MasukSejak kejadian di kolam, Elena terus menghindari Noah. Ia selalu menolak makan bersama dengan berbagai alasan, bahkan memutar arah setiap kali bayangan tubuh tinggi Noah muncul dari kejauhan.
Tapi rumah sebesar apa pun tetap terasa sempit untuk menghindar. Setiap kali mereka tak sengaja berpapasan, Elena selalu menangkap sorot kesal di wajah Noah, sesuatu yang mungkin tak akan disadari orang lain, karena ekspresinya hampir selalu datar. Tapi bagi Elena itu hal yang mudah untuk ia tebak.
Meski begitu, hal yang paling Elena takuti bukanlah membuat Noah marah padanya. Melainkan nafsu dalam dirinya sendiri.
Ia takut pada rasa rindu yang diam-diam tumbuh dan perlahan menggerogoti kendalinya. Setiap hari ia berusaha menjauh, tetapi perasaaan lamanya saat jatuh cinta tak semudah itu dihapus.
Tanpa sadar, Elena sering memperhatikan Noah dari kejauhan, sebuah kebiasaan yang pelan-pelan berubah menjadi candu.
Dari balik jendela kamarnya, pandangannya kerap tertuju pada ruang gym pribadi keluarga Blackwood yang berada tepat di seberang. Di sanalah Noah sering menghabiskan waktu.
Posturnya selalu tampak tegap, dan setiap lekuk ototnya juga perut sixpacknya sanggup membuat Elena lupa berkedip. Noah mengangkat beban dengan teratur setiap pagi, menjadi alasan Elena selalu bangun lebih awal tapi saat Harli bangun, ia akan pura-pura masih ngantuk lalu masih ingin tidur lagi.
Baginya, melewatkan satu hari saja terasa seperti rugi bandar. Saat Elena masih larut memperhatikan, tiba-tiba Noah menarik kausnya ke atas dan melepaskannya begitu saja.
Elena refleks memejamkan mata, jantungnya melonjak tak wajar, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.
Tapi detik berikutnya, matanya terbuka kembali lebih cerah, seakan menolak melewatkan pemandangan itu.
“Astaga… kenapa dia harus seperti itu?” pikirannya langsung berisik. Kagum, kesal, dan panik bercampur jadi satu. Elena mengutuk dirinya sendiri dalam diam, merasa bodoh karena tubuhnya bereaksi pada sesuatu yang seharusnya tak lagi berarti apa-apa, mengingat mereka sudah putus lima tahun lalu.
“Makhluk Tuhan yang paling seksi,” ujarnya bersenandung kecil.
“Kenapa dulu aku bisa melepaskannya begitu saja? Harusnya aku bisa memuaskan diri dulu.” Elena menggelengkan kepala menyalahkan diri sendiri.
Ia lalu menutup tirai perlahan, bersandar pada dinding, menekan dadanya sendiri agar napasnya kembali teratur.
Ia hanya ingin mengagumi mantan pacarnya dari kejauhan dan terus menghindar untuk menjaga hubungan secara normal. Bagaimana pun, ia sekarang adalah Ibu Noah bukan mantan pacarnya lagi.
Tapi siang harinya, tepat di depan ruang makan, langkahnya terhenti karena Noah sudah berdiri menghadang, sengaja memepetnya ke dinding.
Elena melirik sejenak, “sial...” umpatnya lirih. Ia lupa ini hari minggu. Noah dan Harli libur dan akan seharian di rumah.
“Kenapa kau menghindariku?” tanya Noah rendah tanpa basa-basi. Wajahnya tetap datar, tetapi tatapannya terasa seperti ingin menelan Elena hidup-hidup. “Atau kau takut mengakui kalau kau belum move on dariku?”
“Menjauhlah,” jawab Elena singkat. Ia mencoba melepaskan diri, tetapi Noah menahan dengan satu tangan menempel di dinding, membuatnya terpojok.
“Kau sudah tidak merindukan sentuhanku?” lanjut Noah, suaranya tetap datar namun menusuk.
“Aku jauh lebih baik dari ayahku, Elena. Kau tidak akan puas dengan satu pria saja.”
