya singkat. Ada kelegaan kecil yang sempat terlintas di matanya—cepat, tapi cukup terlihat. “Tapi …,” lanjut Kaisar. Tatapannya kini lurus menembus sang istri. “Persepsi kamu kemarin ternyata keliru.” Karin sedikit terkejut. “Maksudnya?” “Mas Radja tidak melakukan itu dengan sengaja,” ucap Kaisar tenang, tapi jelas. “Bukan untuk membuat Djiwa merasa bersalah. Bukan seperti yang kamu katakan.” Mata Karin membulat. “Kamu tanya l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 513

    Kaisar mengernyit, jelas tak menyangka. “Mas … tahu kalau aku dengar itu dari istriku?” Radja menyunggingkan senyum tipis, terlalu tipis untuk disebut ramah. “Tentu saja.” Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat suasana terasa makin menekan. Sultan menatap kakaknya tanpa berkedip. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang Radja tahu. Tapi sebelum salah satu dari mereka sempat membuka suara lagi. Klek. Pintu kamar terbuka. Djiwa masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi makanan. Aroma hangat segera memenuhi ruangan, memotong ketegangan yang sejak tadi menggantung. “Mas Radja, waktunya makan siang,” ucapnya lembut. Sultan langsung bangkit dari duduknya, menangkap isyarat itu sebagai penutup pembicaraan. “Benar. Mas Radja juga harus istirahat setelah ini,” ujarnya, lalu melirik Kaisar. “Aku juga mau pulang. Kamu, Kai?” Kaisar masih diam beberapa detik. Tatapannya belum lepas dari Radja, seolah masih menyimpan pertanyaan yang belum selesai. Namun akhirnya ia

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 512

    Djiwa duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur hangat di tangannya. Uap tipis masih mengepul, menandakan makanan itu baru saja disiapkan. Sementara Radja bersandar setengah duduk, punggungnya ditopang bantal. “Pelan-pelan, ya, Mas. Masih panas,” ucap Djiwa lembut, meniup sesendok bubur sebelum menyuapkannya. Radja tidak menolak. Tidak seperti sebelumnya. Ia membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu tanpa banyak bicara. Tatapannya sesekali jatuh pada wajah istrinya—yang tampak lebih pucat dari biasanya, namun penuh perhatian. Djiwa menunduk sedikit, fokus pada setiap suapan yang ia berikan. “Jangan buru-buru,” lanjutnya pelan. “Dokter bilang, lambung kamu juga harus dijaga. Jadi makannya pelan, ya.” Radja menghela napas ringan. “Kamu ingat semua yang dokter bilang?” “Aku catat,” jawab Djiwa singkat, hampir berbisik. Ada jeda. Sendok berikutnya kembali terangkat, disuapkan dengan hati-hati. Kali ini, tanpa diminta, Radja membuka mulutnya sendiri. Sikapnya tidak lagi sekeras

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 511

    Pagi itu, setelah Regan, Naren, dan Ratu berangkat sekolah, suasana rumah terasa jauh lebih sepi. Djiwa masuk ke kamar, membawa handuk bersih dan pakaian ganti. Tatapannya langsung tertuju pada Radja yang duduk di tepi ranjang, tampak sudah lebih segar, meski jelas belum sepenuhnya pulih. “Mas, ayo mandi dulu,” ucapnya lembut. Radja mengangkat pandangannya. “Saya bisa sendiri.” Djiwa menghela napas pelan, sudah menduga jawaban itu. “Iya, bisa,” balasnya santai. “Tapi hari ini aku yang bantu.” Radja menatapnya datar. “Tidak perlu.” Namun Djiwa tidak membalas. Ia justru berjalan lebih dulu ke kamar mandi, menyalakan air hangat. Beberapa detik kemudian, Radja tetap masuk. Ia berdiri di bawah pancuran, mulai membuka bathrobe-nya sendiri. Dan saat itulah, pintu kamar mandi kembali terbuka. Radja menoleh. Djiwa masuk begitu saja. Tanpa ragu, tanpa izin. “Djiwa ….” panggil Radja pelan, sedikit mengernyit. Namun wanita itu sudah berdiri di hadapannya, meraih bathrobe pria itu dan me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 53

    “Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi. Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 51

    “Semalam Non Djiwa cantik bangeeettt,” puji Mbok Iyam malam itu, ketika Djiwa berada di paviliun belakang untuk menjemur kebaya dan rok batik miliknya. Djiwa tersenyum kecil mendengarnya. Setelah menggantung pakaiannya di jemuran, ia melangkah mendekati kursi santai di mana Mbok Iyam dan Mbok Ine

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 59

    Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 46

    “Mbak, seriusan Djiwa sampe pagi ini belum keluar juga?” bisik Fairish pada Inggrit pagi itu di ruang tengah saat semuanya berkumpul. Hanya para lelaki yang akan pergi bekerja hari ini. Radja, Sultan dan juga Kaisar. Inggrit dan Fairish akan mengambil cuti lagi, merasa lelah karena acara kemarin.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status