LOGINElena terus mengingat kejadian tadi siang, ia tidak tahu bagaimana nasibnya jika Noah tidak ada. Tanpa sadar ia tersenyum mengingat kepedulian Noah sambil mengoleskan salep di pergelangan kakinya yang masih memar sejak kejadian siang tadi.
Pintu kamar lalu perlahan terbuka. Elena langsung berhenti tersenyum dan bersikap biasa saja.
Harli masuk dengan langkah santai, ia sudah berganti piyama abu-abu gelap langsung menghampiri Elena tanpa bicara, lalu tangannya mengelus rambut Elena perlahan. Tapi kemudian ia menarik rambut Elena, dan memaksanya menatap langsung ke wajahnya.
“Lain kali jangan cari masalah di perusahaanku lagi,” ucapnya datar. “Kau hanya perlu patuh sekarang.”
Elena terdiam, memperhatikan garis wajah pria tua yang kini menjadi suaminya, langsung perasaan benci menyapu tengkuknya dingin.
“Nanti, kalau waktunya tepat, aku akan memberimu posisi yang layak,” lanjut Harli. “Jangan sampai orang mengira nyonya Blackwood tidak bisa apa-apa. Gunakan ijazahmu dengan baik.”
Ia melepas rambut Elena, lalu menatapnya dari atas kebawah.
“Lumayan,” lirihnya mengernyitkan alis. “Sekarang bersihkan dirimu. Kau harus melayaniku malam ini.” lanjutnya antusias.
Elena menunduk, “Aku… aku sedang mens,” jawabnya gugup.
Harli menyeringai tipis sambil melepaskan tangannya kasar. “Dasar…tidak berguna.”
Tanpa bicara lagi, ia berbaring dan memunggungi Elena, dan beberapa saat kemudian ia tertidur nyenyak.
Elena masih duduk di tempatnya. Tangannya mengepal, bahunya bergetar pelan. Kehidupan seperti ini bukanlah yang ia inginkan. Jika saja tidak terpaksa ia pasti tidak akan pernah mau menerima Harli.
Klek.
Suara pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan membuat tubuhnya menegang seketika.
Apalagi begitu melihat Noah sudah berdiri di ambang pintu memakai piyama dengan dua kancing terbuka. Rambutnya sedikit basah.Tatapannya datar, tapi membuat Elena takut kehilangan kendali.
“Kau seharusnya tidur,” ucap Noah pelan, menutup pintu tanpa suara.
“Elena menelan ludah. “Noah… ini kamar ayahmu.” bisiknya.
“Aku tahu,” jawabnya singkat sambil berjalan mendekat.
Elena refleks berdiri, dan mundur satu langkah.
“Kau tidak boleh ada di sini,” bisiknya tertekan. “Aku sekarang istri ayahmu.”
Noah berhenti tepat di depannya. Aroma wangi tubuhnya langsung menyergap indra Elena hangat, maskulin, membuat kepalanya sedikit pening.
“Kau pikir itu menghentikanku?” Noah bertanya dengan nada rendah tapi matanya begitu menggoda.
Elena menggeleng cepat. “Ayahmu ada di sini. Tolong… jangan lakukan ini.”
Alih-alih menjauh, Noah justru duduk di sisi ranjang, dan menarik Elena segera duduk di sampingnya.
Tangan Noah dengan santai mendarat di paha mulus Elena.
Elena langsung menatapnya tajam, dan tubuhnya menegang luar biasa.
“Noah…” suaranya bergetar. “Hentikan.”
“Kau gemetar,” katanya datar.
“Itu karena kau,” Elena membalas lirih.
Jari Noah bergerak sedikit meremas paha putih bersih Elena, lalu menggerakkan tangannya hingga hampir sampai ke bagian intimnya. Elena refleks menahan tangan Noah, selain merasa mantan pacarnya ini sudah kurang ajar, juga takut membangunkan Harli.
“Kau belum cukur yaa,” bisik Noah sambil tertawa kecil.
Elena memukul bahu pria itu kesal.
Tapi Noah malah dengan nakalnya langsung menghirup aroma tangannya sendiri.
“Wanginya masih sama,” ucapnya berbisik mendekat.
Wajah Elena langsung memanas. Panik dan malu bercampur jadi satu. Tanpa berpikir panjang, ia menarik tangan Noah dengan kasar, memaksanya berdiri.
