LOGINElena berjalan di antara rak-rak gaun dengan perasaan asing. Setiap harga yang dilihatnya membuat dadanya mengencang. Tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan, semuanya terasa berlebihan.
“Gajiku satu tahun ini.” Lirihnya menatap gaun paling sederhana dibutik Daor itu.
Toko paling mahal di dunia, dan hanya bisa dimasuki oleh orang kalangan atas. Elena tidak pernah menyangka bisa masuk bahkan berbelanja di tempat ini.
Meski begitu, hatinya sama sekali tidak bahagia, rasa sedih terkurung di sudut matanya.
Di sisinya, dua pengawal Harli berdiri tegap. Harli sendiri merangkul bahu Elena dengan santai, senyumnya ramah di hadapan pramuniaga.
“Ambil saja,” ujar Harli ringan saat Elena ragu di depan cermin. “Kau pasti cantik memakainya.”
Elena mengangguk pelan tak berani membantah.
Ponsel Harli tiba-tiba berdering. Ia melirik layar, lalu berdiri. “Kita ke kantor sekarang. Ada klien besar.”
Harli pun meminta semua barang yang disentuh Elena di kirim ke rumah.
Elena pun hanya bisa mengikut saja, lalu mereka meninggalkan Mall melalui pintu privat begitu saja.
Di dalam mobil, Harli duduk santai, tangannya sesekali menyentuh bahu Elena. Tapi Elena hanya menatap keluar, pikirannya melayang memikirkan hidupnya kedepannya akan seperti apa, ia mencoba menenangkan diri tapi bayangan Noah berkali-kali mengusiknya.
Beberapa saat kemudian, begitu sampai di Gedung Blackwood. Elena terpukau sesaat sambil mengikuti langkah kaki suaminya, hingga suara Harli mengagetkannya. “Tunggu di lobi,” katanya singkat. “Aku sambut klien dulu yang barusan datang. Sarah akan mengantarmu ke ruang istirahat nanti.”
Elena pun patuh dan langsung duduk di sofa lobi, tangannya saling menggenggam. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat dan tidak sedikit yang melirik tajam kearahnya. Ia merasa…sangat kecil karena tatapan mereka, hingga berkali-kali melihat penampilannya sendiri.
Untungnya tak lama kemudian, Sarah muncul.
“Silakan ikut saya, Nyonya,” ucap perempuan itu dengan senyum tipis.
Elena menoleh. Perempuan bernama Sarah itu tampil mencolok dengan gaun merah marun ketat membalut tubuh semoknya, belahan kaki tinggi memperlihatkan betis jenjang yang mulus. Rambut hitamnya disanggul tinggi dengan anting panjang berkilau. Wajahnya cantik, tapi tatapannya tajam.
“Elena,” koreksinya pelan.
“Oh… tentu.” Senyum Sarah melebar sinis. “Maaf, saya lupa. Penampilan anda terlalu biasa berada di gedung ini.”
Nada suaranya sopan, tapi Elena sadar betul sekretaris suaminya ini tidak menyukainya.
Sarah berjalan lebih dulu, langkahnya mantap dengan sepatu hak tinggi yang bergaung di koridor. “Ruang istirahat sedang dipakai klien lain,” katanya santai. “Tapi saya punya tempat lain yang… lebih tenang.”
“Saya pikir…”
“Tenang saja,” potong Sarah lembut. “Sebagai istri bos, Anda pasti akan diberikan fasilitas terbaik.”
Ia lalu berhenti di depan sebuah pintu.
Begitu Elena masuk, pintu ditutup cepat.
KLIK.
Di dalam, Elena merasakan bau debu yang menyengat, dari kardus-kardus yang menumpuk.
“Sarah?” suaranya bergetar. Ia meraba pintu, mengetuk. “Sarah…?”
Tak ada jawaban.
“To…lo..ng..” napas Elena mulai naik turun, dan dadanya terasa sangat sesak. Juga tangannya mulai gemetar hebat.
Sejak lama, ia menderita Claustrophobia dengan serangan panik akut. Trauma lama itu kembali menghantamnya tanpa ampun.
Diluar, Sarah tersenyum puas. Ia menepuk-nepuk tangannya dari debu dengan santai.
“Kau tahu,” katanya pelan, “kau tidak pantas jadi Nyonya Blackwood.”
Elena merosot sepenuhnya ke lantai. Punggungnya menempel pada dinding, lututnya ditekuk ke dada. Tangannya gemetar hebat sampai ia tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri.
