Mag-log inSinar matahari tampak mengintip malu-malu melewati tirai jendela. Freya mengerjap pelan saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam.
Matanya terbuka, tapi tubuhnya enggan bangun. Seluruh tulangnya seperti bergeser tidak pada tempatnya. Semalam pria itu benar-benar menagih ucapannya untuk menghabisinya di atas ranjang. Pengalaman pertama, tapi langsung digempur habis-habisan. Enam tahun menjaga diri dari Anthony, dia justru menghancurkannya dalam satu malam hanya karena amarah. “Sial.” Anehnya, dia tidak sepenuhnya menyesal. Tubuhnya perlahan bangun. Tidak ada siapa pun di kamar itu. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai tidak sadar jika pintu kamar terbuka, dan sosok pria yang memberikan kehangatan berdiri di sana. “Kau sudah bangun?” Freya menoleh, tubuhnya membeku selama beberapa detik. Kepingan adegan semalam berkelebat liar seperti kaset rusak yang terus berputar. “Ya, bisa tolong aku?” “Katakan saja tidak perlu sungkan, Aurora.” “Bagaimana kau tahu namaku?” Sang pria mengangkat alisnya heran, “Semalam kita berkenalan.” Tentu saja Freya melupakannya. “Aku mungkin dalam pengaruh alkohol dan tidak ingat sama sekali.” “It’s oke.” “Siapa namamu?” “Panggil saja Rick.” “Oke, aku akan memesan pakaian, bisakah aku mengirimkannya ke sini?” “Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Ada di sana,” katanya menunjuk sofa panjang di ujung ruangan. “Terima kasih.” Freya mengeratkan selimut di tubuh. Perlahan kakinya menapak lantai. Sensasi dinginnya lantai, bercampur nyeri di inti tubuh ketika berdiri. Bibirnya mendesah pelan, tapi dia tetap memaksa langkahnya menuju kamar mandi. Tidak ada adegan dramatis di mana dia akan menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya. Ini pilihan yang telah diambil. Usai mandi, dia keluar. Bibirnya berdecak kagum akan tempat tinggal sang pria yang ternyata jauh lebih mewah dari bayangan. “Sarapan dulu, aku sudah memesan makanan.” Maverick duduk di sofa tengah ruangan sambil memangku laptop. “Tidak, terima kasih. Aku harus pergi,” tolaknya sambil melihat jam tangan. “Kau harus mengisi tenaga dulu, Nona. Semalam kau muntah cukup parah.” “Aku akan baik-baik saja. Aku menyimpan aspirin dalam tasku.” Maverick tak memaksa. “Perlu aku mengantarmu? Mobilmu masih ada di bar.” “Tidak, aku bisa memesan taksi.” Freya gugup. Dia menatap pria di depannya dengan hati-hati sambil berkata, “Sebutkan nomor rekeningmu. Aku akan mentransfer bayarannya.” Maverick diam, lalu tawanya pecah. Dia tak menyangka wanita itu benar-benar menganggapnya seorang gigolo. Yang benar saja. “Apa kau puas dengan pelayananku? Jika tidak, kita bisa mengulanginya lagi sebagai kompensasi.” Pipi Freya memerah. Dia benar-benar malu. Pria di depannya ini terlalu terang-terangan. “Kau sungguh luar biasa, Rick.” Senyum puas memenuhi bibir Maverick. “Terima kasih atas pujianmu, Nona.” “Jadi berapa nominal yang harus kubayar padamu? Katakan saja. Aku bisa membayarmu dan tak akan berhutang,” kelakar Freya menutupi detak jantungnya yang menggila. Jika dalam keadaan serius, Maverick jelas akan mengamuk karena dianggap pria bayaran. Harga dirinya seperti dijatuhkan dan diinjak-injak. Biasanya dia yang akan membayar wanita, kali ini dia yang akan dibayar oleh wanita. Lucu sekali. “Tak perlu, aku sudah mengambil bayaranku.” “Rick? Kau tak percaya aku punya uang?” “Pergilah, Aurora. Senang bertemu denganmu.” “Kau serius tak meminta bayaran?” tanya Freya masih tak percaya. “Aku tidak semiskin itu, Aurora.” Freya bisa melihatnya. Tampilan pria itu tidak seperti orang