MasukDenpasar, Bali — Indonesia
Setelah menempuh perjalanan panjang dari New York, akhirnya dia tiba di rumah. Bangunan dua lantai dengan konsep modern tropis. Freya melangkah turun begitu mobil tiba di halaman. Di teras, sang ayah tersenyum penuh kerinduan. Berjalan cepat, Freya menghambur ke pelukan cinta pertamanya. “Papa merindukanmu, Rora! Bagaimana kabarmu?” Alessandro menyambut putrinya, mencium puncak kepalanya penuh kasih. “Seperti yang kau lihat, aku sehat dan bisa kembali ke rumah ini.” Begitu masuk ke dalam rumah, udara sejuk langsung menerpa wajahnya yang panas. Freya menjatuhkan tubuhnya di sofa, matanya menyapu seisi rumah yang tak pernah berubah. Dia sudah lama tak pulang. Terakhir pulang tahun lalu saat dia berkunjung ke makam wanita yang melahirkannya. Hari ini dia pulang karena lusa ada perayaan ulang tahun sang ayah. “Istirahatlah. Kamu pasti lelah. Mama masih di rumah sakit mengantar Nenek kontrol.” “Kamar utama masih ada, Pa?” tanya Freya penasaran. Sudah lama tak pulang mungkin saja kamar itu sudah dipakai yang lainnya. “Ada. Tetap rutin dibersihkan. Kamar itu tetap kosong, Rora. Tidak ada yang berubah. Jangan khawatir.” Alessandro menjawab. Sejak papanya menikah lagi, kamar itu kosong karena Alessandro memilih menempati kamar lain. Alasannya ingin menjaga perasaan Freya yang saat itu sudah beranjak remaja. Freya mengangguk, dia naik ke lantai atas menuju kamar utama. Matanya mengamati sekeliling, di atas ranjang ada foto berukuran besar. Ada Freya kecil, Mami dan Papa. Bibirnya melengkung membentuk senyum. Papa berhasil menjaga kepercayaannya dengan menjaga kenangannya. Tubuhnya terhempas ke ranjang mencari kenyamanan. Aneh tapi nyata, Freya adalah tipe orang yang mudah tidur. Suara berisik atau apa pun tak akan mengganggu. Asal kepalanya menemukan kenyamanan, dia bisa tidur tanpa menunggu waktu lama. Samar-samar Freya mendengar suara di ruang tengah. Dia keluar dari kamar dan menemukan seluruh keluarganya berkumpul. Seorang wanita paruh baya menghampiri dan memeluknya. Nadya — istri papanya. “Apa kabar, Rora? Kamu terlihat baik dan semakin cantik,” bertanya lembut. “Kau bertanya dan menjawab di satu kalimat, Mama.” Freya membalas pelukan itu pelan, lalu melepaskannya hati-hati. Dia menatap sang nenek yang duduk di kursi roda. “Nenek kelihatannya semakin sehat.” “Tentu saja. Aku harus sehat untuk melihat cicitku nanti. Bagaimana dengan rencana pernikahanmu?” tanyanya dengan tatapan lurus ke arah Freya seolah tengah memindai penampilannya. “Jika butuh sesuatu minta pada papamu. Jangan bekerja terlalu keras.” Areta tersenyum samar. Meski suaranya penuh perhatian, tapi ekspresi wajahnya terlihat dingin. Selama ini Freya tidak pernah kekurangan uang. Gajinya sebagai dokter sudah sangat cukup untuk membiayai dirinya sendiri. Setiap bulan dia masih mendapatkan uang dari usaha resto maminya dan uang jajan dari papanya. Jadi sudah dipastikan Freya tidak miskin. “Mengapa tak mengajaknya datang, Rora?” Alessandro turut menimpali dengan tanya. Freya diam, sebenarnya tak ingin membahasnya. Namun, kedua keluarga sudah saling mengenal. “Kami putus. Dia berselingkuh selama dua tahun.” “Astaga! Bagaimana bisa pria itu mengkhianatimu, Rora? Ya Tuhan!” Nadya memekik keras tak terima. “Jadi kamu benar-benar putus dengannya? Apa kamu tidak berencana memberinya kesempatan kedua? Kalian sudah lama bersama.” “Tidak. Aku sudah yakin dengan keputusanku.” “Kamu sudah dewasa, Rora. Pasti tahu mana yang terbaik. Dengan siapa pun nanti, kuharap kamu menemukan seseorang yang tepat.” Alessandro tak mau banyak bertanya karena kejadian itu pasti melukai putrinya. Freya mengangguk. “Terima kasih sudah mau mengerti aku, Pa.” “Dalam hubungan, masalah itu akan selalu ada, Rora. Apalagi kalian berencana ke jenjang yang serius, godaan itu akan semakin keras. Bicarakan dengan kepala dingin sebelum mengambil keputusan. Sayang sekali, Nenek terlanjur menyukai Anthony,” kata Areta dengan bijak, tapi di telinga Freya kalimat itu seperti kata-kata