共有

Bab 5

作者: Phoenixclaa
last update 公開日: 2025-12-31 10:49:06

Kepala Elena berdengung sesaat mengingat kekejaman ayahnya sendiri yang telah menyeretnya ke tempat ini.

Tapi Elena tidak punya waktu untuk mengenang, ia segera berlari cepat menuju kamar.

Tangannya gemetar saat ia sampai di kamar dan membuka lemari pakaian, ia merasa bingung harus pakai yang mana. Saat ia masih memilih baju.

PIP! PIP! PIP!

Suara keras klakson mobil dari halaman depan membuat Elena tersentak.

“Astaga…” gumamnya frustasi.

Elena memilih gaun secara acak, dan mengambil tas kecilnya lalu berlari keluar kamar. Langkahnya tergesa, napasnya memburu. Begitu ia tiba di depan mobil, pintu sudah terbuka, ia masuk dengan cepat.

Namun, belum sempat Elena duduk tegak, suara Harli langsung menghantam telinganya.

“Kenapa kamu ini kampungan sekali? Aku akan membawamu ke Mall, bukan ke pasar,” kata Harli dingin sambil menatap Elena sekilas dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Untung saja wajahmu lumayan cantik.”

Elena hanya bisa menunduk, tak berani menjawab. Tangannya mencengkeram ujung roknya erat-erat diiringi gemuruh mobil yang melaju.

Beberapa saat kemudian, begitu sampai di butik Elena berjalan di antara rak-rak gaun dengan perasaan asing. Setiap harga yang dilihatnya membuat dadanya mengencang. Tas kulit, sepatu high heels, perhiasan, semuanya terasa berlebihan.

Toko paling mahal di dunia, dan hanya bisa dimasuki oleh orang kalangan atas. Elena tidak pernah menyangka bisa masuk bahkan berbelanja di tempat ini. 

Mereka tak menghabiskan banyak waktu di toko itu. Sebab, Harli harus segera tiba di kantor untuk menyambut klien besar. Sementara Elena, ia hanya bisa diam dan ikut, seperti boneka.

Begitu mereka sampai Gedung Blackwood. Elena terpukau sesaat sambil mengikuti langkah kaki suaminya, hingga suara Harli mengagetkannya.

“Tunggu di lobi,” katanya singkat. “Aku sambut klien dulu yang barusan datang. Sarah akan mengantarmu ke ruang istirahat nanti.”

Elena patuh dan langsung duduk di sofa lobi, tangannya saling menggenggam. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat dan tidak sedikit yang melirik tajam ke arahnya. Ia merasa…sangat kecil karena tatapan mereka, hingga berkali-kali melihat penampilannya sendiri.

Untungnya tak lama kemudian, Sarah muncul. 

“Silakan ikut saya, Nyonya,” ucap perempuan itu dengan senyum tipis.

Elena menoleh. Perempuan bernama Sarah itu adalah sekretaris pribadi Harli. Elena sudah beberapa kali bertemu dengannya sebelum resmi menikah dengan Harli.

Sejak dulu, Elena tahu penampilan perempuan itu selalu mencolok dan seksi. Kabar burung bilang, Sarah memang memiliki hubungan gelap dengan Harli. Tapi, beberapa bilang hanya Sarah yang berusaha mengejar Harli.

Sekarang, Sarah tengah memakai gaun merah marun ketat membalut tubuh semoknya, belahan kaki tinggi memperlihatkan betis jenjang yang mulus. Rambut hitamnya disanggul tinggi dengan anting panjang berkilau. Wajahnya cantik, tapi tatapannya tajam.

“Elena saja,” koreksi Elena pelan. Ia tak biasa dipanggil seperti itu di tengah banyak orang.

“Maaf, Nyonya, tapi itu tidak sopan. Nanti Tuan Harli bisa marah pada saya,” jawab Sarah dengan sopan, senyum di wajahnya tidak pernah luntur.

