Share

Bab 4

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2025-12-31 10:48:25

Pintu belum sepenuhnya tertutup saat Elena akhirnya menoleh pada Harli. Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya jelas menyimpan kegelisahan yang belum reda.

“Tuan Harli…” ucap Elena ragu. “Sebenarnya… siapa Michel?”

Harli tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan kopi di tangannya yang uap panasnya masih jelas terlihat lalu menyerahkannya begitu saja ke tangan Elena tanpa memperhatikan kesiapan perempuan itu.

“Pegang,” katanya datar.

Elena tersentak, terburu-buru menyambar gelas itu sebelum tumpah. Panasnya langsung menusuk telapak tangan, membuat jemarinya refleks bergetar. Ia cepat-cepat meletakkan gelas itu kembali ke meja, menahan napas agar tidak terlihat kesakitan.

Barulah kemudian Harli kembali duduk perlahan, seolah tindakan barusan adalah hal sepele.

Ia melirik Elena sepersekian detik, sebelum akhirnya membuka mulut.

“Dia kekasih Noah,” jawabnya tanpa beban, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Mereka sudah bersama cukup lama, sejak Noah masih di luar negeri.”

Jari Elena menegang di pangkuannya. Ia menunduk sesaat, berusaha menyembunyikan keterkejutan yang merambat cepat di dadanya.

Ia sama sekali tidak tahu jika setelah putus dengan Noah, ternyata pria itu sudah punya kekasih bahkan sudah sangat lama.

Harli melanjutkan, nadanya kini berubah lebih serius.

“Keluarga Michel juga bukan sembarang orang. Awalnya aku berniat menjodohkan mereka secara resmi.” Harli diam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Melihat sikap Noah akhir-akhir ini, sepertinya aku harus mempercepat pertunangan mereka.”

Elena mengangkat wajahnya perlahan. Senyum tipis masih terpatri, tapi dadanya terasa semakin sempit. Ia mengangguk kecil, seolah setuju, meski di dalam hatinya muncul perasaan asing yang sulit ia tepis.

Ruang makan kembali sunyi, meninggalkan kata pertunangan yang menggantung di udara, berat dan menyesakkan.

“Sayang…”

Elena tersentak kecil saat suara Harli memanggil, menariknya kembali dari lamunan yang belum sempat ia rapikan.

“Kau bersiaplah,” ucap Harli sambil melirik arlojinya. “Aku akan menemanimu belanja.”

Elena mengerjap, sedikit terkejut.

“Belanja?” Elena tersenyum tipis, mencoba terdengar wajar. “Pakaianku masih cukup, Tuan Harli. Aku rasa—”

Tatapan Harli berubah. Tidak marah, tidak keras, justru terlalu tenang. Itu membuat Elena otomatis terdiam.

Harli melangkah mendekat. Tangannya terangkat, membelai rambut Elena perlahan, gerakannya tampak penuh perhatian. Namun sentuhan itu membuat tengkuk Elena menegang, nalurinya menolak meski tubuhnya tetap diam.

“Kau sekarang Nyonya Blackwood,” kata Harli rendah. “Orang-orang akan melihatmu berdiri di sisiku.”

Nada suaranya datar, nyaris seperti memberi nasihat. Tapi Elena mendengarnya sebagai tuntutan.

Jarinya turun dari rambut Elena ke rahangnya, memaksa wajah itu sedikit terangkat. Tatapan Harli menelusuri Elena seperti sedang menilai barang yang akan dipamerkan.

“Aku tidak mau istriku terlihat murahan,” lanjutnya pelan. “Apa gunanya uang kalau tidak bisa membuat segalanya tampak sempurna?”

Elena menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap menahan diri. Ia tidak menepis tangan Harli, juga tidak membalas sentuhan itu. Hanya berdiri kaku, menyembunyikan rasa tidak nyaman yang kian menekan.

“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya. Suaranya halus, tapi terdengar hambar.

Harli tersenyum puas, senyum seorang pria yang terbiasa didengar dan dituruti.

“Bagus,” katanya singkat. “Sepuluh menit. Supir sudah menunggu.”

Ia berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Elena sendirian di ruang makan yang terasa semakin dingin.

Elena menarik napas panjang, tangannya mengepal pelan di sisi gaunnya. Sejujurnya, sifat Harli yang seperti ini lah yang membuat Elena tidak nyaman. Hanya saja, ia tidak bisa melakukan apapun.