tajam. “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Nek. Pernikahan itu satu untuk selamanya. Aku tidak mau menikah lalu bercerai jika salah memilih pasangan.” “Sudah, Bu. Jangan menekan Rora. Putriku itu gadis pintar, dia tahu mana yang baik untuk hidupnya,” potong Alessandro mencegah ibu mertuanya bicara lagi. Freya tak mau suasana menjadi canggung, jadi dia pamit kembali ke kamar dengan alasan ingin membersihkan diri. Setelah makan malam, Nadya mendatangi Freya ke paviliun sambil membawa paper bag. “Ini gaun untukmu. Papamu yang memilihkannya langsung,” katanya sambil meletakan bungkusan itu di atas ranjang. “Ya, terima kasih.” “Jika kamu butuh teman bicara, Mama siap mendengarkan, Rora. Jika tak bisa bicara sebagai ibu dan anak, kita bisa bicara sebagai keponakan dan tantenya.” Freya tersenyum. “Terima kasih, tapi aku memang baik-baik saja. Tidak perlu cemas. Hubunganku memang kandas, tapi hidupku akan terus berjalan.” *** Nadya, Areta dan para pelayan sudah sibuk di dapur. Seharian Freya memang tidak datang ke rumah utama. Dia menikmati ketenangan di paviliun sambil bersantai. Setelah mengambil minum, Freya berlalu. Keluar dari rumah menuju garasi. Mengambil kunci di dalam rak penyimpanan, lalu memanaskan mobil dan keluar. Freya berkendara menikmati suasana sore. Jalanan masih cukup lenggang, tapi cukup padat begitu memasuki area gianyar. Setelah cukup lama berkendara, mobil berhenti di parkiran sebuah cafe yang terletak di daerah pinggiran. Suasananya asri, dekat persawahan hijau. Ada area terbuka di bagian belakang cafe yang mengarah langsung pada pemandangan yang menyegarkan mata. “Terima kasih,” ucap Freya saat pelayan mengantarkan pesanan. Freya mengabadikan pemandangan indah tersebut melalui kamera ponsel. Semakin sore semakin banyak pelanggan yang datang. Entah kalangan muda atau dewasa. Tempat ini memang sederhana, tapi menawarkan pemandangan yang luar biasa. Setelah sunset, Freya memutuskan pulang karena sejak tadi Nadya tak berhenti menghubungi. Saat tiba di rumah, dia heran karena ada mobil yang terparkir di halaman. “Ada tamu, Pak?” tanya Freya pada tukang kebun yang tengah membersihkan halaman depan. “Nona Alula dan suaminya, Non.” Freya ber-oh ria. Pantas saja Nadya dan Areta sibuk di dapur langsung, ternyata ada yang istimewa. Ruang tamu dan ruang tengah kosong. Namun, saat menuju ke area samping ada Nadya dan ibunya. “Rora, darimana saja kamu ini? Mama khawatir kamu tersesat.” Freya menggeleng pelan. “Aku bukan anak kecil. Kekhawatiranmu terlalu berlebihan.” Areta menatap Freya kesal. “Bersikaplah sopan, Rora. Orang tua khawatir itu wajar. Kamu anak perempuan, pergi sendirian tanpa pamit. Ini Indonesia, jangan bawa-bawa budaya barat yang terlalu bebas.” Freya menatap neneknya. Bagian mananya dia tidak sopan? Dia menjawab tanpa nada ketus. Suaranya pun tidak tinggi. Ekspresinya pun biasa saja, bukan yang datar dan dingin. “Bagian mana dari kata-kataku yang tidak sopan? Aku menjawab pertanyaan Mama dengan benar. Soal kebebasan, rasanya aku juga tidak melakukan sesuatu yang salah,” jawab Freya. “Rora, Mama, sudah!” Nadya berusaha menengahi. “Tidak bisa, Ma. Nenek harus menjelaskan. Kenapa harus membawa-bawa budaya barat padahal aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya berkeliling di sekitar sini saja.” Alessandro masuk dan mendapati dua wanita berbeda generasi tengah perang dingin. “Inilah kalau perempuan berpendidikan tinggi diberi kebebasan hidup. Diberitahu orang tua tidak terima, ini juga demi kebaikanmu,” debat Aleta yang merasa benar. “Itulah pentingnya kenapa wanita harus berpendidikan tinggi. Supaya bisa melihat dunia dari sudut pandang luas,” bantah Freya dengan opininya. Aleta menatap menantunya sambil berdecak, “Lihat, kan, Ale. Putrimu bahkan sudah berani mendebat neneknya hanya karena diberi teguran kecil.” Saat suasana semakin menegang, terdengar langkah kaki mendekat. “Ada apa ini? Suara kalian terdengar sampai ke kamarku.” Freya mengangkat wajah dan menemukan Alula di