“Di sini tidak ada Tuan Harli, tidak apa,” ujar Elena pelan.

Sarah hanya mengangguk, lalu berjalan lebih dulu dengan mantap.

Elena mengikuti di belakang dengan pandangan sesekali menunduk karena tatapan dari orang di sekitarnya.

“Sebenarnya, ruang istirahat sedang dipakai klien lain,” kata Sarah di tengah langkahnya. “Tapi, kami masih ada ruangan lain yang lebih nyaman dan … tenang.”

Elena berjalan agak cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Sarah, lalu berkata, “Jangan terlalu repot, saya tunggu di—”

“Tidak,” potong Sarah cepat, tapi nadanya tetap lembut. Ia berhenti di depan pintu yang ada di ujung lantai tersebut. “Sebagai istri CEO di sini, sudah sepatutnya Anda diberi fasilitas yang baik dan nyaman.”

Sarah membuka pintu itu, lalu mempersilakan Elena untuk masuk.

Melihat ruangan yang tampak gelap itu, Elena ragu sejenak. Ia menatap Sarah, ingin bertanya sesuatu, tapi belum sempat sersuara, perempuan itu telah lebih dulu mendorongnya masuk dan mengunci pintunya dari luar.

“Sarah?!” panggil Elena panik. “Sarah … tolong buka pintunya.”

Ruangan itu sempit, terasa pengap, penuh debu. Ketika Elena masuk dan pintu ditutup, lampu otomatis memang langsung menyala dan menampilkan tumpukan kardus di sudut-sudut ruangan. Tapi, cahaya lampu itu hanya bertahan sementara, hingga tiba-tiba kembali padam.

“Sarah … tolong!”

Elena terus mencoba membuka pintu itu, memukul pintu beberapa kali berharap ada yang mendengar, tapi nihil.

Napas Elena mulai memburu, dadanya naik turun cepat karena sesak, tangannya mulai bergetar. Ia mengidap Claustrophobia dan serangan panik akut sejak lama. Dan kini, sensasi trauma itu kembali muncul.

Tiba-tiba, samar Elena mendengar suara Sarah yang tertawa puas. “Elena … Elena, kau itu tidak pantas jadi Nyonya Blackwood! Sekarang, rasakan itu! Nikmati saja malam ini tidur di gudang sempit!”

Elena memukul pintu lagi, suaranya nyaris hilang, tenaganya melemah, “Tidak … jangan …”

Namun, tak ada lagi suara di luar sana.

Elena semakin merasakan sesak di dadanya. Kepalanya berputar hebat. 

“Tolong … tolong … aku …”

Rasa panik semakin menyelimuti Elena. Pandangannya mulai kabur, napasnya makin pendek. Namun, di ambang kesadarannya, tiba-tiba—

BRAK!

Tendangan keras mengguncang pintu besi, membuat Elena mencoba mengambil kesadarannya lagi.

“Elena!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   152 (Gagal Wikwik)

    "Ibu...?"Suara kecil itu memecah keheningan kamar seperti petir di tengah malam.Daun pintu yang semula hanya terbuka sedikit kini terdorong perlahan. Cahaya redup dari lorong menyusup masuk, membelah suasana yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi gejolak emosi.Elena membeku, seluruh darah di wajahnya seakan menghilang dalam sekejap."Noah..." Bisikannya dipenuhi kepanikan.Tanpa perlu diperintah, Noah langsung melepaskan kedua tangannya dari pinggang Elena dan mundur satu langkah. Wajah pria itu yang tadi dipenuhi kerinduan kini berubah tegang.Elena buru-buru merapikan pakaian tidurnya yang berantakan. Jemarinya gemetar saat menarik kembali bahu bajunya hingga menutupi tubuhnya yang tadi terbuka. Napasnya masih memburu, membuatnya harus memejamkan mata sejenak sebelum memaksakan senyum setenang mungkin.Sedangkan Noah juga merapikan kemeja dan celananya karena barangnya sudah sangat ingin keluar tadinya."Iya, Sayang?" jawab Elena cepat menutupi Noah yang masih merapikan diri dan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   151 (Kenyotan Liar Noah)