yang kekurangan uang. Pakaian mahal, kendaraan limited edition, hunian di kawasan elite. Siapa yang menyangka pria dengan tampilan mahal itu adalah seorang pemuas nafsu. “Ya sudah, terserah padamu. Ingat, aku tidak berhutang apa pun padamu.” Berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti mendengar seruan sang pria. “Tunggu!” Maverick mendekat, memangkas jarak, lalu dengan gerakan lembut dia menarik Freya menempel padanya. Pria itu memberi kecupan lembut di kening dan melumat bibirnya singkat. Lalu mengusap sudut bibirnya pelan. “Hati-hati di jalan. Kita akan bertemu lagi.” “Bye, Rick! Semoga kita tidak pernah bertemu lagi,” ucap Freya dalam hati diakhir kalimat. *** “Rora, tunggu! Kita harus bicara!” Anthony mengikuti langkah Freya yang baru saja keluar dari ruang perawatan pasien. Namun, Freya mengabaikan. Dia terus berjalan tanpa sedikitpun menatap ke arah pria yang terus mengikutinya. Begitu sampai ruangan, Freya menjatuhkan tubuhnya di kursi, mendongak untuk melihat Anthony yang juga menatapnya. “Semalam kau pergi ke mana? Aku menunggumu sampai pagi ini, tapi kau tak juga pulang.” “Kita bukan siapa-siapa. Tidak ada kewajibanku untuk memberitahu semua kegiatanku. Kita sudah selesai.” “Rora, kau harus dengar penjelasanku dulu.” “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Keluar, aku butuh istirahat.” “Rora! Tahun depan tinggal beberapa bulan. Rencana pernikahan kita sudah di depan mata, Sayang.” “Lebih baik seperti ini. Apa jadinya jika kita sudah menikah dan aku baru tahu kau berkhianat? Sudahlah, kau sudah berani mengambil keputusan, artinya kau juga sudah siap dengan konsekuensinya. Teruskan saja. Sepertinya gadis itu juga mencintaimu.” Freya tak mau ambil pusing. Baginya hubungan mereka sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu diperjelas. Namun, pria di depannya ini sungguh keras kepala. “Aku khilaf, Rora. Tolong, maafkan aku. Kita masih bisa memperbaikinya.” “Berapa lama kau menjalin kasih dengannya?” Rasa penasaran mendorongnya bertanya demikian. “Dua tahun.” Tawa Freya mengudara. Sangat keras. “Dua tahun? Sialan!” umpatnya dalam hati. Desas-desus yang mengatakan Anthony menjalin kasih dengan pasiennya sudah lama terdengar. Namun, selama ini pria itu terlalu bermain dengan rapi. Tidak pernah membuatnya curiga dan dia belum memiliki pembuktian untuk gosip itu. Jadi, begitu melihatnya secara langsung, tidak ada alasan baginya untuk bertahan. Kenapa harus mempertahankan pria peselingkuh yang suka menikmati lubang wanita? “Kau bukan pria bodoh yang akan melakukan kesalahan selama dan serapi itu. Khilaf itu sekali, Anthony. Kau menikmatinya berkali-kali.” “Aku tidak berselingkuh, Rora. Kami hanya having sex.” Di Amerika, sex bebas memang bukan kejahatan. Namun, sebelum mulai menjalin hubungan, mereka sudah sepakat untuk berkomitmen. Bukan hubungan terbuka yang membebaskan mereka tetap menjalin asmara dengan orang lain. “Aku sungguh mencintaimu,” ulang Freya mengingat ucapan pria itu pada wanita selingkuhannya. “Sejelas itu kau mengatakannya dan kau bilang hanya untuk bersenang-senang.” “Itu kenyataannya. Aku hanya mencintaimu, Rora.” “Persetan dengan cintamu!” bentaknya kesal. Emosinya memuncak mendengar tiap alasan yang dilontarkan. “Keluar dari ruanganku!” “Rora!” Anthony menghela napas frustrasi. Berdebat dengan kekasihnya memang membutuhkan tenaga ekstra. Dia bukan seperti perempuan kebanyakan yang bisa dengan mudah diluluhkan. Alasan dia jatuh cinta pada gadis cantik bermata biru tersebut. “Keluar sebelum mulut busuk ini melukaimu dengan kata-kata paling kasar yang belum pernah kau dengar.” Bersambung ✍️Freya menatap Maverick beberapa saat. Tatapan pria itu memang tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras. Ujung jarinya bahkan masih menggenggam ponsel terlalu kuat.Dia mengenal Maverick cukup baik untuk tahu satu hal. Pria itu hanya memasang wajah seperti itu ketika ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.