ログインTangis Elena pecah seketika begitu melihat pintu akhirnya terbuka dan di balik cahaya dari luar, muncul sosok tinggi yang langsung berlutut di hadapannya.
“Noah …” lirih Elena ketika mengenali sosok pria itu.
Noah tidak banyak bicara, ia langsung meraih tubuh Elena, bersiap untuk menggendongnya.
Namun, Elena justru langsung mengelak. Ia sedikit mendorong tubuh Noah agar menjauh, sambil berkata, “Aku bisa sendiri.”
Noah diam, tidak bereaksi dan hanya memperhatikan pergerakan Elena yang lemah. Hingga akhirnya, wanita itu oleng dan hampir terjatuh.
Dengan sigap, Noah mengulurkan tangannya dan menahan tubuh Elena. Ia mendengus pelan, “Kau hampir pingsan, berhentilah keras kepala, Elena.”
Tanpa menunggu persetujuan Elena lagi, Noah langsung mengangkat tubuh Elena ke dalam dekapannya.
Keributan itu jelas mengundang banyak karyawan di sekitar sana untuk melihat. Beberapa berbisik dan menatap Elena dengan rasa penasaran dan kasihan.
Elena membelalakkan matanya, ia meronta pelan. “Noah, turunkan aku. Aku istri ayahmu, jangan buat orang di kantor ini salah paham.”
Namun, kalimat itu justru membuat Noah semakin mengeratkan dekapannya. “Kalau kau mati di sini justru akan jadi masalah yang lebih besar buat suamimu itu.”
Elena mendengus pelan, wajahnya memerah antara marah dan malu. Ia berhenti meronta, tapi sengaja menegakkan punggung, menjaga jarak semampunya meski berada dalam gendongan Noah.
Beberapa karyawan yang melihat itu langsung berbisik-bisik. Mereka tahu bahwa Elena adalah istri Harli, CEO mereka. Namun, melihat Noah yang seharusnya menjadi anak tiri Elena, malah bersikap seperti itu, jelas menimbulkan spekulasi di antara mereka.
Tiba-tiba di antara kerumunan itu, Michel muncul dengan wajah panik. “Noah, Elena kenapa?”
Noah tidak menjawab, tatapannya beralih pada Devon, sekretaris pribadinya. “Siapkan mobil sekarang.”
“Baik, Tuan,” jawab Devon patuh lalu segera pergi.
Sementara itu, tubuh Elena masih sedikit bergetar. Tenaganya belum sepenuhnya kembali. Ditambah lagi banyaknya orang yang melihat mereka, membuat Elena kembali panik.
“Noah, turunkan aku, kumohon,” pinta Elena lirih.
“Kita pulang sekarang,” ujar Noah, sama sekali tidak menjawab permintaan Elena.
Namun, begitu mereka sampai di area lobby, langkah Noah terhenti ketika mendengar suara Harli yang menggema.
“Ada apa ini?”
Semua mata menatap ke sumber suara, melihat Harli yang berjalan tegang dengan ekspresi datar mendekat ke arah mereka.
Elena menelan ludah, melihat ekspresi tidak senang Harli. Ia cepat-cepat mendorong tubuh Noah dan turun dari gendongan Noah. Kepala Elena masih terasa berputar begitu kakinya menyentuh lantai, dadanya juga masih terasa sesak tapi ia memaksakan diri berdiri.
“Sekretaris kesayanganmu itu mengunci istrimu di gudang sampai nyaris pingsan,” jawab Noah santai, tanpa ekspresi.
Hal itu membuat Elena membelalakkan matanya. Sementara itu, Harli pun langsung memberi tatapan tajam kepada Noah.
Namun, tak ingin memancing keributan lain yang bisa membuat citranya buruk, Harli langsung meraih tangan Elena. Dengan lembut ia berkata, “Aku tidak bisa mengantarmu pulang, klien masih menunggu untuk persetujuan. Pulanglah dengan sopir, aku akan minta dokter datang ke rumah.”
