Se connectermereka sering mengira Kota itu ramai. Tapi pada kenyataannya Kota itu tak pernah benar-benar ramai, bagi Vania rumah Vania selalu terasa lebih sunyi daripada jalanan di luar sana. Rumah dua lantai dengan pagar hitam tinggi itu berdiri megah, tetapi tak pernah terasa hangat. Dindingnya kokoh, lampunya terang, namun percakapan di dalamnya selalu singkat dan seperlunya. Vania tumbuh di antara jadwal rapat dan dering telepon papahnya yang tak pernah berhenti. Pria itu selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika malam hampir habis. Jas kerjanya rapi, wajahnya tegas, tetapi waktunya tak pernah cukup untuk duduk sebentar dan mendengarkan cerita putrinya. Di meja makan yang panjang, kursi papah sering kali kosong atau jika terisi, hanya ada keheningan yang menggantung canggung. Bagi Vania. rumah bukan tempat berbagi cerita, melainkan tempat menyimpan luka. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswi pendiam. Senyumnya manis tapi siapa yang tahu sorot matanya menyimpan lelah yang tak dimengerti teman-temannya. Ia pernah menemukan tempat bersandar seseorang yang membuatnya merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian. Seseorang yang menjadi dunianya ketika rumah tak lagi terasa utuh. Namun sandaran itu runtuh. Orang yang paling ia percaya justru meninggalkannya dan menghianatinya. Sejak saat itu, Vania belajar menjadi wanita yang lebih tegar. Ia yakin bahwa ia mampu melewati semuanya sendiri. Lorong sekolah, bangku taman, dan sudut perpustakaan menjadi saksi bisu tangis yang ia sembunyikan. Hari-harinya berjalan datar hingga suatu pagi, di tengah riuh langkah siswa dan bel yang menggema, takdir mempertemukan ia dengan seseorang. Seseorang yang mampu mengerti yang terdalam yang tersembunyi di balik dirinya. Dan seseorang yang mempunyai luka yang sama. Dan di sanalah cerita Vania benar-benar dimulai di antara luka yang tak kunjung sembuh, dan harapan yang diam-diam tumbuh kembali.
Voir plusMentari pagi sudah mulai bersinar, menembus celah celah tirai kamar Vania. Hari begitu cerah seakan merestui lembar baru anak kelas 1
Tuk tuk tuk.. suara ketukan pintu terdengar begitu cepat "non.. bangun non.." Wanita paruh baya itu pun membangunkan Vania dari tidurnya. Ia pun meletakan sarapan di samping nakas sambil mengetuk pintu kamar vania Ia adalah Bi Asih, pembantu kepercayaan keluarga vania. Sejak Vania lahir ia sudah di asuh oleh Bi Asih. Hoammmmh....Iya biiii Vania pun beranjak dari tempat tidur dan membiarkan Bi Asih masuk mengantarkan sarapan. Makasih ya bi, bibi emang yg terbaik. Vania memeluk Bi Asih. Walapun Bi Asih adalah pembantunya ia sangat menyayangi Bi Asih layaknya Mama kandungnya sendiri. "Hmm non mah bisa aja. Yaudah kalau gitu saya kebawah dulu ya non, mau siapin yang lain" "Iya bi" Vania tersenyum dan segera siap siap ia pun memakan sarapan yang telah di antarkan Bi Asih. Pagi ini menunjukan Pukul 07.05, Vania berpamitan dengan Bi Asih. Sementara papa nya sudah lebih dulu berangkat ke kantor. "Bi Vania berangkat dulu ya.. " ia pun menyalami tangan Bi Asih. "Iya non, hati-hati, semoga hari ini menyenangkan ya" Vania membalasnya dengan senyuman yang sangat manis, sehingga Bi Asih pun geleng-geleng kepala melihat perilaku majikannya. Baginya Vania adalah anak yang manis, anak yang baik. Sesampainya disekolah Vania turun dari mobil. kulitnya yang putih berseri, rambutnya yang terurai membuat semua mata terpana kepadanya. Ditambah aksesoris dan tas vania yang begitu cantik bernuansa merah muda membuat penampilannya begitu manis. Eriko, dan daniel semua terpana melihat kecantikan Vania. Sampai kenzo yang memanggil mereka pun tidak mendengarkan "Woi lagi ngapain sih, kok dari tadi di panggil enggak denger" Sontak Kenzo melihat arah mata mereka memandang. "Giliran cewe aja lu di panggilin gak nyaut" Kenzo sebagai panitia pun mengumpulkan murid-murid baru. Ia memberikan wejangan sebelum melakukan kegiatan yang namanya MOS (Masa Orientasi Siswa). "Selamat pagi adik-adik semua, Perkenalkan saya Kenzo, saya selaku ketua OSIS sekaligus ketua panitia pada acara MOS kita pada kali ini. Saya perwakilan dari rekan-rekan saya. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas partisipasi adik-adik semua yang telah turut serta dan membawa atributnya, dan saya mengucapkan selamat datang di sekolah baru Mari berikan aplous nya dulu karena adik adik telah lulus dan sampai pada tahap ini. Yeyyy tepuk tangan dan sorak soray gembira dari murid baru. Kemudian di lanjutkan dengan perkenalan masing-masing osis dan seluruh murid baru. Setelah itu mereka melanjutkan dengan menjalankan misi yang di berikan oleh kakak panitia. Acara berjalan menyenangkan hingga pada tahap akhir, wajah peserta yang telah lolos di berikan masker kopi. Sebagai tanda mereka telah menyelesaikan misi yang di berikan dan boleh istirahat. Kejadian itupun sengaja di rekam oleh kating sebagai kenang-kenangan dan di masukan kedalam i*******m sekolah. Sampai pada Vania saat hendak diberikan kopi anggota OSIS pun seperti tidak tega. Mereka malah memberikan pertanyaan modus kepada Vania, hingga kenzo yang memberikan Vania masker kopi. "Aduh ka jangan banyak-banyak" "Gapapa nanti juga ilang sendiri" Vania sontak saja manyun, karna sebelum kesekolah ia sudah pakai skin care dan pakai bedak ysl. "Luntur sudah kecantikan ku ini" vania hanya pasrah dan bergumam di dalam hati. "Nyebelin banget deh" Vania pun duduk di bawah batang seri di taman sekolah sambil manyun sambil memainkan ponselnya. Ia tidak mengenali siapapun disekolah itu Tiba tiba saja dua orang siswi mendekatinya. "Hai, kenalin aku Esti" "Kenalin aku Mutia" Esti pun mengulurkan tangannya. Kemudian juga dilakukan oleh Mutia. Vania yang merunduk pun sontak menghadap ke atas. Dan membalas jabat tangan Esti dan Mutia "Hai, aku Vania" Mereka pun berkenalan dan bercanda tawa. "Aku gak nyangka loh ternyata rumah kita deketan ya, cuma beda kompleks aja" (Vania) "Iya juga ya, jangan jangan jurusan kita juga sama lagi ya?" (Esti) "Iya juga yah, kamu ngambil jurusan apa Van? (Mutia) "Aku ipa mut" "Wah sama dong kita" jawab Esti dan Mutia kompak. Esti dan Mutia sudah sahabatan dari SMP mereka sudah janjian, mereka alumni yang sama yakni SMP di Al- Azhar, Sedangkan Vania di SMP Pelita. "Wah bisa nih, kapan kapan kita ngerjain tugas bareng ya" (Vania) "Boleh juga tuh idenya vania" sahut Esti Mutia pun manggut-mangut tanda setuju "Gue sih Oke oke aja" Ting nong.. istirahat sudah selesai saat nya memasuki jam pelajaran. Bel istirahat sudah berbunyi, Para siswa dan siswi pun berhamburan menuju kelas. "Perhatian perhatian, bagi anak kelas 1 di harapkan menuju sumber suara" Buk dewi selaku guru Bk memanggil siswa dan siswi kelas 1 untuk memberitahukan pengumuman tentang pembagian kelas masing-masing. "Wih ada pengumuman guys, yuk cabut kesana" ajak Esti Ayo ayo, seru Mutia dan Vania. Anak-anak pembagian kelas sudah di buatkan, silahkan kalian baca di Mading sekolah, dan cari kelas kalian masing-masing. Setelah ini Wali kelas kalian akan menyusul. Murid kelas 1 sangat antusias dengan pembagian kelas barunya, keseluruhan kelas 1 dengan berbeda jurusan totalnya ada 10 kelas. Sekolah ini memang cukup besar dan banyak diminati oleh masyarakat. Setelah selesai memilih kelas, Vania pun mengajak Esti dan Mutia ke kantin. Semua mata tertuju kepada mereka. sontak mereka jadi pusat perhatian. Mereka bertiga cantik- cantik dan bening. Tak sedikit dari mereka yang langsung di dekati kakak kelas. Di kantin mata vania tertuju dengan cowok yang duduk sendirian. Saat matanya bertatapan cowok itu langsung pergi. Pov si cowok "Dia ngapain ngeliatin gue dari tadi, ganggu aja". Ia hanya mampu bergumam di dalam hati. Azkara memang gemar membaca buku, ia disekolah sebelumnya dijuluki si kutu buku. Ia bertekad untuk masuk universitas terkenal, kalau perlu lulus kuliah di alvard. Ia memang tidak berminat untuk berteman, apalagi berpacaran. karena baginya akan mengganggu konsentrasinya dalam belajar, dia hanya ingin lebih fokus kepada pelajaran. Meskipun begitu setiap ada seseorang mendekatinya dia tetap merespon dengan baik. Namun saat di tatap Vania. ia hanya gugup saja karena di tatap oleh seorang perempuan. POV Vania "Dih kenapa langsung pergi, apa gara-gara gue liatin ya? Tapi masak sih gara-gara itu doang dia pergi" "Hah lu kenap ngedumel sendiri van?" hesti pun keheranan dengan tingkah laku Vania "Iya tau tuh" sahut mutia "Tadi gue ngeliatin cowo, terus tiba2 dia pergi gitu aja pas tatap mata sama gue" Ego Vania pun tidak terima, karena baru kali ini dia seperti di tolak mentah-mentah oleh seorang cowok. "Mungkin perasaan lu aja kali van, mungkin dia mau ke kelas atau ke toilet." "Hah