Menikah dengan Harli pun terpaksa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 143 (Kabar Buruk)

    Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu sengaja, ya?” Elena langsung menatap Noah tajam. “Kenapa membiarkan mereka masuk?!”Noah yang masih bersandar santai di headboard hanya memiringkan kepala sedikit sambil menatap Elena tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Mereka sudah terlanjur datang.”“Itu bukan alasan!” Bantah Elena kesal disusul dengan ia memukul dada pria itu pelan karena gemas. Namun Noah justru menangkap pergelangan tangannya lagi lalu menarik tubuh Elena mendekat tanpa kesulitan.“Elena…” suara Noah rendah. “Kau tadi memelukku sendiri.”DEGG.Wajah Elena langsung makin panas mengingat bagaimana refleksnya tadi saat Inara masuk.“A-aku cuma panik!” elaknya kesal.“Tapi aku suka.” Bisik Noah hangat.“Noah!”Pria itu tertawa pel

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 142 (Inara)

    Noah masih menahan kedua pergelangan tangan Elena di depan tubuh wanita itu, membuat Elena sulit bergerak apalagi melarikan diri.“Noah… cukup…ada orang diluar.” napas Elena mulai tidak teratur saat pria itu kembali mendekat.Namun Noah seperti tidak mendengar. Pria itu justru menunduk perlahan, mengecup bahu Elena yang lembut dengan bibir panasnya. Sentuhan itu membuat tubuh Elena langsung menegang.“Noah, ah…” Elena refleks menghentakkan tubuhnya geli ketika Noah sengaja menggigit kecil kulit bahunya lalu meninggalkan bekas kemerahan di sana.Tatapan Noah langsung menggelap menikmati reaksi itu.“Kau terlalu sensitif…” bisiknya rendah di telinga Elena.“Noah, berhenti…” Elena mencoba menarik tangannya, namun pria itu malah makin erat menahannya.Kecupan Noah berpindah perlahan ke leher Elena. Napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita itu sebelum kembali meninggalkan jejak kemerahan lain di sana. Tangannya mengusap pinggang Elena pelan seolah menikmati setiap reaksi kecil yang

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 141 (Terjebak Di Ranjang Mantan)

    Cairan wine itu mengalir paksa melewati bibir Elena.“UGH…khh…” Elena langsung terbatuk hebat, namun Noah tidak berhenti. Tangan besarnya mencengkeram rahang Elena kuat sementara gelas kristal itu terus dimiringkan hingga tetes terakhir habis.“Noah…berhenti…!” Pekik Elena menahan bahu kekar mantan pacarnya itu. Namun pria itu justru menatap Elena tanpa berkedip. Tatapannya gelap, liar, dan penuh obsesi.Baru setelah gelas itu kosong, Noah melepaskannya perlahan.BRAK!Elena langsung mendorong dada Noah sekuat tenaga hingga pria itu sedikit mundur. Elena berdiri sempoyongan sambil memegangi lehernya yang terasa panas.“Apa…yang kau berikan padaku?” suaranya gemetar marah.Noah malah tersenyum tipis. Pria itu mendekat lagi. Jari-jarinya yang panjang menyelip lembut ke rambut Elena, membelainya penuh rasa memiliki.“Hanya sesuatu…” bisiknya rendah di dekat wajah Elena. “Untuk membuat tubuhmu jujur.”DEGGG.Elena langsung menepis tangan Noah dan berlari menuju pintu. Namun saat ia memuta

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 140 (Kontrak Besar)

    Namun tepat saat Arga tinggal beberapa langkah lagi…Noah tiba-tiba membalik tubuh Elena dengan kasar namun tetap menahan pinggangnya erat.Tubuh mereka kini berhadapan begitu dekat sampai Elena bisa merasakan napas panas pria itu menyapu wajahnya.“Noah, jangan buat masalah lagi—” Kalimat Elena terputus.Karena Noah langsung menariknya ke tembok samping lalu mengangkat salah satu kaki Elena ke pinggangnya dengan mudah. Tangan besarnya mencengkeram paha wanita itu kuat, menahannya agar tidak turun sementara tubuh Elena hampir kehilangan keseimbangan.DEGGG!“Elena…” bisiknya rendah dan serak. “Aku sudah sangat lama merindukan tubuhmu.” Ucap Noah penuh dengan napsu tak tertahankan.Elena bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras ingin menembus gaunnya, jadi ia berusaha melepaskan diri, namun mendadak…Cup.Bibir Noah menghantam bibir Elena penuh rasa lapar yang brutal. Bukan ciuman lembut… melainkan penuh obsesi, penuh amarah karena kehilangan selama empat tahun.“Elena…” gumamnya lagi d

