LOGINPintu belum sepenuhnya tertutup saat Elena akhirnya menoleh pada Harli. Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya jelas menyimpan kegelisahan yang belum reda.
“Tuan Harli…” ucap Elena ragu. “Sebenarnya… siapa Michel?”
Harli tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan kopi di tangannya yang uap panasnya masih jelas terlihat lalu menyerahkannya begitu saja ke tangan Elena tanpa memperhatikan kesiapan perempuan itu.
“Pegang,” katanya datar.
Elena tersentak, terburu-buru menyambar gelas itu sebelum tumpah. Panasnya langsung menusuk telapak tangan, membuat jemarinya refleks bergetar. Ia cepat-cepat meletakkan gelas itu kembali ke meja, menahan napas agar tidak terlihat kesakitan.
Barulah kemudian Harli kembali duduk perlahan, seolah tindakan barusan adalah hal sepele.
Ia melirik Elena sepersekian detik, sebelum akhirnya membuka mulut.
“Dia kekasih Noah,” jawabnya tanpa beban, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Mereka sudah bersama cukup lama, sejak Noah masih di luar negeri.”
Jari Elena menegang di pangkuannya. Ia menunduk sesaat, berusaha menyembunyikan keterkejutan yang merambat cepat di dadanya.
Ia sama sekali tidak tahu jika setelah putus dengan Noah, ternyata pria itu sudah punya kekasih bahkan sudah sangat lama.
Harli melanjutkan, nadanya kini berubah lebih serius.
“Keluarga Michel juga bukan sembarang orang. Awalnya aku berniat menjodohkan mereka secara resmi.” Harli diam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Melihat sikap Noah akhir-akhir ini, sepertinya aku harus mempercepat pertunangan mereka.”
Elena mengangkat wajahnya perlahan. Senyum tipis masih terpatri, tapi dadanya terasa semakin sempit. Ia mengangguk kecil, seolah setuju, meski di dalam hatinya muncul perasaan asing yang sulit ia tepis.
Ruang makan kembali sunyi, meninggalkan kata pertunangan yang menggantung di udara, berat dan menyesakkan.
“Sayang…”
Elena tersentak kecil saat suara Harli memanggil, menariknya kembali dari lamunan yang belum sempat ia rapikan.
“Kau bersiaplah,” ucap Harli sambil melirik arlojinya. “Aku akan menemanimu belanja.”
Elena mengerjap, sedikit terkejut.
“Belanja?” Elena tersenyum tipis, mencoba terdengar wajar. “Pakaianku masih cukup, Tuan Harli. Aku rasa—”
Tatapan Harli berubah. Tidak marah, tidak keras, justru terlalu tenang. Itu membuat Elena otomatis terdiam.
Harli melangkah mendekat. Tangannya terangkat, membelai rambut Elena perlahan, gerakannya tampak penuh perhatian. Namun sentuhan itu membuat tengkuk Elena menegang, nalurinya menolak meski tubuhnya tetap diam.
“Kau sekarang Nyonya Blackwood,” kata Harli rendah. “Orang-orang akan melihatmu berdiri di sisiku.”
Nada suaranya datar, nyaris seperti memberi nasihat. Tapi Elena mendengarnya sebagai tuntutan.
Jarinya turun dari rambut Elena ke rahangnya, memaksa wajah itu sedikit terangkat. Tatapan Harli menelusuri Elena seperti sedang menilai barang yang akan dipamerkan.
“Aku tidak mau istriku terlihat murahan,” lanjutnya pelan. “Apa gunanya uang kalau tidak bisa membuat segalanya tampak sempurna?”
Elena menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap menahan diri. Ia tidak menepis tangan Harli, juga tidak membalas sentuhan itu. Hanya berdiri kaku, menyembunyikan rasa tidak nyaman yang kian menekan.
“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya. Suaranya halus, tapi terdengar hambar.
Harli tersenyum puas, senyum seorang pria yang terbiasa didengar dan dituruti.
“Bagus,” katanya singkat. “Sepuluh menit. Supir sudah menunggu.”
Ia berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Elena sendirian di ruang makan yang terasa semakin dingin.
Elena menarik napas panjang, tangannya mengepal pelan di sisi gaunnya. Sejujurnya, sifat Harli yang seperti ini lah yang membuat Elena tidak nyaman. Hanya saja, ia tidak bisa melakukan apapun.
Menikah dengan Harli pun terpaksa.
Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan
Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa
“Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l
“Om Noah, lihat ini!” seru Lexia lagi dengan antusias sambil memperlihatkan boneka kecil di dalam rumah-rumahan.Noah menatap sekilas lalu mengangguk pelan.“Hm. Bagus.” Jawabnya lembut.Lexia tersenyum puas lalu kembali sibuk bermain.Beberapa saat kemudian Noah akhirnya bangkit dari sofa lalu berjalan mendekat. Pria itu ikut duduk di lantai tepat di samping Lexia, membuat anak kecil itu sedikit melongo karena bahkan Arga saja jarang benar-benar mau duduk bermain boneka bersamanya karena ia terlalu sibuk.Namun Noah terlihat santai. Pria itu mengambil satu miniatur mobil kecil lalu menjalankannya pelan di atas karpet.Lexia langsung tertawa kecil melihatnya.“Om Noah…” panggil anak itu tiba-tiba.“Hm?”“Kau ternyata tidak terlalu menyebalkan.”Noah sampai terkekeh rendah.“Pujian yang bagus.”Lexia tersenyum bangga sendiri. Tatapan Noah kemudian perlahan berubah lebih dalam saat melihat wajah anak kecil itu lebih dekat.Semakin lama…semakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Ben
“AH!” Elena langsung terkejut saat Noah tiba-tiba menarik tubuhnya kuat ke atas. Dalam satu gerakan cepat, pria itu mengangkat Elena ke dalam gendongannya.“Noah!” Elena membelalak kaget sambil refleks memegang bahu pria itu erat.Karena posisinya benar-benar mendadak, kedua kaki Elena otomatis melingkar di pinggang Noah agar tidak jatuh. Cardigan tipis yang dipakainya tersingkap memperlihatkan paha putih mulusnya makin jelas.Noah justru terlihat sangat puas. Senyum tipis penuh kemenangan muncul di bibir tampannya saat kedua tangannya menopang paha Elena erat.“Turunkan aku!” bisik Elena panik sambil melirik ke arah pintu.Tapi Noah malah berjalan santai membawa Elena menjauh dari ruang depan menuju tangga ke lantai dua rumah.Semakin Elena berontak, semakin juga Noah bersemangat dan mendekatkan wajahnya ke leher Elena hingga napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita tersebut perlahan.“Aku suka dia tahu kau sedang bersamaku.”DEGG.“Elena langsung memukul bahu Noah pelan. “Ka
Inara langsung mengulurkan tangannya ke arah Noah dengan wajah memelas. Air matanya menggantung di ujung mata, bibirnya bergetar seolah ia benar-benar korban paling menyedihkan di sana.“Noah…” lirihnya pelan sambil mencoba meraih tangan pria itu. “Aku sakit…”Tapi langkah Noah sama sekali tidak berhenti. Semua orang langsung terdiam saat pria itu melewati Inara begitu saja tanpa melirik sedikit pun. Bahkan tatapannya tidak turun padanya sedetik pun, seolah wanita itu hanyalah udara kosong yang tidak penting.Aura Noah Blackwood terasa terlalu dingin dan menekan saat ia berjalan lurus ke arah Elena. Sepatu kulit hitam mahalnya berhenti tepat di depan wanita itu. Tubuh tinggi pria tersebut langsung menutupi Elena dari pandangan banyak orang. Rahangnya mengeras, mata gelapnya turun perlahan ke pipi Elena yang masih memerah bekas tamparan.Beberapa saat kemudian…Noah mengangkat tangannya perlahan. Semua pegawai café sampai menahan napas.Karena pria yang terkenal kejam, dingin, dan bahka
Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu senga
Noah masih menahan kedua pergelangan tangan Elena di depan tubuh wanita itu, membuat Elena sulit bergerak apalagi melarikan diri.“Noah… cukup…ada orang diluar.” napas Elena mulai tidak teratur saat pria itu kembali mendekat.Namun Noah seperti tidak mendengar. Pria itu justru menunduk perlahan, me
Cairan wine itu mengalir paksa melewati bibir Elena.“UGH…khh…” Elena langsung terbatuk hebat, namun Noah tidak berhenti. Tangan besarnya mencengkeram rahang Elena kuat sementara gelas kristal itu terus dimiringkan hingga tetes terakhir habis.“Noah…berhenti…!” Pekik Elena menahan bahu kekar mantan
Namun tepat saat Arga tinggal beberapa langkah lagi…Noah tiba-tiba membalik tubuh Elena dengan kasar namun tetap menahan pinggangnya erat.Tubuh mereka kini berhadapan begitu dekat sampai Elena bisa merasakan napas panas pria itu menyapu wajahnya.“Noah, jangan buat masalah lagi—” Kalimat Elena ter