Elena mengangguk pelan. Ia tahu, bersuara di saat seperti ini hanya memperburuk keadaan.
Setelah itu, Harli menuntun Elena untuk masuk ke dalam mobil yang telah siap di depan lobby. Begitu Elena masuk ke dalam mobil, sebelum pintu benar-benar tertutup, Harli berbalik dan menatap Noah yang berdiri di belakangnya.
“Jaga ucapanmu di sini, jangan buat keributan,” kata Harli penuh penekanan, setelah itu ia memberi kode pada sopir untuk melajukan mobil.
. . . .
Malam harinya, Elena yang sedang mengoles salep ke kakinya yang sedikit lecet karena kejadian siang tadi, tiba-tiba terkejut mendapati pintu kamar dibuka sedikit keras.
“T–Tuan Harli,” sapa Elena lirih.
Elena melihat Harli yang masih mengenakan jas kerjanya masuk dengan wajah kesal. Pria itu berjalan ke arahnya dengan sedikit tergesa, tatapannya sedikit menusuk.
Elena sedikit tersentak ketika Harli mengulurkan tangan untuk mengusap rambutnya. Ia masih terdiam, membiarkan Harli mengusap pelan rambutnya, hingga kemudian tersentak ketika Harli menarik rambutnya dan memaksanya mendongakkan kepala.
“Argh …” pekik Elena lirih.
Harli menatap Elena dengan tajam, ia sedikit menundukkan kepalanya hingga Elena bisa merasakan terpakaan napasnya. “Kau jangan berani-berani cari masalah di perusahaanku.”
Elena merintih kesakitan, tangannya berusaha menahan genggaman Harli yang semakin erat di rambutnya. “T–Tuan … maafkan aku, tapi—”
“Jangan banyak membantah. Kau hanya perlu patuh padaku,” potong Harli cepat sembari menghempaskan genggamannya, membuat Elena tersungkur di ranjang.
Elena bisa merasakan tatapan menusuk Harli yang seperti sedang menguliti tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sejak awal, ia memang terpaksa menikah dengan Harli. Dan sikap Harli yang semena-mena seperti ini yang membuat Elena semakin membenci pria tua itu. Hanya saja, ia tak bisa melakukan apapun selain patuh.
Satu alis Harli terangkat, senyum remeh muncul di wajahnya. “Kalau kau menurut dengan baik, nanti di waktu yang tepat akan kuberi posisi yang bagus di perusahaan. Gunakan ijazahmu dengan baik, jangan sampai membuat orang mengira Nyonya Blackwood tak bisa apa-apa.”
Elena mengangguk pelan. Itu juga salah satu alasan dirinya ada di sini. Realistis saja, ia butuh banyak uang saat ini.
“Sekarang bersihkan dirimu. Kau harus melayaniku malam ini,” lanjut Harli antusias, nada suaranya berubah menjadi penuh hasrat.
“A–aku sedang datang bulan,” jawab Elena lirih.
Harli berdecak kesal, lalu melempar jasnya ke arah Elena. “Dasar tidak berguna.”
Tanpa banyak bicara, Harli pergi menuju toilet yang ada di dalam kamar utama. Sementara Elena hanya bisa menghela napas.
Namun, tak lama setelah itu tiba-tiba pintu kamar terbuka, membuat Elena terpaku.
“N–Noah, apa yang kamu lakukan di sini?”