“Siapa yang membuatmu setegang ini, Rick?” tanya Freya akhirnya.“Bukan siapa-siapa.”“Rick.”“Aurora.” Maverick balas menatapnya. “Jangan ikut campur.”Freya menghela napas pelan. “Aku hanya bertanya.”“Tidak untuk urusan ini.”“Kenapa?”“Karena aku tidak ingin menyeretmu.”Freya terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa hangat. Maverick memang tidak pernah pandai merangkai kata-kata romantis. Cara pria itu melindunginya selalu terdengar dingin dan memerintah. Namun, Freya tahu maksudnya. Maverick mencium keningnya singkat sebelum berdiri.“Aku harus pergi.”“Sekarang?”“Ada beberapa orang yang harus kutemui.”Freya ikut bangkit. “Hati-hati.”
Alula bangun dengan kepala yang pusing luar biasa setelah semalam mengamuk dan menangis sepanjang malam.Matanya bengkak, hidungnya memerah, kantung mata hitam seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari.Pandangannya menyapu ke ranjang di samping yang terlihat rapi dan dingin. Menandakan jika semalam Maverick sama sekali tak mendekati ranjang.“Aku harus bagaimana lagi untuk meluluhkan hatimu, Maverick?” batin hatinya perih. Dia sudah berusaha, membuang seluruh harga diri untuk memohon pada pria yang menjadi suaminya, tetapi sekalipun pria itu tak pernah menganggap kehadirannya lebih dari pajangan.Alula menghubungi kepala pelayan untuk bertanya tentang Maverick yang ternyata masih tinggal. Mendengar penuturan itu dia segera membersihkan diri dan mematut dirinya dengan cantik, lalu keluar dan menghampiri ruang kerja yang ternyata kosong.“Di mana suamiku?” tanya Alula pada pelayan yang lewat.“Sepertinya ada di ruang gym, Nyonya.”Alula segera membawa langkahnya naik menuju lant
“Rick, semuanya baik-baik saja?”“Ya. Kau tidak perlu cemas. Istirahat saja. Aku akan keluar menemui Ryan.”“Kau menginap?”“Jika tidak ada hal penting aku akan kembali.”Sebelum pergi Maverick mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya. Pria itu memutuskan langsung pulang begitu laporan Ryan mengatakan jika salah satu dari mata-mata yang mengikutinya berhasil lolos.Siapa bajingan gila yang berani menguntit kehidupan pribadinya?Sesampainya di dalam mobil, Ryan menyerahkan iPad yang berisi sebuah rekaman video. Salah satu pria duduk terikat di sebuah kursi di ruangan yang tak asing.Maverick menekan tombol play hingga video berdurasi lima menit itu berputar.“Apa menurut Anda, Nyonya Alula yang melakukannya?” tanya Ryan hati-hati.“Tidak. Alula tidak memiliki akses ke sana. Mustahil. Terlalu nekat jika dia sampai melakukannya.”“Kami masih menyelidiki latar belakang pria itu.”“Informasi apa yang dibawa pria yang kabur?”“Hanya informasi tanpa bukti. Kami berhasil mengambil ponsel dan ka
“Kenapa memblokir nomorku, Rora? Dasar tidak tahu diri. Dasar cucu durhaka.”Wajah Areta memenuhi layar ponsel. Wanita tua itu menggunakan video call dengan nomor ponsel Nadya. Ya, sejak terakhir kali wanita tua itu memarahinya, Freya memang memblokir nomornya.“Karena Nenek terlalu berisik. Pasti menghubungiku marah-marah begini setelah mendengar cucu kesayangannya mengadu,” jawab Freya berani.“Freya Aurora, beraninya kau menghina dan mengatakan hal buruk pada Alula. Apa kau sudah gila? Dia saudarimu. Bukannya membantu kau malah membuat kakakmu tertekan.”“Nenek marah-marah kalau aku menghina Alula dan ibunya, tapi kau sendiri sering sekali menghina ibuku. Apa aku sebagai anaknya hanya boleh diam saja? Kalau kau tidak mau dihina, maka jangan suka menghina. Berkaca. Akal dipakai sebelum mulut bicara.”Freya berkata tanpa peduli lagi dengan sopan santun. Toh itu juga tidak akan pernah ada artinya di depan Areta. Apa pun sikap baik yang ditunjukkan, baginya Freya tetap tak pernah benar
