LOGINKeheningan yang mencekik itu seketika hancur oleh deru napas Arga yang memburu. Matanya yang gelap menyapu setiap inci tubuh Elena, terpancing telak oleh pemandangan memabukkan di depannya. Aroma feromon bercampur keringat yang menguar di udara justru membuat akal sehat Arga nyaris putus. Sebagai sahabat baik yang selama ini selalu tulus menolong dan mencintai Elena dalam diam, ia sangat menginginkan wanita itu. Detik ini juga bahkan meski Elena selama ini belum mau menerima cintanya.Arga segera mendekat sambil menelan ludah susah payah. "El... kau baik-baik saja?" tanyanya serak, matanya tak bisa lepas dari belahan dada Elena yang terekspos."Nghh..." Elena menggeleng pelan. Wajahnya tegang pucat, tapi mati-matian ia tutupi dengan deham ragu."Iyaa... aku baik. Ohhh, itu... iya, aku lihat juga mobil Noah di depan. Tapi... ahh, entah di mana dia sekarang. Aku juga baru saja mencarinya." Lanjut Elena menjawab pertanyaan Arga tadi.Kebohongan konyol yang meluncur dari bibir basah Elen
"Nghh... Noah... sudah..." bisik Elena, terengah di sela ciuman basah yang membakar lehernya."Sebentar lagi, El..." balas Noah parau. Napas pria itu memburu kasar, menyapu kulit sensitif Elena dan membuat wanita itu nyaris melenguh pasrah.Tepat di detik yang panas dan memabukkan itu, sebuah suara kecil menyayat keheningan seperti pisau yang sedingin es."Ibu...?"Daun pintu yang semula hanya terbuka secelah, berderit pelan. Cahaya kekuningan dari lorong menyusup masuk, membelah kegelapan kamar dan menghancurkan ritme gila yang baru saja mendominasi mereka."Ah!" Elena tersentak mundur, tubuhnya membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Darah yang semula mendidih kini terasa membeku."Noah..." bisiknya ngeri. Suaranya bergetar parah, diwarnai sisa ekstasi dan kepanikan yang melumpuhkan.Mendengar panggilan panik itu, Noah melepaskan erangan tertahan. "Shit..." umpatnya pelan di pangkal tenggorokan.Dengan dada naik-turun menahan sesak, pria itu memaksa tangannya melepaska
"Aku memanjat." Jawab Noah santai.Bahkan pria itu terlihat begitu singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Tapi Elena kaget bukan main, "Apa?"Ia menatap Noah beberapa detik, berusaha memastikan dirinya tidak salah dengar.Lalu tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Elena bergegas menuju jendela yang masih terbuka beberapa sentimeter.Begitu tubuhnya sedikit condong ke luar, napasnya langsung tertahan.Di halaman rumah, sebuah tangga aluminium tergeletak miring di atas tanah. Salah satu sisinya bahkan masih menempel pada pagar. Tak jauh dari sana, Devon duduk di kursi lipat dengan kedua tangan terlipat di dada, sesekali mendongak ke arah jendela kamar Elena, jelas sedang berjaga.Tangga itulah yang rupanya sempat terjatuh hingga menimbulkan suara keras, membuat Elena panik dan memeriksa seluruh rumah beberapa saat yang lalu.Perlahan Elena menoleh kembali.Tatapannya kini dipenuhi rasa tidak percaya."Kau... gila?"Noah hanya mengusap tengkuknya pelan. Seny
"Apa maksudmu mengatakan itu?" Ulang Elena lagi.Ia menatap Noah lurus tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu merasakan dadanya semakin sesak.Noah langsung mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal. Ia baru menyadari bahwa pilihan kata-katanya barusan telah melukai Elena jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan."Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelasnya cepat. Nada suaranya dipenuhi penyesalan, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Oh?" Ucap Elena tersenyum getir."Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?" tanyanya pelan. "Kau mengatakan seolah aku melakukan semua ini demi mendapatkan pengakuan dari keluargamu."Noah spontan melangkah satu langkah lebih dekat. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasa harus melakukan apa pun demi keluargaku. Aku tidak ingin kau terbebani karena—""Aku tidak pernah berpikir ingin terlibat lagi dengan keluargamu."Elena lang
Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan
Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa
Elena tidak menjawab pertanyaan Nela, ia hanya segera menoleh ke arah para staf.“Semuanya kembali kerja,” ucapnya tenang, tegas, seolah barusan tidak terjadi apa-apa. “Pesanan belum selesai.”Suasana dapur yang sempat membeku perlahan bergerak kembali. Satu per satu staf kembali ke posisi masing-m
Yoga dan Nela terus berusaha menahan tapi Noah mendorong mereka dengan mudah. Langkahnya tidak terhentikan. Tatapannya hanya satu arah ingin memastikan siapa yang membuat semua kue ini.Di dalam sana…Seorang wanita berdiri di depan meja kerja dengan memakai apron lengkap, sarung tangan, dan masker
BRAKK!Pintu kamar Elena terbanting keras hingga menggema ke seluruh lorong mansion.Di ruang kerja, Noah langsung tersentak. Tangannya yang semula bergerak di atas laptop berhenti seketika.Alisnya mengernyit tajam.Ia bangkit cepat, melangkah ke arah jendela besar yang menghadap halaman depan.Da
Elena tidak menjawab.Ia terdiam beberapa saat, matanya turun perlahan, menghindari tatapan tajam Noah yang terus menunggu jawaban.Sorot mata Noah perlahan berubah, bukan marah apalagi emosi lebih justru merasa kecewa.“Kau lebih memilih diam?” ulangnya pelan.Ia lalu melepaskan pergelangan tangan







