Share

Bab 20

Penulis: Phoenixclaa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-16 23:13:07
“Kau gemetar,” bisik Noah tiba-tiba, nadanya seperti mengejek sekaligus… menikmati.

Elena menahan diri beberapa detik sebelum mendongak, menatapnya lurus.

“Noah,” ucapnya rendah. “Kau harus menjelaskan semuanya pada pelayan itu. Dia pasti akan bicara pada ayahmu. Aku tidak mau pernikahanku rusak karena ulahmu.”

“Bagus kalau begitu,” jawab Noah ringan.

Ia mendekat. Ujung jarinya menyentuh anak rambut Elena, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan lembut yang membuat Elena justru merindi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 136 (Hampir saja)

    Yoga dan Nela terus berusaha menahan tapi Noah mendorong mereka dengan mudah. Langkahnya tidak terhentikan. Tatapannya hanya satu arah ingin memastikan siapa yang membuat semua kue ini.Di dalam sana…Seorang wanita berdiri di depan meja kerja dengan memakai apron lengkap, sarung tangan, dan masker yang menutupi setengah wajahnya.Tangannya sedang menyelesaikan plating dessert dengan gerakan yang begitu presisi…yang begitu ia kenal.Langkah Noah seketika melambat, jantungnya berdetak lebih keras.“...Elena.” panggilnya dengan suara serak yang membuat wanita itu juga beberapa staf dapur berhenti dari pekerjaan mereka.Tanpa menunggu, Noah langsung meraih tangan wanita lalu menariknya dan memeluknya erat. Satu tangannya mengelus kepala wanita itu dengan penuh rasa haru. Seolah takut kehilangan lagi. Seolah empat tahun pencarian itu akhirnya berakhir di detik ini.Namun….wanita berontak dan terus ingin melepaskan diri…“Lepaskan!” teriaknya dengan suara keras.DEGG!Tubuh Noah langsung ka

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 135 (Kedatangan Noah Ke Cafe)

    Tiga hari kemudian… Langit sore menggantung lembut di atas kota ketika mobil hitam milik Noah akhirnya berhenti tepat di depan Lexia Dessert Cafe.Devon turun lebih dulu, membuka pintu dengan sigap.Noah pun melangkah keluar dengan tenang. Jasnya rapi, aura dinginnya langsung terasa bahkan tanpa ia perlu berbicara. Tatapannya terangkat, mengamati bangunan di depannya yang tampak elegan, tenang, juga berkelas.Hanya saja, baru juga ia hendak melangkah lebih dekat….Bruk!Sebuah tubuh kecil menabraknya. Noah refleks mundur setengah langkah. Tatapannya langsung turun mengamati seorang anak perempuan kecil dengan wajah cantik, mata bulat yang tajam, juga rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari…dan seekor kucing kecil masih dalam gendongannya.Anak itu tampak kaget sesaat… lalu dengan polos langsung memeluk kaki Noah sambil berdiri.“M-maaf, Om…” ucapnya pelan, menunduk, suaranya kecil tapi jelas. “Aku tidak sengaja…”Noah menatapnya beberapa detik. Lalu alisnya terangkat tipis. A

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 134 (Cafe Lexia)

    Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena beberapa detik… tapi cukup lama untuk memahami bahwa ini bukan sekadar kesedihan biasa.Perlahan… tangannya pun terangkat. Ia meraih bahu Elena, menariknya mendekat tanpa banyak kata lalu memeluknya sangat erat. Menyebarkan kehangatan pada wanita yang telah ia cintai diam-diam selama ini.Elena pun akhirnya tidak menahan dirinya lagi. Tubuhnya melemah di dalam pelukan Arga. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, dan air mata yang sejak tadi ia tahan… akhirnya runtuh begitu saja.Tidak ada suara keras. Hanya tangisan yang pecah pelan… tertahan… tapi justru terasa lebih menyakitkan.Arga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Satu tangannya menahan kepala Elena agar tetap bersandar, sementara yang lain mengusap punggungnya perlahan… ritmis… menenangkan.Detik berlalu menjadi menit, Arga tetap setia tanpa bergeser sedikit pun. Sampai akhirnya… dengan suara rendahnya yang khas…“Kita akan kembali.”