“Keluar,” bisiknya tertekan.
Ia mendorong dada Noah dengan kedua tangannya, cukup keras hingga pria itu terpaksa melangkah mundur. Elena segera membuka pintu dan mendorongnya ke luar kamar.
Noah tidak melawan tapi sebelum pintu tertutup, Elena masih sempat melihat senyum menggoda Noah yang membuat wajahnya panas.
Begitu pintu tertutup. Elena langsung bersandar di balik pintu, “Sialan kau Noah.” Gerutunya.
…
Keesokan harinya, Elena sengaja turun lebih siang dari biasanya. Ia memastikan dirinya tidak akan bertemu Noah di tangga, di ruang makan, atau di mana pun. Kepalanya masih terlalu penuh untuk menghadapi pria itu lagi.
Untungnya Harli juga tidak suka dilayani jadi Elena bisa bersantai dan bisa tidur sesukanya.
Di dapur, ia bertemu Darti, kepala pelayan yang sudah puluhan tahun bekerja di mansion Blackwood.
“Darti,” sapa Elena pelan. “Tuan Harli sudah berangkat?”
“Sudah, Nyonya. Dari pagi sekali,” jawab perempuan itu ramah.
“Kalau Noah?” tanyanya lagi.
“Tuan Noah belum terlihat turun dari kamarnya Nyonya.”
Elena mengangguk pelan. "Syukurlah."
Ia tiba-tiba ingin berenang untuk membuat pikirannya tenang.
Ia pun dengan ceria segera berganti pakaian. Ia memilih baju renang satu potong berwarna peach dengan potongan punggung rendah. Bahannya membungkus tubuhnya pas, tidak berlebihan, tapi cukup menegaskan lekuk tubuhnya yang ramping dan anggun. Rambutnya ia ikat tinggi, wajahnya ia biarkan polos tanpa riasan.
Saat melangkah ke area kolam, udara disana terasa sejuk. Kolam itu sangat luas, dan airnya begitu jernih.
“Bisa-bisanya kolam secantik dan seluas ini dibiarin nganggur, orang kaya emang beda.” Ujar Elena sembari menuruni anak tangga kolam perlahan, ia sangat antusias begitu air dingin menyentuh betisnya.
Tiba-tiba…
Sesuatu melingkar di pergelangan kakinya.
“Arghhh… apa itu?” ia refleks menoleh ke bawah, jantungnya hampir meloncat keluar.
Saat ia akan naik, dari dalam air, sebuah tangan muncul, mencengkeram kakinya dengan kuat.
Lalu Noah muncul ke permukaan menarik tubuh Elena tenggelam bersamanya.
Elena terkejut, refleks mencengkeram bahu pria itu.
Di bawah permukaan air, Noah menarik paksa tubuh Elena dan memeluknya juga membelai lekuk tubuh Elena yang membuatnya berusaha melepaskan diri.
Noah sama sekali tidak peduli dengan penolakan Elena, tangannya dengan lihai bermain diantara kedua belahan Elena, dan sesekali menyeringai kecil.
"Mmmm..." Elena terus mencoba melepaskan diri dan mulai kehabisan napas.
Tiba-tiba terdengar suara Michel yang mencari Noah.
Elena segera mendorong Noah menjauh, tapi Noah justru mendekat dan mencium bibir Elena singkat.
Waktu seolah berhenti. Ia memejamkan mata keduanya seolah bisa bernapas di dalam air.
Lidah Noah bermain lembut dengan air kolam di sela-sela bibir tebal Elena.
Seketika Dada Elena terasa sesak, hingga refleks tubuhnya mendorong ke atas. Ia muncul ke permukaan sambil terengah, menarik napas kasar, rambutnya basah menempel di wajah.
Noah muncul tepat di belakangnya, satu tangannya masih berada di pinggang Elena menempel tepat ditubuhnya. Elena bisa merasakan barang pribadi Noah yang keras di bokongnya tapi ia mengabaikannya.
“Elena…kau seksi sekali. Jangan pernah berpakain seperti ini lagi.” ucap Noah mendekatkan kepalanya ke tengkuk Elena sambil mengecupnya singkat meninggalkan noda merah di bahu Elena.
