로그인Radja membeku. “Semalam dia datang sendiri ke sana?” Sankara mengangguk. “Saat itu hujan sangat deras. Kondisinya basah kuyup dan ... terlihat sangat terpukul.” Tatapan Sankara menurun sejenak, seolah kembali mengingat keadaan Ratu semalam. “Saya membawanya masuk, memintanya beristirahat, lalu ... dia memutuskan menginap.” Rahang Radja perlahan mengeras. Meski rasa lega mulai memenuhi dadanya karena mengetahui putrinya selamat, tetap saja ada bagian dalam dirinya yang dipenuhi tanda tanya. “Kenapa ... kamu tidak memberi tahu saya semalam?” Suara Radja terdengar lebih berat dari sebelumnya. “Saya minta maaf, Om.” Sankara menundukkan kepala sesaat. “Awalnya saya memang berniat menghubungi Om.” “Tetapi …,” ia mengangkat kembali pandangannya. “Rana memohon kepada saya agar tidak memberi tahu siapa pun tentang keberadaannya. Dia meminta waktu untuk menenangkan pikirannya.” “Saya berada di posisi yang sulit. Saya tidak ingin mengkhianati kepercayaannya. Namun di sisi lain, saya jug
Pagi itu, suasana ruang rawat inap terasa begitu sunyi. Sarapan yang disediakan rumah sakit masih tersaji utuh di atas meja. Begitu pula segelas air putih dan obat-obatan yang seharusnya sudah diminum sejak satu jam lalu. Di sisi ranjang, Radja duduk sambil memegang semangkuk bubur hangat. Tatapannya tak pernah lepas dari sang istri yang sejak semalam hanya memandangi jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Wajah Djiwa tampak pucat. Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. “Djiwa ...,” panggil Radja lembut. Ia menyendok sedikit bubur, lalu mengarahkannya perlahan ke bibir sang istri. “Sayang ... makan dulu, ya.” Tak ada respons. Djiwa hanya menggeleng pelan. “Ratu, Mas ....” Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Radja menahan napas panjang, dadanya terasa sesak melihat kondisi istrinya. “Regan dan Naren sedang mengumpulkan rekaman CCTV.” Nada bicaranya tetap tenang meski hatinya sendiri dipenuhi kecemasan. “Polisi juga sudah membantu pencarian.” Ia menggenggam pelan
Pagi itu, sinar matahari yang menyelinap melalui celah gorden perlahan membangunkan Ratu dari tidurnya. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sempurna. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang asing baginya. Baru kemudian ingatannya kembali pada kejadian semalam. Ia berada di apartemen Sankara. Ratu menghembuskan napas panjang. Semalam ia sempat mengira dirinya tak akan bisa memejamkan mata. Terlalu banyak hal yang memenuhi pikirannya, terlalu banyak ucapan yang terus berputar di kepalanya hingga membuat dadanya sesak. Namun entah sejak kapan ia benar-benar tertidur. Mungkin karena tubuhnya memang terlalu lelah. Atau mungkin karena aroma khas kamar itu—aroma maskulin yang begitu identik dengan Sankara, secara perlahan berhasil menenangkan pikirannya. Wangi parfum, kayu, dan sedikit aroma kopi yang samar masih tertinggal di ruangan itu. Aneh. Justru di tempat yang seharusnya terasa asing, Ratu bisa tidur lebih nyenyak dibandingk
Sankara menatap Ratu lekat. Keningnya berkerut tipis, sementara sorot matanya dipenuhi tanda tanya. “Kenapa?” tanyanya pelan. “Apa ... kamu sedang ada masalah dengan keluargamu?” Pertanyaan itu seolah menjadi pemicu runtuhnya pertahanan Ratu. Gadis itu segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan matanya yang kembali memanas. Namun air mata tetap menggenang di pelupuknya. Sankara menghembuskan napas perlahan. Ia melangkah mendekat, lalu mengangkat tangan kanannya. Jemarinya menyentuh dagu Ratu dengan hati-hati, mengarahkannya agar kembali menatapnya. Begitu pandangan mereka bertemu, butiran air mata langsung jatuh satu per satu membasahi pipi Ratu. “Aku ...,” napasnya tersendat. “Aku gak mau ketemu sama mereka.” Kepalanya menggeleng lemah. “Gak mau ....” Tangisnya kembali pecah. Dengan tangan yang masih bergetar, Ratu mencengkeram kedua sisi kaus yang dikenakan Sankara seolah takut pria itu akan menjauh. “Tolong …,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Biarin aku ting
Hujan justru turun semakin deras, seolah tak berniat memberi jeda sedikit pun. Suara gemuruh petir sesekali mengguncang langit malam, membuat suasana di dalam mansion Reinard terasa semakin mencekam. Djiwa berdiri di depan jendela ruang keluarga sejak beberapa menit yang lalu. Tatapannya tak pernah lepas dari gerbang utama yang terlihat samar di balik tirai hujan. Namun tak ada satu pun mobil yang memasuki halaman rumah. Tak ada sosok putrinya. Jemarinya mulai bergetar saat kembali mencoba menghubungi nomor Ratu. Nada sambung kembali terdengar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tetap tak diangkat. Panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Perlahan, bahu Djiwa merosot. Ia menggenggam ponsel itu erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Mas ...,” suaranya bergetar. “Aku takut.” Radja yang sedari tadi berdiri di sampingnya segera merangkul pundak sang istri. “Tenang.” “Bagaimana kamu bisa minta aku tenang?” Air mata Djiwa akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. “Hujan sederas ini ... Ra
Malam menyelimuti halaman belakang mansion. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya ke permukaan kolam renang yang tenang, tapi suasana di antara kedua saudara itu justru bertolak belakang. Dipenuhi ketegangan. “Apa yang ingin Mas bicarakan dengan saya?” tanya Narendra setelah mereka menjauh dari ruang makan. Regan tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menembus riak air kolam, seolah sedang menyusun kalimat yang tepat. “Siang tadi,” ucapnya akhirnya, “saya bertemu dengan Aluna.” Narendra menoleh cepat. “Siang?” Regan mengangguk singkat. Jantung Narendra berdetak sedikit lebih cepat. Siang tadi ia datang ke apartemen Aluna karena perempuan itu menelepon sambil menangis. Isaknya begitu histeris hingga membuatnya panik. Namun saat ditanya siapa yang telah menyakitinya, Aluna memilih diam. Ia hanya mengatakan bahwa seseorang telah merendahkan harga dirinya. Narendra sempat bertanya berkali-kali, tetapi Aluna tetap menolak menjelaskan. ‘Apa jangan-jangan …,’ pikiran itu langsun







