Share

Bab 104

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-04-27 13:55:26

Dinara menarik nafas panjang, mencoba menata kalimatnya agar tidak terdengar seperti sedang menghakimi. “Vin, kalau tebakanku benar... apa orangnya Julia?”

Mobil itu mendadak melambat. Arvin tidak menginjak rem dengan kasar, tapi Dinara bisa merasakan ketegangan yang merambat dari kemudi ke seluruh kabin. Senyum Arvin yang semula merekah kini membeku, berubah menjadi gurat datar yang sulit dibaca.

“Julia?” Arvin mengulang nama itu.

“Iya,” lanjut Dinara, merasa yakin dengan analisanya. “Dia lebi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 154

    “Dinara...” panggil Bastian lembut.Dinara sedikit tersentak, lalu menoleh. Sepasang matanya yang indah masih menyiratkan sisa-sisa kesedihan yang mendalam, membuat Bastian kembali iba.“Ya, Mas Bas?” Dinara menyahut.Bastian berjalan mendekat, lalu menarik sebuah kursi kayu berkaki pendek dan duduk dengan jarak yang aman, menjaga batas kesopanan di antara mereka. “Saya rasa kita harus membicarakan apa yang dikatakan Pak RT tadi. Juga tentang... surat dari Pak Elang.”Mendengar nama Elang disebut, jemari Dinara yang bertautan di atas pangkuannya mendadak meremas kuat. Ada riak perih yang melintas cepat di bola matanya sebelum ia kembali menunduk, menatap jemarinya sendiri.“Maafkan saya, Mas,” lirih Dinara, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sejak tadi ia tekan. “Gara-gara ego saya yang melarikan diri ke tempat ini, Mas Bastian jadi ikut terseret masalah. Sampai-sampai... Pak RT dan warga salah paham, memaksa Mas Bastian untuk bertanggung jawab atas saya.”Bastian menggeleng

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 153

    Bastian terkesiap, seolah baru saja disengat listrik mendengar penuturan berani dari wanita di sampingnya.“Tidak bisa begitu, Dinara!” sergah Bastian cepat dengan nafas tertahan. Kepalanya menggeleng samar, mencoba menolak ide yang baru saja meluncur dari mulut Dinara.Bagaimana mungkin? Wanita ini adalah istri dari Elang Adikara, pria yang paling ia hormati dan jaga di dunia ini. Meski selembar kertas cerai itu kini ada di depan mata mereka, Bastian menolak keras untuk melangkahi batas suci tersebut.Namun, Pak RT justru memandang Dinara dengan sorot mata yang jauh lebih melunak setelah membaca lembaran dokumen resmi di tangannya. Beliau mengangguk-angguk paham, lalu menoleh ke arah Bastian, memberikan pembelaan yang sama sekali tidak Bastian duga.“Ini keputusan yang baik untuk bersama, Bas. Apalagi status Mbak Dinara sudah jelas nanti setelah melahirkan,” ujar Pak RT dengan nada memfinalisasi keadaan. Menurut pandangan orang tua seperti beliau, ini adalah jalan keluar paling ter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 152

    Bastian menatap Dinara dengan tatapan penuh rasa bersalah yang mendalam. Ia menghela nafas sebelum menghampiri Dinara.“Maafkan saya, Dinara... saya tidak bermaksud menyembunyikannya darimu...”Isakan Dinara akhirnya pecah menjadi tangisan yang begitu memilukan. Ia meremas kertas cerai itu di dadanya, menangisi takdir cintanya yang berakhir setragis ini. Melihat kehancuran Dinara, Bastian merasa hatinya ikut tercabik. Pria itu tampak bingung harus melakukan apa, hingga akhirnya akal sehatnya kalah oleh rasa iba dan dorongan protektif yang besar.Bastian mendekati Dinara dengan sedikit ragu, ia meraih bahu ringkih Dinara lalu menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang erat. Di dalam keheningan rumah yang berpadu dengan suara tangis Dinara yang memilukan, Bastian memejamkan mata rapat-rapat.Namun, kehangatan yang getir itu tidak berlangsung lama.“Bastian! Ada apa dengan kalian?!”Suara Pak RT bergaung lantang dari pintu yang terbuka, diiringi oleh kasak-kusuk riuh dari beberapa warga