Ia bisa merasakan napas hangat Noah yang menyapu seluruh tubuhnya. Jelas tubuhnya ikut menegang merasakan gairah aneh di dadanya.
Jelas ia merasa takut, risih, dan tidak suka. Tapi kendali tubuhnya tak bisa menolak jika ia juga merindukan sentuhan panas mantan pacarnya itu.
Belum sempat Elena memprotes atau menanyakan apa yang Noah lakukan, tiba-tiba…
“NOAH?”
Suara itu membuat segalanya berubah. Michel sudah berdiri di tepi kolam.
Noah langsung melepaskan pegangan tangannya seolah tidak pernah menyentuh Elena sama sekali. Ekspresinya kembali datar dan dingin seperti biasa.
“Aku kira kau sudah berangkat,” ujar Michel, nadanya ringan tapi matanya mengamati Elena yang masih menstabilkan napasnya di dalam kolam.
Noah mengangkat bahu santai. “Baru selesai berenang.”
Tanpa melihat Elena lagi, ia naik ke tepi kolam, mengambil handuk, lalu berjalan menjauh begitu saja dengan Michel.
Elena tersenyum kecut, “Sadar Elena, dia sekarang anak tirimu, dia pasti hanya mengujimu.” batinnya menyadarkan diri.
“Kau bisa diandalkan juga, Elena,” ujar Harli ringan sambil menyendok sedikit daging ke mulutnya.Matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji rapi di atas meja, ada ayam panggang rosemary dengan saus krim jamur, udang tiger saute bawang putih, sup bening consommé berkaldu jernih, serta nasi putih Jepang yang pulen.serta nasi hangat yang tampak begitu pulen.“Hmmm… rasanya lumayan,” ucap Harli tanpa sedikit pun menatap Elena yang sejak tadi berdiri di sampingnya yang setia melayani.Elena menghela napas pelan. Dadanya terasa lebih ringan setelah menunggu komentar suaminya itu.“Terima kasih, Tuan,” jawab Elena sambil tersenyum lega.Tapi senyuman Elena langsung menghilang ketika Harli tiba-tiba berhenti mengunyah.Jantung Elena berdetak kencang, “Apa ada yang salah, Tuan Harli?” tanya Elena meremas jari-jarinya gugup.Harli tidak menjawab sama sekali, tapi Tatapan Harli yang tajam membuat dengkul Elena lemas seketika.Tanpa peringatan, Harli tiba-tiba menarik tangan Elena hingga tu
Menjelang siang, mobil akhirnya berhenti di depan Mansion Blakwood.Begitu pintu terbuka, Harli dan Noah langsung melangkah masuk lebih dulu. Elena sempat mengernyit. Bukannya Tuan Harli bilang ada proyek penting? Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya mengikuti dari belakang.Noah justru tertawa kecil begitu masuk ke ruang tengah, menoleh pada ayahnya.“Keadaan daerah itu benar-benar buruk,” katanya santai. “Jauh dari kata layak.”Harli mengangguk setuju sambil melepas jas. “Air panasnya saja dingin. Rumahnya juga sesak. Tidak nyaman.”Ucapan itu membuat Elena menunduk, menelan perasaan tak enak. Padahal rumahnya itu, adalah rumah terbaik disana. Tapi bagi orang sekaya mereka dilihat begitu tidak layak bagaimana jika mereka melihat kost tiga kali empat tempat tinggal Elena dulu. Mungkin sudah di anggap kandang.Pantas saja, dulu saat ia pacaran dengan Noah, Noah kadang membuang muka begitu makan di pinggir jalan dengannya, tapi ia tidak pernah menyangka Noah sekasar itu menilai rumahn