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 133 (Hidup Setiap Orang)

    Empat tahun berlalu.Waktu tidak benar-benar menyembuhkan luka…ia hanya mengajarkan seseorang untuk terus melanjutkan dunia.Di sisi lain kota, Noah berdiri tegap di pinggiran kaca perusahaan dengan tujuh belas lantai.Setelan hitam yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuhnya, rapi, mahal, tanpa satu lipatan pun. Kemeja putih di dalamnya bersih, kancing atas terbuka satu, memberi kesan santai yang justru semakin menegaskan dominasinya.Rambut hitamnya tetap tertata rapi, sedikit lebih panjang dari dulu, memberi kesan dewasa yang matang. Garis rahangnya semakin tegas, tulang pipinya lebih menonjol, dan sorot matanya…lebih gelap.Tangannya menggenggam gelas kristal. Cairan merah di dalamnya tidak tersentuh sejak lama. Tatapannya hanya lurus ke luar jendela… tapi pikirannya jauh di tempat lain.“Elena…” Nama itu keluar pelan dari bibirnya dengan suara serak dan berat. Seolah setiap hurufnya membawa beban yang tidak pernah berkurang.Sudah empat tahun ia mencari keberadaan Elena, bahkan ke

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 132 (Keputusan Pergi)

    Elena lalu tersenyum miring.“Jadi dari awal… bukan karena aku ya…” Bisiknya lirih sambil menatap wajah Noah di layar televisi.“Kau memang akan tetap jadi anjing penjaga Blackwood…” Matanya perlahan mengeras.“Membela ayahmu… bahkan kalau dia kriminal biadab sekalipun.”Di layar televisi itu, Harli Blackwood berdiri dengan senyum puas yang begitu dikenalnya, seolah ingin menunjukkan keberhasilannya mengendalikan semua orang di sekitarnya.DEG.Sesuatu di dalam diri Elena runtuh sekaligus meledak bersamaan, ia sampai tak habis pikir pernah menikah dengan pria sekeji iu.BRUK!Bantal sofa melayang keras menghantam layar televisi. Suara benturannya menggema di apartemen yang sunyi.Napas Elena memburu hingga dadanya turun dengan berat. Amarah yang selama ini dipendam rapat akhirnya meluap tanpa sisa.“Aku benci kalian…” teriaknya dengan suara bergetar.Arga sampai keluar dengan panik menanyakan ada apa…namun Elena diam saja sambil berdiri dan berjalan menuju jendela besar apartemen.Pan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 131 (Hidup Setelah Perceraian)

    “Kembali ke keluarga Guzel…sama saja dengan bunuh diri.” Ucapnya setelah banyak pertimbangan.Elena pun benar-benar tidak punya arah. Tidak ada rumah, sandaran, juga tidak ada tempat untuk kembali. Noah bahkan tidak terlihat dimanapun untuk membelanya. Elena hanya bisa meratapi nasib hari itu.Selama ini ia selalu memaksa dirinya terlihat kuat. Berdiri tegak seolah semua hinaan keluarga Blackwood tidak pernah melukainya. Seolah tatapan dingin Harli tidak pernah menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.Padahal kenyataannya… ia sudah sangar lelah dan muak dengan semua permainan hidup orang-orang Blackwood.Namun hidup seolah tidak pernah memberi waktu untuk runtuh terlalu lama.Beberapa hari kemudian, setelah berpindah dari hotel murah ke apartemen sewaan kecil dengan koper seadanya, Elena akhirnya mengambil keputusan yang sejak awal ingin ia hindari yaitu menerima warisan yang ditinggalkan Miranda untuknya.Tangannya sempat gemetar ketika membuka map cokelat tua berisi dokume

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 90

    Noah langsung menepuk bahu Elena lembut dalam pelukannya, mencoba menenangkan. Ia merunduk sedikit, berbisik di telinga Elena, “Ayo, El… nggak enak dilihatin orang.” Nada suaranya tetap dingin dan datar namun sentuhannya begitu hangat.Elena menatap Noah sendu lalu akhirnya berdiri dengan Noah ter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 89

    Elena berjalan cepat meninggalkan ruangan itu, hampir tersandung karena langkahnya terburu-buru.Paper bag di tangannya terasa jauh lebih berat dari sekadar berisi pakaian. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat ikut terbawa bersamanya.Sementara itu, Miranda berdiri di ambang pintu, mengikuti keperg

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 88

    Di luar ruangan, Miranda berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Tumit sepatunya berdetak keras di lantai, namun langkahnya mulai goyah.Ia berhenti di dekat dinding, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.Tangannya menutup mulut, menahan perasaan yang sejak tadi menekan dadanya.Dan tiba-t

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 87

    Cahaya mobil itu akhirnya meredup sedikit dan sosok yang keluar dari balik lampu bukanlah orang asing.Melainkan Michel.Langkahnya cepat, mantap, penuh kemarahan yang memancar jelas dari sorot matanya. Rambutnya berantakan, napasnya memburu seolah bersiap menghancurkan mereka berdua.“Noah…” suara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status