Se connecterKepala Elena berdengung sesaat mengingat kekejaman ayahnya sendiri yang telah menyeretnya ke tempat ini.
Tapi Elena tidak punya waktu untuk mengenang, ia segera berlari cepat menuju kamar.
Tangannya gemetar saat ia sampai di kamar dan membuka lemari pakaian, ia merasa bingung harus pakai yang mana. Saat ia masih memilih baju.
PIP! PIP! PIP!
Suara keras klakson mobil dari halaman depan membuat Elena tersentak.
“Astaga…” gumamnya frustasi.
Elena memilih gaun secara acak, dan mengambil tas kecilnya lalu berlari keluar kamar. Langkahnya tergesa, napasnya memburu. Begitu ia tiba di depan mobil, pintu sudah terbuka, ia masuk dengan cepat.
Namun, belum sempat Elena duduk tegak, suara Harli langsung menghantam telinganya.
“Kenapa kamu ini kampungan sekali? Aku akan membawamu ke Mall, bukan ke pasar,” kata Harli dingin sambil menatap Elena sekilas dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Untung saja wajahmu lumayan cantik.”
Elena hanya bisa menunduk, tak berani menjawab. Tangannya mencengkeram ujung roknya erat-erat diiringi gemuruh mobil yang melaju.
Beberapa saat kemudian, begitu sampai di butik Elena berjalan di antara rak-rak gaun dengan perasaan asing. Setiap harga yang dilihatnya membuat dadanya mengencang. Tas kulit, sepatu high heels, perhiasan, semuanya terasa berlebihan.
Toko paling mahal di dunia, dan hanya bisa dimasuki oleh orang kalangan atas. Elena tidak pernah menyangka bisa masuk bahkan berbelanja di tempat ini.
Mereka tak menghabiskan banyak waktu di toko itu. Sebab, Harli harus segera tiba di kantor untuk menyambut klien besar. Sementara Elena, ia hanya bisa diam dan ikut, seperti boneka.
Begitu mereka sampai Gedung Blackwood. Elena terpukau sesaat sambil mengikuti langkah kaki suaminya, hingga suara Harli mengagetkannya.
“Tunggu di lobi,” katanya singkat. “Aku sambut klien dulu yang barusan datang. Sarah akan mengantarmu ke ruang istirahat nanti.”
Elena patuh dan langsung duduk di sofa lobi, tangannya saling menggenggam. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat dan tidak sedikit yang melirik tajam ke arahnya. Ia merasa…sangat kecil karena tatapan mereka, hingga berkali-kali melihat penampilannya sendiri.
Untungnya tak lama kemudian, Sarah muncul.
“Silakan ikut saya, Nyonya,” ucap perempuan itu dengan senyum tipis.
Elena menoleh. Perempuan bernama Sarah itu adalah sekretaris pribadi Harli. Elena sudah beberapa kali bertemu dengannya sebelum resmi menikah dengan Harli.
Sejak dulu, Elena tahu penampilan perempuan itu selalu mencolok dan seksi. Kabar burung bilang, Sarah memang memiliki hubungan gelap dengan Harli. Tapi, beberapa bilang hanya Sarah yang berusaha mengejar Harli.
Sekarang, Sarah tengah memakai gaun merah marun ketat membalut tubuh semoknya, belahan kaki tinggi memperlihatkan betis jenjang yang mulus. Rambut hitamnya disanggul tinggi dengan anting panjang berkilau. Wajahnya cantik, tapi tatapannya tajam.
“Elena saja,” koreksi Elena pelan. Ia tak biasa dipanggil seperti itu di tengah banyak orang.
“Maaf, Nyonya, tapi itu tidak sopan. Nanti Tuan Harli bisa marah pada saya,” jawab Sarah dengan sopan, senyum di wajahnya tidak pernah luntur.
“Di sini tidak ada Tuan Harli, tidak apa,” ujar Elena pelan.
Sarah hanya mengangguk, lalu berjalan lebih dulu dengan mantap.
Elena mengikuti di belakang dengan pandangan sesekali menunduk karena tatapan dari orang di sekitarnya.
“Sebenarnya, ruang istirahat sedang dipakai klien lain,” kata Sarah di tengah langkahnya. “Tapi, kami masih ada ruangan lain yang lebih nyaman dan … tenang.”
Elena berjalan agak cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Sarah, lalu berkata, “Jangan terlalu repot, saya tunggu di—”
“Tidak,” potong Sarah cepat, tapi nadanya tetap lembut. Ia berhenti di depan pintu yang ada di ujung lantai tersebut. “Sebagai istri CEO di sini, sudah sepatutnya Anda diberi fasilitas yang baik dan nyaman.”
Sarah membuka pintu itu, lalu mempersilakan Elena untuk masuk.
Melihat ruangan yang tampak gelap itu, Elena ragu sejenak. Ia menatap Sarah, ingin bertanya sesuatu, tapi belum sempat sersuara, perempuan itu telah lebih dulu mendorongnya masuk dan mengunci pintunya dari luar.