sana. “Hai,” sapanya. Alula mendekat ke arah Freya, memeluknya singkat. Namun, pandangan gadis itu masih lurus ke depan. Ada rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan. “Sial, bagaimana bisa dia ada di sini?” gumam Freya, masih menatap seorang pria yang berjalan makin dekat. Pria itu menyeringai dengan wajah penuh arti. “Rora, kenalkan dia suamiku.” Suara Alula bagaikan petir di siang bolong. Menyambar dan membuat napas Freya berhenti seketika. Well, kegilaan macam apa ini. “Hai, Kakak Ipar.” Freya tersenyum canggung sambil mengulurkan tangan. “Senang bertemu denganmu lagi, Aurora.” Pria itu menggenggam tangan Freya cukup lama dan melepasnya dengan gerakan lambat yang disengaja. “Kalian pernah bertemu sebelumnya? Di mana?” sela Areta dengan wajah pias. Freya memejamkan mata. Bagaimana jika pria ini membuka mulutnya tentang kejadian itu. Sialan. “Kami bertemu di hotel—” Bersambung ✍️Freya menatap Maverick beberapa saat. Tatapan pria itu memang tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras. Ujung jarinya bahkan masih menggenggam ponsel terlalu kuat.Dia mengenal Maverick cukup baik untuk tahu satu hal. Pria itu hanya memasang wajah seperti itu ketika ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.“Siapa yang membuatmu setegang ini, Rick?” tanya Freya akhirnya.“Bukan siapa-siapa.”“Rick.”“Aurora.” Maverick balas menatapnya. “Jangan ikut campur.”Freya menghela napas pelan. “Aku hanya bertanya.”“Tidak untuk urusan ini.”“Kenapa?”“Karena aku tidak ingin menyeretmu.”Freya terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa hangat. Maverick memang tidak pernah pandai merangkai kata-kata romantis. Cara pria itu melindunginya selalu terdengar dingin dan memerintah. Namun, Freya tahu maksudnya. Maverick mencium keningnya singkat sebelum berdiri.“Aku harus pergi.”“Sekarang?”“Ada beberapa orang yang harus kutemui.”Freya ikut bangkit. “Hati-hati.”
Alula bangun dengan kepala yang pusing luar biasa setelah semalam mengamuk dan menangis sepanjang malam.Matanya bengkak, hidungnya memerah, kantung mata hitam seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari.Pandangannya menyapu ke ranjang di samping yang terlihat rapi dan dingin. Menandakan jika semalam Maverick sama sekali tak mendekati ranjang.“Aku harus bagaimana lagi untuk meluluhkan hatimu, Maverick?” batin hatinya perih. Dia sudah berusaha, membuang seluruh harga diri untuk memohon pada pria yang menjadi suaminya, tetapi sekalipun pria itu tak pernah menganggap kehadirannya lebih dari pajangan.Alula menghubungi kepala pelayan untuk bertanya tentang Maverick yang ternyata masih tinggal. Mendengar penuturan itu dia segera membersihkan diri dan mematut dirinya dengan cantik, lalu keluar dan menghampiri ruang kerja yang ternyata kosong.“Di mana suamiku?” tanya Alula pada pelayan yang lewat.“Sepertinya ada di ruang gym, Nyonya.”Alula segera membawa langkahnya naik menuju lant
“Rick, semuanya baik-baik saja?”“Ya. Kau tidak perlu cemas. Istirahat saja. Aku akan keluar menemui Ryan.”“Kau menginap?”“Jika tidak ada hal penting aku akan kembali.”Sebelum pergi Maverick mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya. Pria itu memutuskan langsung pulang begitu laporan Ryan mengatakan jika salah satu dari mata-mata yang mengikutinya berhasil lolos.Siapa bajingan gila yang berani menguntit kehidupan pribadinya?Sesampainya di dalam mobil, Ryan menyerahkan iPad yang berisi sebuah rekaman video. Salah satu pria duduk terikat di sebuah kursi di ruangan yang tak asing.Maverick menekan tombol play hingga video berdurasi lima menit itu berputar.“Apa menurut Anda, Nyonya Alula yang melakukannya?” tanya Ryan hati-hati.“Tidak. Alula tidak memiliki akses ke sana. Mustahil. Terlalu nekat jika dia sampai melakukannya.”“Kami masih menyelidiki latar belakang pria itu.”“Informasi apa yang dibawa pria yang kabur?”“Hanya informasi tanpa bukti. Kami berhasil mengambil ponsel dan ka
