Share

Aku menginginkanmu

Penulis: Memey Yin
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 14:39:24

Malam harinya—Freya berdiri di balkon apartemennya, menatap gemerlap kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Angin malam menerpa wajah, membawa sedikit ketenangan yang sejak pagi dia cari.

Hari itu terasa panjang.

Terlalu panjang.

Ponselnya bergetar.

Nama Anthony muncul di layar.

Freya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan layar tanpa menjawab.

Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Namun, sebelum dia sempat menjauh, ponselnya kembali bergetar.

Kali ini nomor tak dikenal.

Freya mengernyit.

Ragu sejenak, tapi akhirnya dia mengangkat panggilan itu.

“Halo?”

Beberapa detik hening. Lalu— “Kau tidak merindukanku, Aurora?”

Suara itu.

Dalam.

Tenang.

Langsung membuat jantung Freya berdetak tidak wajar.

Freya membeku. “Rick?”

Senyum tipis di seberang sana seakan bisa terasa meski tak terlihat.

“Kukira kau sudah melupakanku.”

Freya menelan ludah. “Aku tidak memberimu nomor ponselku.”

“Aku punya caraku sendiri.” Jawaban santai itu justru membuat Freya semakin waspada.

“Untuk apa kau meneleponku?” tanyanya, berusaha terdengar dingin.

“Memastikan kau masih hidup dan baik-baik saja,” jawab Maverick ringan. “Biasanya wanita patah hati sering berbuat nekat.”

“Wanita gila mana yang berniat mengakhiri hidup hanya karena patah hati. Terlalu dramatis,” dengus Freya. Sedikitpun tak ada pikiran konyol itu dalam benaknya.

“Benarkah?”

Satu kata itu terasa seperti menelanjangi kebohongannya.

Freya terdiam.

Maverick melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Tidak perlu berusaha untuk tetap baik-baik saja jika memang hatimu terluka. Kau bisa menangis jika ingin.”

Freya menggertakkan giginya. Pria ini terlalu mudah membaca dirinya.

“Dengar,” ucapnya tegas, “apa pun yang terjadi waktu itu hanya kebetulan. Kita tidak punya hubungan apa-apa, jadi jangan berusaha untuk masuk dalam hidupku.”

“Lebih tepatnya belum, Aurora.” Entah kenapa, nada suaranya berubah. Lebih dalam dan terdengar berbahaya.

Freya merasakan sesuatu yang aneh merambat di dadanya. “Jangan terlalu percaya diri.”

“Kalau begitu…” jeda sejenak, cukup untuk membuat napas Freya tertahan, “kenapa aku masih bisa merasakanmu di sini? Suara desahanmu yang merdu masih terngiang di telinga ini, Aurora.”

Degup jantung Freya seperti berhenti sesaat. “Kau keterlaluan,” desisnya, mencoba menahan goyah.

Maverick terkekeh pelan.

“Jangan hubungi aku lagi.”

Freya langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban.

Tangannya gemetar.

Napasnya tidak teratur.

Sial.

Kenapa hanya dengan suara pria itu saja dia bisa merasa seperti ini?

Freya langsung membuka mata dengan cepat, seakan tersengat. “Gila,” desisnya.

Dia menggeleng keras, mencoba mengusir bayangan yang tak seharusnya.

Itu hanya satu malam.

Tidak lebih.

Dan tidak akan pernah terulang lagi.

***

“Freya! Kau melamun lagi?”

Suara itu menarik Freya kembali ke dunia nyata. Ia mengedipkan mata beberapa kali sebelum menatap wanita di depannya.

“Maaf, aku hanya sedikit lelah,” jawabnya singkat.

“Sedikit?” sahut Clara sambil melipat tangan di dada. “Sejak pagi kau banyak melamun. Fokusmu berantakan, bahkan hampir salah memberi resep. Itu bukan Freya yang kukenal.”

Freya menghela napas pelan. Dia tahu Clara tidak akan mudah dibohongi. Mereka sudah berteman sejak masa koas.

“Aku baik-baik saja.”

Clara menyipitkan mata. “Bohong.”

Freya terdiam.

“Apa ini karena Anthony?” tebak Clara langsung.

Nama itu seperti menyentil sesuatu dalam dirinya. Namun, anehnya, bukan wajah Anthony yang muncul di benaknya.

Melainkan pria lain.