Ucapan payah mantan pacarnya itu membuat darah Elena mendidih. Tanpa ragu, ia menginjak kaki Noah sekuat tenaga.
“Rasakan!” Ujar Elena penuh semangat.
Noah meringis singkat namun hanya sepersekian detik lalu kembali menatapnya dengan senyum meremehkan yang justru membuat Elena semakin marah.
“Jangan berani menggangguku lagi,” ucap Elena menahan diri. Baginya saat ini, Noah tak lebih hanya ingin menganggu ketenangannya di rumah ini.
Ia hendak pergi, tetapi Noah kembali menghalangi. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Elena.
Elena tersenyum kecil, lalu dengan cepat mencondongkan tubuhnya dan menggigit tangan Noah dengan keras. Noah tersentak dan menarik tangannya. Bekas gigi merah tampak jelas.
“Arggh… Elena… kau!” suaranya serak karena terkejut.
“Minggir. Jangan halangi jalanku lagi,” kata Elena dingin, tapi Noah malah menatap bekas gigitan itu sesaat, lalu mengecupnya pelan sambil menyeringai tipis penuh arti, membuat mata Elena melebar dan wajahnya terasa panas, ia langsung buru-buru pergi ke ruang makan dengan perasaan aneh.
Makan siang pun akhirnya berlangsung normal. Michel, yang kebetulan diundang Harli, berceloteh riang.
“Kenapa tanganmu, Noah?” tanya Michel tiba-tiba, menunjuk bekas merah di punggung tangan Noah.
“Digigit anjing,” jawab Noah datar.
“Loh? Kalian kan nggak punya anjing di sini,” Michel tertawa heran.
“Anjing liar.” Kata Noah singkat.
Elena yang sedang menyendok makan ke mulutnya langung tersedak dan batuk keras. Harli refleks menatapnya tajam.
Elena pun hanya bisa buru-buru meneguk air dengan gugup. Dari sudut matanya, ia melihat ujung bibir Noah yang tersenyum miring.
Perasaan Elena semakin campur aduk, tapi ia mencoba menahan diri, jangan sampai ia mengacaukan makan siang ini dan membuat suaminya marah.
Makan siang lalu kembali tampak normal, Michel bercerita, Harli menimpali, sementara Elena dan Noah diam saja, sendoknya bergerak tanpa rasa.
Elena bahkan seolah bisa merasakan detak jantungnya sendiri karena tatapan Noah yang terus melihat lurus kearahnya.
Hingga Michel bertanya. “Om Harli,” katanya ringan, “sebenarnya ada apa, Om sampai ngundang aku makan siang disini?” Tanya Michel sopan.
Harli tersenyum. “Aku mau bahas beberapa proyek karena tiga hari ke depan aku akan berkunjung mungkin bermalam di rumah orang tua Elena.”
Sendok Elena terhenti. Ia sendiri bahkan belum di beritahu Harli tentang hal ini. Tapi kemudian ia sadar jika statusnya sebagai istri memang dari awal hanya untuk memperbaiki nama baik Harli.
“Oh, sekalian bulan madu yaa, Om.” Canda Michel tertawa.
Di seberang meja, tatapan Noah berubah tajam. Gelas di tangannya tergenggam kuat juga dahinya ikut mengkerut.
Elena yang melihat perubahan Noah malah senang dia begitu, entah mengapa tingkat ketampanan pria itu meningkat begitu marah.
Tapi Elena juga bingung, “kenapa dia harus marah coba, kan itu normal bagi suami istri.” Bisik Elena tak peduli.
“Iya mungkin juga,” sahut Harli santai, melirik Elena. “Lagipula kamu bisa berduaan dengan Noah disini. Biar kalian nggak bosan.”
Alis Elena mengerut mendengarnya. Perasaannya langsung berubah tidak nyaman. Tapi ia berusaha terus tersenyum meski terasa pahit.
..
Siang itu juga, setelah semua barang bawaan mereka masuk ke bagasi mobil dan supir pribadi Harli juga sudah siap. Elena dan Harli segera bersiap untuk berangkat.
Rumah keluarga Elena masih di kota Askara tapi berada di ujung kota dan perlu sekitar tiga sampai empat jam kesana karena sering macet dan belum ada tol.
