LOGINYoga dan Nela terus berusaha menahan tapi Noah mendorong mereka dengan mudah. Langkahnya tidak terhentikan. Tatapannya hanya satu arah ingin memastikan siapa yang membuat semua kue ini.Di dalam sana…Seorang wanita berdiri di depan meja kerja dengan memakai apron lengkap, sarung tangan, dan masker yang menutupi setengah wajahnya.Tangannya sedang menyelesaikan plating dessert dengan gerakan yang begitu presisi…yang begitu ia kenal.Langkah Noah seketika melambat, jantungnya berdetak lebih keras.“...Elena.” panggilnya dengan suara serak yang membuat wanita itu juga beberapa staf dapur berhenti dari pekerjaan mereka.Tanpa menunggu, Noah langsung meraih tangan wanita lalu menariknya dan memeluknya erat. Satu tangannya mengelus kepala wanita itu dengan penuh rasa haru. Seolah takut kehilangan lagi. Seolah empat tahun pencarian itu akhirnya berakhir di detik ini.Namun….wanita berontak dan terus ingin melepaskan diri…“Lepaskan!” teriaknya dengan suara keras.DEGG!Tubuh Noah langsung ka
Tiga hari kemudian… Langit sore menggantung lembut di atas kota ketika mobil hitam milik Noah akhirnya berhenti tepat di depan Lexia Dessert Cafe.Devon turun lebih dulu, membuka pintu dengan sigap.Noah pun melangkah keluar dengan tenang. Jasnya rapi, aura dinginnya langsung terasa bahkan tanpa ia perlu berbicara. Tatapannya terangkat, mengamati bangunan di depannya yang tampak elegan, tenang, juga berkelas.Hanya saja, baru juga ia hendak melangkah lebih dekat….Bruk!Sebuah tubuh kecil menabraknya. Noah refleks mundur setengah langkah. Tatapannya langsung turun mengamati seorang anak perempuan kecil dengan wajah cantik, mata bulat yang tajam, juga rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari…dan seekor kucing kecil masih dalam gendongannya.Anak itu tampak kaget sesaat… lalu dengan polos langsung memeluk kaki Noah sambil berdiri.“M-maaf, Om…” ucapnya pelan, menunduk, suaranya kecil tapi jelas. “Aku tidak sengaja…”Noah menatapnya beberapa detik. Lalu alisnya terangkat tipis. A
Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena beberapa detik… tapi cukup lama untuk memahami bahwa ini bukan sekadar kesedihan biasa.Perlahan… tangannya pun terangkat. Ia meraih bahu Elena, menariknya mendekat tanpa banyak kata lalu memeluknya sangat erat. Menyebarkan kehangatan pada wanita yang telah ia cintai diam-diam selama ini.Elena pun akhirnya tidak menahan dirinya lagi. Tubuhnya melemah di dalam pelukan Arga. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, dan air mata yang sejak tadi ia tahan… akhirnya runtuh begitu saja.Tidak ada suara keras. Hanya tangisan yang pecah pelan… tertahan… tapi justru terasa lebih menyakitkan.Arga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Satu tangannya menahan kepala Elena agar tetap bersandar, sementara yang lain mengusap punggungnya perlahan… ritmis… menenangkan.Detik berlalu menjadi menit, Arga tetap setia tanpa bergeser sedikit pun. Sampai akhirnya… dengan suara rendahnya yang khas…“Kita akan kembali.”
Empat tahun berlalu.Waktu tidak benar-benar menyembuhkan luka…ia hanya mengajarkan seseorang untuk terus melanjutkan dunia.Di sisi lain kota, Noah berdiri tegap di pinggiran kaca perusahaan dengan tujuh belas lantai.Setelan hitam yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuhnya, rapi, mahal, tanpa satu lipatan pun. Kemeja putih di dalamnya bersih, kancing atas terbuka satu, memberi kesan santai yang justru semakin menegaskan dominasinya.Rambut hitamnya tetap tertata rapi, sedikit lebih panjang dari dulu, memberi kesan dewasa yang matang. Garis rahangnya semakin tegas, tulang pipinya lebih menonjol, dan sorot matanya…lebih gelap.Tangannya menggenggam gelas kristal. Cairan merah di dalamnya tidak tersentuh sejak lama. Tatapannya hanya lurus ke luar jendela… tapi pikirannya jauh di tempat lain.“Elena…” Nama itu keluar pelan dari bibirnya dengan suara serak dan berat. Seolah setiap hurufnya membawa beban yang tidak pernah berkurang.Sudah empat tahun ia mencari keberadaan Elena, bahkan ke
Elena lalu tersenyum miring.“Jadi dari awal… bukan karena aku ya…” Bisiknya lirih sambil menatap wajah Noah di layar televisi.“Kau memang akan tetap jadi anjing penjaga Blackwood…” Matanya perlahan mengeras.“Membela ayahmu… bahkan kalau dia kriminal biadab sekalipun.”Di layar televisi itu, Harli Blackwood berdiri dengan senyum puas yang begitu dikenalnya, seolah ingin menunjukkan keberhasilannya mengendalikan semua orang di sekitarnya.DEG.Sesuatu di dalam diri Elena runtuh sekaligus meledak bersamaan, ia sampai tak habis pikir pernah menikah dengan pria sekeji iu.BRUK!Bantal sofa melayang keras menghantam layar televisi. Suara benturannya menggema di apartemen yang sunyi.Napas Elena memburu hingga dadanya turun dengan berat. Amarah yang selama ini dipendam rapat akhirnya meluap tanpa sisa.“Aku benci kalian…” teriaknya dengan suara bergetar.Arga sampai keluar dengan panik menanyakan ada apa…namun Elena diam saja sambil berdiri dan berjalan menuju jendela besar apartemen.Pan
“Kembali ke keluarga Guzel…sama saja dengan bunuh diri.” Ucapnya setelah banyak pertimbangan.Elena pun benar-benar tidak punya arah. Tidak ada rumah, sandaran, juga tidak ada tempat untuk kembali. Noah bahkan tidak terlihat dimanapun untuk membelanya. Elena hanya bisa meratapi nasib hari itu.Selama ini ia selalu memaksa dirinya terlihat kuat. Berdiri tegak seolah semua hinaan keluarga Blackwood tidak pernah melukainya. Seolah tatapan dingin Harli tidak pernah menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.Padahal kenyataannya… ia sudah sangar lelah dan muak dengan semua permainan hidup orang-orang Blackwood.Namun hidup seolah tidak pernah memberi waktu untuk runtuh terlalu lama.Beberapa hari kemudian, setelah berpindah dari hotel murah ke apartemen sewaan kecil dengan koper seadanya, Elena akhirnya mengambil keputusan yang sejak awal ingin ia hindari yaitu menerima warisan yang ditinggalkan Miranda untuknya.Tangannya sempat gemetar ketika membuka map cokelat tua berisi dokume
Elena berlari turun ke ruang tamu, dadanya naik turun tak beraturan karena penasaran tapi ternyata tidak ada siapapun.Hingga tiba-tiba suara langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga.Semua orang refleks menoleh, dan detik berikutnya—Waktu seolah berhenti bagi Elena.Seorang wanita berdiri di
Elena menghela napas pelan lalu menatap Noah dengan sedikit kesal.“Noah… tolong jaga pikiranmu.” Ucapnya malas.Noah mengangkat alis, jelas tidak merasa bersalah sedikit pun.“Pikiranku?” ulangnya santai.Elena tidak menjawab. Ia hanya turun dari ranjang dengan hati-hati, menahan rasa perih di pun
Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya
Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung be







