เข้าสู่ระบบ“Kenapa dia gak bales pesan aku lagi?” gumam Djiwa pelan sambil menatap layar ponselnya.
Ruang obrolan di aplikasi hijau itu masih sama, sepi. Tak ada balasan, tak ada tanda-tanda si pengirim akan muncul kembali. Dadanya terasa makin sempit. “Apa aku bilang Mas Radja aja, ya?” bisiknya ragu. “Siapa tahu Mas Radja bisa bantu lapor polisi.” Namun kalimat peringatan itu kembali terngiang di kepalanya. ‘Jangan beritahu siapa pun jika kam“Kan harus gantian. Kenapa sih nggak mau gantian?” “Tadi kamu udah empat kali, aku baru dua kali.” “Nggak! Aku cuma tiga kali. Sekarang harusnya kamu, habis itu dia!” Empat bocah yang sejak tadi menguasai ayunan mulai saling bersuara keras, nada mereka meninggi. Dorong-dorongan kecil tak terelakkan. Regantara, Narendra, dan Binar yang berniat ikut bermain mendadak berhenti beberapa langkah dari sana, ragu untuk mendekat. “Kamu udah empat kali, jangan main lagi!” bentak seorang gadis berkepang dua. Tangannya mendorong temannya sendiri hingga gadis itu jatuh terduduk di tanah. “Aw …!” keluh bocah itu, matanya langsung berkaca. “Hei.” Suara Regantara terdengar kecil, tapi nadanya tegas. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan mereka berempat. Tatapannya datar, nyaris dingin—tak sepadan dengan wajah imutnya. “Ngapain dorong orang?” tanyanya, tatapannya lurus. Ia lalu berjongkok sedikit, mengulurkan tangan mungilnya pada gadis yang jatuh. “Ayo, berdiri.” Gadis kec
“Binal, tadi kamu di kelas belajal apa?” tanya Narendra santai pada sepupunya. “Hei,” Binar langsung menegur dengan wajah merengut. “Binar. B-I-N-A-R. Binarr,” ucapnya sambil menekankan tiap huruf, memastikan Narendra bisa memahaminya. “Kan aku belum bisa ngomong ‘R’, Binal,” balas Narendra sambil nyengir usil. Binar menghentakkan kakinya ke lantai, pipinya mengembung. “Nanti aku aduin ke Mama sama Papa,” ancamnya, matanya membulat kesal. “Whooo …,” Narendra mengacungkan jempol, suaranya dibuat mengejek. “Tukang ngadu, whooo ….” “Naren.” Suara itu membuat ejekan Narendra terhenti. Regantara berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi—terlalu dewasa untuk anak seusianya. Narendra melirik sang kakak, alisnya terangkat. “Apa? Aku cuma bercanda.” “Berisik,” kata Regantara singkat. “Kalau Om Sultan dengar, kamu bisa disuntik lagi.” Tubuh Narendra refleks menegang. Suntik. Trauma lama itu masih membekas jelas di in
Keputusan Radja untuk kembali menetap di Mansion Reinard bersama kedua putranya menjadi hadiah tak terucap bagi Sekar. Bukan hanya karena putra sulungnya pulang membawa dua bayi kembar, tetapi juga karena Sultan kembali bersama istri dan anaknya. Rumah besar itu kembali hidup. Total ada tiga bayi di mansion itu sekarang. Tangisan silih berganti, langkah para Mbok tak pernah berhenti, dan tawa kecil Sekar terdengar hampir setiap waktu. Fokusnya tercurah penuh pada ketiga cucunya. Bahkan fakta bahwa salah satunya perempuan, dan lahir dari menantu yang pernah membohonginya tak lagi penting. Sekar seolah sengaja melupakan Fairish, juga segala kebohongan yang pernah terjadi. “Kan begini bagus,” puji Sekar sambil menatap ketiga bayi yang terbaring berjajar di boks khusus ruang keluarga. “Ramai. Hidup. Mansion ini akhirnya punya pewaris yang jelas.” Tangannya bergantian mengelus pipi Regantara, lalu Narendra, lalu berhenti lebih lama pada Binar. Senyumnya mengembang, penuh keba
Pupus sudah harapan dan bayangan Radja tentang hari-hari di mana ia akan merawat kedua anak mereka bersama Djiwa. Kenyataannya, kini ia berdiri sendiri menjadi ayah sekaligus ibu bagi dua bayi kecil itu. Saat ini Radja menggendong si bungsu, Narendra—bayi yang paling cengeng dibandingkan kakaknya. Baru saja diletakkan di atas ranjang, tangisnya langsung meledak, pecah dan nyaring, seolah tak mau dilepas barang sedetik pun. Berbeda dengan Regantara. Si sulung berbaring tenang di sisi lain ranjang, tubuh kecilnya sesekali menggeliat tanpa suara. Sepasang matanya yang polos menatap langit-langit kamar, diam, seolah sedang mengamati dunia dengan caranya sendiri. Radja menunduk, menempelkan bibirnya ke dahi Narendra. “Ke mana Mommy kalian, hm?” bisiknya lirih. “Kenapa dia pergi meninggalkan kita, bahkan seluruh koneksi Daddy tidak bisa menemukannya di mana pun.” Dadanya mengencang.
Djiwa. Melahirkan. Dua bayi laki-laki. Pandangan Radja mengabur. Lututnya terasa lemah, sementara dadanya seperti diremas kuat. Ia menatap dua kehidupan kecil di hadapannya, anak-anaknya dengan perasaan yang terlalu penuh untuk diberi nama. “Di mana … istri saya, Djiwa?” suaranya parau, nyaris tak terdengar. Tangis bayi masih memenuhi ruangan, menjadi satu-satunya jawaban yang menggantung. Mbok Inem dan Mbok Iyam saling pandang, seolah mencari keberanian satu sama lain sebelum kembali menatap Radja. “Hanya dua bayi ini yang dititipkan di lobi, Tuan,” ucap Mbok Iyam akhirnya, suaranya dijaga tetap pelan. “Orang yang menitipkan bilang, kami diminta mengambilnya. Tidak ada pesan lain.” Rahang Radja mengeras seketika. Otot di pelipisnya menegang. “Apa maksud kalian?” tanyanya rend
“Mas, akhirnya ASI aku keluar,” seru Fairish dengan senyum lebar. “Sayang lihat, akhirnya kamu bisa minum ASI Mama,” ucapnya lembut pada Binar yang terbaring di sisi ranjang. Pandangan Fairish lalu beralih pada botol kecil di alat pumping yang mulai terisi. Senyumnya mengembang, bercampur haru. “Memang masih sedikit,” gumamnya pelan, “Tapi gak apa-apa. Yang penting Binar bisa ngerasain ASI Mama-nya.” Sultan yang sejak tadi diam akhirnya melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia berlutut di sisi ranjang, memperhatikan posisi alat pumping yang menempel di dada Fairish. Tangannya terulur, membetulkan selang dan posisi corong agar lebih pas. “Posisinya jangan miring,” ucapnya datar namun fokus. “Nanti malah bikin gak nyaman.” Ia lalu memijat lembut area sekitar payudara, sekadar membantu aliran ASI agar lebih lancar—gerakannya hati-hati, nyaris profesional. Fai







