Share

Bab 110

Author: Phoenixclaa
last update Last Updated: 2026-03-14 22:57:40

Di rumah sakit, Revan baru saja selesai memeriksa tekanan darah Rania ketika pintu ruang rawat terbuka keras.

Beberapa pria berpakaian hitam masuk tanpa mengetuk.

Revan langsung berdiri siaga.

“Ada apa ini?”

Namun dua pria sudah berdiri di sisi tempat tidur.

Revan menatap tajam dan mencoba menghalangi.

“Pasien ini belum boleh dipindahkan.” Ucapnya tegas.

Pria yang memimpin rombongan itu hanya menatapnya dingin.

“Perintah dari atas.”

Revan mengepalkan tangan.

“Dari siapa?”

Dua pria itu tidak men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 113

    Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang menyipit perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya.Lalu ia menghela napas kasar dengan ekspresi tidak senangnya.“Keluar.” Bentaknya tajam.Elena tertegun menunggu jawaban yang di inginkan.“Mas ku mohon jawab dulu.” Pinta Elena memelas.“Keluar dari ruang kerjaku!” bentak Harli melanjutkan.Suaranya begitu keras hingga membuat Elena refleks mundur satu langkah.Elena menelan ludah.Hanya saja, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, Harli sudah berjalan beberapa langkah mendekatinya.Tatapannya menusuk tajam.“Dan bersiaplah… tiga jam lagi.”“Kita akan mengadakan konferensi untuk klarifikasi,” lanjut Harli dengan suara dingin.Dalam sek

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 112

    Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung berubah sikap.“Michel, sayang—”Tapi Michel memotong dengan suara lebih keras.“Ibu pikir aku tidak dengar?” katanya tajam. “Ibu bilang ibu… ibu kandungnya?”Beberapa sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.Miranda jelas menyadari situasi itu berbahaya.Ia segera meraih lengan Michel.“Cukup. Ikut Ibu.”Michel sempat ingin menolak, namun Miranda menariknya dengan tegas. Elena yang tidak ingin keributan makin besar akhirnya ikut berjalan di belakang mereka.Mereka keluar dari pintu samping mansion menuju halaman depan.Udara malam terasa lebih dingin. Tidak ada wartawan, tidak ada tamu lainnya hanya lampu taman yang menyinari halaman luas itu.Begitu mereka berhenti, Miranda langsung

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 111

    Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya dengan kasar.Tarikan itu begitu kuat hingga membuat Elena tersentak.“Mas—”Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Harli sudah menyeretnya menjauh dari keramaian. Sepatu Elena hampir terseret di lantai saat pria itu membawanya ke sudut ruangan yang jauh dari sorotan kamera dan para tamu.Begitu mereka berhenti di tempat yang lebih sepi, Harli langsung berbalik menghadapnya.Tatapannya tajam.“Dari mana saja kau?” bentaknya dingin, dan penuk tekanan.Elena menatapnya, jantungnya berdetak tidak teratur.“Aku… Mas Harli, aku—”“Cukup.” Harli memotongnya dengan suara keras.Pria itu melangkah lebih dekat, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Elena. Sorot matanya dingin seperti pisau yang siap me

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 110

    Di rumah sakit, Revan baru saja selesai memeriksa tekanan darah Rania ketika pintu ruang rawat terbuka keras.Beberapa pria berpakaian hitam masuk tanpa mengetuk.Revan langsung berdiri siaga.“Ada apa ini?”Namun dua pria sudah berdiri di sisi tempat tidur.Revan menatap tajam dan mencoba menghalangi.“Pasien ini belum boleh dipindahkan.” Ucapnya tegas.Pria yang memimpin rombongan itu hanya menatapnya dingin.“Perintah dari atas.”Revan mengepalkan tangan.“Dari siapa?”Dua pria itu tidak menjawab lalu dengan terampil mengurus alat medis dan memindahkan Rania ke brankar.“HEY!” bentak Revan.Ia mencoba menghentikan mereka, tapi salah satu pria langsung menarik kerah bajunya.BUGH.Sebuah pukulan menghantam perutnya.Revan terhuyung, napasnya terputus.Namun ia tetap mencoba berdiri.“Kalian tidak bisa—”Pukulan kedua menghantam wajahnya.BRUK.Tubuhnya jatuh keras ke lantai.Di pintu, direktur rumah sakit berdiri dengan wajah pucat.“Maaf dokter… ini perintah.”Revan hanya bisa mena

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 109

    Begitu mobil Harli berhenti di depan Hotel Florist, pria itu langsung keluar tanpa menunggu sopir membuka pintu.Langkahnya panjang dan tegas menyusuri lorong hotel hingga berhenti di depan kamar 57.Tok. Tok.Beberapa detik kemudian pintu terbuka.Miranda sudah berdiri di sana dengan bikini tipis berwarna merah, rambutnya tersisir rapi, dan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.Harli langsung masuk tanpa basa-basi.Begitu pintu di tutup.Ia menatap Miranda tajam.“Apa yang kau tahu tentang Rania?”Suaranya dingin, penuh tekanan.“Dan bagaimana kau tahu aku mencarinya?”Miranda tidak terlihat terkejut sama sekali.Ia justru berjalan santai ke meja kecil di dekat jendela, lalu duduk sambil memutar cangkir teh di tangannya dengan begitu tenang.Lalu ia tersenyum tipis.“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”Harli berdiri diam menatapnya beberapa detik.Lalu ia bertanya datar sekaligus heran apa yang akan wanita ini minta.“Lalu?”Miranda bangkit dari kursinya perlahan.Ia berjalan men

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 108

    Bukannya langsung bangun atau menjauh… Noah justru kembali menjatuhkan kepalanya ke punggung Elena dengan manja.“Hmm…” gumamnya malas.Tangannya yang besar kembali melingkar erat di pinggang Elena, bahkan kali ini menarik tubuh wanita itu semakin rapat ke dadanya.“Elena…” bisiknya dengan suara serak yang menggoda.Elena langsung menegang.“Noah, lepaskan jangan begini kalau di rumah”Namun Noah malah menyela dengan nada setengah merengek.“Kau lupa… ini rumahku.”Ia menggeser wajahnya sedikit hingga hidungnya menyentuh tengkuk Elena.“Naturally… aku bisa masuk ke mana saja semauku.”Napas hangatnya menyapu kulit Elena membuat wanita itu merinding.“Noah…” bisik Elena pelan.Noah justru semakin manja. Ia mengeratkan pelukannya, dagunya bersandar di bahu Elena.“Tidurlah.” Pintanya manja.Elena mendengus kecil.“Jangan tidur disini, Noah.”Noah malah menggeleng pelan seperti anak kecil yang keras kepala.“Aku sudah lama tidak tidur nyenyak, El.” Suaranya pelan terus memohon.Tangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status