“Sarah?!” panggil Elena panik. “Sarah … tolong buka pintunya.”
Ruangan itu sempit, terasa pengap, penuh debu. Ketika Elena masuk dan pintu ditutup, lampu otomatis memang langsung menyala dan menampilkan tumpukan kardus di sudut-sudut ruangan. Tapi, cahaya lampu itu hanya bertahan sementara, hingga tiba-tiba kembali padam.
“Sarah … tolong!”
Elena terus mencoba membuka pintu itu, memukul pintu beberapa kali berharap ada yang mendengar, tapi nihil.
Napas Elena mulai memburu, dadanya naik turun cepat karena sesak, tangannya mulai bergetar. Ia mengidap Claustrophobia dan serangan panik akut sejak lama. Dan kini, sensasi trauma itu kembali muncul.
Tiba-tiba, samar Elena mendengar suara Sarah yang tertawa puas. “Elena … Elena, kau itu tidak pantas jadi Nyonya Blackwood! Sekarang, rasakan itu! Nikmati saja malam ini tidur di gudang sempit!”
Elena memukul pintu lagi, suaranya nyaris hilang, tenaganya melemah, “Tidak … jangan …”
Namun, tak ada lagi suara di luar sana.
Elena semakin merasakan sesak di dadanya. Kepalanya berputar hebat.
“Tolong … tolong … aku …”
Rasa panik semakin menyelimuti Elena. Pandangannya mulai kabur, napasnya makin pendek. Namun, di ambang kesadarannya, tiba-tiba—
BRAK!
Tendangan keras mengguncang pintu besi, membuat Elena mencoba mengambil kesadarannya lagi.
“Elena!”
Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu sengaja, ya?” Elena langsung menatap Noah tajam. “Kenapa membiarkan mereka masuk?!”Noah yang masih bersandar santai di headboard hanya memiringkan kepala sedikit sambil menatap Elena tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Mereka sudah terlanjur datang.”“Itu bukan alasan!” Bantah Elena kesal disusul dengan ia memukul dada pria itu pelan karena gemas. Namun Noah justru menangkap pergelangan tangannya lagi lalu menarik tubuh Elena mendekat tanpa kesulitan.“Elena…” suara Noah rendah. “Kau tadi memelukku sendiri.”DEGG.Wajah Elena langsung makin panas mengingat bagaimana refleksnya tadi saat Inara masuk.“A-aku cuma panik!” elaknya kesal.“Tapi aku suka.” Bisik Noah hangat.“Noah!”Pria itu tertawa pel
Noah masih menahan kedua pergelangan tangan Elena di depan tubuh wanita itu, membuat Elena sulit bergerak apalagi melarikan diri.“Noah… cukup…ada orang diluar.” napas Elena mulai tidak teratur saat pria itu kembali mendekat.Namun Noah seperti tidak mendengar. Pria itu justru menunduk perlahan, mengecup bahu Elena yang lembut dengan bibir panasnya. Sentuhan itu membuat tubuh Elena langsung menegang.“Noah, ah…” Elena refleks menghentakkan tubuhnya geli ketika Noah sengaja menggigit kecil kulit bahunya lalu meninggalkan bekas kemerahan di sana.Tatapan Noah langsung menggelap menikmati reaksi itu.“Kau terlalu sensitif…” bisiknya rendah di telinga Elena.“Noah, berhenti…” Elena mencoba menarik tangannya, namun pria itu malah makin erat menahannya.Kecupan Noah berpindah perlahan ke leher Elena. Napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita itu sebelum kembali meninggalkan jejak kemerahan lain di sana. Tangannya mengusap pinggang Elena pelan seolah menikmati setiap reaksi kecil yang
Cairan wine itu mengalir paksa melewati bibir Elena.“UGH…khh…” Elena langsung terbatuk hebat, namun Noah tidak berhenti. Tangan besarnya mencengkeram rahang Elena kuat sementara gelas kristal itu terus dimiringkan hingga tetes terakhir habis.“Noah…berhenti…!” Pekik Elena menahan bahu kekar mantan pacarnya itu. Namun pria itu justru menatap Elena tanpa berkedip. Tatapannya gelap, liar, dan penuh obsesi.Baru setelah gelas itu kosong, Noah melepaskannya perlahan.BRAK!Elena langsung mendorong dada Noah sekuat tenaga hingga pria itu sedikit mundur. Elena berdiri sempoyongan sambil memegangi lehernya yang terasa panas.“Apa…yang kau berikan padaku?” suaranya gemetar marah.Noah malah tersenyum tipis. Pria itu mendekat lagi. Jari-jarinya yang panjang menyelip lembut ke rambut Elena, membelainya penuh rasa memiliki.“Hanya sesuatu…” bisiknya rendah di dekat wajah Elena. “Untuk membuat tubuhmu jujur.”DEGGG.Elena langsung menepis tangan Noah dan berlari menuju pintu. Namun saat ia memuta