Freya langsung menggeleng pelan, seolah mengusir pikiran itu.

“Sudah selesai,” ucapnya datar. “Aku memutuskan hubungan itu.”

Clara terdiam sejenak, lalu ekspresinya melunak. “Serius? Akhirnya kau sadar juga.”

Freya mengangguk.

“Bagus. Pria seperti dia tidak pantas untukmu,” katanya tegas. Ada nada lega dalam suaranya.

Clara memang tidak menyukai Anthony, entah apa alasannya hanya dia yang tahu.

Usai bekerja, Freya tidak langsung pulang.

Alih-alih kembali ke apartemen yang terasa terlalu sunyi, dia justru berhenti di sebuah restoran mewah di pusat kota.

Tempat itu tenang. Musiknya lembut. Cukup untuk membuat pikirannya sedikit reda dari berbagai gejolak.

Dia duduk di sudut ruangan, memesan makan malam seadanya.

Namun, belum sempat makanan itu datang—langkah kaki seseorang berhenti tepat di mejanya.

“Sendirian?”

Suara itu membuat Freya membeku.

Perlahan, dia mendongak. Dan benar saja. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

“Kau—” Freya terdiam, kehilangan kata-kata.

Maverick—yang masih menggunakan nama Rick—tersenyum santai, seolah pertemuan ini adalah hal yang sangat wajar.

“Kita bertemu lagi, Aurora.”

Freya menyipitkan mata. “Ini tidak mungkin kebetulan.”

“Tidak semua hal di dunia ini kebetulan,” balasnya ringan. “Kadang takdir memang suka mempertemukan dua orang yang sama.”

Freya mendengus pelan. “Jangan mulai.”

Maverick tertawa pelan. Tanpa meminta izin, pria itu menarik kursi di hadapannya dan duduk.

“Aku belum mengizinkanmu duduk.”

“Tapi kau juga tidak melarangku dengan serius.”

Freya menghela napas, mencoba mengendalikan dirinya. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanyanya langsung.

Maverick menatapnya dalam-dalam. Tatapan yang sama seperti malam itu—tenang, tapi penuh sesuatu yang sulit dibaca.

“Kau.”

Satu kata. Tegas dan penuh tekad.

Membuat Freya kehilangan ritme napasnya.

“Berhenti bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

Freya menatapnya tajam. “Kita tidak saling mengenal.”

“Kalau begitu mari kita mulai dari awal.”

Freya terdiam.

Sial.

Pria ini terlalu percaya diri.

“Aku tidak tertarik.”

“Benarkah?” Maverick sedikit memiringkan kepala. “Lalu kenapa kau masih terlihat gugup setiap kali melihatku?”

Freya langsung berdiri. “Kau terlalu percaya diri, Tuan.”

“Hanya mengatakan kejujuran.”

“Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu, Rick!”

Freya mengambil tasnya. Namun, sebelum sempat melangkah—

“Sampai jumpa di Indonesia, Cantik.”

Langkah Freya terhenti. Kepalanya menoleh. Tatapannya berubah tajam.

“Dari mana kau tahu itu?”

Maverick tersenyum tipis. “Seperti yang kubilang, aku punya caraku sendiri.”

“Kau mengawasiku?” suaranya menurun, penuh kewaspadaan.

“Kalau aku bilang iya?”

Freya langsung merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya. “Siapa kau sebenarnya?”

Maverick tidak langsung menjawab. Dia berdiri, mendekat, mempersempit jarak di antara mereka.

Terlalu dekat.

“Anggap saja aku pria yang sedang menginginkan sesuatu.”

Freya menelan ludah.

“Dan yang kau inginkan itu aku?” tanyanya, nyaris berbisik.

Maverick tersenyum. “Bukankah itu sudah jelas sejak awal?”

Freya mundur satu langkah. Ada sesuatu dalam pria ini yang membuatnya berbahaya, tapi di saat yang sama terlihat menarik.

“Jangan ikuti aku lagi,” ucap Freya tegas.

Maverick tidak menahannya. Dia hanya berdiri di tempat, menatap kepergian Freya dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

“Sayangnya itu bukan pilihanmu lagi, Aurora.”