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 139 (Tidak Terduga)

    “Noah…” Suasana masih tegang saat Arga berdiri di depan Elena, melindunginya. Namun Noah justru tersenyum miring.“Istrimu…?” ulangnya pelan.Tatapannya turun sekilas ke tangan Arga yang menggenggam Elena… lalu kembali naik. Namun anehnya, ia tidak memancing konflik berlanjutan. Sebaliknya…Noah melangkah maju lalu dengan tangan terulur menepuk bahu Arga kasar.Seketika Arga terdiam sepersekian detik… lalu—“Lama tidak bertemu, bruh.”DEGGGG!!!Elena membeku di tempatnya, dengan mata membelalak kaget.“Apa…yang baru saja terjadi?!” bisiknya bingung.Karena detik berikutnya…Keduanya malah saling menarik dan BERPELUKAN.“Masih hidup juga kau,” sahut Noah dengan tawa rendah.“Tuan Noah sepertinya kecewa yaa?” balas Arga santai.Elena benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya seperti berhenti bekerja. Tatapannya berpindah dari satu pria ke pria lain… mencoba mencerna kenyataan yang terlalu absurd.Mereka…bahkan terlihat seperti sahabat akrab…dan tepat saat itu, Elena baru menyadari. Jika d

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 138 (Dansa Obsesi)

    Elena yang kini sedang berbincang ringan dengan beberapa kenalannya langsung menoleh. Matanya sedikit melebar… lalu perlahan melembut.“Nyonya Garli…”Wanita tua itu tersenyum lebar, benar-benar tulus.“Astaga, benar kamu!” Ia langsung mendekat dan meraih tangan Elena dengan hangat. “Saya tidak salah lihat.”Arga yang berdiri di samping hanya mengamati dengan tenang.“Kalian saling kenal?” tanyanya pelan.Elena mengangguk tipis. “Kami pernah bertemu… tidak sengaja.”Nyonya Garli terkekeh pelan.“Bukan sekadar bertemu. Dia menyelamatkan saya.”Arga mengangkat alis.Elena langsung terlihat sedikit canggung.“Itu hanya kebetulan…”Namun Nyonya Garli justru mulai bercerita, matanya berbinar.“Waktu itu di bandara Singapura. Saya transit… dan tiba-tiba kondisi saya kacau. Salah satu implan saya bermasalah, pecah. Saya panik, staf saya tidak sigap, dan saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana…”Elena menunduk sedikit, mengingat momen itu.“Saya hanya melihat beliau kesakitan,” ucapnya pe

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 71

    Noah hanya berdehem pelan lalu menunrunkan Elena perlahan, ia lalu berjalan cepat membuka lemari pakaian Elena.Setelah mengamati beberapa saat, ia akhirnya menemukan sebuah cardigan panjang, warna dusty yang panjangnya sampai lutut. Ia lalu melemparnya ke Elena.“Pakailah…”Elena buru-buru memakai

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 68

    Ternyata Harli hanya melirik ke arah Devon dan dua security yang masih belum juga berhasil membawa Sarah keluar dari area rumah sakit.Sarah sedang berusaha meronta dan mengoceh memohon penjelasan.Elena pun dengan gelagapan langsung menarik tangannya dari Noah, tapi pria itu masih menahan ujung je

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 67

    Sarah muncul entah dari mana, rambutnya tergerai rapi, gaun ketatnya membalut tubuhnya dengan percaya diri. Ia langsung merapat ke sisi Harli, menggandeng lengannya manja.“Takut ya?” bisiknya sinis menatap Elena tajam.Michel ikut tersenyum mendengar itu. Tatapannya menyapu Elena dari atas ke bawa

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 66

    Elena menutup pintu kamarnya cepat-cepat, lalu menyandarkan punggungnya.“Apa yang harus kulakukan…” gumamnya lirih.Hingga ponsel di tangannya bergetar menunjukkan pesan wa dari Noah.Jantungnya langsung berdegup keras.‘Datanglah ke ruang kerja rahasia. Kita perlu bicara. Aku bisa memberimu solus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status