MasukFreya refleks menyentuh pipinya sebentar sebelum tersenyum kecil. “Tadi tidak sengaja terkena hair dryer saat mengeringkan rambut, Oma.”Alula langsung menahan napas. Berbohong di depan Isabella bukan hal mudah. Wanita tua itu terlalu jeli untuk dibohongi sembarangan. Namun, Freya justru terlihat santai. Sangat santai sampai Alula semakin tidak nyaman sendiri.“Benarkah?” ulang Isabella pelan sambil menyipitkan mata.“Iya, Oma. Aku ceroboh.” Freya membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu?”Isabella akhirnya masuk perlahan ke dalam kamar. Tatapannya kembali menyapu wajah kedua wanita muda itu bergantian. Atmosfer di ruangan itu terlalu aneh untuk disebut normal. Alula berdiri kaku di dekat ranjang. Sementara Freya justru terlihat tenang sambil mengambil segelas air minum.“Kalian ini sudah dewasa,” ucap Isabella akhirnya. “Jangan bertengkar hanya karena hal sepele. Jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin.”“Kami tidak bertengkar, Oma. Hanya sedikit salah paham saja. Benar ‘kan,
Freya menginap di mansion atas desakan Isabella. Alula sebenarnya tak setuju, tapi dia bisa apa jika sang tetua sudah memberi perintah. Mau tak mau walau sebenarnya tak rela Alula bersikap sebagai saudara yang baik.Seperti pertama kali saat Freya menginap di sana, tanpa diminta Alula menyerahkan satu set piyama miliknya.Alula masuk ke kamar tamu, duduk di ujung ranjang sambil menatap Freya kesal. Sejak kedatangan adiknya itu, Isabella tak berhenti memuji. Selalu saja seperti itu. Freya selalu mengambil perhatian orang lain dan itu membuatnya muak.“Ada yang mau kau katakan?” tanya Freya santai. Dia benar-benar menikmati kekesalan Alula.“Pergi bersama suamiku, sikapmu itu sungguh tidak pantas, Rora.”Freya yang tengah menyisir rambut di depan meja rias, menatap pantulan Alula di depan cermin. “Dari segi mana yang tidak pantas? Aku dan kakak ipar hanya kebetulan berada di tempat yang sama, lalu dia mengajakku makan malam bersama. Kami tidak hanya berdua, ada asistennya.”“Tapi tetap
Anthony tersenyum pahit mendengar ucapan itu. Tidak ada bantahan. Karena jauh di dalam dirinya, pria itu tahu Freya benar.Dulu dia memilih Jane dengan penuh keyakinan. Mengabaikan Freya yang selalu ada untuknya. Menganggap cinta wanita itu terlalu tenang dan membosankan dibanding gairah yang diberikan Jane. Dan sekarang semua orang menertawakannya.“Aku pantas mendapatkannya, ya?” tanya Anthony lirih.Freya menghela napas kecil. “Aku bukan Tuhan yang berhak menghukummu, Anthony. Jadi jangan mencariku hanya untuk mengeluh.” Pria itu tertawa hambar. “Kau berubah.”“Semua orang berubah.”Tatapan Anthony turun pada wajah Freya beberapa detik terlalu lama. Wanita itu tampak jauh lebih hidup sekarang. Cantik. Dingin. Sulit disentuh. Dan itu membuat penyesalan di dadanya semakin menyesakkan.“Apakah ada pria lain?” tanya Anthony tiba-tiba.Freya langsung menatapnya datar. “Pertanyaanmu tidak penting.”“Itu berarti ada.”Freya tersenyum tipis, tapi tidak menjawab. Dia justru melirik jam tan
Sejak kedatangan Isabella, Maverick masih belum mengeluarkan suara apa pun. Pria itu hanya memandang sang oma dengan tatapan yang sulit dijelaskan.“Sampai kapan mau diam saja?” kata Maverick membuka suara.“Maverick Arsenio Miller!” geram Isabella hingga menyebut nama lengkap cucunya. “Kau benar-benar selalu membuatku sakit kepala. Kalau sikapmu begini terus kapan aku bisa mati dengan tenang!”Maverick langsung mengalihkan tatapan tajamnya. “Jangan bicara sembarangan. Kau akan panjang umur.”“Apa sebenarnya maumu, Rick?”Pria itu tak langsung menjawab.“Kalau sejak awal kau tidak mau menikahinya kenapa kau lakukan? Kau sama saja menyakitinya! Jika hanya karena amanah ibu dan kakekmu, aku bisa membatalkannya. Kalau sudah begini kalian berdua jadi tersiksa dan sama-sama terluka. Jangan membuatku merasa bersalah dengan keluarga Alula.”“Oma sudahlah, aku tidak mau membahasnya.”“Selalu saja seperti itu.”“Nanti juga Oma akan tahu.”“Kau memiliki wanita lain?”Maverick terdiam beberapa d
Kabar skandal di ballroom menyebar cepat seperti api yang disiram bensin. Bahkan sebelum Anthony tiba di rumah sakit, potongan video itu sudah memenuhi grup chat para sosialita dan pebisnis kota New York.Sementara itu, di apartemen Freya, dunia terasa seolah berbeda.Jauh dari kekacauan.Jauh dari suara makian dan tatapan jijik.Yang ada hanya dua insan yang saling mendamba dan memuja.Freya masih duduk di pangkuan Maverick dengan napas yang belum sepenuhnya stabil setelah percintaan panjang mereka. Bibir wanita itu sedikit bengkak, matanya memerah karena terlalu lama dicumbu pria di depannya.Permainan pria itu sangat kasar, tapi tak terasa menyakitkan. Justru Freya melenguh dan meledak berkali-kali karena permainan Maverick yang tak seperti biasa.Ponsel Maverick bergetar berkali-kali di atas meja. Namun, pria itu bahkan tidak melirik.“Ponselmu berisik sekali,” gumam Freya sambil memainkan dada Maverick.“Biarkan.”“Kau tidak takut ada masalah penting?”Maverick justru kembali men
“Kau mau ke mana, Mave?”“Pulang.”“Tapi acaranya belum selesai.”“Kalau kau masih mau di sini silakan. Aku akan mengajak Oma pulang.”Alula menahan tangan Maverick, kepalanya mendongak untuk bisa melihat mata pria itu. “Aku tahu kau tak sabar pergi ke suatu tempat, tapi tunggulah sebentar. Ini acara keluargamu.”“Bagus kalau kau sudah tahu. Aku tak perlu bersusah payah memberimu banyak penjelasan.” Maverick melepaskan tangan Alula dan berjalan menghampiri Isabella yang duduk bersama kedua orang tua Anthony.“Oma, aku ada urusan. Masih mau di sini sampai acara selesai atau aku akan mengantarmu pulang?”Isabella menoleh ke arah cucu menantunya yang memperlihatkan wajah kesal. “Lala ikut pulang atau mau tetap di sini?”“Terserah Oma saja.”Kedua orang tua Anthony menyayangkan sikap Maverick yang lebih memilih pergi, tapi mau bagaimana lagi. Siapa yang bisa menahannya. Bahkan Isabella saja terlihat tak keberatan.“Ryan akan standby di sini menunggu Oma.”Maverick pergi lebih dulu. Alula