Ruangan terasa semakin sempit, “Tidak… jangan…” gumamnya mulai linglung.
Tenggorokannya perih, matanya panas, lalu air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Ia benar-benar menangis dengan putus asa.
“Elena… tenang…” ia mencoba membujuk dirinya sendiri, tapi suaranya bergetar hebat.
Tubuhnya bergetar semakin keras. Tangannya menutup telinga, seolah itu bisa menghentikan semua rasa takut yang menyesakkan dadanya. Bahunya naik turun tak beraturan, tangisnya kini terdengar tersengal.
“A…aku mau keluar…” bisiknya putus asa pada kegelapan. “Tolong…”
Tapi tetap tidak ada jawaban.
Saat tubuhnya akan jatuh pingsan…
BRAKK!
Hantaman keras mengguncang pintu besi.
“Elena!”
Tangis Elena pecah seketika. Ia terisak keras, tak lagi mampu menahannya. Tubuhnya gemetar hebat saat pintu akhirnya terbuka, cahaya menerobos masuk bersama sosok tinggi yang langsung berlutut di hadapannya.
“Noah…” Elena langsung memeluknya dengan gemetar.
Tangan pria itu, terasa begitu hangat menepuk pundaknya pelan.
“Tarik napas,” suara Noah terdengar rendah, dan sangat dekat.
Elena pun mencobanya, tapi rasa sesak di dadanya membuatnya kesulitan bernapas.
Tanpa banyak bicara, Noah malah langsung menggendongnya. Refleks, ia melingkarkan tangan di leher Noah, jari tangannya mencengkeram kemejanya kuat.
Dalam gendongan Noah ia bisa merasakan rasa aman yang membuatnya bernostalgia sejenak tentang hubungan mereka dulu.
Dulu mereka bertemu pertama kali di pasar malam, saat trauma Elena kumat karena banyak orang. Ia duduk di tengah jalan, dan menahan rasa sesak yang begitu nyeri sambil minta tolong tapi tidak ada yang menolongnya sama sekali.
Saat ia berpikir akan mati disana, tiba-tiba datang seseorang yang langsung duduk dan menepuk-nepuk punggung dan bahunya hingga tenang.
Sejak hari itu, hubungan mereka berlanjut… nostalgia Elena terhenti karena mereka sudah sampai diluar.
Beberapa karyawan disana menoleh melihat bos mereka menggendong seorang wanita asing karena belum banyak yang tahu status Elena.
Rasa malu menyusup cepat, membuat Elena sangat ingin menghilang saat itu juga.
“Elena kenapa?” suara Michel terdengar cemas. “Dia kenapa, Noah?”
Noah tidak menjawab. Elena hanya mendengar suara Noah yang berat sedikit membentak.
“Devon.”
“Ya, Tuan.”
“Siapkan mobil. Sekarang.”
Tubuh Elena masih gemetar, meski tangisnya mulai mereda. Noah menyesuaikan pelukannya, membuat kepala Elena refleks bersandar di bahunya.
“Kita pulang sekarang,” ucap Noah rendah.
Tiba-tiba suara berat mengentikan langkah Noah.
“Ada apa ini?”
Elena membuka mata. Jantungnya kembali berdegup tak beraturan.
Harli berjalan mendekat ke arah mereka.
Elena menelan ludah. Tangannya yang tadi mencengkeram kemeja Noah perlahan dilepaskan, dengan gerakan hati-hati, ia menurunkan diri dari gendongan Noah. Kepalanya terasa berputar, tapi ia memaksakan diri berdiri.
“A..aku tidak apa-apa,” ucap Elena pelan menundukkan kepala.
Noah langsung menoleh tajam. “Elena…”
“Cukup,” potong Harli singkat. Tatapannya sangat tajam pada Elena. “Kau malah membuat keributan di sini.”
Elena menunduk, sangat malu saat ini.
“Kau pulang dengan sopir saja,” lanjut Harli, nadanya datar tak peduli. “Aku dan Noah masih banyak urusan. Jangan merepotkan di perusahaan.”
Noah yang tak bisa membantah ayahnya di depan umum hanya bisa menepuk bahu Elena pelan, Elena pun bisa merasakan rasa khawatir dimatanya, jadi ia membalas dengan senyuman.
“Aku sudah lebih baik,” katanya lirih.
Elena bisa melihat Noah masih ingin mengatakan sesuatu tapi ia sudah memutuskan pergi dari sana.
