Share

Bab 12

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2025-12-19 17:08:02

‘Ah, jelas-jelas ini bukan urusanku!’ pikir Dinara cepat.

Sesaat kemudian mereka pun masuk ke dalam kamar. Masih terdengar suara manja Karin dan tawanya yang menghilang bersamaan dengan pintu tertutup.

Dinara meninggalkan hotel itu dengan perasaan yang campur aduk.

Saat tiba di salon, Julia masih dalam antrian panjang. Saat melihat Dinara masuk, ia langsung bertanya…

“Tadi ngapain sih?”

Dinara duduk di sisi Julia. Masih sedikit terkejut, tapi ia berusaha normal di depan Julia.

“Tadi gue pikir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 136

    Efek terbatuk-batuk tadi rupanya memancing rasa tidak nyaman di perut Dinara. Rasa mual yang sejak pagi ia tahan mendadak naik ke kerongkongan. Dinara refleks membekap mulutnya sendiri, wajahnya memucat seketika.“Din? Kamu kenapa? Kok mukanya pucat begitu?” tanya Julia panik melihat Dinara yang tiba-tiba tampak ingin muntah.Dinara tidak menjawab. Ia langsung bangkit dan bergegas menuju kamar mandi di dekat ruang makan. Di sana, ia memuntahkan semua makanan yang baru saja ditelannya, hingga yang tersisa hanya rasa pahit di pangkal tenggorokan.Julia yang panik menyusul sambil membawa segelas air putih hangat.“Din, kamu kenapa? Sakit?” Julia membantu Dinara berdiri dan membersihkan diri di wastafel, lalu menyodorkan gelas di tangannya. “Ini, Din, minum dulu.”Dinara meraih gelas itu dan meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali di tepi wastafel sambil menarik nafas perlahan.“Jule, aku istirahat ke kamar dulu, ya. Badan rasanya nggak enak banget,” ujar Dinara dengan nafas yang m

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 135

    “Nyonya, cream soupnya sudah siap. Saya antar ke sini atau di meja makan?” tanya pelayan rumah itu dengan sopan.Dinara menatap pelayan itu.“Tamu saya sudah sampai?” tanya Dinara.“Sudah Nyonya, sudah di kamarnya. Katanya ingin bertemu dengan Nyonya.”“Kalau gitu, supnya taruh saja di meja makan, saya makan di sana.”Dinara dengan perlahan bangkit dari ranjangnya, pelayan itu langsung sigap membantunya.Dinara menahan pelayan itu dengan satu tangannya. “Nggak apa, saya baik-baik saja. Jangan bilang Pak Elang ya... nanti dia khawatir.”Pelayan itu mengangguk sambil tetap memegangi nyonyanya. “Iya, Nyonya. Tuan belum tahu.”Dinara dibantu pelayan menuju ruang makan di atas, dan duduk di sana. Di hadapannya semangkuk chicken cream soup yang masih panas sudah tersedia. Di depannya juga tersedia semangkuk untuk tamu penting sang Nyonya.Pelayan itu meninggalkan Dinara di meja makan. Tak lama tapak kaki Julia sedang menaiki tangga terdengar. Saat Julia tiba di atas, ia melihat Dinara dan l

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 134

    Dinara perlahan menurunkan ponselnya dari telinga dengan tubuh yang mendadak kaku. Kalimat terakhir Elang terus bergaung di kepalanya, memicu tanda tanya baru yang teramat besar. Ia mendengar nama asing yang baru pertama kali disebut oleh suaminya. Nama seorang anak yang ditelantarkan oleh Karin.Dinara mengerutkan kening mendalam, bergumam lirih pada kesunyian kamar, “Siapa Denis? Sepertinya Mas Elang sangat peduli padanya...”Belum sempat otaknya merangkai jawaban atas teka-teki itu, ponsel di genggaman Dinara kembali bergetar intens. Dinara tersentak kaget, mengira itu adalah panggilan lanjutan dari Elang yang sempat terputus. Namun, nama yang tertera di layar justru membuat ketegangan di wajahnya sedikit mengendur.Julia.Tanpa membuang waktu, Dinara segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. “Halo, Jule?”“Dinara! Ya ampun, akhirnya diangkat juga,” suara cempreng nan familiar milik sahabatnya itu langsung memenuhi pendengaran Dinara, membawa sedikit rasa