Jujur saja mendengar ucapan Maverick, hatinya berdenyut nyeri. Namun, apa mau dikata, itu memang yang diinginkan.“Kenapa melamun saja?” tanya Maverick yang baru saja membereskan meja makan.“Siapa? Aku tidak.”Freya merebahkan diri di ranjang sambil bermain ponsel, sementara Maverick pergi untuk mandi. Tak lama pria itu keluar hanya dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Pria itu sudah menganggap apartemen Freya seperti rumahnya sendiri.Ranjang sebelahnya bergerak, Freya tak menoleh. Namun, pelukan pria itu membelit perutnya dengan sangat erat. Bibirnya mulai mencumbu tengkuk Freya dengan sangat lihai, membuat Freya menggeliat pelan karena geli.“Jangan menggangguku, Rick,” keluhnya dengan nada kesal.“Aku merindukanmu, Aurora,” katanya dengan tangan yang sudah bergerilya menyentuh tubuh bagian depan Freya.Cumbuan Maverick di lehernya, usapan pria itu di titik-titik sensitif tubuhnya membuat Freya melenguh pelan. Tubuhnya menggeliat dalam rengkuhan sang pria. “Rick,” d
“Aku baru saja keluar dari area operasi.”“Aku melihat wanita yang pakaiannya mirip denganmu bersama Maverick.”“Hah?” tanyanya setenang mungkin.Freya refleks menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih tulang dan blazer krem sederhana. Sangat normal. Sangat umum. Namun, kalimat Alula tetap membuat dadanya menegang sepersekian detik.Apakah Alula memergokinya saat tengah berpelukan dengan Maverick tadi? Tidak, tidak mungkin.Alula melipat tangan di dada sambil terus memperhatikan ekspresi adiknya. Mencari kebohongan yang mungkin saja terlihat.Freya mendengus pelan. “Jadi sekarang semua wanita berblazer krem adalah selingkuhan suamimu?”“Aku serius, Rora.”“Kau seperti melempar tuduhan tanpa bukti padaku. Jika kau tak percaya padaku, silakan tanyakan pada asistenku apa saja jadwalku hari ini.”Freya bersandar di dinding sambil mengamati Alula yang terlihat frustrasi. Wanita yang kemarin memuji suaminya dan mengagungkan hidup sempurna, kini harus menelan ucapannya lagi. N
“Nona Whitmore perhatian sekali dengan Dokter Anthony. Sampai rela memasak makanan kesukaan dokter walaupun sedang hamil muda. Beruntung sekali memiliki pasangan yang sama-sama memiliki effort dan feedback.”“Jelas sekali kalau cinta mereka setara.”Bisik-bisik di cafetaria rumah sakit itu masih je
Lorong rumah utama tampak sepi. Lampu-lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin.Freya berjalan pelan. Langkahnya ringan, tapi pikirannya berat. Dia hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di meja makan, lalu kembali ke paviliun.Namun, langkah
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan terlihat hangat sekaligus mewah.Gaun-gaun elegan, jas mahal, dan tawa para tamu berpadu menjadi satu menjadikan suasana begitu hidup.Di tengah semua itu
Alula menoleh, sedikit mengernyit. “Di hotel?” “Bersama siapa kamu, Rora? Jangan-jangan di luar sana hubunganmu dan Anthony sudah sangat jauh?” cecar Areta seolah telah menemukan kesalahan. Jantung Freya berdetak kencang. Dia hampir bisa merasakan dunia runtuh tepat di bawah kakinya. Maverick te







