MasukArga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena beberapa detik… tapi cukup lama untuk memahami bahwa ini bukan sekadar kesedihan biasa.Perlahan… tangannya pun terangkat. Ia meraih bahu Elena, menariknya mendekat tanpa banyak kata lalu memeluknya sangat erat. Menyebarkan kehangatan pada wanita yang telah ia cintai diam-diam selama ini.Elena pun akhirnya tidak menahan dirinya lagi. Tubuhnya melemah di dalam pelukan Arga. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, dan air mata yang sejak tadi ia tahan… akhirnya runtuh begitu saja.Tidak ada suara keras. Hanya tangisan yang pecah pelan… tertahan… tapi justru terasa lebih menyakitkan.Arga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Satu tangannya menahan kepala Elena agar tetap bersandar, sementara yang lain mengusap punggungnya perlahan… ritmis… menenangkan.Detik berlalu menjadi menit, Arga tetap setia tanpa bergeser sedikit pun. Sampai akhirnya… dengan suara rendahnya yang khas…“Kita akan kembali.”
Empat tahun berlalu.Waktu tidak benar-benar menyembuhkan luka…ia hanya mengajarkan seseorang untuk terus melanjutkan dunia.Di sisi lain kota, Noah berdiri tegap di pinggiran kaca perusahaan dengan tujuh belas lantai.Setelan hitam yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuhnya, rapi, mahal, tanpa satu lipatan pun. Kemeja putih di dalamnya bersih, kancing atas terbuka satu, memberi kesan santai yang justru semakin menegaskan dominasinya.Rambut hitamnya tetap tertata rapi, sedikit lebih panjang dari dulu, memberi kesan dewasa yang matang. Garis rahangnya semakin tegas, tulang pipinya lebih menonjol, dan sorot matanya…lebih gelap.Tangannya menggenggam gelas kristal. Cairan merah di dalamnya tidak tersentuh sejak lama. Tatapannya hanya lurus ke luar jendela… tapi pikirannya jauh di tempat lain.“Elena…” Nama itu keluar pelan dari bibirnya dengan suara serak dan berat. Seolah setiap hurufnya membawa beban yang tidak pernah berkurang.Sudah empat tahun ia mencari keberadaan Elena, bahkan ke
Elena lalu tersenyum miring.“Jadi dari awal… bukan karena aku ya…” Bisiknya lirih sambil menatap wajah Noah di layar televisi.“Kau memang akan tetap jadi anjing penjaga Blackwood…” Matanya perlahan mengeras.“Membela ayahmu… bahkan kalau dia kriminal biadab sekalipun.”Di layar televisi itu, Harli Blackwood berdiri dengan senyum puas yang begitu dikenalnya, seolah ingin menunjukkan keberhasilannya mengendalikan semua orang di sekitarnya.DEG.Sesuatu di dalam diri Elena runtuh sekaligus meledak bersamaan, ia sampai tak habis pikir pernah menikah dengan pria sekeji iu.BRUK!Bantal sofa melayang keras menghantam layar televisi. Suara benturannya menggema di apartemen yang sunyi.Napas Elena memburu hingga dadanya turun dengan berat. Amarah yang selama ini dipendam rapat akhirnya meluap tanpa sisa.“Aku benci kalian…” teriaknya dengan suara bergetar.Arga sampai keluar dengan panik menanyakan ada apa…namun Elena diam saja sambil berdiri dan berjalan menuju jendela besar apartemen.Pan
“Kembali ke keluarga Guzel…sama saja dengan bunuh diri.” Ucapnya setelah banyak pertimbangan.Elena pun benar-benar tidak punya arah. Tidak ada rumah, sandaran, juga tidak ada tempat untuk kembali. Noah bahkan tidak terlihat dimanapun untuk membelanya. Elena hanya bisa meratapi nasib hari itu.Selama ini ia selalu memaksa dirinya terlihat kuat. Berdiri tegak seolah semua hinaan keluarga Blackwood tidak pernah melukainya. Seolah tatapan dingin Harli tidak pernah menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.Padahal kenyataannya… ia sudah sangar lelah dan muak dengan semua permainan hidup orang-orang Blackwood.Namun hidup seolah tidak pernah memberi waktu untuk runtuh terlalu lama.Beberapa hari kemudian, setelah berpindah dari hotel murah ke apartemen sewaan kecil dengan koper seadanya, Elena akhirnya mengambil keputusan yang sejak awal ingin ia hindari yaitu menerima warisan yang ditinggalkan Miranda untuknya.Tangannya sempat gemetar ketika membuka map cokelat tua berisi dokume