"Ibu...?"Suara kecil itu memecah keheningan kamar seperti petir di tengah malam.Daun pintu yang semula hanya terbuka sedikit kini terdorong perlahan. Cahaya redup dari lorong menyusup masuk, membelah suasana yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi gejolak emosi.Elena membeku, seluruh darah di wajahnya seakan menghilang dalam sekejap."Noah..." Bisikannya dipenuhi kepanikan.Tanpa perlu diperintah, Noah langsung melepaskan kedua tangannya dari pinggang Elena dan mundur satu langkah. Wajah pria itu yang tadi dipenuhi kerinduan kini berubah tegang.Elena buru-buru merapikan pakaian tidurnya yang berantakan. Jemarinya gemetar saat menarik kembali bahu bajunya hingga menutupi tubuhnya yang tadi terbuka. Napasnya masih memburu, membuatnya harus memejamkan mata sejenak sebelum memaksakan senyum setenang mungkin.Sedangkan Noah juga merapikan kemeja dan celananya karena barangnya sudah sangat ingin keluar tadinya."Iya, Sayang?" jawab Elena cepat menutupi Noah yang masih merapikan diri dan
"Aku memanjat." Jawab Noah santai.Bahkan pria itu terlihat begitu singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Tapi Elena kaget bukan main, "Apa?"Ia menatap Noah beberapa detik, berusaha memastikan dirinya tidak salah dengar.Lalu tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Elena bergegas menuju jendela yang masih terbuka beberapa sentimeter.Begitu tubuhnya sedikit condong ke luar, napasnya langsung tertahan.Di halaman rumah, sebuah tangga aluminium tergeletak miring di atas tanah. Salah satu sisinya bahkan masih menempel pada pagar. Tak jauh dari sana, Devon duduk di kursi lipat dengan kedua tangan terlipat di dada, sesekali mendongak ke arah jendela kamar Elena, jelas sedang berjaga.Tangga itulah yang rupanya sempat terjatuh hingga menimbulkan suara keras, membuat Elena panik dan memeriksa seluruh rumah beberapa saat yang lalu.Perlahan Elena menoleh kembali.Tatapannya kini dipenuhi rasa tidak percaya."Kau... gila?"Noah hanya mengusap tengkuknya pelan. Seny
"Apa maksudmu mengatakan itu?" Ulang Elena lagi.Ia menatap Noah lurus tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu merasakan dadanya semakin sesak.Noah langsung mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal. Ia baru menyadari bahwa pilihan kata-katanya barusan telah melukai Elena jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan."Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelasnya cepat. Nada suaranya dipenuhi penyesalan, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Oh?" Ucap Elena tersenyum getir."Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?" tanyanya pelan. "Kau mengatakan seolah aku melakukan semua ini demi mendapatkan pengakuan dari keluargamu."Noah spontan melangkah satu langkah lebih dekat. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasa harus melakukan apa pun demi keluargaku. Aku tidak ingin kau terbebani karena—""Aku tidak pernah berpikir ingin terlibat lagi dengan keluargamu."Elena lang
Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan
Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa
“Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l
Miranda terlihat sedikit tersipu gugup.Ia segera menepuk paha Michel pelan, seolah meminta anaknya itu tidak terlalu memikirkan kata-katanya barusan.“Bukan begitu maksudku,” katanya cepat, mencoba terdengar santai.“Aku hanya tidak ingin ada masalah yang tidak perlu.”Ia lalu menoleh pada Harli d
Salah satu anggota dewan tertawa kecil lalu akhirnya tangannya bergerak cepat membuka koper yang di siapkan khusus untuk mereka.Begitu koper terbuka—Elena terpaku menatap lurus. Bibinya refleks ikut melebar.“WOW….” Bisiknya kagum.Koper itu… penuh dengan uang tunai yang di ikat rapi, ia bisa men
Harli berjalan cepat masuk ke dalam kamar dengan mendorong bahu Elena yang hendak menghalangi.Langkahnya begitu tergesa, matanya menyapu ruangan dengan gelisah dan penuh kecurigaan.Elena yang masih berdiri di ambang pintu, menahan napas.“Habis lah aku…” gumamnya dalam hati sambil menutup mata be
Noah langsung menepuk bahu Elena lembut dalam pelukannya, mencoba menenangkan. Ia merunduk sedikit, berbisik di telinga Elena, “Ayo, El… nggak enak dilihatin orang.” Nada suaranya tetap dingin dan datar namun sentuhannya begitu hangat.Elena menatap Noah sendu lalu akhirnya berdiri dengan Noah ter