iya ya" Vania pun manggut manggut oleh penuturan mutia "Yuk balik ke kelas, gak sabar mau liat siapa aja temen kita, dan siapa wali kelas kita" Esti pun mengajak teman temannya "Iya yuk guys" sahut Mutia Mereka ber tiga pun menuju kelas dan duduk di bangku masing-masingPagi yang cerah menyapa dengan hangat, menghadirkan semangat baru di wajah para siswa dan siswi. Tak tampak lagi kegelisahan yang kemarin sempat mengisi hati, kini berganti dengan tawa ringan dan langkah santai. Hari itu terasa berbeda, lebih bebas, lebih menyenangkan.Class meeting menjadi jeda yang dinanti, tanpa aturan yang mengekang. Mereka datang dengan ringan, tanpa beban buku maupun bayang-bayang pelajaran dan ujian. Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun suasana sudah hidup oleh canda dan kebersamaan.Beragam perlombaan menjadi warna dalam kebahagiaan hari itu. Bukan sekadar ajang bersaing, tetapi juga ruang untuk mempererat tali persahabatan. Kegiatan ini menjadi penyegar setelah lelahnya ujian, menghadirkan kembali energi dan kekompakan dalam setiap kelas.Di bawah langit pagi yang cerah, mereka tak hanya merayakan kebebasan, tetapi juga kebersamaan yang semakin erat."Guys siapa aja yang mau ikutan tanding voly" Esty pun menanyakan kepada para gadis gadis di kelasnya."Gua
Di hari-hari pertama, pikiran terasa penuh.Rumus bercampur dengan hafalan, semuanya seperti berebut tempat di kepala. Sedikit saja lupa, rasa panik langsung datang.Tapi hari demi hari berlalu.Ujian demi ujian mulai terasa biasa saja.Bukan karena soalnya menjadi lebih mudah, tapi karena mereka mulai terbiasa dengan rasa tegang itu. Mereka belajar mengatur napas, fokus pada satu soal, dan tidak lagi terlalu takut jika menemukan pertanyaan yang sulit.Mereka mulai paham ujian bukan hanya tentang nilai, tapi tentang bagaimana tetap tenang saat dihadapkan pada tekanan.Kini, saat kertas soal dibagikan, mereka tidak lagi sekacau dulu. Masih ada rasa debaran di hati, tapi tidak lagi melumpuhkan.Mereka tersenyum kecil, lalu mulai mengerjakan.Karena mereka tahu,ini hanya satu langkah kecil dari perjalanan panjang yang sedang mereka tempuh.Awalnya tetap saja terasa menegangkan. Suara bel yang menandakan dimulainya ujian terdengar seperti alarm bahaya.Kertas soal dibagikan, dan jantung
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi para murid karena mereka akan mengikuti ujian. Di kelas yang berbeda dengan siswa yang berbeda, suasana terasa hampir sama hening, tegang, dan penuh harap. Vania pun ikut merasakan getaran di hatinya. apakah ia akan membanggakan papahnya, atau malah sebaliknya. Dengan langkah kaki yang getar Vania memasuki ruangan ujian yang telah disediakan oleh guru. namun betapa terkejutnya ia melihat ternyata ia satu kelas dengan Azkara. Namun Azkara duduk di pojok kiri paling depan. Sedangkan ia duduk di pojok kanan paling belakang, dan yang tak kalah mengejutkan kenzo berada di kelas yang sama. ia duduk di barisan nomor dua. dan letak mejanya juga berada di nomor dua. Sambil menunggu guru pengawas masuk. Para murid melanjutkan hafalan yang tidak selesai dirumah, bibir mereka bergerak pelan seolah membaca catatan yang tak terlihat. Di sudut lain, ada yang menatap kosong ke meja, mencoba menenangkan diri meski jantung berdebar lebih cepat dari bias
Akhir pekan terakhir sebelum ujian terasa berbeda. Suasana yang biasanya santai berubah menjadi penuh kesungguhan. Para murid duduk dengan buku-buku terbuka, mencatat, mengulang pelajaran, dan saling bertanya satu sama lain. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya, seakan mengingatkan bahwa hari penentuan sudah dekat.Di balik lelah dan tekanan, tersimpan harapan besar. Mereka berjuang bukan hanya untuk nilai, tetapi juga untuk membuktikan usaha yang telah dilakukan selama ini. Malam menjadi lebih panjang, pagi terasa lebih cepat datang. Namun semangat tidak surut—justru semakin kuat. Di akhir pekan itu, setiap halaman yang dibaca dan setiap soal yang dikerjakan menjadi langkah kecil menuju impian mereka meraih hasil terbaik.Vania merasa sudah agak jenuh belajar sendiri ia pun menghubungi Azkara agar bisa belajar bersama. "Lo gue jemput aja Van""Gapapa gue pergi sendiri aja. Ka""Udah gapapa, gue aja yang jemput" "Yaudah deh kalau gitu, gue siap-siap dulu ya" "Iya gue abi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.