Namun tepat saat Arga tinggal beberapa langkah lagi…Noah tiba-tiba membalik tubuh Elena dengan kasar namun tetap menahan pinggangnya erat.Tubuh mereka kini berhadapan begitu dekat sampai Elena bisa merasakan napas panas pria itu menyapu wajahnya.“Noah, jangan buat masalah lagi—” Kalimat Elena terputus.Karena Noah langsung menariknya ke tembok samping lalu mengangkat salah satu kaki Elena ke pinggangnya dengan mudah. Tangan besarnya mencengkeram paha wanita itu kuat, menahannya agar tidak turun sementara tubuh Elena hampir kehilangan keseimbangan.DEGGG!“Elena…” bisiknya rendah dan serak. “Aku sudah sangat lama merindukan tubuhmu.” Ucap Noah penuh dengan napsu tak tertahankan.Elena bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras ingin menembus gaunnya, jadi ia berusaha melepaskan diri, namun mendadak…Cup.Bibir Noah menghantam bibir Elena penuh rasa lapar yang brutal. Bukan ciuman lembut… melainkan penuh obsesi, penuh amarah karena kehilangan selama empat tahun.“Elena…” gumamnya lagi d
“Noah…” Suasana masih tegang saat Arga berdiri di depan Elena, melindunginya. Namun Noah justru tersenyum miring.“Istrimu…?” ulangnya pelan.Tatapannya turun sekilas ke tangan Arga yang menggenggam Elena… lalu kembali naik. Namun anehnya, ia tidak memancing konflik berlanjutan. Sebaliknya…Noah melangkah maju lalu dengan tangan terulur menepuk bahu Arga kasar.Seketika Arga terdiam sepersekian detik… lalu—“Lama tidak bertemu, bruh.”DEGGGG!!!Elena membeku di tempatnya, dengan mata membelalak kaget.“Apa…yang baru saja terjadi?!” bisiknya bingung.Karena detik berikutnya…Keduanya malah saling menarik dan BERPELUKAN.“Masih hidup juga kau,” sahut Noah dengan tawa rendah.“Tuan Noah sepertinya kecewa yaa?” balas Arga santai.Elena benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya seperti berhenti bekerja. Tatapannya berpindah dari satu pria ke pria lain… mencoba mencerna kenyataan yang terlalu absurd.Mereka…bahkan terlihat seperti sahabat akrab…dan tepat saat itu, Elena baru menyadari. Jika d
Elena yang kini sedang berbincang ringan dengan beberapa kenalannya langsung menoleh. Matanya sedikit melebar… lalu perlahan melembut.“Nyonya Garli…”Wanita tua itu tersenyum lebar, benar-benar tulus.“Astaga, benar kamu!” Ia langsung mendekat dan meraih tangan Elena dengan hangat. “Saya tidak salah lihat.”Arga yang berdiri di samping hanya mengamati dengan tenang.“Kalian saling kenal?” tanyanya pelan.Elena mengangguk tipis. “Kami pernah bertemu… tidak sengaja.”Nyonya Garli terkekeh pelan.“Bukan sekadar bertemu. Dia menyelamatkan saya.”Arga mengangkat alis.Elena langsung terlihat sedikit canggung.“Itu hanya kebetulan…”Namun Nyonya Garli justru mulai bercerita, matanya berbinar.“Waktu itu di bandara Singapura. Saya transit… dan tiba-tiba kondisi saya kacau. Salah satu implan saya bermasalah, pecah. Saya panik, staf saya tidak sigap, dan saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana…”Elena menunduk sedikit, mengingat momen itu.“Saya hanya melihat beliau kesakitan,” ucapnya pe
Lamunan Elena terputus ketika salah satu relawan memanggilnya dari dapur umum.“Nyonya Elena! Ayo mulai memasak, semuanya sudah siap!”Elena tersentak kecil.Ia menoleh ke arah tenda dapur yang sudah dipenuhi bahan makanan, wajan besar, dan kompor lapangan. Beberapa kamera media juga sudah mulai me
Harli tidak langsung menjawab pertanyaan Elena.Sebaliknya, pria itu menatapnya beberapa detik dengan wajah dingin tanpa ekspresi.Lalu tiba-tiba tangannya terangkat.PLAK!Bukan menampar lagi, namun ia mendorong pipi Elena keras ke belakang dengan telapak tangannya.Kepala Elena langsung terhuyung
Miranda terlihat sedikit tersipu gugup.Ia segera menepuk paha Michel pelan, seolah meminta anaknya itu tidak terlalu memikirkan kata-katanya barusan.“Bukan begitu maksudku,” katanya cepat, mencoba terdengar santai.“Aku hanya tidak ingin ada masalah yang tidak perlu.”Ia lalu menoleh pada Harli d
“Noah,” suara Elena bergetar. “Jangan lakukan itu…”Namun Noah mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Robby berhenti menekan pisau itu.“Aku akan melakukannya.” Ucapnya yakin.Robby langsung menyeringai lebar.Elena langsung menatap Noah dengan mata melebar. Jantungnya berdetak tidak ka