“Elena.”Elena yang sekarang duduk di bangku taman mendengus pelan, tak memperhatikan. Udara malam menusuk, tapi kepalanya justru terasa panas dengan banyaknya beban pikiran.Tiba-tiba…“Hss.”“Apa ini!” Elena tersentak saat sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia refleks menoleh.“Noah?!”Noah berdiri santai di samping bangku, satu tangan menyodorkan gelas bening. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tajam mengamati Elena.“Di sini dingin,” katanya singkat. “Kenapa kamu malah di luar?”Ia meletakkan gelas berisi kopi dingin itu ke tangan Elena.Elena mendengus kasar. “Harusnya kopi panas.”“No,” balas Noah ringan. “Yang dingin lebih cocok. Bisa mendinginkan hatimu juga.”Elena mendengus lagi, kali ini diiringi senyum kecil. “Dari mana kamu dapat ini?”Noah mengangkat bahu. “Aku suruh Amara bikin. Sampai tiga kali baru pas.”Elena terkekeh pelan, senyum miring terbit di bibirnya. Hanya Noah yang beberapa kali menghiburnya meski caranya sering menyebalkan dan perkataann
“Akhirnya sampai juga,” ujar Elena pelan merenggangkan pinggangnya sebentar.Noah turun lebih dulu.Begitu kakinya menginjak halaman, jas hitamnya jatuh rapi mengikuti bahu bidangnya. Ia berhenti sejenak, lalu mengancingkan jasnya dengan santai tapi gestur sederhana itu justru menegaskan kendali dan wibawanya. Sementara jam mahal di pergelangan tangannya berkilau.“Hah…” Elena yang baru hendak turun refleks terhenti ketika tangannya tiba-tiba ditarik agak kasar.“Elena,” ucap Noah rendah, matanya tajam menyorot wajahnya.“Apa lagi?” Elena menoleh dengan tatapan kesal.Noah melirik rumah besar di hadapan mereka, lalu kembali menatap Elena dengan senyum miring.“Jadi selama ini kamu tidaklah semiskin itu.” Nadanya dingin. “Tapi kenapa hidupmu selalu bergantung pada pria?”“Lepaskan tanganmu,” balas Elena cepat sambil menarik tangannya. “Jangan sok mengerti hidupku.”Noah menyeringai tipis, lalu membiarkannya pergi.“Elena!”Tuan Guzel melangkah cepat dari pintu utama, disusul istrinya d
“Noah, kamu kok mau ikut sih?” kata Michel sambil tertawa kecil. “Ganggu ayahmu dan Elena saja.”Elena refleks mengangguk cepat, tak terima jika orang yang paling ia hindari malah ikut juga.“Iya,” sahut Elena segera. “Perjalanan ke rumahku jauh. Jalannya juga sering macet. Kamu pasti nggak nyaman.”Noah menoleh ke arahnya, menatap Elena lama sambil tersenyum lewat matanya. Elena terpaku sejenak melihat bola mata hitam pekat Noah yang begitu tajam sekaligus menawan yang kembali mengguncang perasaanya.“Aku nggak masalah,” jawab Noah singkat.Mendengar jawaban Noah yang sepertinya tidak menerima penolakan, Elena pun langsung memutar otak untuk mencegahnya ikut.Sayangnya, sebelum Elena bisa menambahkan alasan lain, Harli justru tertawa ringan sambil menepuk bahu Noah.“Kenapa tidak?” katanya santai. “Ayah malah senang. Kamu biasanya cuek, sekarang tiba-tiba punya inisiatif.” Ujar Harli senang.Elena menelan ludah, tak habis pikir dengan pikiran Noah.Michel mengangkat alis, lalu terse
Sejak kejadian di kolam, Elena terus menghindari Noah. Ia selalu menolak makan bersama dengan berbagai alasan, bahkan memutar arah setiap kali bayangan tubuh tinggi Noah muncul dari kejauhan.Tapi rumah sebesar apa pun tetap terasa sempit untuk menghindar. Setiap kali mereka tak sengaja berpapasan, Elena selalu menangkap sorot kesal di wajah Noah, sesuatu yang mungkin tak akan disadari orang lain, karena ekspresinya hampir selalu datar. Tapi bagi Elena itu hal yang mudah untuk ia tebak.Meski begitu, hal yang paling Elena takuti bukanlah membuat Noah marah padanya. Melainkan nafsu dalam dirinya sendiri.Ia takut pada rasa rindu yang diam-diam tumbuh dan perlahan menggerogoti kendalinya. Setiap hari ia berusaha menjauh, tetapi perasaaan lamanya saat jatuh cinta tak semudah itu dihapus.Tanpa sadar, Elena sering memperhatikan Noah dari kejauhan, sebuah kebiasaan yang pelan-pelan berubah menjadi candu.Dari balik jendela kamarnya, pandangannya kerap tertuju pada ruang gym pribadi keluarga







