Masuk“Kenapa bisa kamu digugat cerai, Tan?” tanya Radja pada adiknya itu. Sultan tak menjawab, tangannya mencengkeram kuat kertas gugatan cerai di tangannya. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu pergi meninggalkan ruang tengah dengan dada yang terasa sesak. Cerai, itu sama saja dia dijauhkan dari putrinya. Usia Binar baru menginjak lima tahun, dan anak yang usianya dibawah dua belas tahun akan menjadi hak asuh ibunya jika mereka resmi bercerai. Radja kemudian menatap ibunya. “Mi?” “Mami juga tidak tahu, Radja,” Sekar menggeleng pelan. “Tapi sepertinya, Fairish tahu sesuatu.” Radja menghela napas panjang. Ketiga bocah yang tak mengerti apa-apa hanya saling pandang satu sama lain. Narendra yang biasanya cerewet dan ingin tahu memilih diam tak bertanya.
“Sudah setengah bulan, Mi. Bisa Mami ceritakan semuanya sekarang?” tanya Kaisar pelan, namun tegas. “Ceritakan apa, Kai?” Sekar mencoba terdengar tenang. “Siapa suaminya Djiwa? Kenapa rumah ini terasa sepi? Apa mereka udah gak tinggal di sini? Mas Radja dan Mbak Inggrit pindah? Mas Sultan dan Fairish juga?” pertanyaan itu keluar beruntun, seolah selama ini tertahan. Sekar menghela napas panjang. “Masih ada waktu setengah bulan lagi, Kai.” “Aku pengen tahu sekarang, Mi.” Kaisar memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut. “Semakin aku gak tahu, semakin sakit rasanya di sini.” Ia menunjuk pelipisnya. “Sudah Mami bilang, jangan dipaksa,” ujar Sekar cepat. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Kaisar. “Kita periksa lagi ke dokter, ya?” “Nggak,” tolak Kaisar lirih. “Aku baik-baik aja.” “Yakin?” tanya Sekar
“Kenapa kamu terus memaksa tinggal bersama kami, Grit?” suara Dante terdengar dingin, nyaris tanpa emosi. “Kalau kamu memang butuh tempat, kamu masih punya rumah orang tuamu, kan?” “Aku akan menjualnya,” jawab Inggrit cepat. “Papa udah pindah ke luar negeri. Di sini tinggal aku sendirian.” Dante menghela napas panjang, jelas menahan kesal. “Kalau begitu ikut Papa kamu saja ke sana.” “Aku masih cinta tanah air ini,” bantah Inggrit tegas. “Dan aku gak mau tinggal di sana. Tolonglah, Dante. Aku cuma mau tinggal dengan anakku, satu-satunya yang aku punya.” Dante menoleh tajam. “Apa kamu tidak punya rasa malu? Kalau kamu tinggal dengan Anggita, itu berarti kamu juga tinggal denganku.” “Aku tidak peduli,” balas Inggrit tanpa ragu. “Yang penting aku bersama Anggita.” Hening jatuh di antara mereka. Dante memalingkan wajah, menatap kosong
Sampai detik ini, satu minggu penuh pencarian, Sultan tetap tak berhasil menemukan jejak Fairish dan Binar. CCTV mall yang hari itu mereka datangi masih belum bisa diakses dengan alasan prosedur dan investigasi internal. Sultan berdiri di sisi jendela kamarnya. Tatapannya lurus menembus kaca, mengarah pada gerbang tinggi mansion. Setiap kali terdengar suara kendaraan melintas, dadanya berdebar—berharap itu mobil yang membawa istri dan anaknya pulang. “Ke mana kalian?” gumamnya lirih. “Atau jangan-jangan ….” “Sultan.” Suara Sekar terdengar dari ambang pintu. Sultan menoleh perlahan. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, terlalu lelah untuk menunjukkan apa pun. “Ada apa, Mi?” tanyanya singkat. Sekar melangkah masuk. “Ke mana istri dan anakmu? Kenapa Fairish dan Binar benar-benar tidak ada kabar? Mami sudah menghubungi Linda, tapi dia juga tidak tahu Fairish di mana.” Rahang Sultan mengeras. “Mami memberitahu Mama Linda soal hilangnya mereka?” “Iya.” “Bagaimana kala