Bersambung ✍️

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Akan kubuat hidupmu tidak tenang

    Freya menatap Maverick beberapa saat. Tatapan pria itu memang tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras. Ujung jarinya bahkan masih menggenggam ponsel terlalu kuat.Dia mengenal Maverick cukup baik untuk tahu satu hal. Pria itu hanya memasang wajah seperti itu ketika ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.“Siapa yang membuatmu setegang ini, Rick?” tanya Freya akhirnya.“Bukan siapa-siapa.”“Rick.”“Aurora.” Maverick balas menatapnya. “Jangan ikut campur.”Freya menghela napas pelan. “Aku hanya bertanya.”“Tidak untuk urusan ini.”“Kenapa?”“Karena aku tidak ingin menyeretmu.”Freya terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa hangat. Maverick memang tidak pernah pandai merangkai kata-kata romantis. Cara pria itu melindunginya selalu terdengar dingin dan memerintah. Namun, Freya tahu maksudnya. Maverick mencium keningnya singkat sebelum berdiri.“Aku harus pergi.”“Sekarang?”“Ada beberapa orang yang harus kutemui.”Freya ikut bangkit. “Hati-hati.”

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Musuh yang mulai menunjukkan diri

    Alula bangun dengan kepala yang pusing luar biasa setelah semalam mengamuk dan menangis sepanjang malam.Matanya bengkak, hidungnya memerah, kantung mata hitam seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari.Pandangannya menyapu ke ranjang di samping yang terlihat rapi dan dingin. Menandakan jika semalam Maverick sama sekali tak mendekati ranjang.“Aku harus bagaimana lagi untuk meluluhkan hatimu, Maverick?” batin hatinya perih. Dia sudah berusaha, membuang seluruh harga diri untuk memohon pada pria yang menjadi suaminya, tetapi sekalipun pria itu tak pernah menganggap kehadirannya lebih dari pajangan.Alula menghubungi kepala pelayan untuk bertanya tentang Maverick yang ternyata masih tinggal. Mendengar penuturan itu dia segera membersihkan diri dan mematut dirinya dengan cantik, lalu keluar dan menghampiri ruang kerja yang ternyata kosong.“Di mana suamiku?” tanya Alula pada pelayan yang lewat.“Sepertinya ada di ruang gym, Nyonya.”Alula segera membawa langkahnya naik menuju lant

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Harga diri Alula

    “Rick, semuanya baik-baik saja?”“Ya. Kau tidak perlu cemas. Istirahat saja. Aku akan keluar menemui Ryan.”“Kau menginap?”“Jika tidak ada hal penting aku akan kembali.”Sebelum pergi Maverick mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya. Pria itu memutuskan langsung pulang begitu laporan Ryan mengatakan jika salah satu dari mata-mata yang mengikutinya berhasil lolos.Siapa bajingan gila yang berani menguntit kehidupan pribadinya?Sesampainya di dalam mobil, Ryan menyerahkan iPad yang berisi sebuah rekaman video. Salah satu pria duduk terikat di sebuah kursi di ruangan yang tak asing.Maverick menekan tombol play hingga video berdurasi lima menit itu berputar.“Apa menurut Anda, Nyonya Alula yang melakukannya?” tanya Ryan hati-hati.“Tidak. Alula tidak memiliki akses ke sana. Mustahil. Terlalu nekat jika dia sampai melakukannya.”“Kami masih menyelidiki latar belakang pria itu.”“Informasi apa yang dibawa pria yang kabur?”“Hanya informasi tanpa bukti. Kami berhasil mengambil ponsel dan ka

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Mata-mata

    “Kenapa memblokir nomorku, Rora? Dasar tidak tahu diri. Dasar cucu durhaka.”Wajah Areta memenuhi layar ponsel. Wanita tua itu menggunakan video call dengan nomor ponsel Nadya. Ya, sejak terakhir kali wanita tua itu memarahinya, Freya memang memblokir nomornya.“Karena Nenek terlalu berisik. Pasti menghubungiku marah-marah begini setelah mendengar cucu kesayangannya mengadu,” jawab Freya berani.“Freya Aurora, beraninya kau menghina dan mengatakan hal buruk pada Alula. Apa kau sudah gila? Dia saudarimu. Bukannya membantu kau malah membuat kakakmu tertekan.”“Nenek marah-marah kalau aku menghina Alula dan ibunya, tapi kau sendiri sering sekali menghina ibuku. Apa aku sebagai anaknya hanya boleh diam saja? Kalau kau tidak mau dihina, maka jangan suka menghina. Berkaca. Akal dipakai sebelum mulut bicara.”Freya berkata tanpa peduli lagi dengan sopan santun. Toh itu juga tidak akan pernah ada artinya di depan Areta. Apa pun sikap baik yang ditunjukkan, baginya Freya tetap tak pernah benar