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 133

    Tangan Dinara bergetar hebat saat ia membuka aplikasi surel di ponselnya. Begitu sebuah pesan baru dari Bu Reva terbuka, matanya menelisir dokumen-dokumen yang terlampir di sana. Apa yang ia lihat sekarang jauh lebih mengerikan dan parah daripada grafik penurunan pendapatan yang sempat ia intip di laptop Elang semalam.Di dalam surel itu terdapat laporan keuangan ganda, bukti transfer fiktif, serta surat perjanjian rahasia yang telah ditandatangani sepihak atas nama perusahaan Elang. Jumlah dana yang digelapkan tidak main-main, mencapai angka miliaran, dan semuanya dialirkan ke rekening luar negeri yang bermuara pada satu nama: Valerie Laurent.Bukan hanya itu, ada draf rencana pengambilalihan paksa saham perusahaan jika dalam bulan ini grafik keuntungan terus merosot. Paman Johan sengaja menyabotase operasional kantor dari dalam, memanfaatkan kepercayaan penuh yang diberikan Elang selama ini.“Bu Reva tahu ini semua dari mana?” Pikiran Dinara melayang ke sosok Iwan, asisten pribadi E

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 132

    Pagi harinya, Dinara berdiri di depan Elang, membantu suaminya itu mengenakan pakaian formalnya. Tangannya dengan telaten merapikan kerah kemeja dan memasangkan dasi pria itu.“Mas, hari ini mau ke kantor?” tanya Dinara lembut sambil mendongak menatap wajah suaminya.“Hari ini aku mau ke kantor polisi dulu, mengurus berkas Bobby dan memantau perkembangan kasus Arvin,” jawab Elang. “Setelah urusan di sana selesai, aku akan menemui Karin... membahas kelanjutan status kami.”Mendengar nama itu disebut, tangan Dinara yang sedang merapikan kerah kemeja Elang langsung menghentikan gerakannya seketika.Elang menunduk, menatap lekat istrinya yang mendadak terdiam kaku. Ia meraih jemari Dinara yang masih tertahan di atas dadanya, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keyakinan.“Aku akan menceraikan Karin. Ke depannya, hanya akan ada kita berdua, Dinara.”Dinara menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Mas, tapi dia sedang hamil anakmu...”“Kamu jangan membela dia lagi. Perbuatan dan

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 131

    Menyadari Dinara yang hanya diam dengan tatapan kosong, Elang tahu ia harus bertindak cepat sebelum pikiran buruk benar-benar menguasai pikiran istrinya. Ia berdiri, meraih kembali ponselnya, dan langsung menghubungi nomor pengacara pribadinya malam itu juga. Tidak ada waktu untuk menunggu sampai besok pagi.“Rendra, maaf menganggumu malam-malam,” ujar Elang begitu panggilan tersambung. Suaranya seketika berubah, kembali dingin dan sekeras es. “Karin baru saja melakukan inseminasi ilegal menggunakan bank spermaku di Rumah Sakit Medika tanpa izin tertulis dariku. Aku minta kamu urus ini sekarang juga. Tuntut pihak rumah sakit atas kelalaian prosedur, dan siapkan pasal pemalsuan dokumen untuk menjerat Karin. Aku mau masalah ini selesai sebelum media menciumnya.”“Baik, Pak Elang, saya akan pelajari kasusnya.” Suara di ujung telepon terdengar.“Satu lagi, Bobby Suganda ada di kantor polisi. Dia sudah...”“Iya, Pak Elang. Bastian sudah menghubungi saya soal itu,” sela Rendra pengacara pri

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 18

    Terdengar suara Karin yang masih kesal sendiri. “Din, meetingnya penting banget? Apa nggak bisa digeser?” “Mohon maaf Ibu, hanya Pak Elang saja yang bisa menggeser jadwalnya. Saya tidak berani…” “Ya, sudah!” Klik. Hubungan telepon langsung diputus Karin. Dinara tersentak sedikit, baru kali ini

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 16

    Elang menyadari tatapan Dinara. Ia pun berdiri. Mata Dinara mengikutinya.Elang terlihat kikuk, tapi ia pintar menutupinya.“Saya ada urusan di luar… kamu teruskan saja.” Dinara bingung namun ia tetap mengangguk, “Baik, Pak.”Elang pun pergi tanpa menoleh lagi pada Dinara. Meninggalkan Dinara yang

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 15

    Elang mengemudikan mobilnya, mengantar Dinara hingga sampai di kosan. Mobil itu masih parkir di depan kosan. Hingga Dinara masuk ke kamar, mobil hitam itu baru berjalan.Ia merebahkan diri perlahan di ranjangnya. Pikirannya berputar soal kepindahan Arvin, kerjaan kantor dan sikap Elang Adikara.Apa

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 14

    “Baik, Pak.”Dinara mengerjakan file demi file. Dengan Elang yang terus menatapnya. Ditatap terus menerus begitu, membuatnya tak nyaman.“Bagaimana anak baru itu?” tiba-tiba saja Elang menanyakan Arvin.Dinara menoleh, “Arvin… dia cekatan Pak, cepat belajar. Dan sekarang sudah lebih mengerti ritme

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status