Siang itu… semuanya terjadi jauh lebih cepat dari yang seharusnya.Elena bahkan masih merasa seperti berjalan di dalam kabut saat ia duduk di ruang sidang.Prosesnya… terlalu singkat.Hakim membacakan berkas.Tidak ada perdebatan panjang.Tidak ada mediasi berlarut seperti kebanyakan kasus perceraian di Indonesia.Hanya beberapa pertanyaan formal.Beberapa jawaban singkat.Dan… selesai begitu saja dalam hitungan jam.Bukan hari, minggu, apalagi bulan.Elena jelas tahu… ini tidak normal.Dan ia juga tahu alasannya ini pasti karena pengaruh seorang Harli Blackwood.Pria itu tidak hanya kaya tapi jaringannya sangat luas.Pengacara papan atas, hubungan dengan aparat, hingga “jalur cepat” administrasi yang membuat berkas mereka diproses kilat, mulai dari pendaftaran, sidang pertama yang langsung dianggap final karena kesepakatan kedua pihak, hingga penerbitan akta cerai yang diprioritaskan.Secara hukum… semuanya tetap sah.Namun cara mereka sampai ke titik itu jelas bukan jalur biasa.“Pe
Ketegangan di antara mereka terasa semakin pekat.Napas Elena mulai tak beraturan, dadanya naik turun seirama dengan kedekatan yang terlalu cepat berubah dari permainan kata menjadi pelukan intim yang meluruhkan kesadaran.Namun di tengah itu semua…Pikirannya tiba-tiba terlintas pada satu hal.Harli juga Sesil, juga semua kekacauan yang baru saja terjadi.“Elena…” suara Noah kembali rendah, tangannya masih menahan pinggangnya erat, seolah tak ingin memberinya ruang untuk kabur.Namun kali ini…Elena menahan dadanya.“Berhenti.” ucapnya tiba-tiba.Noah mengernyit, sedikit menjauh, menatapnya dengan tatapan tajam dan masih dipenuhi sisa gairah.“Kenapa?” suaranya terdengar berat, jelas belum puas.Elena menatapnya lurus.“Jawab pertanyaanku dulu.” ucapnya dingin.Seketika suasana berubah.Tidak ada lagi godaan ringan.Tidak ada lagi senyum nakal.Hanya ketegangan.“Kau yang membebaskan ayahmu?” ulang Elena, lebih pelan… tapi jauh lebih menekan.Noah terdiam beberapa detik.Tangannya pe
BRAKK!Pintu kamar Elena terbanting keras hingga menggema ke seluruh lorong mansion.Di ruang kerja, Noah langsung tersentak. Tangannya yang semula bergerak di atas laptop berhenti seketika.Alisnya mengernyit tajam.Ia bangkit cepat, melangkah ke arah jendela besar yang menghadap halaman depan.Da
Suasana ballroom itu langsung pecah.“MATIKAN ITU! MATIKAN SEKARANG!!”Harli berteriak histeris, suaranya serak penuh amarah dan rasa malu yang tak terbendung. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menegang jelas.Para pengawalnya langsung bergerak panik, berusaha menerobos ke arah kontrol layar.
Elena tidak menjawab.Ia terdiam beberapa saat, matanya turun perlahan, menghindari tatapan tajam Noah yang terus menunggu jawaban.Sorot mata Noah perlahan berubah, bukan marah apalagi emosi lebih justru merasa kecewa.“Kau lebih memilih diam?” ulangnya pelan.Ia lalu melepaskan pergelangan tangan
Elena kini berdiri di depan pintu ruang operasi, tubuhnya gemetar setelah dengan gila-gilaan membawa ibunya ke rumah sakit, tangannya saling mencengkeram tanpa sadar, bekas darah ibunya bahkan menempel di seluruh pakaian juga tangannya tapi ia tidak peduli.Akhirnya setelah beberapa, dokter yang me