Harli sempat heran melihat Elena membawa pakaian, padahal kan pasti ada pakaian dirumahnya tapi Elena bilang hanya ingin saja padahal sudah sejak lama ia tidak punya kamar sendiri dirumah itu.
Michel yang belum pulang juga ikut mengantar sampai depan.
Harli lalu menaikkan alis melirik kearah lain memastikan. “Noah ke mana?”
Elena malah bersyukur karena setidaknya ia bisa terbebas dari Noah beberapa hari, meski harus kehilangan pemadangan indah tiap paginya.
Belum sempat Michel menjawab dan Elena merayakan ketenangannya, suara dari belakang memotong.
“No need to wait…”
Harli dan Michel refleks menoleh ke sumber suara, Elena justru menegang begitu melihat Noah berdiri mendekat dengan koper ditangannya.
“Aku ikut…” ujar Noah santai dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Kau...." Mulut Elena membulat, yakin Noah akan membuatnya kesulitan lagi kali ini. Bagaimana pun caranya ia akan membuat mantan pacarnya itu menjauh darinya.
“Kau bisa diandalkan juga, Elena,” ujar Harli ringan sambil menyendok sedikit daging ke mulutnya.Matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji rapi di atas meja, ada ayam panggang rosemary dengan saus krim jamur, udang tiger saute bawang putih, sup bening consommé berkaldu jernih, serta nasi putih Jepang yang pulen.serta nasi hangat yang tampak begitu pulen.“Hmmm… rasanya lumayan,” ucap Harli tanpa sedikit pun menatap Elena yang sejak tadi berdiri di sampingnya yang setia melayani.Elena menghela napas pelan. Dadanya terasa lebih ringan setelah menunggu komentar suaminya itu.“Terima kasih, Tuan,” jawab Elena sambil tersenyum lega.Tapi senyuman Elena langsung menghilang ketika Harli tiba-tiba berhenti mengunyah.Jantung Elena berdetak kencang, “Apa ada yang salah, Tuan Harli?” tanya Elena meremas jari-jarinya gugup.Harli tidak menjawab sama sekali, tapi Tatapan Harli yang tajam membuat dengkul Elena lemas seketika.Tanpa peringatan, Harli tiba-tiba menarik tangan Elena hingga tu
Menjelang siang, mobil akhirnya berhenti di depan Mansion Blakwood.Begitu pintu terbuka, Harli dan Noah langsung melangkah masuk lebih dulu. Elena sempat mengernyit. Bukannya Tuan Harli bilang ada proyek penting? Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya mengikuti dari belakang.Noah justru tertawa kecil begitu masuk ke ruang tengah, menoleh pada ayahnya.“Keadaan daerah itu benar-benar buruk,” katanya santai. “Jauh dari kata layak.”Harli mengangguk setuju sambil melepas jas. “Air panasnya saja dingin. Rumahnya juga sesak. Tidak nyaman.”Ucapan itu membuat Elena menunduk, menelan perasaan tak enak. Padahal rumahnya itu, adalah rumah terbaik disana. Tapi bagi orang sekaya mereka dilihat begitu tidak layak bagaimana jika mereka melihat kost tiga kali empat tempat tinggal Elena dulu. Mungkin sudah di anggap kandang.Pantas saja, dulu saat ia pacaran dengan Noah, Noah kadang membuang muka begitu makan di pinggir jalan dengannya, tapi ia tidak pernah menyangka Noah sekasar itu menilai rumahn
“Elena.”Elena yang sekarang duduk di bangku taman mendengus pelan, tak memperhatikan. Udara malam menusuk, tapi kepalanya justru terasa panas dengan banyaknya beban pikiran.Tiba-tiba…“Hss.”“Apa ini!” Elena tersentak saat sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia refleks menoleh.“Noah?!”Noah berdiri santai di samping bangku, satu tangan menyodorkan gelas bening. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tajam mengamati Elena.“Di sini dingin,” katanya singkat. “Kenapa kamu malah di luar?”Ia meletakkan gelas berisi kopi dingin itu ke tangan Elena.Elena mendengus kasar. “Harusnya kopi panas.”“No,” balas Noah ringan. “Yang dingin lebih cocok. Bisa mendinginkan hatimu juga.”Elena mendengus lagi, kali ini diiringi senyum kecil. “Dari mana kamu dapat ini?”Noah mengangkat bahu. “Aku suruh Amara bikin. Sampai tiga kali baru pas.”Elena terkekeh pelan, senyum miring terbit di bibirnya. Hanya Noah yang beberapa kali menghiburnya meski caranya sering menyebalkan dan perkataann