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 151

    Waktu bergulir dengan cepat. Sudah masuk tiga bulan lamanya Dinara menjalani kehidupan baru di dusun nelayan Pantura ini, dan selama itu pula, Elang Adikara benar-benar seolah lenyap dari buminya. Bastian sempat kembali ke Jakarta untuk mengurus beberapa hal termasuk menyerahkan kotak titipan Dinara untuk Elang Adikara namun setelah itu, dunia kota yang sibuk seakan tertutup rapat bagi Dinara.Rutinitas harian menjadi satu-satunya pelarian Dinara agar tidak gila karena rindu dan ketidakpastian. Setiap pagi, dengan perutnya yang kini sudah makin membuncit memasuki usia kehamilan tiga bulan, Dinara memaksakan diri untuk bergerak. Membereskan rumah sederhana milik Bastian, menyapu halaman, lalu berjalan perlahan menuju pasar dekat dermaga untuk membeli ikan segar tangkapan nelayan, sebelum akhirnya pulang untuk memasak.Namun, sekadar berjalan ke pasar pun kini terasa berat bagi Dinara. Dusun yang awalnya terasa damai, perlahan mulai terasa dingin. Kehadiran seorang wanita asing yang seda

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 150

    “Maksud Pak Bas, saya bisa tinggal di sini sementara waktu?” tanya Dinara memastikan lagi. Bastian mengangguk, sambil membawa tas milik Dinara. “Iya, Mbak. Bukan hanya sementara, tapi terserah Mbak Dinara mau sampai kapan.” Dinara tersenyum kecil. Perasaan hangat perlahan merayap di dadanya yang selama sebulan ini terasa beku. “Terima kasih banyak, Pak.” Bastian melangkah lebih dulu, membuka pintu kayu rumah sederhana itu yang mengeluarkan bunyi derit halus. Begitu masuk, aroma kayu yang khas dan kebersihan rumah yang terawat langsung menyambut mereka. Rumah ini tidak besar, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mansion megah milik Elang Adikara di Jakarta. Namun, di mata Dinara saat ini, kesederhanaan rumah di tepi pantai ini terasa seribu kali lebih menenangkan. Tidak ada kamera wartawan, tidak ada kilatan gosip televisi, dan yang terpenting tidak ada tekanan masalah. Bastian meletakkan tas pakaian Dinara di kursi tamu yang terlihat bersih. “Rumah ini memang jarang saya t

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 149

    Untuk terakhir kalinya Julia menjenguk Dinara di kamarnya saat hendak ke kantor. Kala itu terasa sekali menjadi pelukan mereka yang terakhir kalinya.“Lo harus janji sama gue, Din...” bisik Julia parau, suaranya bergetar di dekat telinga Dinara. “Di mana pun lo berada nanti, lo harus makan yang banyak. Jangan mikirin apa-apa lagi selain kesehatan lo dan keponakan gue. Lo udah terlalu sering ngalah buat orang lain, sekarang giliran lo yang harus bahagia.”Dinara tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya mampu mempererat pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Dadanya terasa ngilu. Kehadiran Julia di rumah ini adalah satu-satunya penghibur di tengah dinginnya pengabaian Elang selama sebulan ini. Dan kini, ia juga harus merelakan satu-satunya sandaran yang ia punya itu demi menjauh sejauh-jauhnya.Perlahan, Dinara mengurai pelukan mereka. Sebuah senyuman pasrah terlihat darinya begitu menyayat hati Julia.“Makasih ya, Jule... buat se

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 52

    Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menerpa mata Dinara. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya masih sedikit berat, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan semalam.Refleks, tangan Dinara meraba dahi. Dahinya sudah dingin. Ia langsung menoleh ke arah sofa di sudut

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 18

    Terdengar suara Karin yang masih kesal sendiri. “Din, meetingnya penting banget? Apa nggak bisa digeser?” “Mohon maaf Ibu, hanya Pak Elang saja yang bisa menggeser jadwalnya. Saya tidak berani…” “Ya, sudah!” Klik. Hubungan telepon langsung diputus Karin. Dinara tersentak sedikit, baru kali ini

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 16

    Elang menyadari tatapan Dinara. Ia pun berdiri. Mata Dinara mengikutinya.Elang terlihat kikuk, tapi ia pintar menutupinya.“Saya ada urusan di luar… kamu teruskan saja.” Dinara bingung namun ia tetap mengangguk, “Baik, Pak.”Elang pun pergi tanpa menoleh lagi pada Dinara. Meninggalkan Dinara yang

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 7

    Air masih mengalir deras, suaranya menenggelamkan dunia di luar kamar mandi.‘Belum? Yang benar saja!’ batin Dinara, nafasnya belum juga kembali teratur.Belum sempat ia mencerna apapun, Elang kembali menciumnya. Kali ini tidak tergesa. Lebih lembut, lebih dalam seolah ada sesuatu yang ingin disamp

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status