“Kenapa memblokir nomorku, Rora? Dasar tidak tahu diri. Dasar cucu durhaka.”Wajah Areta memenuhi layar ponsel. Wanita tua itu menggunakan video call dengan nomor ponsel Nadya. Ya, sejak terakhir kali wanita tua itu memarahinya, Freya memang memblokir nomornya.“Karena Nenek terlalu berisik. Pasti menghubungiku marah-marah begini setelah mendengar cucu kesayangannya mengadu,” jawab Freya berani.“Freya Aurora, beraninya kau menghina dan mengatakan hal buruk pada Alula. Apa kau sudah gila? Dia saudarimu. Bukannya membantu kau malah membuat kakakmu tertekan.”“Nenek marah-marah kalau aku menghina Alula dan ibunya, tapi kau sendiri sering sekali menghina ibuku. Apa aku sebagai anaknya hanya boleh diam saja? Kalau kau tidak mau dihina, maka jangan suka menghina. Berkaca. Akal dipakai sebelum mulut bicara.”Freya berkata tanpa peduli lagi dengan sopan santun. Toh itu juga tidak akan pernah ada artinya di depan Areta. Apa pun sikap baik yang ditunjukkan, baginya Freya tetap tak pernah benar
Jujur saja mendengar ucapan Maverick, hatinya berdenyut nyeri. Namun, apa mau dikata, itu memang yang diinginkan.“Kenapa melamun saja?” tanya Maverick yang baru saja membereskan meja makan.“Siapa? Aku tidak.”Freya merebahkan diri di ranjang sambil bermain ponsel, sementara Maverick pergi untuk mandi. Tak lama pria itu keluar hanya dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Pria itu sudah menganggap apartemen Freya seperti rumahnya sendiri.Ranjang sebelahnya bergerak, Freya tak menoleh. Namun, pelukan pria itu membelit perutnya dengan sangat erat. Bibirnya mulai mencumbu tengkuk Freya dengan sangat lihai, membuat Freya menggeliat pelan karena geli.“Jangan menggangguku, Rick,” keluhnya dengan nada kesal.“Aku merindukanmu, Aurora,” katanya dengan tangan yang sudah bergerilya menyentuh tubuh bagian depan Freya.Cumbuan Maverick di lehernya, usapan pria itu di titik-titik sensitif tubuhnya membuat Freya melenguh pelan. Tubuhnya menggeliat dalam rengkuhan sang pria. “Rick,” d
“Aku baru saja keluar dari area operasi.”“Aku melihat wanita yang pakaiannya mirip denganmu bersama Maverick.”“Hah?” tanyanya setenang mungkin.Freya refleks menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih tulang dan blazer krem sederhana. Sangat normal. Sangat umum. Namun, kalimat Alula tetap membuat dadanya menegang sepersekian detik.Apakah Alula memergokinya saat tengah berpelukan dengan Maverick tadi? Tidak, tidak mungkin.Alula melipat tangan di dada sambil terus memperhatikan ekspresi adiknya. Mencari kebohongan yang mungkin saja terlihat.Freya mendengus pelan. “Jadi sekarang semua wanita berblazer krem adalah selingkuhan suamimu?”“Aku serius, Rora.”“Kau seperti melempar tuduhan tanpa bukti padaku. Jika kau tak percaya padaku, silakan tanyakan pada asistenku apa saja jadwalku hari ini.”Freya bersandar di dinding sambil mengamati Alula yang terlihat frustrasi. Wanita yang kemarin memuji suaminya dan mengagungkan hidup sempurna, kini harus menelan ucapannya lagi. N
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan terlihat hangat sekaligus mewah.Gaun-gaun elegan, jas mahal, dan tawa para tamu berpadu menjadi satu menjadikan suasana begitu hidup.Di tengah semua itu
Alula menoleh, sedikit mengernyit. “Di hotel?” “Bersama siapa kamu, Rora? Jangan-jangan di luar sana hubunganmu dan Anthony sudah sangat jauh?” cecar Areta seolah telah menemukan kesalahan. Jantung Freya berdetak kencang. Dia hampir bisa merasakan dunia runtuh tepat di bawah kakinya. Maverick te
Malam harinya—Freya berdiri di balkon apartemennya, menatap gemerlap kota yang tak pernah benar-benar tidur.Angin malam menerpa wajah, membawa sedikit ketenangan yang sejak pagi dia cari.Hari itu terasa panjang.Terlalu panjang.Ponselnya bergetar.Nama Anthony muncul di layar.Freya menatapnya b
Sinar matahari tampak mengintip malu-malu melewati tirai jendela. Freya mengerjap pelan saat merasakan seluruh tubuhnya remuk redam.Matanya terbuka, tapi tubuhnya enggan bangun. Seluruh tulangnya seperti bergeser tidak pada tempatnya. Semalam pria itu benar-benar menagih ucapannya untuk menghabisi