“Akhirnya sampai juga,” ujar Elena pelan merenggangkan pinggangnya sebentar.Noah turun lebih dulu.Begitu kakinya menginjak halaman, jas hitamnya jatuh rapi mengikuti bahu bidangnya. Ia berhenti sejenak, lalu mengancingkan jasnya dengan santai tapi gestur sederhana itu justru menegaskan kendali dan wibawanya. Sementara jam mahal di pergelangan tangannya berkilau.“Hah…” Elena yang baru hendak turun refleks terhenti ketika tangannya tiba-tiba ditarik agak kasar.“Elena,” ucap Noah rendah, matanya tajam menyorot wajahnya.“Apa lagi?” Elena menoleh dengan tatapan kesal.Noah melirik rumah besar di hadapan mereka, lalu kembali menatap Elena dengan senyum miring.“Jadi selama ini kamu tidaklah semiskin itu.” Nadanya dingin. “Tapi kenapa hidupmu selalu bergantung pada pria?”“Lepaskan tanganmu,” balas Elena cepat sambil menarik tangannya. “Jangan sok mengerti hidupku.”Noah menyeringai tipis, lalu membiarkannya pergi.“Elena!”Tuan Guzel melangkah cepat dari pintu utama, disusul istrinya d
“Noah, kamu kok mau ikut sih?” kata Michel sambil tertawa kecil. “Ganggu ayahmu dan Elena saja.”Elena refleks mengangguk cepat, tak terima jika orang yang paling ia hindari malah ikut juga.“Iya,” sahut Elena segera. “Perjalanan ke rumahku jauh. Jalannya juga sering macet. Kamu pasti nggak nyaman.”Noah menoleh ke arahnya, menatap Elena lama sambil tersenyum lewat matanya. Elena terpaku sejenak melihat bola mata hitam pekat Noah yang begitu tajam sekaligus menawan yang kembali mengguncang perasaanya.“Aku nggak masalah,” jawab Noah singkat.Mendengar jawaban Noah yang sepertinya tidak menerima penolakan, Elena pun langsung memutar otak untuk mencegahnya ikut.Sayangnya, sebelum Elena bisa menambahkan alasan lain, Harli justru tertawa ringan sambil menepuk bahu Noah.“Kenapa tidak?” katanya santai. “Ayah malah senang. Kamu biasanya cuek, sekarang tiba-tiba punya inisiatif.” Ujar Harli senang.Elena menelan ludah, tak habis pikir dengan pikiran Noah.Michel mengangkat alis, lalu terse
Sejak kejadian di kolam, Elena terus menghindari Noah. Ia selalu menolak makan bersama dengan berbagai alasan, bahkan memutar arah setiap kali bayangan tubuh tinggi Noah muncul dari kejauhan.Tapi rumah sebesar apa pun tetap terasa sempit untuk menghindar. Setiap kali mereka tak sengaja berpapasan, Elena selalu menangkap sorot kesal di wajah Noah, sesuatu yang mungkin tak akan disadari orang lain, karena ekspresinya hampir selalu datar. Tapi bagi Elena itu hal yang mudah untuk ia tebak.Meski begitu, hal yang paling Elena takuti bukanlah membuat Noah marah padanya. Melainkan nafsu dalam dirinya sendiri.Ia takut pada rasa rindu yang diam-diam tumbuh dan perlahan menggerogoti kendalinya. Setiap hari ia berusaha menjauh, tetapi perasaaan lamanya saat jatuh cinta tak semudah itu dihapus.Tanpa sadar, Elena sering memperhatikan Noah dari kejauhan, sebuah kebiasaan yang pelan-pelan berubah menjadi candu.Dari balik jendela kamarnya, pandangannya kerap tertuju pada ruang gym pribadi keluarga