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Digempur sampai lemas

    Jujur saja mendengar ucapan Maverick, hatinya berdenyut nyeri. Namun, apa mau dikata, itu memang yang diinginkan.“Kenapa melamun saja?” tanya Maverick yang baru saja membereskan meja makan.“Siapa? Aku tidak.”Freya merebahkan diri di ranjang sambil bermain ponsel, sementara Maverick pergi untuk mandi. Tak lama pria itu keluar hanya dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Pria itu sudah menganggap apartemen Freya seperti rumahnya sendiri.Ranjang sebelahnya bergerak, Freya tak menoleh. Namun, pelukan pria itu membelit perutnya dengan sangat erat. Bibirnya mulai mencumbu tengkuk Freya dengan sangat lihai, membuat Freya menggeliat pelan karena geli.“Jangan menggangguku, Rick,” keluhnya dengan nada kesal.“Aku merindukanmu, Aurora,” katanya dengan tangan yang sudah bergerilya menyentuh tubuh bagian depan Freya.Cumbuan Maverick di lehernya, usapan pria itu di titik-titik sensitif tubuhnya membuat Freya melenguh pelan. Tubuhnya menggeliat dalam rengkuhan sang pria. “Rick,” d

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Kau dapatkan tubuhku, kudapatkan balas dendamku

    “Aku baru saja keluar dari area operasi.”“Aku melihat wanita yang pakaiannya mirip denganmu bersama Maverick.”“Hah?” tanyanya setenang mungkin.Freya refleks menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih tulang dan blazer krem sederhana. Sangat normal. Sangat umum. Namun, kalimat Alula tetap membuat dadanya menegang sepersekian detik.Apakah Alula memergokinya saat tengah berpelukan dengan Maverick tadi? Tidak, tidak mungkin.Alula melipat tangan di dada sambil terus memperhatikan ekspresi adiknya. Mencari kebohongan yang mungkin saja terlihat.Freya mendengus pelan. “Jadi sekarang semua wanita berblazer krem adalah selingkuhan suamimu?”“Aku serius, Rora.”“Kau seperti melempar tuduhan tanpa bukti padaku. Jika kau tak percaya padaku, silakan tanyakan pada asistenku apa saja jadwalku hari ini.”Freya bersandar di dinding sambil mengamati Alula yang terlihat frustrasi. Wanita yang kemarin memuji suaminya dan mengagungkan hidup sempurna, kini harus menelan ucapannya lagi. N

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Malam penuh gairah (21+)

    “Tutup matamu.”Freya mengernyit. “Apa?”“Tutup matamu,” ulang pria itu, lebih lembut kali ini.Entah kenapa, Freya menurut. Dunia yang berputar karena alkohol kini terasa semakin samar ketika kelopak matanya menutup. Dia merasakan jemari pria itu menyentuh dagunya, mengangkatnya perlahan. Tidak k

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Menggoda pria

    “Ahh! Um! Jangan begini, nanti ada yang melihatnya.”“Aku rindu. Seminggu ini kau menjaga jarak denganku.”“Kau tahu alasannya.”“Kapan kau akan meninggalkannya? Kau bilang mencintaiku. Apa itu hanya bualanmu saja?”“Tentu saja tidak. Aku benar-benar mencintaimu.”Freya berdiri di depan pintu yang

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Godaan kakak ipar

    Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan terlihat hangat sekaligus mewah.Gaun-gaun elegan, jas mahal, dan tawa para tamu berpadu menjadi satu menjadikan suasana begitu hidup.Di tengah semua itu

  • Candu Sentuhan Panas Kakak Ipar    Jangan menyentuhku

    Alula menoleh, sedikit mengernyit. “Di hotel?” “Bersama siapa kamu, Rora? Jangan-jangan di luar sana hubunganmu dan Anthony sudah sangat jauh?” cecar Areta seolah telah menemukan kesalahan. Jantung Freya berdetak kencang. Dia hampir bisa merasakan dunia runtuh tepat di bawah kakinya. Maverick te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status