Begitu Elena pergi, Noah ingin mengatakan ini ulah Sarah pada ayahnya, tapi ia mengurungkan niatnya begitu melihat Harli menarik pinggang Sarah dan bukannya meeting ia malah masuk keruang kerjanya dan tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam.
"Lelaki tua itu." lirihnya mengepalkan tangan.
Di dalam ruangan, Harli menarik Sarah dan duduk di pangkuannya, "Kau cantik sekali hari ini sayang, aku sampai tidak bisa menahan diri sejak tadi."
Tangannya dengan santai meremas pinggang sekretarisnya itu yang padat dan semok, lalu menariknya lebih erat hingga menempel lekat dengan tubuhnya.
Harli memejamkan mata sejenak, menikmati aroma tubuh Sarah yang membuatnya makin bersemangat.
"Bos, jangan gitulah, Anda inikan sudah menikah." ujar Sarah lirih tapi tangannya dengan lembut membelai wajah Harli.
"Ahhh.. aku hanya ingin memperbaiki citra burukku dengan menikahi perempuan polos itu. Tapi soal rasa kau yang terbaik sayang." rengkuh Harli mengecup leher Sarah bergairah.
"Aku bahkan belum menyentuhnya," lanjutnya dan dengan sigap menarik kerah blazer Sarah hingga melorot sepenuhnya.
Kepala Harli tenggelam dalam belahan daging yang membuat laki-laki dewasa manapun merasa nyaman dan tidak berani melepaskannya.
Melihat Sarah yang tampak segan tidak seperti biasa, Harli tanpa memindahkan kepalanya berkata pelan, "Aku akan membawamu belanja apapun setelah kau memuaskanku."
Sarah langsung tersenyum licik dan merasa menang atas kendali Bosnya itu dari pada Elena.
“Kau bisa diandalkan juga, Elena,” ujar Harli ringan sambil menyendok sedikit daging ke mulutnya.Matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji rapi di atas meja, ada ayam panggang rosemary dengan saus krim jamur, udang tiger saute bawang putih, sup bening consommé berkaldu jernih, serta nasi putih Jepang yang pulen.serta nasi hangat yang tampak begitu pulen.“Hmmm… rasanya lumayan,” ucap Harli tanpa sedikit pun menatap Elena yang sejak tadi berdiri di sampingnya yang setia melayani.Elena menghela napas pelan. Dadanya terasa lebih ringan setelah menunggu komentar suaminya itu.“Terima kasih, Tuan,” jawab Elena sambil tersenyum lega.Tapi senyuman Elena langsung menghilang ketika Harli tiba-tiba berhenti mengunyah.Jantung Elena berdetak kencang, “Apa ada yang salah, Tuan Harli?” tanya Elena meremas jari-jarinya gugup.Harli tidak menjawab sama sekali, tapi Tatapan Harli yang tajam membuat dengkul Elena lemas seketika.Tanpa peringatan, Harli tiba-tiba menarik tangan Elena hingga tu
Menjelang siang, mobil akhirnya berhenti di depan Mansion Blakwood.Begitu pintu terbuka, Harli dan Noah langsung melangkah masuk lebih dulu. Elena sempat mengernyit. Bukannya Tuan Harli bilang ada proyek penting? Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya mengikuti dari belakang.Noah justru tertawa kecil begitu masuk ke ruang tengah, menoleh pada ayahnya.“Keadaan daerah itu benar-benar buruk,” katanya santai. “Jauh dari kata layak.”Harli mengangguk setuju sambil melepas jas. “Air panasnya saja dingin. Rumahnya juga sesak. Tidak nyaman.”Ucapan itu membuat Elena menunduk, menelan perasaan tak enak. Padahal rumahnya itu, adalah rumah terbaik disana. Tapi bagi orang sekaya mereka dilihat begitu tidak layak bagaimana jika mereka melihat kost tiga kali empat tempat tinggal Elena dulu. Mungkin sudah di anggap kandang.Pantas saja, dulu saat ia pacaran dengan Noah, Noah kadang membuang muka begitu makan di pinggir jalan dengannya, tapi ia tidak pernah menyangka Noah sekasar itu menilai rumahn