Sekar mendengus kesal ketika panggilan itu terputus sepihak oleh putra sulungnya. “Bagaimana caranya aku menyampaikan ini pada Kaisar?” gumamnya lirih. Kedua tangannya meremas ponsel erat-erat, seolah benda itu ikut bersalah atas kebuntuan yang ia hadapi. “Djiwa gak bisa ke sini?” Sekar tersentak. Ia berbalik cepat dan mendapati Kaisar berdiri di ambang pintu kamarnya. Wajah putra bungsunya tampak pucat, matanya menatap lurus—terlalu jernih untuk seseorang yang kehilangan sebagian ingatan. “Kai …,” Sekar segera mendekat. “Kenapa kamu ke sini, Nak? Kamu seharusnya istirahat.” “Aku bosan di kamar, Mi.” Sekar menghela napas panjang, mencoba tersenyum. “Ya sudah. Oh iya, Djiwa dan suaminya sedang liburan. Anak-anaknya lagi tidak sekolah, jadi mereka pergi untuk quality time.” Kaisar menelan ludah, dadanya terasa mengencang tanpa alasan yang ia pahami. “Yang lain ke mana? Kenapa rumah sepi?” “Yang lain?” Sekar mengulang, meski ia tahu arah pertanyaan itu. “Hm.” Kaisar m
“Gantian ya, sayang. Mami sama Daddy dulu,” ucap Djiwa lembut pada Ratu yang baru saja turun dari pangkuan sang ayah. “Oke, Mommy. Nanti gantian lagi, ya. Ratu mau main dulu sama Mas Regan dan Mas Naren,” katanya ceria. Gadis kecil itu berlari ke taman belakang, bola kecil sudah lebih dulu ia tendang, tawanya pecah bersama kedua kakaknya. Djiwa menatap punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu kaca. Senyum tipis terukir di bibirnya sebelum ia berbalik dan melangkah mendekati Radja yang duduk santai bersandar di sofa panjang. Tanpa banyak kata, Djiwa naik ke pangkuan sang suami. Kedua lengannya melingkar di leher Radja, wajahnya mendekat, seolah mencari tempat paling nyaman. Radja refleks merangkul pinggang ramping istrinya. Ibu jarinya mengusap pelan punggung Djiwa. “Tumben manja,” godanya pelan, senyum tipis menggantung di wajahnya. Djiwa mendengus kecil, bibirnya nyaris menyentuh telinga Radja. “Kenapa? Gak boleh?” “Boleh.” Radja mencondongkan wajahnya, men
“Udah mendingan, Mas?” tanya Djiwa pelan pada Radja yang tengah fokus mengemudi di sebelah kanannya. Tatapan pria itu lurus ke jalan raya. Satu tangannya mantap di setir, sementara tangan lainnya menggenggam tangan kanan Djiwa dengan lembut. Jempolnya mengusap punggung tangan wanita itu perlaha
“Mbak Inggrit, ada apa?” tanya Djiwa sambil mengusap lengannya yang masih terasa sakit usai ditarik paksa Inggrit sebelumnya. “Aku mau tanya sama kamu, harus jawab dengan jujur,” ucap Inggrit dengan nada dingin, tatapannya menusuk. Djiwa mengernyit. “Tanya apa, Mbak?” Inggrit melirik sekitar,
Mbok Iyam menghela napas berat sambil membereskan meja makan di dapur kotor. Setelah itu, piring-piring kotor ia serahkan pada Mbok Inem yang tengah sibuk mencuci di wastafel. “Kamu kenapa, Yam?” tanya Mbok Inem sambil melirik. Tangannya tetap bekerja, menggosok piring satu per satu. “Kamu sadar
“Sakit, Mas,” lirih Djiwa. Suaranya nyaris tak terdengar, sementara perut bagian bawahnya terasa nyeri hebat, menusuk hingga membuat tubuhnya gemetar. “Bagian mana yang sakit?” tanya Radja. Nada suaranya terdengar dingin, namun jelas terselip kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan. Djiwa tak s







