INICIAR SESIÓNDarah Nadia mendidih seketika. Rasa lelah akibat kehamilannya, kecemasan karena ancaman Valerie di rumah, dan kecurigaan yang menumpuk kini melebur menjadi satu amarah yang tak tertahankan. Tanpa memikirkan etika atau ketukan pintu lagi, tangan Nadia langsung mendorong daun pintu kayu itu dengan kasar hingga terbuka lebar.Brak!Suara benturan pintu yang keras memecah keheningan ruangan.Reyhan dan Maudy yang berdiri tidak jauh dari meja kerja sontak menoleh kaget ke arah sumber suara.Nadia berdiri di ambang pintu dengan dada naik-turun menahan napas, matanya membelalak tajam siap menghakimi wanita yang bersandar genit di dekat meja suaminya. Namun, belum sempat kata-kata makian meluncur dari bibir Nadia, pandangannya terkunci pada sosok wanita berpenampilan modis tersebut.Nadia tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan.Wanita itu... Maudy. Kakak tirinya sendiri!"Maudy?! Kamu... apa yang kamu lakukan di ruang kerja suami aku?!" pekik Nadia tertahan, suaranya bergetar heb
Mendengar pertanyaan itu, tenggorokan Maudy mendadak terasa kering. Dia menelan ludahnya susah payah, berusaha mati-matian menjaga agar wajahnya tidak pucat.‘Dia sadar mapnya hilang?!’ batin Maudy panik, namun otaknya langsung berputar cepat mencari alibi untuk menutupi jejaknya.Maudy merasakan dingin merayap di ujung jemarinya. Otaknya berputar seribu keliling, mencoba mencari jawaban paling masuk akal agar tidak terlihat sebagai pelaku di mata Reyhan.Dengan cepat, Maudy memaksakan seulas senyum kaku, lalu menggelengkan kepalanya pelan untuk menunjukkan ekspresi polos."Map merah?" ulangi Maudy pura-pura bingung, sengaja mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Wah, aku nggak tahu, Rey. Waktu aku masuk tadi pagi buat bersih-bersih meja dan nyiapin jadwal, sama sekali nggak ada map merah di situ."Reyhan menyipitkan matanya tipis-tipis, menatap tajam ke arah Maudy seolah sedang menimbang-nimbang kejujuran wanita itu. Tatapan tajam tersebut sukses membuat punggung Maudy basah oleh ke
"Itu data fiktif. Angka-angka dan laporan transaksi palsu yang sengaja aku susun dan taruh di atas meja khusus buat dipotret sama Maudy. Aku sengaja kasih mereka umpan empuk biar mereka masuk ke perangkap yang udah aku buat sendiri,” sambung Reyhan, matanya memancarkan kilat berbahaya. Erika tertegun di tempatnya. Otaknya langsung berputar cepat merangkai semua potongan puzzle, mulai dari alasan ban motor bocor, pintu ruangan yang tak dikunci, hingga sikap tenang Reyhan saat tahu mejanya digeledah. Seketika, rasa khawatir di dada Erika berganti dengan rasa takjub luar biasa."Jadi... semua ini memang sudah kamu rencanain dari awal buat jebak Pak Danu dan Maudy?" bisik Erika takjub, matanya mengerjap-ngerjap menatap Reyhan.Reyhan mengangguk pelan, menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan."Pinter, kan? Makanya, tugas kamu sekarang cuma satu: diam, nikmati pertunjukan ini, dan pura-pura nggak tahu apa-apa sampai waktu penentuan tiba,” ujar Reyhan ringan.Erika masih ter
Melalui celah pintu yang terbuka dua sentimeter itu, mata Erika membelalak lebar. Dia menyaksikan dengan jelas bagaimana Maudy begitu lihai dan tergesa-gesa memotret setiap lembar dokumen rahasia di atas meja Reyhan.Erika dengan cepat menutupi mulutnya dengan telapak tangan agar jeritan kagetnya tidak terdengar. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu.’Maudy... dia bukan cuma sekretaris baru. Apa dia mata-mata Pak Danu yang mau hancurin Reyhan? Tapi kenapa?!’ batin Erika menjerit panik dalam diam.Erika perlahan mundur dua langkah tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menyembunyikan tubuhnya di balik pilar koridor. Jemarinya yang gemetar langsung merogoh saku rok dan mengetik pesan singkat dengan cepat kepada Reyhan.“Rey, kamu di mana?! Maudy baru aja nggeledah meja kamu dan foto-foto isi map merah!”Di pinggir jalan yang berjarak sepuluh menit dari kantor, ponsel di genggaman Reyhan bergetar. Reyhan yang sedang menikmati puntung rokoknya di atas motor tua melirik layar
Reyhan melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul delapan pagi. Waktunya dia pergi ke kantor untuk menghadapi babak baru permainan bisnisnya.Pria itu bangkit berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya yang elegan. "Pa, Ma... Reyhan permisi berangkat ke kantor duluan. Ada rapat penting pagi ini."“Sudah berangkat saja kamu,” jawab Bu Rina dingin.Reyhan mengangguk, lalu melangkah mendekati Nadia. "Istirahat di rumah ya, Nad... Jangan kemana-mana lagi hari ini," bisik Reyhan tepat di telinga Nadia dengan nada suara berat yang sarat akan ancaman terselubung.Suara raungan mesin motor tua kesayangan Reyhan membelah kepadatan lalu lintas pagi kota.BZZZ... BZZZ...Ponsel di saku jasnya bergetar kencang. Melalui kaca spion, Reyhan melihat nama Maudy tertera di layar. Tanpa tergesa-gesa, pria itu menyalakan lampu sein kiri dan menepikan motor tuanya di pinggir jalan raya yang agak lengang.Reyhan melepas helmnya, lalu mengangkat telepon tersebut dengan nada suara yang tena
Mendengar balasan dingin dari Reyhan yang sarat teka-teki, Nadia makin panik. Takut kebohongannya terbongkar di depan sang ayah, dia buru-buru menyela sebelum suasana di meja makan makin panas."Iya, Pa... Reyhan benar kok. Aku yang menolak diantar kemarin karena nggak mau repot. Dan kemarin siang aku udah pergi ke dokter sendiri kok, Pa... Dokter bilang memang murni murni asam lambung sama stres aja,” potong Nadia terbata-bata, mencoba memasang wajah seluwes mungkin.Pak Anton menghela napas panjang, raut wajah tegasnya sedikit melunak. "Yaudah kalau memang sudah diperiksa. Tapi kamu tetap harus jaga makan, Nadia. Jangan sampai disepelekan."Namun, belum sempat Nadia bernapas lega, suara berdahak pelan dari arah seberang meja memecah suasana. Tante Mia meletakkan sendok dan garpunya dengan bunyi klang yang lumayan keras, lalu menyunggingkan senyum miring yang sangat memprovokasi."Duh, hebat ya Nadia... sakit-sakit asam lambung tapi masih kuat pergi ke luar rumah sendirian," cele