    "Aku memanjat." Jawab Noah santai.Bahkan pria itu terlihat begitu singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Tapi Elena kaget bukan main, "Apa?"Ia menatap Noah beberapa detik, berusaha memastikan dirinya tidak salah dengar.Lalu tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Elena bergegas menuju jendela yang masih terbuka beberapa sentimeter.Begitu tubuhnya sedikit condong ke luar, napasnya langsung tertahan.Di halaman rumah, sebuah tangga aluminium tergeletak miring di atas tanah. Salah satu sisinya bahkan masih menempel pada pagar. Tak jauh dari sana, Devon duduk di kursi lipat dengan kedua tangan terlipat di dada, sesekali mendongak ke arah jendela kamar Elena, jelas sedang berjaga.Tangga itulah yang rupanya sempat terjatuh hingga menimbulkan suara keras, membuat Elena panik dan memeriksa seluruh rumah beberapa saat yang lalu.Perlahan Elena menoleh kembali.Tatapannya kini dipenuhi rasa tidak percaya."Kau... gila?"Noah hanya mengusap tengkuknya pelan. Seny

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   150 (Lidah Sumber Masalah)

    "Apa maksudmu mengatakan itu?" Ulang Elena lagi.Ia menatap Noah lurus tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu merasakan dadanya semakin sesak.Noah langsung mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal. Ia baru menyadari bahwa pilihan kata-katanya barusan telah melukai Elena jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan."Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelasnya cepat. Nada suaranya dipenuhi penyesalan, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Oh?" Ucap Elena tersenyum getir."Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?" tanyanya pelan. "Kau mengatakan seolah aku melakukan semua ini demi mendapatkan pengakuan dari keluargamu."Noah spontan melangkah satu langkah lebih dekat. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasa harus melakukan apa pun demi keluargaku. Aku tidak ingin kau terbebani karena—""Aku tidak pernah berpikir ingin terlibat lagi dengan keluargamu."Elena lang

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   149 (Salah Paham)

    Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   148 (Wanita Pecundang)

    Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 148 (Godaan Arga)

    “Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 76

    Saat Elena akhirnya memutuskan untuk jujur saja, dan mulai ingin melanjutkan ucapannya.Tiba-tiba sebuah tangan lembut namun kuat mencengkeram lengannya.“Cukup.”Suara itu datang dari Jenni, istri Robby.Meski wajah Jenni tampak garang, dengan eyeliner tebal dan raut judes, namun justru dialah yan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 73

    Bisikan Michel membekas dingin di tengkuk Elena.Namun justru karena itulah Elena menyadari, jika Michel-lah yang berusaha menjebaknya sejak awal.Elena mengerjap, lalu tanpa pikir panjang ia mengejar Michel yang baru berjalan beberapa langkah ke depat.Ia segera mendekat dan menarik tangan Michel

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 56

    Elena menutup mata, dan sudah pasrah dengan hidupnya.Namun sebelum punggungnya benar-benar menyentuh aspal…Seseorang menerjang dari arah samping dengan sangat cepat.Lengan besar dan keras mendadak melilit pinggangnya, menariknya kuat hingga tubuh mereka berdua berguling di jalan.Elena mendarat

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 55

    Elena menatap Clei beberapa detik lebih lama.Pikirannya jelas tidak lagi berada di Skyline Lounge.Lalu ia berdiri mendadak.“Astaga… aku pergi duluan ya,” ucapnya cepat.Ia meneguk air dalam gelasnya sekaligus, hampir tersedak, lalu buru-buru meraih ponselnya.“Eh? Tapi makananmu belum habis—” Cl

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status