“Elena.”Elena yang sekarang duduk di bangku taman mendengus pelan, tak memperhatikan. Udara malam menusuk, tapi kepalanya justru terasa panas dengan banyaknya beban pikiran.Tiba-tiba…“Hss.”“Apa ini!” Elena tersentak saat sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia refleks menoleh.“Noah?!”Noah berdiri santai di samping bangku, satu tangan menyodorkan gelas bening. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tajam mengamati Elena.“Di sini dingin,” katanya singkat. “Kenapa kamu malah di luar?”Ia meletakkan gelas berisi kopi dingin itu ke tangan Elena.Elena mendengus kasar. “Harusnya kopi panas.”“No,” balas Noah ringan. “Yang dingin lebih cocok. Bisa mendinginkan hatimu juga.”Elena mendengus lagi, kali ini diiringi senyum kecil. “Dari mana kamu dapat ini?”Noah mengangkat bahu. “Aku suruh Amara bikin. Sampai tiga kali baru pas.”Elena terkekeh pelan, senyum miring terbit di bibirnya. Hanya Noah yang beberapa kali menghiburnya meski caranya sering menyebalkan dan perkataann
“Akhirnya sampai juga,” ujar Elena pelan merenggangkan pinggangnya sebentar.Noah turun lebih dulu.Begitu kakinya menginjak halaman, jas hitamnya jatuh rapi mengikuti bahu bidangnya. Ia berhenti sejenak, lalu mengancingkan jasnya dengan santai tapi gestur sederhana itu justru menegaskan kendali dan wibawanya. Sementara jam mahal di pergelangan tangannya berkilau.“Hah…” Elena yang baru hendak turun refleks terhenti ketika tangannya tiba-tiba ditarik agak kasar.“Elena,” ucap Noah rendah, matanya tajam menyorot wajahnya.“Apa lagi?” Elena menoleh dengan tatapan kesal.Noah melirik rumah besar di hadapan mereka, lalu kembali menatap Elena dengan senyum miring.“Jadi selama ini kamu tidaklah semiskin itu.” Nadanya dingin. “Tapi kenapa hidupmu selalu bergantung pada pria?”“Lepaskan tanganmu,” balas Elena cepat sambil menarik tangannya. “Jangan sok mengerti hidupku.”Noah menyeringai tipis, lalu membiarkannya pergi.“Elena!”Tuan Guzel melangkah cepat dari pintu utama, disusul istrinya d
“Noah, kamu kok mau ikut sih?” kata Michel sambil tertawa kecil. “Ganggu ayahmu dan Elena saja.”Elena refleks mengangguk cepat, tak terima jika orang yang paling ia hindari malah ikut juga.“Iya,” sahut Elena segera. “Perjalanan ke rumahku jauh. Jalannya juga sering macet. Kamu pasti nggak nyaman.”Noah menoleh ke arahnya, menatap Elena lama sambil tersenyum lewat matanya. Elena terpaku sejenak melihat bola mata hitam pekat Noah yang begitu tajam sekaligus menawan yang kembali mengguncang perasaanya.“Aku nggak masalah,” jawab Noah singkat.Mendengar jawaban Noah yang sepertinya tidak menerima penolakan, Elena pun langsung memutar otak untuk mencegahnya ikut.Sayangnya, sebelum Elena bisa menambahkan alasan lain, Harli justru tertawa ringan sambil menepuk bahu Noah.“Kenapa tidak?” katanya santai. “Ayah malah senang. Kamu biasanya cuek, sekarang tiba-tiba punya inisiatif.” Ujar Harli senang.Elena menelan ludah, tak habis pikir dengan pikiran Noah.Michel mengangkat alis, lalu terse
Sejak kejadian di kolam, Elena terus menghindari Noah. Ia selalu menolak makan bersama dengan berbagai alasan, bahkan memutar arah setiap kali bayangan tubuh tinggi Noah muncul dari kejauhan.Tapi rumah sebesar apa pun tetap terasa sempit untuk menghindar. Setiap kali mereka tak sengaja berpapasan, Elena selalu menangkap sorot kesal di wajah Noah, sesuatu yang mungkin tak akan disadari orang lain, karena ekspresinya hampir selalu datar. Tapi bagi Elena itu hal yang mudah untuk ia tebak.Meski begitu, hal yang paling Elena takuti bukanlah membuat Noah marah padanya. Melainkan nafsu dalam dirinya sendiri.Ia takut pada rasa rindu yang diam-diam tumbuh dan perlahan menggerogoti kendalinya. Setiap hari ia berusaha menjauh, tetapi perasaaan lamanya saat jatuh cinta tak semudah itu dihapus.Tanpa sadar, Elena sering memperhatikan Noah dari kejauhan, sebuah kebiasaan yang pelan-pelan berubah menjadi candu.Dari balik jendela kamarnya, pandangannya kerap tertuju pada ruang gym pribadi keluarga







